Actions

Work Header

You Are Safe in My Arms

Summary:

Tangan yang lebih tua bergerak sendiri untuk menyapa rambut belakang Phu yang sedikit kusut, seakan jari-jarinya sudah kenal dekat dengan helaian-helaian halus tersebut. Ia usap perlahan secara lembut seolah itu adalah ritual sakral yang dapat mencabut semua kegelisahan yang tertanam di sekujur tubuh Phu yang sedang dibaluti kalut.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jarum jam pendek dalam ruangan itu berdiam di atas angka sebelas dan jarum yang lebih panjang menunjuk ke angka sembilan. Kurang lebih sudah dua jam Phutatchai duduk di kursi belajarnya berkutat dengan laptop untuk menyelesaikan tugas kelompok artikel ilmiah bagian pembahasan. Ia mengambil ponsel dan membuka room chat grup kelompok untuk mengabarkan bahwa bagiannya sudah rampung dan anggota lain dapat mengerjakan bagian penutup yang merupakan akhiran. Tidak ada lagi tugas yang harus dikerjakan sehingga ia memutuskan untuk mematikan laptop dan bergegas tidur karena besok ada kelas pagi pada pukul delapan.

Phutatchai bangkit menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan bersih-bersih sebelum tidur. Kini dirinya sudah berbaring sambil memainkan ponselnya di atas kasur, ingin memastikan apakah ada hal seru yang dapat ia lihat sebelum kantuk datang berangsur. Ternyata timeline media sosialnya cukup membosankan, maka ia taruh ponselnya di meja nakas dan menarik selimutnya sampai dada sembari menyesuaikan postur.

Sekitar lima belas menit telah berlalu dan kesadaran Phu belum juga berkurang sama sekali. Ia menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri, mengubah peletakkan tangan dan kaki, mencoba mencari posisi yang nyaman demi menjemput kantuk yang tak kunjung menghampiri. Hari sudah berganti dari rabu menjadi kamis dan Phutatchai harus tidur sekarang atau ia tidak akan bisa bangun untuk bersiap pagi-pagi. Lelaki April itu akhirnya membuka mata dan memikirkan bagaimana lagi cara agar ia dapat terlelap dengan cepat dan pasti. Video ASMR dan rekaman suara-suara tenang tidak dapat membantunya—Ia sudah beberapa kali melakukannya ketika mengalami kesulitan tidur di hari-hari sebelum ini.

Sebenarnya, alasan mengapa Phu seperti ini adalah karena selama tadi berusaha menutup mata, ia tiba-tiba teringat oleh cerita horor yang sore hari ia baca. Dirinya terbayang dengan wajah hantu yang digambarkan di cerita tersebut dan ketakutan karena bisa saja sosok itu muncul di depan mata. Ia sungguh menyesali perbuatannya membaca utas seram di aplikasi X tanpa pikir panjang. Kamarnya yang remang dan luas sangat tidak membantu rasa takutnya sirna, pun ia tak bisa tertidur dengan lampu menyala.

Sebagai informasi, Phutatchai tinggal di bawah atap sebuah apartemen bersama seorang laki-laki bernama Thai Chayanon yang mungkin kini sedang bernapas di kamar sebelah kiri. Hanya bermodal dikenalkan teman Thai yang menginformasikan bahwa Thai sedang mencari apart-mate dan Phu yang kebetulan tengah butuh sebuah kamar, mereka berdua berakhir di sini. Namun, entah sejak kapan, hubungan keduanya bukan lagi sekadar teman berbagi tempat berteduh—setidaknya itu yang akan dilabeli oleh orang-orang apabila mereka tahu bagaimana cara Thai dan Phu memperlakukan satu sama lain di balik dinding-dinding. Membangunkan tidur dengan mengendus pipi, memasak makanan untuk dua porsi, hingga tidur berpelukan di satu ranjang ukuran king, semuanya sudah menjadi kebiasaan dan lazim. Tak ada yang tahu status apa yang cocok diemban keduanya—bahkan mereka sendiri, tetapi tak ada juga yang berani bertanya sesederhana ‘what are we?’

 

Phu telah memutuskan bahwa malam ini ia tak bisa tidur sendiri. Namun, dirinya masih menimbang berkali-kali untuk beranjak ke kamar sebelah dan meminta pada teman satu apartnya untuk tidur di sana sambil ditemani. Perlu diketahui bahwa selain terdapat nutrisi, tubuh tinggi Phu juga menyimpan banyak rasa gengsi. Di antara mereka berdua, ia jarang menjadi yang pertama kali salurkan afeksi karena di kebanyakan waktu Thai lah yang menginisiasi.

