Work Text:
Terik sinar sang surya menyengat permukaan kulit. Menambah sebab sakit kepala setelah rampung akan ujian matematika. Lapangan basket menjadi jalur utama pada murid berlalu lalang menuju kantin atau sekadar mencari teduh di bawah pohon jambu. 35 derajat sudah tercapai suhu siang itu, tak ada bocah laki-laki yang betah bila harus berlama-lama terbungkus dalam setelan seragam rapi.
Segenggam rambut hijau panjang di satu sisi itu mudah dikenali. Sedang sang pemilik memakai bando tuk menahan poni yang mulai memanjang. Seluruh kancing seragam sudah terbuka, menampakkan kaus hijau (miskin) terang yang juga dikeluarkan sekenanya. Ditambah kacamata bulat berwarna gradasi hijau dan kuning sebagai poin tambahan mencolok kehadirannya di tengah jalannya permainan. Bukan, dia bukan sedang bermain basket. Dia sedang melawan kakak kelasnya dalam permainan bulutangkis.
Bulir keringat mengalir lebih deras sepanjang set kedua berlangsung. Remaja itu menyuarakan tawanya dengan bebas. Sementara di sisi berlawanan, bingkai kotak itu telah merosot ke ujung hidung. Sweater tanda pengenal OSIS menjadi penyelamat lapisan baju dibaliknya tetap rapi. Sebagai gantinya, panas dari matahari membuatnya terasa seperti sedang direbus dalam panci. Pun tidak ada tawa dari bibirnya, melainkan decakan kesal lantaran kalah dua set berturut-turut. Siapa yang tidak kesal dikalahkan dua kali berturut-turut dalam hal yang dibanggakan.
“Nah, aku menang. Hukumannya gajadi kan, kak ke-tu-a?” Seringai sombong terpampang nyata di wajah sang pemenang.
“Lain kali seragamnya dipake yang bener dong!”
Episode kejar-kejaran diantara mereka berdua berlangsung panjang. Cukup untuk dijadikan serial drama 16 episode. Hampir seluruh lembar buku pelanggaran terisi oleh satu nama berulang. Mungkin para guru akhirnya mengangkat tangan menyerah dan memilih untuk melimpahkan tugas ini pada ketua OSIS.
Sudah pemandangan lazim bila salah satu pemilik sweater merah penanda OSIS kembali ke kelas dalam keadaan lusuh. Dua teman turut berbelasungkawa atas pemberian tugas tidak menyenangkan itu. Mereka selalu siaga dengan pouch berisi p3k dan sebotol air begitu melihat si pemilik sweater kembali dalam keadaan berantakan.
“Diajak ngobrol aja Jun anaknya. Kalo dikejar terus kau dapet capeknya doang loh,” sorot manik biru itu melembut, tampak sendu dan khawatir. Barangkali memang benar khawatir yang disampaikan.
“Gausah terbebani gitu, Jun. Itu anak orang bukan anak kau. Lagian kewajibanmu yang lain masih banyak, bukan cuma ngurusin bocah sawit itu,” pemilik manik kuning turut menimpali perkataan kembarannya.
Protes sudah terlintas dalam benak, namun urung untuk disiarkan. Kalau masih ada yang menganggap hubungan mereka itu seperti kucing dan tikus, sejujurnya itu salah besar. Dibalik banyaknya skenario ribut di sekolah, ada banyak temu di depan gang seberang. Bukan untuk melanjutkan episode kejar-kejaran. Melainkan duduk bersanding di langgar rumah kosong tuk menikmati es krim, es cekek, atau cilok keliling kesukaan.
“Kenapa kau tuh resek betul kalo di sekolah?”
Begitulah cara pintu obrolan mereka terbuka setiap harinya. Dijawab tawa oleh anak adam yang es krimnya telah habis terlahap. Sedang lawan bicaranya buat ekspresi tak suka karena bingung. Punya teman yang ajaib baik kelakuan maupun pola pikiran. Walau dua album cetak sudah terisi penuh oleh foto-foto mereka saat masih bertumbuh, rasanya kenal belum merasuk dalam ingatan.
