Actions

Work Header

Caged Bird Dream Of Flight

Summary:

Dibuang oleh keluarganya dan dipermainkan oleh takdir yang enggan mendengarkan doanya, Arjuna Arkana selalu percaya bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang tidak spesial, namun kedatangan empat orang (?) ke dalam hidupnya membawa perubahan yang tidak ia duga.

Atau

Layaknya seorang Guardian memiliki satu Bondmate. Arjuna Arkana ditakdirkan untuk memiliki empat.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Suara sorak sorai di dalam arena menggebu-gebu setelah salah satu murid jatuh tersungkur ke tanah, terengah-engah dan lemas tidak berdaya. Yang menang mengangkat kepalan tangan, bersorak dan memercikkan api di dalam hati para penonton. 

“Dan pemenang dari ronde ketiga belas ini adalah dari sudut biru!” Suara announcer keluar dari speaker dengan gemersik intervensi. “Mari kita sambut pemain babak ke-empat belas kita, kawan-kawan!”

Suara para penonton kembali meledak. Gaungnya terdengar sampai kepada telinga Arjuna Arkana yang tengah bersiap di lorong sudut merah. Ia mengambil nafas, menahan di dada, dan melepasnya bersamaan dengan kekhawatirannya.

“Dari sudut biru, ada Tono Handiwan dari kelas Corvus!” Suara sang announcer dibarengi oleh teriakan semangat beberapa orang. “Dan di sudut merah, ada Arjuna Arkana dari kelas Aquilla!”

Sontak setengah arena langsung bungkam. Suara desas desus muncul, saking kerasnya sampai masuk ke dalam microphone sang announcer. Begitu wajah Arjuna muncul, beberapa penonton langsung mencemoohnya, bahkan meneriakkan kata-kata tidak pantas. 

“Hei, tenangkan diri kalian, kawan-kawan!” Sang announcer mencoba mengambil alih kendali situasi. “Mari kita nikmati saja pertarungan magis ini!”

Dari seberang arena, Arjuna melihat lawannya mengisyaratkan dengan tangannya. Mati kau! Begitulah arti gerakannya. Arjuna hanya mendengus dan mengisi tubuhnya dengan mana.

“Waktu pertarungannya hanya lima belas menit!” Timer yang ada di sudut arena diputar ulang. Arjuna meliriknya sekilas. “Bisakah mereka menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu?! Mari kita saksikan, kawan-kawan!”

Suara gemuruh para penonton perlahan berubah menjadi kesunyian tanpa jeda. Dunia seakan melambat. Satu detik terasa begitu panjang. Arjuna memejamkan mata.

Seluruh indera ditajamkan, raga dan hati dipersiapkan untuk bertarung. Energi mana yang tersimpan di alam mendengar suaranya, pelan-pelan mengalir ke dalam badan dan mengisi rongga dadanya. Rasanya seperti bilah silet yang menyayat hati. 

Suara lonceng dimulai membawanya kembali kepada realita.

Refleks bertarungnya aktif begitu ia melihat bola api yang datang melesat. Langsung ia berguling ke samping, menghindar. Energi magis yang disimpan di tubuhnya sontak hilang.

Pandangannya jatuh kepada seekor naga kecil yang hinggap di pundak Tono; bondmate milik lawannya. Mulutnya mengeluarkan api, dan percikan baranya digunakan oleh Tono untuk menciptakan serangan magis.

“Dan sudah dimulai! Sepertinya Tono memulai secara agresif!”

Satu lagi bola api datang melesat. Arjuna sulit mencari perlindungan sebab arena yang terlalu lapang. Ujung seragamnya sampai hitam karena terkena kobaran api.

“Tolol! Kalo nggak mampu jadi Guardian ya nggak usah sekolah di sini!” Tono melemparkan bola api yang bertubi-tubi. Salah satunya akhirnya mengenai pundak Arjuna dan meledak hebat, menimbulkan asap hitam yang mengaburkan pandangan. “Mampus lo!”

Seluruh arena hening. Ketegangan bercampur aduk dengan antisipasi. Pandangan mata seluruhnya tertangkap di dalam kepulan asap yang menggebu.

Sebilah belati melesat keluar dari balik asap.

Tono sontak menghindar, fokusnya pecah untuk beberapa detik. Arjuna menggunakan kesempatan itu untuk melemparkan lebih banyak belati dari balik asap, mengecoh lawannya.

“Apa-apaan ini?!” Kesal, Tono melemparkan bola-bola api ke arah Arjuna. Semuanya meleset karena kepulan asap tebal. 

Arjuna melesat keluar begitu Tono tidak siap, langsung lari mendekat tanpa ragu. Tono yang kaget hanya bisa melemparkan bola api, tapi Arjuna mengacuhkannya, bahkan ketika ada yang mengenai tubuhnya. Ia mengulurkan tangan ke depan, meraih tubuh Tono—

Dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur ke tanah.

