Actions

Work Header

Kado Kecil Ulang Tahun Ilyas.

Summary:

Karan pikir Ilyas sudah lupa dengan permintaannya yang satu itu. Kalau pun iya, akan Karan maklumi juga, melihat tumpukan buku dan catatan yang sedang Ilyas coba telan mentah-mentah. Karan pikir dirinya harus menunggu sampai minggu ujian selesai untuk mencicip ranum yang rasanya enggan pergi dari sela-sela otak Karan, tapi Karan salah. Apa lagi saat Ilyas bangkit dari kursinya dan mendekatkan dirinya pada Karan,

Karan nggak pernah lebih senang untuk salah dari ini.

Notes:

Check my works on X to see the full parts.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Mie lu,” suara Karan terdengar tepat setelah pintu kamar Ilyas terbuka lebar. 

Sudah lebih dari satu minggu rasanya Ilyas dan Karan berkutat dengan tugas-tugas akhir semester. Entah itu tugas kelompok, individual, atau sekedar mengulang materi untuk mempersiapkan ujian akhir yang membuat kepala keduanya hampir pecah. Dihitung dari terakhir kali, artinya sudah lebih dari satu minggu juga Ilyas dan Karan menghabiskan waktu berdua. 

Ilyas dan Karan mempunyai metode belajar yang jauh berbeda. Karan lebih suka kalau belajar di luar, mencari kafe yang nyaman bersama teman-teman seperjuangannya. Menurut Karan semakin banyak yang belajar bersama, maka semakin masuk juga materinya. Sedangkan metode belajar yang Ilyas sukai berbeda seratus delapan puluh derajat. Ilyas lebih suka mendekam di kamarnya sendiri. Ilyas lebih suka ditemani sunyi daripada bising dan bunyi yang kerap menyertai kafe favorit Karan. 

Seperti sekarang. Ilyas sudah mulai membuka catatannya untuk dibaca ulang sejak jam dinding di kamarnya menunjuk angka empat, dan sekarang sudah pukul delapan malam. Empat jam lamanya Ilyas mengulang materi tanpa istirahat barang satu menit pun. Kecuali saat menjawab chat Karan tadi, mungkin itu yang Ilyas anggap istirahat. Hasilnya lumayan baik, ada beberapa materi yang akhirnya Ilyas pahami walau harus dibaca ulang lima kali. Tapi sekarang Ilyas kelaparan, dan kepala Ilyas sudah mulai sakit saat Karan membuka pintu sambil membawa dua mangkuk mie instan yang baru matang.

Fokus Ilyas yang tadinya berada pada catatan berisi materi-materi yang akan diuji besok pagi seketika buyar. Harum bumbu mie instan yang paling Ilyas suka menyeruak ke seluruh penjuru kamarnya. Tapi, bukan wangi mie instan yang membuat senyum Ilyas bertengger di wajah lelahnya.

Sambil memegang dua mangkuk yang masih timbul asapnya, Karan mengambil langkah mendekati Ilyas. Satu mangkuk mie Karan taruh di atas tumpukan buku. Lalu Ilyas mendecak, “ya jangan di sini juga naronya, Ran,” protes Ilyas sambil memindahkan mangkuknya ke bagian kosong meja.

Yang diprotes cuma cengengesan, “biar cepet. Panas banget gila, liat tangan gua merah,” bela Karan sambil memamerkan telapaknya.

Ilyas melihat sodoran tangan Karan yang benar memerah, lalu Ilyas tiup sambil dielus pelan, “masih panas, nggak?” yang membuat mata Karan membulat untuk sepersekian detik.

Kalau Ilyas lebih memperhatikan lagi, pasti Ilyas bisa melihat semburat merah tipis yang muncul di pipi Karan, “apa sih lu? Sok manis,” sahut Karan cepat. 

Tapi mungkin mulut dan hati Karan mengucap dua hal yang berbeda. Karena setelah Ilyas tertawa dan mengalihkan pandangannya kembali ke meja belajar untuk membereskan catatan, Karan tersenyum malu sambil mengepalkan tangan. Matanya dibawa ke mana pun yang Karan bisa, asal bukan pada satu yang ada di hadapannya.

