Actions

Work Header

Shape Of My Heart

Summary:

Tanaka Keiko tak pernah berniat mengubah hidupnya. Hingga pertemuannya dengan Selena Kim membuatnya menemukan musik, persahabatan, dan keberanian yang selama ini hilang. Namun saat luka lama kembali menghantui, Keiko harus memilih: terus bersembunyi di balik traumanya, atau memperjuangkan hidup yang benar-benar ia inginkan.

Work Text:

BAB I

Study partner

Selena Kim tidak memiliki setetes pun darah Indonesia di dalam tubuhnya. Namun sejak enam tahun lalu, ketika pekerjaan sang ayah membawanya ke Jakarta, kota ini perlahan berubah menjadi rumah.

 

Kini, di usia enam belas tahun, gadis berdarah Korea Selatan–Kanada itu melanjutkan sekolah di salah satu sekolah internasional ibu kota. Sejujurnya, ia hanya naik kelas, karena sejak pertama kali pindah ke Jakarta, ia sudah bersekolah di sekolah yang memang menyediakan pendidikan dari jenjang TK hingga SMA.

 

Singkat cerita, ia sudah menjadi murid SMA setidaknya sejak dua hari yang lalu. Pagi ini kelasnya telah dilaksanakan kuis bahasa Inggris oleh guru. Wanita di depan sana membagikan lembaran pekerjaan siswa yang sudah dinilai. Selena masih berbicara dengan teman yang duduk di sebelahnya saat guru itu berbicara pada seorang murid yang baru saja ia panggil ke depan kelas.

 

Wanita itu berkata, "Keiko, stay after class for a moment please.”

 

Selena dan beberapa murid langsung melirik ke depan kelas penuh selidik. Beberapa tampak menghakimi, beberapa lagi tampak mengasihani. Selena memilih opsi kedua.

 

Ia menatap punggung murid perempuan berambut panjang sepunggung dengan tangan yang memegang lembaran pekerjaan kuis bernilai merah itu. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang akan murid malang itu terima setelah kelas selesai.

 

Setelah semua siswa menerima hasil pekerjaannya masing-masing, bel istirahat berbunyi. Guru menutup mata pelajaran dan membereskan buku-bukunya, sementara murid-murid langsung berbondong-bondong keluar dari kelas.

 

Kini tersisa Selena yang tengah berusaha menggendong tas punggungnya, guru yang masih membereskan buku-bukunya dan Keiko yang masih duduk di kursinya, menunggu arahan atau mungkin hukuman dari guru atas nilai merahnya.

 

Begitu Selena membaca situasi, ia langsung melangkah meninggalkan kelas. Namun, baru beberapa langkah, namanya tiba-tiba dipanggil oleh guru. "Selena."

 

Perempuan berambut pirang itu menoleh ke kiri, menatap sang guru. "Yeah?"

 

"I think you can help her." Guru itu memiringkan kepala sekilas ke kanan, tertuju lurus ke arah Keiko duduk.

 

Untuk sesaat, Selena tercengang. Di antara semua murid, kenapa harus ia? Padahal ia percaya ada murid yang nilai kuis bahasa inggris tadi lebih bagus.

 

Selagi mencerna keadaan, ia memindai keberadaan Keiko di tempat duduknya. Perempuan berdarah Jepang yang memiliki poni lurus menutupi dahi itu memandang penuh rasa bersalah.

 

"Keiko’s English isn’t too bad, but her English grades are the lowest in the class. I hope you’re willing to help me with this, Selena," tambah Sang Guru.

 

Selena tidak bisa menolak permohonan itu. Maka, ia mengangguk dan sang guru membalas dengan senyuman.

 

“Baik, Miss. Saya akan bantu dia belajar.”

 

Thank you so much. Ibu harap kemampuan Bahasa Inggrisnya meningkat jika diajari oleh kamu, Selena.”

 

Keduanya ditinggalkan berdua di kelas dengan suasana yang canggung. Selena menatap presensi perempuan bernama Keiko yang kini juga sedang menatapnya penuh rasa bersalah.