Ah, persetan dengan harga diri, ada kelas pagi yang harus ia hadiri. Jadi Phu bawa ponsel serta raganya menuju pintu hitam yang dihiasi merch-merch Chelsea. Ia tarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu tiga kali, mengapa minta tidur bersama saja baginya berat sekali? Jantungnya berdetak sangat cepat saat orang di dalam sana menimpali, “Iya, masuk aja, Phu, gak dikunci.”

Ketika Phu putar gagang pintu dan mendorongnya pelan, ia temukan Thai sedang duduk bersandar pada headboard menghadap iPad di atas kasur, tak tahu apa yang sedang dilakukan. Thai alihkan perhatian dari layar kepada si jangkung yang masih berdiam diri di pintu depan. Tubuhnya tenggelam oleh piyama panjang berwarna merah maroon yang membuatnya terlihat seperti anak kecil minta dibelikan mainan. Perlahan Phu berjalan menuju ujung ranjang dan mendudukkan badan. Matanya menunduk mengelus-elus ujung piyama tanpa sepatah kata, pita suaranya bagaikan ada yang menahan.

“Kenapa?” Tanya yang lebih tua, fokus menatap laki-laki yang termenung di depannya.

“Gue boleh gak… tidur di sini?” Ucap Phu dengan wajah yang masih tertunduk, cemas jika harus memandang ekspresi Thai setelah ia melontarkan pertanyaan tersebut. Otaknya ribut oleh pikiran apakah ucapannya tadi dikeluarkan dengan nada yang sangat manja.

 

Anjir, anjir, gue kaya clingy banget gak sih.

 

Thai menahan tarikan lengkung bibirnya, semua gerak-gerik dan nada suara ragu-ragu tadi ternyata untuk meminta tidur bersama. Phu tidak tahu bahwa sekarang di mata Thai dia terlihat sangat menggemaskan. Ia tahan hasratnya untuk mencubit pipi Phu dan langsung mendekapnya secara agresif. Thai hapal betul bila Phu meminta afeksi duluan mengartikan bahwa yang lebih muda sedang merasa vulnerable dan ia tak akan tega menggodanya atau Phu akan mengurungkan niat dan merajuk selama beberapa hari.

“Boleh dong, mau tidur sekarang?”

Mendengar afirmasi tersebut, barulah Phu berani angkat wajahnya untuk tatap Thai tepat di netra, “Emang lu udah gak ada lagi yang harus dikerjain?”

“Gak ada kok, tadi gue lagi nonton film.”

Thai menepuk space kosong di sebelahnya, memberi tanda untuk Phu agar dapat berbaring di sana. Lalu ia bawa lagi pandangannya kepada layar iPad yang masih menyala, menutup aplikasi streaming dan menaruhnya di meja tepat samping kasur berada. Sedangkan yang lebih muda beranjak mengitari ranjang untuk dapat menempati sisi kiri seperti yang diarahkan oleh si pemilik kamar. Phu beruntung Thai tidak menyadari pergerakannya yang kikuk dan canggung karena ia tengah sibuk mematikan lampu utama serta menarik selimut kesayangannya, menyisakan penerangan kecil yang diletakkan di atas nakas.

Sekarang keduanya sama-sama tengah telentang memandangi langit-langit kamar yang sesungguhnya tidak begitu menarik untuk dilihat. Tanpa tahu bahwa diamnya mereka adalah demi menetralkan pacuan jantung yang kencangnya tiba-tiba menembus dada. 

Good night, Thai,” Phu memecah keheningan dengan mengucapkan selamat malam bagi teman berbagi apartnya, berharap itu merupakan kalimat terakhir sebelum lelaki di sampingnya dapat menangkap keanehannya malam ini.

Good night, Phu,” Tak banyak yang dapat Thai sampaikan jika lelaki kelahiran April itu layangkan tanda bahwa ia akan sapa mimpi. Terlebih lagi waktu yang dapat mereka habiskan untuk tidur kian menipis, yang lebih tua juga mengingat jadwal kelas Phu akan dimulai pada pagi hari.

 

Dalam sunyi dan dingin yang mencoba menyelinap masuk ke balik selimut berwangi khas laundry, Thai tangkap seseorang yang sedang merasa tidak nyaman di sisi kiri. Memang tidak ada pergerakkan besar yang berarti—Phu hanya menggaruk-garuk sprei, mengambil napas dalam-dalam atau sedikit menggeliatkan kaki, tetapi Thai mengerti. Di rungu Thai, semuanya dapat terdengar dan terlihat jelas meski matanya masih menutup saat ini.