Mangkuk mie satunya yang masih Karan pegang kini ditaruh di sebelah mangkuk Ilyas. Lalu Karan membalikkan badannya untuk menutup pintu kamar, biar nggak ada nyamuk masuk. Atau mungkin biar Ilyas nggak kadung sadar akan pipi Karan yang sedang bersemu. 

Mungkin, ya.

“Kok kuahnya dikit banget?” Pertanyaan Ilyas membuat Karan membubarkan agenda cengar-cengirnya dan kembali mendekat, “mana dikit, sih? Normal, ‘kan emang segini gua kalo bikin mie. Katanya mau mie yang gua makan?” Jawab Karan yang alisnya mulai mengerut. 

Ilyas terdiam sebentar, “iya, sih… tapi—”

“Yaudah. Tambahin aja airnya sendiri, sampe banjir sekalian,” lalu Ilyas terkekeh mendengar nada bicara Karan yang mulai nyolot. Karan itu terlalu mudah kesal akan hal-hal kecil yang Ilyas lontarkan secara asal dari mulutnya, tapi Ilyas bukannya nggak sengaja, “iya, iyaa. Nggak gue tambahin airnya, alis lu udah siap ngomelin gue tuh.”

Dua puluh tahun Ilyas hidup, selalu ada Karan di sampingnya. Mana mungkin Ilyas nggak tau cara emosi Karan bekerja? Justru karena Ilyas yang paling paham, makanya Ilyas paling sering menggoda Karan dengan sengaja. Toh, Ilyas tau persis jalan keluarnya.

Ilyas bangkit dari duduknya untuk menarik kursi lain yang berada di pojok kamarnya, “duduk sini,” sebut Ilyas sambil menepuk kursi yang baru ditarik. Lalu Ilyas diam sebentar dan menepuk pahanya, “atau mau di sini?”

Karan memutar bola matanya malas, “bercandanya makin rese dah,” protes Karan yang disambut dengan tawa Ilyas setelahnya.

Kalau Ilyas boleh jujur, menggoda Karan adalah kegiatan favoritnya sekarang. Sebenarnya dari dulu, tapi Ilyas semakin suka lagi. Rasanya sekarang Karan semakin gampang digoda, tapi untungnya semakin gampang juga Karan dirayu untuk baikan. Sesulit-sulitnya, Ilyas bisa mencuri sebuah ciuman dan senyum Karan akan kembali datang. 

Tangan Karan menyodorkan sumpit dan sendok yang posisinya berada lebih dekat dengan dirinya. Setelah Ilyas ambil dan mengucap terima kasih, keduanya langsung sibuk dengan mangkuk masing-masing. Di antara keduanya, memang Ilyas yang lebih bisa dan terbiasa dalam urusan masak-memasak. Tapi perlu Ilyas akui bahwa Karan mempunyai cara yang lebih kreatif dalam memasak mienya.

Dahi Ilyas yang mengerut membuat Karan tersenyum bangga, “enak, ‘kan? Udah gua bilang, gua lebih jago kalo masalah mie-miean. Nah, artinya sekarang waktu yang pas banget buat muji gua, Yas, cepet.”

Ilyas mendengus pelan, “yaudaah, iyaa. Emang lu paling jago masak mie, gue kalah telak,” lalu Karan memasang ekspresi paling jumawa sepanjang masa. 

Karan itu paling suka kalau Ilyas memuji dirinya. Padahal sama sekali bukan hal yang jarang Ilyas lakukan, tapi rasanya Karan nggak akan pernah bosan. Makanya Karan mempunyai satu rahasia kecil yang nggak pernah Ilyas ketahui; bahwa dirinya sering dengan sengaja melakukan suatu hal agar Ilyas memuji.