 

Selena memperhatikan gerakan Keiko yang perlahan berdiri dari tempat duduk dan menggendong tasnya, lalu berjalan mendekati Selena.

 

Kemudian tanpa disangka perempuan itu membungkukkan sedikit badannya hanya untuk mengucapkan kalimat, “maaf, aku jadi bikin repot.”

 

Selena mendadak merasa bersalah. Ia langsung memegang kedua lengan Keiko agar perempuan itu berdiri tegak.

 

Rambut panjang yang semula menutupi sebagian wajahnya akibat membungkuk, kini berangsur menyingkir ke sisi wajah. Rambutnya hitam lurus dengan poni rata menutupi seluruh dahinya. Wajahnya cenderung kecil dan memiliki struktur wajah Asia Timur, matanya cukup besar. Tingginya sedikit di atas dirinya sehingga ia harus sedikit mengangkat pandangan. Selain itu, ada perbedaan proporsi yang langsung terbaca. Posturnya tegak, dengan bahu yang sedikit kaku.

 

It’s okay. Aku mau kok ngajarin kamu bahasa inggris.”

 

Selena tersenyum dan mengulurkan tangan. “Salam kenal, aku Selena Kim. Panggil aja Lena.” Keduanya berjabat tangan dan bertukar senyum canggung.

 

“Namaku Tanaka Keiko. Salam kenal, Lena.”

 

“Mau ke kantin bareng?” Ajakan Selena berakhir direspons anggukan oleh Keiko.

...

Beberapa informasi yang telah Selena dapatkan dari obrolan di kantin bersama Keiko adalah: Keiko berasal dari Osaka. Sejak awal kepindahan ia bertempat tinggal di Bali bersama Tante-nya. Tapi, kini di Jakarta dia tinggal sendiri di asrama yang merupakan fasilitas dari sekolah.

 

Selena juga bertanya, “kapan kamu pindah ke Indonesia?” Keiko menjawab, “kira-kira satu tahun yang lalu, atau lebih.”

 

“Kenapa pindah ke Indonesia? Orang tua ada kerjaan di sini ‘kah?” Sesaat, Selena menunggu jawaban dari Keiko. Namun, ia langsung sadar apa yang tengah ia lakukan. “Maaf, aku banyak nanya, ya?”

 

Keiko menggeleng kaku, lalu menyesap es jeruk yang ia pesan di atas meja. Sementara itu, Selena tampak mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.

 

Btw, tukeran id line, yuk?” tanya gadis blasteran Kanada-Korea itu.

 

Keiko lantas mengeluarkan ponsel dan bertukar id line dengan Selena. Dengan begini, mereka bisa berkomunikasi meski di luar sekolah.

 

Selena langsung menambahkan akun Line Keiko. “Done."

 

Keiko melihat notifikasi yang muncul di layar ponselnya sendiri. “Oke."

 

Beberapa detik kemudian, Selena menatap profil Line milik Keiko, lalu mengernyit. Keiko ikut melihat layar ponselnya. “Ada yang salah?” tanyanya.

 

"Lagi mikir mau ganti nama kontak kamu.”

 

"Emang harus?" Keiko terlihat bingung.

 

"Iya, biar lucu." Selena tertawa kecil. Lalu jarinya mulai mengetik sesuatu.

 

Keiko memperhatikan dengan penasaran. Beberapa detik kemudian Selena menunjukkan layarnya.

 

Ko-chan 🍣

 

Keiko membeku. “Ko-chan?"

 

Selena langsung tersenyum lebar. “Ko-chan dan emotikon sushi." Ia menjelaskan.

 

"... kenapa bukan Keiko?"

 

"Karena Ko-chan lebih lucu."

 

Keiko menatap layar beberapa detik. Lalu menatap Selena. Lalu kembali ke layar lagi.

 

"Kenapa?” Selena menatap bingung.

 

"Aku gak pernah dipanggil begitu."