“Biar bisa ngobrol sama kau.”
“Padahal tinggal ngobrol kayak gini.”
“Kau tuh ketua OSIS, Jun. Aku cuma ketolong juara OSN sama jadi anak band aja. Gaenak oo aku liatnya nanti kalau kau diremehkan sama yang lain. Gaenak sama ibun juga, Jun.”
“Aneh. Kayak gapernah dicariin sama ibun aja.”
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Hanya senyum lebar khas yang tersajikan. Menyebalkan sekali. Tapi jawaban-jawaban konyol tanpa kepastian ini sungguh malah menjadi penolong bagi Yudistira. Kalau saja Arjuna tahu, mati-matian Yudistira menahan seluruh kosa kata yang ada di ujung tenggorokan. Masih belum terlintas di kepala, apakah ini sebenar-benarnya cinta atau hanya fantasi tentang gambaran ‘si teman’ di otaknya? Satu yang jelas, Yudistira sedang mencinta teman masa kecilnya.
Setelah es krim keduanya habis, mereka kembali ke kendaraan masing-masing untuk pulang. Yudistira dengan Jupri, sepeda lipat kesayangannya. Hadiah dari ibun—ibunya Juna—saat mengetahui mereka akan kembali bersekolah di tempat yang sama. Arjuna dengan Mamang, atau singkat saja MMG, motor matic warisan dari ayah. Seringnya selama perjalanan pulang, hanya hening yang mengisi. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang telah terbiasa menemani. Sesekali hanya terdengar derit rantai sepeda Jupri, raungan halus mesin Mamang Sampai mereka tiba di pertigaan dan terucaplah salam perpisahan di sana setiap harinya.
Ada hari-hari para guru tidak perlu memasukkan nama Yudistira dalam buku pelanggaran. Ada ahri sekolah tidak diributkan dengan suara ketua OSIS tersungkur kelelahan mengejar siswa kelas sepuluh tukang panjat tembok. Periksa saja gazebo belakang perpus, boleh jadi mereka sedang tidur bersandar satu sama lain dengan buku bacaan terbuka di pangkuan dan gitar yang diberdirikan ke salah satu pilar. Hanya dua remaja yang, untuk beberapa saat, lupa bahwa seluruh sekolah mengenal mereka sebagai ketua OSIS dan bocah pembuat masalah.
Pada hari lain, keduanya tampak akrab menyantap makan siang bersama. Kemudian datanglah tiga manusia lain. Bima, si anak basket yang hampir tak pernah jauh dari Sadewa, pacarnya yang juga merupakan salah satu orang penting di OSIS. Lalu ada Nakula, saudara kembar Sadewa sekaligus ketua MPK. Bagaimanapun, cukup membingungkan melihat ketua OSIS yang selalu dibuat kewalahan oleh seorang siswa kelas sepuluh justru duduk semeja. Tanpa ada yang benar-benar menyadarinya, meja kantin yang semula hanya diisi dua orang perlahan bertambah menjadi lima. Mereka mulai lebih sering menghabiskan waktu bersama, entah untuk belajar menjelang ujian, berbagi camilan saat jam istirahat, atau sekadar berkumpul sepulang sekolah tanpa tujuan yang jelas.
Biarpun bukan satu angkatan, belajar bersama mendadak menjadi rutinitas mereka setiap kali ujian semester mendekat. Perpustakaan mereka anggap sebagai rumah kedua. Menjelang masa ujian, ibu penjaga perpustakaan sudah terbiasa melihat kelima anak itu menempati meja yang sama hampir setiap hari, meski kadang tidak dalam formasi lengkap. Arjuna sendiri termasuk tipe orang yang mengejutkan dalam berkata-kata. Tanpa pemicu yang jelas, ia melontarkan pertanyaan yang rasanya lebih mirip pernyataan retoris karena sudah tahu jawaban dari empat pemuda lain.
“Kalo aku tiba-tiba punya pacar cowo. Apa tanggapan kalian?”