Kasur berukuran 180 x 200 sentimeter yang menopang kedua remaja tersebut bagaikan samudera luas yang bebas tanpa perlindungan karena kini Phu sedang merasa kecil. Jarak antara dirinya dan Thai yang mungkin jika diukur hanya sebatas tiga jengkal tangan dirasa dapat ditempati oleh entitas apapun yang tak diundang namun kerap ada di pikirannya. Belum lagi dengan skenario terburuk yang akan terjadi apabila ia membuka mata dan mendapati wujud seram tepat di depannya.

Thai urungkan niatnya untuk terlelap melalui sapaan mata pada udara dan angkat suara sembari layangkan tatap ke orang di sampingnya, “Phu.”

Phu merasa bak kucing yang tertangkap basah oleh tuan rumah sedang mengambil ikan pindang di meja makan karena dirinya belum juga tertidur. Dengan kedua kelopak yang masih menempel erat pada bola mata ia menjawab, “Mm, kenapa?”

“Gak bisa tidur?” 

Tepat. Pertanyaan yang diam-diam sebenarnya diharapkan oleh Phutatchai. Tanpa perlu sepatah kata dan Chayanon sudah bisa menangkap alasan di balik semua ini.

Berhubung malam ini tak ada lagi yang dapat menenggelamkannya lebih dalam kecuali isi pikirannya sendiri, maka ia lucuti seluruh rasa gengsi dan memantapkan diri untuk hanya mengeluarkan kata dari hati, “Iya.”

“Mau dipeluk?”

Akurat. Sangat tepat sasaran. Phutatchai benci mengakuinya, namun memang pelukan lah yang tengah ia butuhkan saat ini. Pikirnya, dengan merapatkan badan kepada orang yang sekarang bersedia menemani, ia akan mendapat aman yang melingkupi.

Kalimat itu seperti bom yang dijatuhkan di depan dadanya, tak mungkin Phu tidak meraup kembali kesadarannya, “Emang boleh?”

“Ya boleh dong, kan gue yang nawarin,” Balas Thai tanpa ekspresi, khawatir ketahuan bahwa ia tengah senang setengah mati.

Chayanon rapatkan dua bantal tidur mereka yang terpisah sekaligus mendekatkan diri kepada yang ingin didekap ramah. Phutatchai geser perlahan badannya dengan sisa-sisa keberanian yang masih ditemukan dalam raganya yang resah. 

Thai bawa kepala si April menuju dadanya yang ia yakini sedang bergemuruh hebat. Kedua lengannya setia melingkupi leher Phu, seolah ia tengah memberikan bentuk perlindungan paling kuat yang ada di dunia. Sedangkan di sisi lain, Indra penciuman Phu langsung disambut oleh wangi deterjen lavender yang menempel di kaus hitam Thai. Kemudian satu lengannya melingkar longgar di pinggang si lelaki September. Persis seperti posisi yang acap mereka lakukan ketika tidur bersama di satu ranjang.

Sungguh di luar kendali Thai jika Phu mendengar detak jantungnya yang ribut. Meski sudah beribu malam ia habiskan dengan mendekap orang yang ia kagumi itu, tetap saja kehendak hatinya tak bisa diatur sesuai perintah otaknya. Semoga Phutatchai menganggap itu adalah hal yang wajar. Di tengah-tengah gugup yang melanda, labianya tak kuasa untuk tidak bertanya, “Kenapa gak bisa tidur?”

Perangai Thai sedari tadi mungkin biasa saja dan tampak seperti teman yang perhatian pada umumnya. Namun sejatinya ia menaruh banyak sekali porsi peduli pada si tinggi. Pikir dengan logika saja, orang waras mana yang akan tak acuh kalau dihampiri sang pujaan hati? Terlebih apabila ia datang dengan muka memelas bak anak anjing yang meminta pet bowl-nya untuk diisi.

“Tadi sore baca thread horor, keasikan karena seru,” Timpal Phu, suaranya teredam karena jarak mereka kini sangat dekat.

“Lain kali jangan baca gituan lagi, kan udah tau lu parnoan.”

“Hmm,” Bingung harus menjawab apa, karena memang benar Phu sendiri tahu bahwa dirinya mudah takut dengan hal-hal mistis dan sering kesulitan tidur karenanya.