 

"Oh." Selena malah terlihat makin senang. “Berarti aku yang pertama."

 

Keiko tidak tahu harus menjawab apa. Di tempatnya berasal, orang biasanya tidak tiba-tiba memberi nickname setelah kenal beberapa jam. Bahkan mereka belum ada satu jam saling mengenal.

 

Tapi Selena terlihat seolah itu hal paling normal di dunia.

 

"Kalau kamu gak suka, aku bisa ganti." Selena menawarkan sambil membuka menu edit dengan santai.

 

Keiko ragu beberapa detik. “... gak apa-apa."

 

"Hah?"

 

"Gak apa-apa."

 

Selena langsung tersenyum lebar.

 

"YES."

 

Keiko kembali bingung.

 

"... kenapa kamu senang banget?”

 

"Karena Ko-chan kedengarannya imut."

 

Keiko langsung mengalihkan pandangan ke minumannya. Sementara Selena diam-diam menahan tawa karena telinga Keiko mulai merah sedikit.

 

“Oh? Telingamu gak apa-apa, Ko-chan?”

 

Keiko refleks menutup telinganya. “... apa?"

 

"Itu merah."

 

"Enggak."

 

Selena langsung tertawa. Sementara Keiko buru-buru meneguk minumannya, berharap topik itu selesai. Sayangnya, Selena Kim bukan tipe orang yang membiarkan sesuatu selesai begitu saja.

 

"Ko-chan."

 

"..."

 

"Ko-chan."

 

"..."

 

"Ko-chan."

 

Keiko akhirnya mengangkat kepala. “Apa?"

 

Selena langsung tersenyum puas.

 

"Nah, gitu dong, nyahut."

 

Keiko menyesal.

 

Sedikit.

 

"Kayaknya aku bakal manggil kamu itu terus."

 

Selena menopang dagu dengan tangannya yang berada di atas meja, sepenuhnya menatap perempuan di sebelahnya.

 

"Kalau begitu ..." Selena tiba-tiba bergerak maju, mendekati Keiko yang mana membuat Keiko sedikit terkejut. “Hobimu apa?" tanyanya.

 

"Hm?" Keiko mengangkat kedua alisnya, berharap Selena mengulang pertanyaan.

 

"Hobi."

 

Keiko menatap gelasnya sebentar, berpikir.

 

"... musik."

 

Mata Selena langsung berbinar.

 

"Serius?"

 

Keiko mengangguk.

 

"Musik apa?"

"... macam-macam."

 

Selena langsung mengerucutkan bibir mendengar jawaban singkat itu.

 

"Itu jawaban paling ngebosenin yang pernah aku dengar."

 

Keiko berkedip. “Kenapa?"

 

"’Macam-macam ‘kan bukan genre."

 

"Terus aku harus jawab apa?"

 

"Yang spesifik."

 

Keiko berpikir sebentar.

 

"... hip hop."

 

Mata Selena langsung membulat. “Serius?"

 

"Iya."

 

"Kamu?"

 

Keiko mengangguk. Selena terlihat sangat terkejut dan langsung menegakkan badannya. “Wow."

 

"Kenapa?”

 

"Kamu nggak keliatan kayak orang yang suka hip hop." Sesaat Selena memindai Keiko dari atas sampai bawah.

 

Keiko mengernyit. “Orang yang suka hip hop harus keliatan kayak apa?"

 

Selena langsung terdiam. “... hehe.” Ia hanya bisa terkekeh.

 

Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk bersama, percakapan mulai mengalir lebih alami.

 

"Kalau kamu?" tanya Keiko.

 

"Hm?"

 

"Musik yang kamu suka."

 

"Oh."

 

Selena langsung tersenyum.

 

"Pop."

 

"Hanya pop?"

 

"Pop, R&B, sedikit hip hop."

 

Keiko mengangguk pelan.

 

"Tapi kebanyakan dari penyanyi western," tambah Selena.

 

"Oh."

