Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-21
Words:
759
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
88
Bookmarks:
2
Hits:
1,022

tolong, snatched waistnya satu!

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ahn Keonho mungkin sudah sadar sesuatu. Ada begitu banyak pertanyaan tapi jelas jawabannya cuma satu. Seumur hidup dia menghabiskan waktunya dengan menyadari hal yang berbeda dan untuk urusan Eom Seonghyeon sebenarnya kecil saja. 

 

Tapi Demi Tuhan, Demi Tuhan, Ahn Keonho tidak handal dalam menghadapinya. 

 

“Aku, tuh, suka postur badan kamu.” 

 

Itu dikatakan dengan lantang. Ahn Keonho yang sedang menyeduh ramen melongo keanehan karena–tentu saja, tentu– dia tidak dalam keadaan berbusana paling baik atau menghadiri suatu Red Carpet yang digadang-gadang ternama dengan kostum pilihan stylist tersohor satu Korea Selatan. Ahn Keonho pakai pajama Spongebob malam itu. Kaki nyeker, rambut mencuat kanan-kiri dan Eom Seonghyeon bilang suka postur badannya. 

 

Keonho pikir ini cuma masalah salah timing saja.

 

“Hah?”

 

Eom Seonghyeon mengedikkan bahunya. “Just saying, bro.” Usaha gagal terlihat tak acuh karena matanya terus melirik ke arah Keonho, berkali-kali. Dia lagi bikin kopi, omong-omong. 

 

“Mungkin kamu lagi kekurangan gula.” Keonho berhasil mengatakan itu sambil mematikan kompor dan menuangkan ramennya ke dalam mangkok. Mengepul dan siap disantap.

 

Eom Seonghyeon balas tertawa kecil. Sambil menyenggol Ahn Keonho sekilas, dia bertanya, “Can you pass me the creamer then?” Keonho berlalu sambil bergumam dan membuka kulkas yang berisi creamer lalu mengambilnya dan memberikan creamer kepada Eom Seonghyeon. 

 

Percakapan terhenti setelah Eom Seonghyeon mengucapkan terima kasih dan dibalas anggukan oleh Ahn Keonho. Itu terhenti di sana. Ahn Keonho tidak menuntut penjelasan lebih jauh karena apakah ada penjelasan yang lebih jauh tentang mengapa Eom Seonghyeon juga kemudian menemaninya makan ramen di dapur dorm padahal seharusnya dia berada di studio untuk tetap terjaga dengan kopinya tersebut? Ahn Keonho tidak tahu apakah dia ingin tahu alasannya atau tidak. 

 

Dua minggu kemudian, Eom Seonghyeon lagi-lagi bikin bingung. Itu pemotretan. W Korea. Rasanya semua ingin tebas habis jadwal dalam sekali duduk tapi Eom Seonghyeon malah bilang, “Aku mau pandangin kamu lama-lama.” 

 

Ahn Keonho naif kalau tidak tersanjung. 

 

Ahn Keonho naif kalau tidak tersihir dengan cara Eom Seonghyeon pandangi dia sebelum sesi, sepanjang sesi, setelah sesi, hingga keduanya beristirahat di ruang istirahat dan duduk berdampingan sementara yang lain tertidur pulas.

 

“You nailed every outfit they gave you.”

 

Ahn Keonho tidak naif. Maka mungkin Eom Seonghyeon juga tidak terlalu paham dengan efek spontanitas dari perkataannya. 

 

Keonho melihat tangan Seonghyeon gelisah, terlihat dia mengetuk-ngetuk sofa di antara mereka dan getarannya terasa. Ahn Keonho tersenyum tipis. Dia grogi?

 

Eom Seonghyeon yang punya stage presence luar biasa sedang grogi? Oh.

 

“You, as well.” 

 

Ahn Keonho akhirnya menatap Eom Seonghyeon. Seperti yang diharapkan, Eom Seonghyeon memang menatapnya sejak Hanya-Tuhan-Yang-Tahu-Kapan. 

 

Keonho melihat hamparan sajak dari cara Eom Seonghyeon menatap matanya jika itu cara paling sederhana untuk mendeskripsikan bagaimana tatapan itu terasa. Hangat menelisik lewat teduhnya. Mungkin Keonho tidak pernah naif untuk apapun, termasuk untuk yang satu ini. Ahn Keonho mungkin suka dengan cara Eom Seonghyeon menatapnya. 

 

Eom Seonghyeon kini memangku dagu sementara tangannya bersandar di sandaran sofa, masih menatap Keonho bak tatap lukisan Monalisa. “You look great in crop top, you know that?”

 

Ahn Keonho mengangguk, mengiyakan. “Of course, I feel bonita even.” Kemudian dia meringis, berbicara pelan, “Kamu nggak kekurangan gula lagi, kan?” Seperkian detik Keonho menggaruk belakang telinganya, merasa konyol menanyakan ini kembali secara blak-blakan (tentu saja Eom Seonghyeon akan paham dengan intensi pertanyaan ini, kan?)

 

Eom Seonghyeon menggeleng. “Nggak pernah kekurangan gula.” Dia paham. Dia dengan berani menepis jarak yang kian mulai erat di antara mereka, jari-jarinya mengelilingi telapak tangan Ahn Keonho yang kebetulan terbuka di atas pangkuan, melakukannya membentuk pola hati yang berantakan. 

 

Ahn Keonho diam menunggu, entah apa yang ditunggu. Namun selanjutnya yang dia tahu, posisi duduknya semakin mendekat ke arah Eom Seonghyeon sampai jarak terus menipis. Ahn Keonho merasakan gerakan Eom Seonghyeon berhenti spontan di telapak tangannya hingga Ahn Keonho melihat Eom Seonghyeon membentuk senyum sampai ke telinga dan itu terlihat lebih jelas karena mereka sangat dekat dan dekat dan dekat.

 

Ahn Keonho merasa tidak akan ada yang bisa lebih dekat lagi dari keduanya sampai Eom Seonghyeon berhasil buktikan dia salah. 

 

Telapak tangan Ahn Keonho–yang tadi dia mainkan–Eom Seonghyeon bawa ke pipinya sendiri, masih terus tersenyum dan menatap lurus ke arah Ahn Keonho, kemudian buku-buku jari Ahn Keonho dia kecup. Lembut. 

 

“I’m so sorry. You’re so pretty, it hurts. Aku suka sama postur kamu. Pinggang ramping kamu. Bulu mata kamu. Pipi kamu yang sering banget merah sendiri. Suka kamu. Suka semuanya. From head to toe, I adore you. Should I thank W Korea or should I punish myself for never stop looking at your snatched waist? Demi Tuhan, Ahn Keonho. Malaikat kamu. Aku nggak kekurangan gula. Maafin aku, ya.”

 

Demi Tuhan, Eom Seonghyeon.

 

Ahn Keonho tidak handal dalam menghadapinya.

 

 

 

Notes:

wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwwk EOM = GW