Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
NoteSun Fluff Week 2026
Stats:
Published:
2026-06-22
Words:
1,622
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
52
Bookmarks:
1
Hits:
304

Beneath The Rain, Beside You

Summary:

Biarlah derasnya hujan membasahi bumi hingga tiada hentinya, namun untukmu—dibalik bentangan kain ini, tetaplah diam bersamaku.

Notes:

n. NoteSun Fluff Week Hari Pertama dengan tema; Rain, Highschool Friends, and Blanket.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

Mungkin jika kutukan serta sumpah serapah bisa membuat bumi gonjang-ganjing dan langit runtuh, saat ini Arjuna pasti telah hilang dilahap oleh semesta. 

 

Bibir mungilnya tiada berhenti untuk melontarkan keluhan sebab cuaca tengah tidak bersahabat sehingga menghambat keinginannya untuk pulang ke rumah lebih cepat. 

 

Ia meregangkan otot leher nya sejenak, maniknya mengedar menatap beberapa siswa lainnya yang masih turut berteduh menunggu derasnya hujan untuk berhenti mengguyur kota. Namun kalau boleh jujur, Arjuna telah lelah untuk menunggu lebih lama sehingga ia memutuskan akan segera menerobos di bawah hujan dan berlarian menuju ke rumah tanpa memperdulikan resiko akhir nantinya. 

 

Ketika tungkai nya sudah siap untuk berlari, kerah leher seragamnya tiba-tiba ditarik kuat hingga membuat langkahnya terhenti dan nafasnya tercekat. 

 

“Akh! Monyet!” Arjuna langsung membalikkan badannya untuk melihat pelaku yang telah menarik seragamnya. Maniknya menajam tatkala mendapati Yudistira menyeringai tipis sebab berhasil menahan ancang-ancang Arjuna tepat pada waktunya. 

 

“Halo.”

 

“Ck, apa coba.”

 

“Kamu mau ngapain, Juna?”

 

“Tanam padi.” Arjuna menjawab kesal. Ia memperbaiki kerah lehernya seraya bergeser ke sisi lain bangunan saat melihat Yudistira menepi sambil menggerakkan tangannya seolah memberitahu Arjuna untuk menjauh dari tempias hujan.

 

“Kamu mau terobos hujan ya?”

 

“Menurut kau aja lah, Dis.” Kedua lengannya terlipat di dada, Arjuna menghela nafas lelah karena melihat Yudistira kini berdiri santai di hadapannya sambil menggigit setangkai permen lolipop. “Jangan ganggu aku dulu, aku cuma pengen cepet balik pulang aja. Capek banget seharian ini ngurus banyak hal.”

 

“Kenapa nggak istirahat dulu di ruang OSIS?”

 

“Nggakmau, nanti aku dikira nya masih terima kerjaan.”

 

“Aku baru tau ketua OSIS boleh nolak kerjaan.”

 

“Heh.” Arjuna mendelikkan manik abu nya tajam. “Kau fikir aku nih robot yang bisa terima kerjaan tiap waktu tanpa istirahat?”

 

“Siapatau, kan?” Yudistira tertawa geli, ia menjulurkan tangannya guna mengambil alih tas punggung Arjuna dari pundak sang empunya. “Mau ke basecamp ku dulu nggak? Daripada kamu terobos hujan terus besok sakit.”

 

“Sejak kapan kau punya basecamp di sekolah.”

 

“Loh, kamu nggaktau? Gudang belakang kan basecamp ku tuh.”

 

“Oh, jadi disana—” Arjuna yang hendak mengomel langsung terhenti karena Yudistira menyumpel mulutnya dengan permen lolipop yang sempat Yudistira sesap. 

 

“Ngomel mulu, cabe rawit.”

 

“Bleh!” Sontak permen tersebut ditarik lepas dari mulutnya, Arjuna menggosok bibirnya beberapa kali seraya menatap galak kearah Yudistira yang kini terkekeh geli. “Jorok! Ini permen bekas kau, gila!”

