Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-21
Words:
563
Chapters:
1/1
Comments:
1
Hits:
20

Faker anitwt

Summary:

Bokuto jadi faker demi mengejar Kuroo, pujaan hatinya.

Work Text:

“Anjing, kelewatan banget Bok.”

Hening.

Bokuto terdiam kaget. Menunduk saat Kuroo menghardiknya. Pipinya terasa panas karena tinju sang sahabat. Saat Bokuto membuka pintu untuk menyambut sahabatnya, justru dia yang lebih dulu disambut dengan kepalan tinju Kuroo. “Lo keterlaluan banget, Bokuto.” Suara Kuroo bergetar, menahan rasa amarah untuk meletup. “Kur, kalau ada masalah sama gue bilang, jangan asal tonjok. Sak – “

“Mending lo jelasin dulu ini maksudnya apa Bok. Harusnya LO yang bilang kalau ada masalah sama gue.” Serunya sembari Kuroo menyodorkan handphone, sebuah screenshot percakapan dirinya dan Akaashi beberapa hari lalu terlihat jelas. “Kuroo… gue – “ kakinya lemas. Terbuka sudah seluruh rahasia yang ia sembunyikan 6 bulan terakhir. “Kou. Lo tau sendiri gue ceritain tentang oomf gue ini ke lo, selalu minta saran gimana cara deketinnya ke lo, selalu ceritain gimana hubungan gue sama dia 6 bulan ini. Sampai pas gue galau karena ditolak sama dia, gue juga cerita ke lo Kou.”

“Tapi maksud lo apa,” Kuroo menarik kerah baju belel Bokuto kasar. “Lo sebenci itu kah sama gue, sampai lu rela nge-faker di anitwit? Seru ya Kou, ngeliatin gue kayak orang tolol sedih galau, curhatin tentang orang yang ternyata orangnya itu LO.” Tinjuan kembali melayang tepat di pipi Bokuto. Bokuto sendiri hanya bisa meringis kesakitan.

“Bercanda lo kelewatan Kou.” Cengkraman pada baju mulai melonggar. Matanya menatap Bokuto penuh kekecewaan. “Dah lah, ngomong sama lo kayak ngomong sama Dontol. Sama-sama kepala batu.” Kuroo memutuskan untuk pergi. Dia sudah muak dipermainkan seperti ini. Langkahnya ia mantapkan untuk pergi dari rumah Bokuto. Benci. Benci sekali. Seumur hidupnya, dia sangat percaya pada Bokuto. Tapi, apa yang dia dapatkan sekarang? Kuroo yakin, pasti Bokuto menertawakan dirinya saat menceritakan perasaanya dengan crush anitwitnya.

Harusnya Kuroo tidak terlalu percaya dengan bajingan itu.

“Kuroo, kur. Dengerin gue dulu please.” Bokuto mengejarnya, menahan tangan si jabrik. Agar tetap tinggal. Kuroo hanya menepis tangan Bokuto. “Kou jangan bikin gue makin benci sama lu ya. Lepas gak?” Ancaman itu buat Bokuto hanyalah hal kecil, mengingat betapa keras kepalanya.

“Kur, dengerin gue dulu. Gue kayak gitu tuh karena..”

“Udahlah, gak ada yang perlu dijelasi – “

“Gue naksir sama lo Kuroo. Gue naksir sama lo.” Musik midwest emo pun terdengar, ternyata Tok Dalang sedang menyetel radio. Kuroo terbelak mendengar kesaksian Bokuto. Dirinya membeku. Seperti tersambar petir.

“Dengerin gue dulu Kuroo. Gue naksir banget sama lu dari jaman Inul daratista ribut sama Rhoma Irama, dari jaman Ariel masih di Peterpan bukan NOAH, dari pas kita orok Kur. Gue naksir sama lo,” suara lelaki itu menahan tangis.

“Gue sayang sama lo Kuroo. Bukan sebagai teman, keluarga, ataupun sahabat. Gue sayang lo karena gue cinta. Cinta mati, Kur. Gue tau gue salah karena jadi faker anitwt. Gue nge-faker karena lo gak gay Kuroo. Gue, gue cuman pengen lo lihat gue sebagai orang yang lo cintai. Gue tau, gue salah. Makanya gue tolak lo saat itu. Karena gue gak mau bohong terus terusan sama lo Kuroo.”

Bokuto sendiri ingat, bagaimana perasaanya berbunga-bunga saat mengobrol tiap hari secara romantis dengan Kuroo. Sangat menyenangkan, bagaimana Kuroo memujinya (walaupun foto yang Bokuto berikan adalah foto Lisa MlekMink). Tapi Bokuto tetap suka – tetap merasa itu nyata, meski tahu semua palsu. Harusnya, ia menuruti kata Akaashi, untuk berhenti bermain-main seperti ini. Kalau saja, dia menahan pikiran untuk mencoba jadi faker. Pasti Kuroo tidak akan semarah ini. Pasti mereka akan tetap bermain bersama seperti biasa. Membiarkan Bokuto mengubur perasaanya sendiri.

“Maaf Kur, gue,”

“Gue duluan, makasih sudah datang.”