Beberapa suapan kemudian, Karan kembali memecah fokus makan keduanya, “besok ujian lu pagi, ‘kan?” tanya Karan setelah menelan suapan terakhirnya. Ilyas mengangguk, “setengah sembilan. Harusnya jam delapan tapi dosennya mundurin jam,” jelas Ilyas.

“Tetep pagi, jir,” sahut Karan pelan. Dirinya terdiam sebentar lalu melanjutkan, “artinya abis ini langsung tidur?” Karan bertanya sambil sedikit berharap Ilyas menggelengkan kepala sebagai jawaban. Karena artinya, Karan berkesempatan untuk menghabiskan waktu berdua sampai kantuk menelan mereka. 

Dan harapan Karan menjadi nyata, “belum bisa tidur dulu,” jawab Ilyas sambil menatap Karan. Yang ditatap sekarang sedang menahan senyumnya, takut terlalu sumringah. Nanti Karan malu kalau hatinya ketahuan sedang bersorak gembira.

“Kenapa emangnya?” Tanya Karan memancing. Karan hampir seratus persen yakin bahwa Ilyas juga ingin menghabiskan malam dengan dirinya, apa lagi tadi Ilyas juga yang meminta. Mungkin nggak akan lama, tapi minimal mereka bisa mencuri sebuah ciu—

“Ada materi yang belum kebaca,” yaelah

Ternyata Karan emang nggak boleh berekspektasi terlalu tinggi.

Air muka Karan yang sebelumnya sumringah langsung redup seperti ditarik terangnya, “oh, yaudah. Lanjutin, dah,” lalu Karan langsung cepat-cepat membereskan mangkuknya sendiri untuk dibawa turun dan dicuci. 

Ilyas melihatnya bingung, “kok buru-buru banget?” yang jelas nggak digubris oleh Karan. 

Memang banyak yang bilang kalau Karan mudah kesal. Dan dengan berat hati, Karan akan menyetujui kalau ada yang menyebut dirinya ambekan. Tapi Karan berani bersumpah dirinya ingin buru-buru pergi kali ini bukan karena kesal dengan Ilyas. Karan begini karena Karan malu, bagaimana bisa dirinya mempunyai tingkat kepercayaan diri setinggi itu? Dibanding dirinya, jelas malam ini Ilyas lebih minat mencium tumpukan buku.

Sebelum Karan sempat melangkahkan kakinya, tangan Ilyas keburu menahan, “kenapa, sih?” 

Kalau boleh jujur, Karan benar-benar nggak tau harus jawab apa. Jangankan membuka mulut, Karan rasa tenggorokannya terlalu kering untuk sekedar mengeluarkan suara. 

Sepersekian detik kemudian, Karan berdeham untuk menghilangkan rasa canggung yang sibuk menggandrungi dirinya, “gapapa, Yas. Biar lu bisa lanjut belajar aja, kalo ada gua takut ganggu.”

“Ganggu gimana? Biasanya lu santai aja ngegame pas gue belajar?” lalu Karan cuma bisa menggaruk belakang lehernya yang nggak gatal sama sekali itu. 

“Lagian, kado gue belum lu kasih, Ran,” lanjut Ilyas lagi. 

Dahi Karan mengernyit, “apanya belum dikasih? Itu mie yang udah nyampe lambung lu apa namanya kalo bukan kado?”

“Iya, tapi ‘kan gue minta yang lain juga,” jawab Ilyas, kali ini matanya terkunci pada Karan.

Karan semakin bingung, jaket kali, ya? 

“Lu beneran mau jaket gua, yak?” tanya Karan heran. Yang ditanya cuma terkekeh, “satunya, Karan,” lalu jari telunjuk Ilyas naik dan mengetuk dua kali area bawah bibirnya. 

Sialan. Karan kena lagi.

Karan pikir Ilyas sudah lupa dengan permintaannya yang satu itu. Kalau pun iya, akan Karan maklumi juga, melihat tumpukan buku dan catatan yang sedang Ilyas coba telan mentah-mentah. Karan pikir dirinya harus menunggu sampai minggu ujian selesai untuk mencicip ranum yang rasanya enggan pergi dari sela-sela otak Karan, tapi Karan salah. Apa lagi saat Ilyas bangkit dari kursinya dan mendekatkan dirinya pada Karan,

Karan nggak pernah lebih senang untuk salah dari ini.