 

“Loh, kenapa? Kan kita sering berbagi dari dulu.”

 

“Itu kan dulu waktu masih bocah, Yudistira!”

 

“Sekarang kita bukan bocah lagi, kah?”

 

“Mana ada bocah jakun nya segede biji salak kayak kau.”

 

“Iyaudah, aku ngerasa nggak ada beda nya.” Yudistira mengedikkan bahu nya santai, ia menyampirkan tas Arjuna ke bahu nya lalu membalikkan badan untuk berjalan lebih dulu. “Ayo, Jun.”

 

“Kemana sih? Aku mau pulang, Dis.”

 

“Masih hujan deres ini, nanti ku anter pulang kalau udah agak reda.”

 

“Pake apa?” Dengan terburu, Arjuna bergegas mengikuti Yudistira yang sudah jalan menjauh. 

 

“Pake daun pisang.”

 

PLETAK

 

“Aduh!”

 

 

 

. . . 

 

 

 

Arjuna membiarkan manik abu nya menatap derasnya bulir hujan yang memburamkan pemandangan sekitar dengan guyuran kencang menghantam tanah. Mulutnya dalam diam sibuk menyesap permen hisap baru yang diberikan oleh Yudistira. 

 

Berhubung permen sebelumnya sudah menjadi alat tempur Arjuna untuk dilemparkan ke kepala Yudistira sebab ucapan asbun lelaki tersebut membuat Arjuna naik pitam, maka Yudistira berbaik hati memberikan permen lainnya untuk membuat Arjuna menutup mulut alias tidak mengomel. 

 

Meski kedua tungkai nya melangkah mengikuti Yudistira yang berjalan lebih dulu didepannya, Arjuna berusaha menahan debaran menyebalkan yang sedaritadi riuh ingin bersaing dengan gemuruh petir berdengung keras. 

 

Dibalik diam nya Arjuna saat ini, ada perasaan aneh yang berusaha ia abaikan sebab pelakunya tidak akan pernah sadar kalau tingkah laku nya selalu berhasil membuat ketenangan Arjuna goyah. 

 

Bila ingin menerka mengapa Arjuna bisa merasakan hal konyol seperti ini, jawabannya sangatlah mudah. Arjuna menyukai Yudistira sejak lama. 

 

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Arjuna untuk bersikap tenang dan menyembunyikan kegugupannya ketika Yudistira selalu berhasil membuatnya salah tingkah. Kalau boleh jujur, Arjuna ingin sekali confess dan membuat lelaki dihadapannya ini juga gelagapan saat mendengar pernyataan cinta Arjuna. 

 

Tetapi itu hanya angan-angan semata, sebab Arjuna memilih memendamnya seorang diri dan menelannya bulat-bulat karena ia cenderung takut mendengar penolakan dari Yudistira. 

 

“Sini, Jun.” Yudistira menolehkan kepalanya saat membuka pintu gudang yang sering menjadi tempat penyimpanan perlengkapan olahraga atau bahan praktek lapangan bagi siswa-siswi. 

 

Tempatnya luas meskipun susunan barang-barangnya sangat berantakan, itu hal yang wajar mengingat petugas kebersihan jarang mengecek gudang karena termakan berita hoax mengenai kejanggalan yang sering terjadi di gudang tersebut. 

 

Arjuna mengedarkan pandangannya. Ia mengusap kedua bahu nya dengan gemetar karena takbisa menahan gejolak merinding merasakan dingin menguar kian kentara ketika tungkai nya melangkah memasuki gudang. 

 

“Kok disini malah lebih dingin dah.”

 

Yudistira yang tengah menumpuk tas Arjuna dengan tas miliknya pun menoleh sesaat. “Mungkin karena atapnya tipis?”

 

“Masuk akal, tumben otak kau pinter.”

 

“Nebak doang. Berarti sekarang aku keliatan pinter dong, Jun?”