Yudistira menggebrak meja sebelum bisa menghentikan diri sendiri. Panik melanda sebab kini jantungnya berdegup kencang memikirkan lelaki mana yang akhirnya berhasil mendapatkan Arjunanya. Sungguh tindakan ceroboh. Arjuna menatap dengan penuh heran, sementara tiga pasang mata lain menatap netral. Yakin sekali Nakula dan Sadewa punya makna tersirat akan tatapan kala itu.
“Sorry rusuh! Soal nya susah nih!” “Sini, Yudis. Mana yang ngga paham? Aku ajarin.”
Terima kasih pada Tuhan Maha Penyayang sudah menciptakan makhluk sepeka Nakula.
Sadewa yang iseng kemudian memancing pertanyaan tentang siapa gerangan sosok yang berhasil merebut hati teman mereka yang selama ini terkenal antiromantis. Sedang Yudistira masih panas dingin menguping pembicaraan kurang penting. Biarlah, toh hafalan rumus tadi pasti sudah lebih dulu menguap menjadi awan hujan.
“Gue oke sama siapa aja sih. Tapi nggak sama temen sendiri. Gaenak jir kalo mantanan ntar.”
Sial. Pulang dari perpustakaan, sepatunya tercebur got dan kepalanya terantuk tiang listrik. Otak Yudistira mungkin konslet untuk kesekian kali sejak mengenal Arjuna. Kalimat barusan terus diputar di dalam kepala layaknya kaset rusak. Merusak bagian otak yang memproses informasi, sebab memetik gitar tak lagi mampu mengusir bingung.
Astaga. Jatuh cinta pada teman sendiri memang semerepotkan ini ya?
Tidak ada yang berubah sejak pernyataan Arjuna yang tidak berarti di perpustakaan. Mereka masih rutin menambahkan potongan-potongan adegan drama di hidup masing-masing. Yudistira masih sering memanjat pagar atau tawuran dan pulang dengan pipi keunguan. Arjuna masih setia dengan pulpen dan papan dada berisikan lembar pelanggaran.
Dan Yudistira tetap menikmatinya.
Bagaimanapun, itu satu-satunya cara yang terpikir olehnya untuk terus dekat dengan sang ketua OSIS.
Kalau harus mengejar Yudis termasuk dalam hari sial, menurut Arjuna itu bukan. Dia menikmati kok tugas menyebalkan ini. Toh, selama ini Yudistira adalah temannya. Memang hari sial tidak pernah tercetak dalam kalender. Contoh sederhana saat hujan tiba-tiba mengguyur di hari dia tidak membawa payung. Itu baru sial. Padahal langit sudah menampakkan semburat jingga, tapi Arjuna masih lengkap dengan seragam dari atas kepala. Lalu datanglah pahlawan kesorean—Yudistira—membawa jaket cadangan dan menarik pergelangan tangan temannya untuk berlari menuju parkiran sebelum hujan turun semakin deras.
“Baik banget dah. Hapal banget kau sama aku ya?”
Yang lebih muda hanya terkekeh. Tapi sorot di mata tak pernah dusta jika ia sedang mendamba.
“Ya gapapa udah biasa. Toh kita temenan dari lama oo masa aku ga hapal sama kau, Jun?”
Arjuna merasa Yudistira terlalu banyak menuangkan kebaikan ke dalam jirigen miliknya. Namun, tak ada sengatan listrik yang menggelitik perut hingga tenggorokan sebagai pertanda bahwa perasaan temannya itu mungkin dapat terbalas. Yang ada hanyalah nyaman. Hangat dari jaket yang masih tersampir di pundaknya, aroma hujan yang belum benar-benar hilang, serta rasa syukur karena akhirnya ia bisa kembali pulang bersama MMG tanpa harus menunggu hujan reda seorang diri. Terima kasih kepada Yudistira yang rela kembali ke sekolah hanya untuk mengantarkan jaket cadangan miliknya.
“Jangan sama gue ah”
“Aku maunya sama kau, Jun.”
“Bukannya banyak yang naksir sama kau?”
“Ya gimana? Aku maunya sama kau oo.”
—FIN.