Tangan yang lebih tua bergerak sendiri untuk menyapa rambut belakang Phu yang sedikit kusut, seakan jari-jarinya sudah kenal dekat dengan helaian-helaian halus tersebut. Ia usap perlahan secara lembut seolah itu adalah ritual sakral yang dapat mencabut semua kegelisahan yang tertanam di sekujur tubuh Phu yang sedang dibaluti kalut. Dalam keadaan seperti ini, tak ada lagi yang dapat menyakitinya dan yang Phu rasakan hanya basuhan sayang tanpa menuntut.

“Kenapa tadi ragu-ragu mau minta tidur bareng?” Tanya Thai lagi masih dengan mengelus-elus rambut belakang Phu seperti sedang menidurkan bayi.

“Ya malu lah kocak.”

“Ngapain malu kan udah sering.”

Phu layangkan pelan pukulan di dada Thai menggunakan kepalan yang sedari tadi hanya terdiam di sana, memberi kode bahwa ia tak ingin digoda lebih jauh hingga kehabisan kata. Walaupun yang dikatakan Thai adalah fakta, tetapi ia tak bisa menahan semburat di kedua pipinya yang timbul tanpa diminta. Beruntung posisi mereka sekarang tak saling memandang mata, bisa terkikis habis harga dirinya karena pasti akan diledek oleh yang lebih tua, ia berani taruhan satu juta.

“Sekarang masih ngerasa takut nggak?”

“Nggak, kan ada elu.”

 

AAARRRRGGGGHHHHHHHHHH.

 

Andai saja hubungan yang terlampau mesra ini tidak dibungkus kata ‘teman’ dan keadaan sekarang bukan yang begitu serius, pipi Phutatchai pasti sudah habis Thai gigit. 

 

Phu… jangan lucu-lucu…

Itu yang sedang diucapkan Thai dalam hati, kalau ada yang mau tahu. 

 

“Nanti kalo susah tidur lagi, langsung ke kamar gue aja. Kalo mau dipeluk juga bilang aja ya, Phu, gue gak keberatan sama sekali. Atau misal gue belum pulang terus lu takut sendirian di apart, langsung call atau chat aja minta gue pulang. Oke?”

Ibaratnya Thai sedang menawarkan berbagai hidangan paling lezat di dunia, maka Phutatchai bukanlah orang paling dermawan yang rela membagikannya agar semua orang kebagian. Ia ingin semua makanan itu dimiliki olehnya sendirian, sebagaimana ia mengharapkan Thai tidak pernah melakukan ini semua kepada orang lain—khusus untuk dirinya yang merasakan.

 

Apasih… Kenapa omongannya kaya yang naksir gue.

 

Phu ambil waktu lebih banyak untuk memproses ucapan Thai. Lelaki itu tahu tidak sih kalau ia baru saja menambah sebongkah harapan bagi hati Phutatchai?

“Oke. Makasih banyak ya, Thai.”

“Kalo lagi gak ketakutan juga boleh kok tidur bareng,” Ucap yang lebih tua dengan usil, namun niatnya tak benar-benar jahil. Thai memang ingin setiap malamnya berbagi kehangatan dengan si tinggi menjulang yang ketika dipeluk terasa sangat kecil.

“Buat apa coba,” Pernyataannya dijawab sinis. Thai sumpah lu bisa diem gak sih.

“Ya biar ada temennya aja. Emang kenapa.”

“Berisik ah, udah tidur. Bangunin ya kalo gue gak bangun.”

“Iya.” Tanpa diminta juga akan Thai lakukan secara sukarela. 

Mungkin hanya dinding di kamarnya yang tahu bahwa Thai membela-belakan diri untuk bangun lebih awal dari Phu demi bisa memandangi wajahnya yang tertidur tenang setidaknya selama lima menit sebelum ia putuskan dengan berat hati untuk membangunkannya.

Mendengar suruhan untuk segera tidur dari si pujaan hati, Thai eratkan pelukan yang sempat melonggar tadi. Teman macam apa yang berpelukan sedekat ini? Hingga denyut nadi bisa saling menimpali, namun tak ada dari mereka yang begitu peduli.

Perihal status bisa ditanyakan nanti, ada hal yang lebih penting saat ini: kelas Metodologi Ilmu Politik pukul delapan pagi. Keduanya pun beranjak tinggalkan alam sadar tapi bukan untuk mengunjungi alam mimpi. Malam ini, mereka hanya ingin terlelap tanpa bunga tidur yang menemani diiringi rona merah yang perlahan tinggalkan pipi.

Notes:

i hope you guys enjoy it dan bisa menyayangi teetoi kaya aku sayang mereka <3