 

“Nyeh.” Arjuna mencebikkan bibirnya. Ia kembali mengedarkan pandangannya dan menatap tepat kearah tiga matras yang tertumpuk tinggi dengan dua bantal bersih dan satu selimut terlipat rapi telah tertata diatas nya. 

 

Keningnya mengernyit tajam, Arjuna menolehkan kepalanya kearah Yudistira tengah menjauh guna menutup pintu gudang yang lupa Arjuna tutup. 

 

“Kayak kenal tuh dua bantal di atas matras.”

 

“Oh?” Yudistira kini berbalik mendekati Arjuna seraya terkekeh pelan dan menggaruk kepala belakangnya. “Daripada di UKS kelebihan bantal, mending aku tilep dua biji lah buat disini.”

 

“Hadeh, Dis. Pantesan guru-guru pada protes nyariin hilang kemana tuh bantal UKS.” 

 

“Tenang aja, nanti habis ujian langsung aku balikin lagi kok, Jun.”

 

Ketika lelaki bersurai hitam dengan highlight hijau tersebut berada di hadapannya, ia nampak menjulurkan tangannya ke Arjuna dengan tatapan yang penuh makna sampai membuat Arjuna bergetar. 

 

“Sini, Jun.”

 

“Sini.. kemana lagi, anjir.” Arjuna menjawab ragu, ia menerima uluran tangan Yudistira dan hanya membiarkan tungkai nya patuh mengikuti kemana Yudistira menariknya. 

 

Arjuna berusaha mengalihkan tatapannya tatkala merasakan Yudistira mengarahkan nya untuk mendekati matras bertumpuk tiga yang terlihat agak tinggi tersebut. 

 

“Kamu kedinginan, kan?”

 

“Hah?” Arjuna menoleh bingung, ia melihat tangan lain Yudistira nampak menepuk sisi atas matras dengan pelan. 

 

“Naik sini dulu deh, Jun.”

 

“Ngapain sih?”

 

“Naik dulu.”

 

Nada tegas yang terselip dalam ucapan Yudistira membuat Arjuna tanpa sadar menahan nafasnya sesaat. Jantungnya makin berdegup tak tenang, sehingga ia hanya bisa mematuhi perkataan Yudistira tanpa banyak bertanya lagi. 

 

Arjuna naik perlahan ke atas matras dengan bantuan Yudistira, setelahnya ia duduk di pinggiran matras dan membiarkan kaki nya tergantung karena Arjuna masih mengenakan sepatunya dan tidakmau mengotori tempat Yudistira. 

 

“Terus ngapain aku duduk disini, Dis?”

 

Yudistira mengagihkan senyum tipisnya. Ia melebarkan kedua lutut Arjuna dan memposisikan dirinya untuk berdiri diantara kedua kaki Arjuna dengan jarak yang cukup dekat.

 

Arjuna sempat memekik kaget, namun Yudistira hanya membalasnya dengan tawa pelan. 

 

“Ngapain sih?” Degupan pada jantungnya kian berisik karena posisi Yudistira sangatlah dekat dengannya, terlebih kini Yudistira bisa saja mendengar bunyi berisik dari dada nya yang sejajar dengan wajah lelaki tersebut. 

 

“Hangatin kamu, biar nggak kedinginan.” Yudistira mengarahkan tangannya meraih selimut yang semula terlipat rapi lalu membentangkannya hingga menutupi kepala Arjuna dan sebagian badan Arjuna, namun Yudistira dengan gerakan cepatnya turut masuk ke dalam bentangan selimut tersebut hingga wajah nya yang tengah mendongak bersitatap langsung dengan Arjuna yang merona hebat. 

 

Dibalik samarnya cahaya sebab penerangan pada gudang tidaklah pekat untuk membuat sinarnya turut masuk ke dalam lapisan kain, Arjuna dalam diam tengah menahan nafas dan mengarahkan kedua tangannya ke bahu Yudistira seolah berusaha menjaga jarak aman. 