 

"Kamu?”

 

Keiko memainkan sedotannya sebentar. “Kebanyakan dari penyanyi Jepang."

 

"Masuk akal." Selena kembali menopang dagunya. “Siapa penyanyi favorit kamu?" Ia lanjut bertanya.

 

Keiko berpikir cukup lama, lalu menyebut beberapa nama yang tidak dikenali Selena sama sekali.

 

"... aku gak kenal satu pun. Aku merasa bodoh."

 

Keiko tersenyum tipis. “Kelihatan."

 

"WOI." Selena menahan diri untuk tidak mengumpat pada teman barunya.

 

Beberapa detik kemudian, perempuan berdarah Korea-Kanada itu menyadari sesuatu. “Kita bisa tukeran playlist! Kamu bisa latihan bahasa inggris pakai lagu-lagu di playlist aku! Itu kalau kamu mau, sih.”

 

Keiko mengangguk, merasa itu ide yang bagus. “Boleh, kirim aja playlist-nya, nanti aku juga kasih.”

 

Mata Selena langsung berbinar. “Deal."

 

Ia segera membuka Spotify di ponselnya. Jarinya bergerak cepat di layar.

 

"Tapi jangan kaget."

 

Keiko memperhatikannya. “Kenapa?"

 

"Playlist-ku panjang."

 

"Seberapa panjang?"

 

Selena membalik layar ponselnya, membuat Keiko melihat angka di bagian atas.

 

17 jam 43 menit.

 

Perempuan Jepang itu tercengang, ia menatap layar ponsel Selena, beralih menatap si pemilik ponsel, lalu kembali menatap ponselnya.

 

"Kenapa?” Selena mengernyit.

 

"Itu bukan playlist."

 

"Ini playlist, Ko-chan."

 

"Itu stasiun radio."

 

Selena langsung tertawa keras. “Hei!"

 

"Aku serius."

 

Beberapa detik kemudian, notifikasi Line masuk ke ponsel Keiko.

 

Selena Kim sent a Spotify link

 

Keiko membukanya.

 

Lalu membaca beberapa judul lagu yang muncul di paling atas. Semuanya berbahasa Inggris. Sebagian besar bahkan tidak pernah ia dengar.

 

"Nah, sekarang giliranmu."

 

Keiko mengangguk, lalu membuka Spotify miliknya.

 

Selena menunggu.

 

Satu detik.

 

Dua detik.

 

Tiga detik.

 

"Kok lama?" Selena hampir mati karena menunggu.

 

"Aku punya banyak playlist."

 

"Terus?"

 

"Aku lagi milih mana yang mau aku kirim."

 

Selena langsung menjatuhkan kepalanya ke meja.

 

"Oh my God."

 

Akhirnya sebuah notifikasi masuk ke Line miliknya. Selena mengangkat kepala dan menyalakan benda pipih itu dengan penuh rasa ingin tahu yang tinggi.

 

Lima detik kemudian ia mengernyit.

 

Sepuluh detik kemudian, ia makin mengernyit.

 

Lima belas detik kemudian, ja mengangkat kepala.

 

"Ko-chan."

 

"Hm?"

 

"Aku gak bisa baca setengah judul lagu di sini.”

 

Keiko menahan senyum. Sementara Selena kembali melihat playlist itu. “Hip hop semua?"

 

"Hampir."

 

"Wow."

 

Selena menatap Keiko sejenak, beralih ke playlist. Kemudian Keiko lagi.

 

"Jujur aja."

 

"Apa?" Keiko mengangkat kedua alisnya.

 

"Aku masih susah percaya kamu suka hip hop."

 

Keiko terlihat bingung. Selena berdecak, lalu kembali berkata, “kamu keliatan kayak murid teladan yang pulang sekolah langsung belajar."

 

Keiko mengangkat kedua bahunya.

 

"Aku memang pulang sekolah langsung belajar."

 

Selena langsung tertawa sampai hampir tersedak minumannya. Teman barunya sedikit menarik.