Work Text:
Tsukasa selalu menyebut dirinya sebagai bintang. Baginya, panggung adalah tempat untuk bersinar seterang mungkin dan membuat semua orang tersenyum.
Tsukasa memang bintang. Tidak heran kalau banyak mata yang tertuju padanya, terpikat oleh caranya bersinar. Semua orang mengaguminya.
Rui adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengagumi Tsukasa.
Kalau ditanya, “sejak kapan Rui mengagumi Tsukasa?” mungkin Rui akan menjawab tidak tahu. Mungkin saat Tsukasa mengajaknya bergabung Wonderlands x Showtime? Rui tidak tahu pasti, karena awalnya Rui kira rasa kagum itu sama seperti yang dimiliki orang lain. Lagipula, siapa sih yang tidak akan terpikat oleh sosok secerah Tsukasa Tenma?
Perasaan kagum itu perlahan membuahkan kebiasaan baru tanpa Rui sadari. Dia menjadi lebih sering memperhatikan dan memikirkan Tsukasa, baik saat di sekolah atau saat latihan di Phoenix Wonderland. Semua tentang Tsukasa diperhatikan oleh Rui – cara bicaranya, senyumannya, rasa semangatnya saat menceritakan soal Saki, kebenciannya terhadap serangga, bahkan cara dia berpose.
Awalnya, Rui menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa. Sampai suatu hari di perjalanan pulang, Nene menanyakan sesuatu kepadanya.
“Rui, kamu suka Tsukasa, ya?” tanya Nene. Rui terdiam sejenak. Suka?
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” alih-alih menjawab, Rui justru bertanya balik.
“Hmm feeling aja, sih. Tapi kuperhatikan kamu jadi sering uring-uringan kalau Tsukasa gak ada. Kemarin aja waktu dia belum datang, kamu mondar-mandir terus, padahal Tsukasa udah bilang kalau dia bakal telat karena harus bantu adiknya dulu di rumah,” jawab Nene.
Rui terdiam sejenak.
“Oh, hmm… kupikir itu normal? Aku hanya… khawatir dia tidak datang karena latihan ini penting,” jawab Rui akhirnya. Mendengar itu Nene hanya melengos seakan berkata, “terserah, deh.”
Percakapannya dengan Nene di perjalanan pulang berakhir di situ, tapi kata-katanya masih tertinggal di kepalanya.
Suka, ya?
Rui tidak langsung membantah. Tidak juga langsung mengiyakan. Tapi untuk pertama kalinya, dia mencoba memikirkan kata itu.
Rui tidak tahu maksud suka yang dikatakan oleh Nene. Apakah rasa suka yang dimaksud Nene sama seperti Rui menyukai merakit komponen baru? Rui sering mendengar orang-orang di sekitarnya bahwa mereka mempunya orang yang disuka. Mizuki pernah bilang kalau dia menyukai teman satu grupnya, Ena. Dia mengatakan hal itu dengan semburat merah di pipinya. Rui mencoba melakukan hal yang sama seperti Mizuki.
“Aku suka Tsukasa.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Rui merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, ditambah dengan rasa menggelitik di perutnya. Dia juga merasakan rasa hangat yang menjalar di pipinya.
Ah… begitu, ya?
Jika “suka” yang dimaksud Nene adalah hal sama yang dengan yang Mizuki rasakan…
Jika “suka” adalah perasaan yang membuat seseorang salah tingkah ketika menyebut atau mendengar nama orang itu…
Jika “suka” adalah sesuatu yang membuat pikiran kembali ke orang yang sama tanpa diminta…
Rui tersenyum kecil.
“Iya, aku suka Tsukasa.”
Lalu keesokan harinya, Rui kembali ke Phoenix Wonderland untuk latihan seperti biasa. Dan, orang pertama yang Rui lihat adalah Tsukasa. Sang bintang.
“Rui! Akhirnya kamu datang! Ada yang mau aku tanyakan soal peran ini!”
Suara itu terdengar sama, selalu bersemangat dan hidup. Hanya ada satu hal yang berbeda.
Rui tidak lagi bingung dengan perasaan itu.
Tsukasa tetap Tsukasa. Berisik, cerah, dan selalu berbicara tentang panggung dan menjadi bintang. Seperti halnya planet, yang secara alami tertarik dan bergerak mengelilingi bintang karena gravitasinya, Rui pun tanpa sadar selalu kembali memperhatikan Tsukasa. Rui adalah planet, sementara Tsukasa adalah bintang. Bintangnya yang paling terang, bintang cahayanya membuat Rui senantiasa mengelilingi sekaligus mengagumi sang bintang.
Bagi Rui, Tsukasa adalah bintang yang selalu menjadi tempat ia mengorbit kembali.