 

“Yudis, jangan terlalu dek—”

 

DUARRRR

 

“Akh!” Arjuna reflek memeluk leher Yudistira karena kepalang kaget mendengar guntur yang memekakkan sampai membuat beberapa barang-barang di gudang bergetar tak karuan. 

 

Tentunya Yudistira turut merengkuh pinggang ramping Arjuna dan memberikan usapan halus pada punggung sempit yang kini menggigil takut serta kedinginan. 

 

“Ssstt. Petirnya jahat banget nih bikin Juna kaget.”

 

“… diem!” Arjuna berbisik kesal seraya menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Yudistira kian dalam. 

 

“Kamu jangan nangis, Jun.”

 

“Diem, Yudis!”

 

“Nanti aku marahin petirnya deh karena dia udah bikin suara keras-keras sampe bikin kamu kaget.”

 

Arjuna langsung mendongak sebal dan memukuli bahu Yudistira berkali-kali, tanpa menyadari Yudistira termenung saat menatap mata berairnya. 

 

“Kocak! Mana bisa kayak gitu, Yudis!”

 

Kali ini tiada tawa yang Yudistira berikan sebagai respon, melainkan salah satu tangannya malah bergerak menjauh dari pinggang Arjuna sejenak guna terjulur ke sisi wajah manis Arjuna untuk sematkan usapan halus pada sudut mata Arjuna yang secara reflek menutup hingga membiarkan setitik bulir bening menetes jatuh namun sigap disamarkan oleh jemari Yudistira. 

 

Arjuna berusaha memalingkan pandangannya, tatapan yang Yudistira arahkan padanya saat ini terlalu intens hingga membuatnya ingin melarikan diri. 

 

“Petirnya nakal banget, ya, Jun?” Yudistira bertanya lirih tanpa sedikitpun mengguratkan raut wajah jenaka hingga membuat Arjuna bingung harus bagaimana membalasnya. 

 

“Uhm.. iya.” Mau tidakmau Arjuna berkata jujur karena petir yang menggelegar tadi membuat ia benar-benar ketakutan. 

 

“Kita sembunyi aja di balik selimut ini, ya? Aku temenin kamu disini sampe petirnya pergi.” 

 

Arjuna mengedip lamban, terlampau bingung harus bagaimana memproses perkataan Yudistira. Namun satu hal yang tak disadari oleh Arjuna; kedua tangannya kian mengeratkan pelukan ke leher Yudistira dan kepalanya bahkan mengangguk pelan. 

 

“Huum..”

 

Yudistira tertawa pelan, ia memiringkan kepala seraya menatap Arjuna dengan teduh seolah tiada bosannya membuat Arjuna salah tingkah dan makin memerah malu. 

 

“Kalau kamu mau peluk lagi, boleh kok.”

 

Meski lidahnya sempat kelu, Arjuna kini berhasil menemukan keberaniannya lagi untuk membalas perkataan Yudistira dengan sedikit teriakan kesal. 

 

“Malas! Siapa juga yang mau peluk kau, kocak!”

 

Namun tetap saja, Yudistira kembali mengeratkan pelukannya pada pinggang Arjuna dan memajukan raga nya untuk menempel kian lekat layaknya memastikan Arjuna kalau ia tidak sendirian. 

 

Arjuna bisa apa selain memasrahkan diri menerima pelukan hangat tersebut dan membiarkan wajahnya menunduk dan tenggelam ke ceruk leher Yudistira karena kepalang malu jika harus bertatapan dengan Yudistira lebih lama. 

 

Pada sisi kosong dari gudang terbengkalai, bentangan selimut yang menutupi kedua insan tersebut memang terasa pengap meski hanya sesaat, karena gemuruh petir yang membawa hujan deras tiada henti telah menjadi penyejuk bagi mereka yang tengah berbagi peluk untuk saling melindungi satu sama lain. 

 

 

 

 

 

Notes:

:D