Karan cuma bisa diam saat Ilyas mengambil mangkuk kotor di tangannya dan menaruhnya kembali ke meja. Karan juga diam saat Ilyas menarik dirinya mendekat ke kasur. Lalu saat badan Karan dijatuhkan bersamaan dengan Ilyas yang menimpa di atasnya, Karan cuma reflek menahan napas dan memasrahkan dirinya akan segala hal yang akan Ilyas lakukan.

Sejak kecil, Karan nggak pernah merasa ada perbedaan yang signifikan antara dirinya dan Ilyas. Ilyas sering meminjam segala jenis pakaian Karan, begitu pula sebaliknya. Nggak pernah ada yang kebesaran, nggak pernah ada juga yang kekecilan. Tapi untuk kali ini, Karan merasa bahwa dirinya sangat kecil dibanding Ilyas.

Berada di bawah kukungan badan Ilyas membuat Karan nggak bisa berkutik barang satu senti pun. Dan ketika Ilyas memutuskan untuk memutus jarak antar keduanya, Karan cuma bisa menutup mata dan menikmati sesapan lawan mainnya.

Jemari Ilyas yang bermain di rambutnya, mata yang sama-sama terkatup rapat, dan napas keduanya yang memburu seirama. Ilyas mencumbu Karan seakan hari esok nggak akan datang, dan Karan akan berdosa kalau bilang dirinya nggak menikmati setiap pergerakan bibir Ilyas. Maka sebagai bukti, Karan meraih tengkuk si Gemini agar dirinya bisa mencicip lebih dalam lagi. 

Sampai pipi keduanya menyemu dan pasokan oksigen yang hampir lewat limitnya, lalu Ilyas putuskan agar bisa sama-sama mengambil napas. Tapi yang Ilyas rasakan malah oksigennya semakin menipis. Ilyas selalu suka pemandangan Karan dengan mata sayu dan bibir bengkak yang Ilyas anggap sebagai hasil karyanya. Menurut Ilyas, wujud paling cantik Karan ada di saat-saat seperti ini, dan Ilyas selamanya nggak akan rela kalau Cantiknya dilihat oleh orang lain.

“Katanya masih ada materi yang belum kebaca?” pertanyaan Karan muncul sesaat setelah napasnya kembali normal. Ilyas tersenyum, “lebih penting kado gue,” sebutnya sambil mencuri satu kecupan.

Karan memiringkan kepalanya bingung, “jadi sekarang ada yang lebih penting dari dapet nilai bagus?”

“Nggak belajar juga gue masih bisa dapet nilai bagus, Ran. Tapi kalo nggak dapet bibir lu malem ini, kepala gue bisa pecah,” jawaban Ilyas sukses membuat Karan tertawa.

“Segitu dramatisnya kalo nggak ciuman sama gua?” tanya Karan menggoda. Ilyas mengangguk sebagai jawaban, “napas gue lu yang pegang sekarang,” lalu Karan langsung mencibir.

“Terus belajarnya nggak mau dilanjutin?” tanya Karan lagi, dan kali ini Ilyas menggeleng, “ngulang materi masih bisa besok pagi. Tapi kalo ciuman sama lu yang digeser ke besok pagi, nanti soalnya gue jawab Karan Karan Karan semua.”

“Alay banget anjinggg.”

Dari dulu, Ilyas selalu dianggap sebagai orang yang penuh ambisi dalam mengejar nilai sempurna. Tapi mungkin untuk malam ini, kompas ambisinya rusak dan berubah arah pada bentuk sempurna lain yang sedang berada di bawahnya.

Notes:

author's blocked got me bad last week... tolong jangan lemparin aku batu karena ciumannya cuman seiprit... please know that iLoveU all sm kecup besar ^_______^ hidup jaedoh selamanya.