Chapter Text
Sudah dua tahun sejak Kim Jaehee menetap di Asahigaoka. Ia datang untuk tinggal bersama Kakek dan Nenek dari pihak Ibunya sampai keduanya tiada setahun silam. Kini ia enggan untuk kembali ke Korea, karena sudah merasa nyaman dengan orang-orang di desa dan terlalu sayang dengan murid-muridnya. Penduduk desa juga enggan untuk melepas satu-satunya guru yang ada di desa itu.
Jaehee hanya memiliki enam orang murid. Dua di tingkat sekolah dasar bernama Daisuke dan Nako. Lalu, ada Sakuya, Ryo, Takuto, dan Kotoko di tingkat sekolah menengah. Juga Jaehee sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar bertahan hingga Daisuke, muridnya yang paling muda, lulus sekolah menengahnya di sini.
Hari ini ia pergi membawa murid-muridnya ke Alun-alun Desa. Materi pelajaran wajib sudah habis dan sekolah sudah mendekati libur musim panas. Jaehee pikir, akan lebih menyenangkan jika mereka menghabiskan hari terakhir sekolah di ruang terbuka.
Sesampainya mereka di Alun-alun, para pemuda desa nampak tengah berkumpul untuk membersihkan dedaunan dan menghias tempat tersebut. Jaehee terlihat bingung, sebab ini adalah pertama kalinya Jaehee menghabiskan musim panas sendirian, biasanya ia akan menghabiskan waktunya sendiri atau dengan keluarganya untuk pergi ke kota.
'Cukup menyedihkan', pikirnya.
Lamunannya buyar saat Nako yang rambutnya diikat rapi menarik bajunya.
“Sensei, ‘kan hari ini hari terakhir sekolah. Boleh nggak kami bermain saja di sini? Janji hanya di alun-alun, deh. Iya, kan, Dai-chan?”
Bocah yang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar itu mengangguk ribut. Sementara keempat murid yang lebih tua menyengir, melihat kesempatan dalam kesempitan.
Tentu saja Jaehee dengan senyum malaikatnya berkata, “Nanti ya, Nako-chan? Sekarang kita akan mengamati tempat ini dan mempelajari hal baru”.
“Hal baru apa? Mereka ‘kan sedang mempersiapkan Tradisi Pohon Pengikat Harapan, Sensei!” Ujar Kotoko.
Sakuya yang pada dasarnya tidak bisa diam ikut mencibir, “Hal baru buat Sensei saja, kali!”
“Tradisi Pohon Pengikat Harapan?”
“Oh! Sensei!” Panggil seorang paruh baya dengan kemeja kotak-kotak rapi sambil membawa teh.
“Oh, Ichijō-san. Selamat siang.” Sapanya. Seperti yang sudah ia prediksi, murid-muridnya memanfaatkan fokusnya yang terpecah dan berpencar ke seluruh penjuru alun-alun. Dengan wajah lelah Jaehee hanya bisa berteriak, “Sakuya, Ryo, Kotoko, Takuto! Jangan bermain jauh-jauh! Tolong jaga Nako dan Daisuke!”
Paruh baya itu terbahak kecil dan mengundang para tetua lainnya untuk mengitarinya. Mereka mulai membicarakan persiapan Tradisi Pohon Pengikat Harapan dan Jaehee hanya bisa menyimak. Mereka juga saling bertukar cerita tentang kisah mereka sendiri dengan tradisi ini. Mendengar cerita dari para tetua membuat Jaehee sadar bahwa ia belum benar-benar banyak mengikuti tradisi setempat karena terlalu sibuk dengan keluarganya sendiri.
Menurut para tetua yang mengajaknya berbicara itu, tradisi ini dilaksanakan setiap tahun. Katanya, jika seseorang mengikatkan pita yang berisi harapan pada pohon sakura legendaris di Alun-alun Desa Asahigaoka dan jika pita itu dapat bertahan setelah diterpa badai, keinginan yang tuliskan pada pita itu akan terwujud.
Sebagai generasi yang sudah melek teknologi, tentu saja Jaehee tidak terlalu mempercayai omong kosong itu. Namun, sebagai pendatang, baiknya ia hanya mengangguk dan tersenyum sebagai bentuk menghargai. Walau mungkin ada setitik keinginan untuk menggantungkan harapan pada tradisi ini.
“Nah, Jaehee-kun. Mau mencoba untuk menulis harapanmu?” Tawar salah seorang pemuda yang baru saja selesai merapikan pita di atas meja sambil menyodorkan seutas pita dan spidol.
“Ah, mungkin nanti saja, Nakamoto-san”, tolaknya halus. Ia masih sedikit skeptis dan tidak ingin ikut campur. Namun, sepertinya Nakamoto bersikeras.
“Ayolah, kita sudah lumayan lama saling mengenal dan kau masih memanggilku ‘Nakamoto’? Yuta saja cukup, kok?”
“Ah, baiklah Yuta-san.”
Lalu mereka saling diam. Atmosfer canggung hampir melingkupi keduanya jika saja Ryo tidak menghampiri dan memecah keheningan.
“Yuta-nii! Di mana aku bisa menulis harapanku? Aku mau tulis!” Ujarnya dengan wajah riang. Ketiga temannya mengikuti dari belakang.
“Dai juga! Dai juga!” Sorak Daisuke sambil tergopoh berusaha menyamai irama langkah Nako yang memiliki kaki yang lebih panjang darinya.
Yuta yang memiliki niat fokus mencari cara untuk membuat Jaehee menulis harapannya pun bergegas mengambil beberapa utas pita dengan berbagai warna dan spidol.
“Nih, bocah! Jangan lupa dikembalikan dan ajak juga guru kalian untuk menulis harapannya.” Kata Yuta lantas berlalu.
“Hm ...? Apa ini? Sensei mau menulis harapan juga?” Sakuya menggoda gurunya.
Jaehee tak ambil pusing dengan ujaran muridnya. Ia mendudukkan dirinya setelah menggelar tikar piknik yang cukup untuk ia duduki bersama murid-muridnya. Ia membagikan masing-masing murid pita dan spidol dengan berbagai macam warna.
Dan inilah awal dari kekacauan bagian dua.