Tono tidak mampu berkutik, apalagi dengan sebilah belati yang diarahkan tepat ke lehernya. Salah bergerak satu senti saja, habislah nyawanya. Naga yang hinggap di pundak Tono mendecit takut dan terbang ke udara, meninggalkan tuannya. 

Sunyi datang menyergap. Tanpa mengatakan apapun, sudah jelaslah siapa pemenang pertarungan ini. Arjuna melirik timer yang ada di samping lapangan.

Sisa waktu lima menit. Seharusnya ia bisa menghabisi lawannya dalam waktu lebih cepat.

“D-Dan sepertinya Arjuna berhasil mengalahkan lawannya tanpa serangan magis! Wow!” Sorak sorai kembali terdengar di arena. Sebagian ada yang senang, sebagian ada yang menarik rambutnya dengan kesal. “Kekuatan Arjuna Arkana memang tidak bisa diremehkan! Selamat kepada pemenang!”

Arjuna memberikan lawannya penghormatan terakhir sebelum berjalan keluar arena, mengacuhkan semua orang. Topengnya yang dingin itu hancur ketika ia akhirnya sendirian. 

Dengan lemas, Arjuna bertumpu pada tembok yang dingin, tubuhnya gemetar. Beberapa bagian seragamnya terbakar, dan kulitnya melepuh. Perawat akademi tentu bisa membantunya, tapi untuk mendapatkan bantuan, ia harus berjalan menemuinya sendirian.

“…Sial,” Arjuna tertatih-tatih maju, memaksakan dirinya untuk tidak pingsan. Adrenalin yang pelan-pelan menghilang kini hanya menyisakannya rasa sakit. “Persetan lah, gue nggak mau lagi ikut kelas sparring…”

000

Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa mengisi lorong yang kosong. Seorang gadis muda lari tanpa mempedulikan dirinya yang mengenakan sepatu pantofel. Saking cepatnya ia sampai terantuk jatuh beberapa kali, namun ia selalu bisa mengembalikan keseimbangan badannya.

Gadis itu berhenti di depan ruang UKS dan langsung masuk tanpa bilang permisi, menuju tempat tidur yang ada di paling ujung ruangan. “Kak Juna!”

Lelaki yang tengah tiduran di atas kasur itu tidak banyak bicara, memberikan pengunjung tidak diundangnya itu senyuman kecil. “Kenapa, Aya? Suaramu itu loh.”

“Ih, siapa yang suruh kakak ikut kelas sparring?!” Suara Aya memenuhi ruang UKS yang sepi. Perawat yang ditugaskan untuk berjaga sampai mengintip dari balik dinding. 

“Itu emang pelajarannya masuk ke paket studi jurusan kakak,” Arjuna menjelaskan. “Kalau mau komplain, sana ke papa mamamu.”

“Papa mamaku kan papa mamamu juga!” 

“Sejak kapan sih mereka mau dengerin kakak?”

Kini Aya tidak bisa mengelak. Ia hanya bisa mendecak lidah, menerima kekalahan. 

“Nggak mungkin kan kakak mencoret nama besar keluarga kita,” Hembusan nafas pelan keluar dari balik bibir Arjuna. Pikirannya kembali kepada rumah, kepada sebuah foto besar yang terpampang di ruang keluarga. Bukti nyata yang membayangi mimpi buruknya. “Mau nggak mau kakak harus ngikutin kata mereka.”

Pandangan Aya dialihkan ke tubuh Arjuna yang terluka di sana sini, enggan berlama-lama diam di dalam topik ini. Walau sudah ditangani luka-lukanya, tetap menarik simpati. “Itu…tangan kakak masih sakit?”

“Oh ini? Udah nggak apa-apa kok,” Arjuna menggerakkan tangannya yang diperban. “Cuman masih lemes aja. Tadi nyoba pake serangan magis tapi akhirnya gagal juga.

“Ya iyalah, kakak kan nggak punya bondmate!” Aya masih saja cemberut. “Curang tau pertandingan tadi! Masa kakak harus ngelawan orang yang lebih kuat?”

“Udahlah, lagipula udah lewat juga pertandingannya.” Arjuna menepuk kepala adiknya itu. “Dah sana balik ke kelas. Gurumu nanti nyariin.”

Walau ragu untuk meninggalkan kakaknya sendirian, Aya tahu kata-kata Arjuna ada benarnya. Kalau gurunya tau ia membolos kelas bisa-bisa dia dihukum. Dan kalau dihukum, wah, Aya sampai takut membayangkan raut wajah orang tuanya.

“Sebentar kak,” Aya buru-buru merogoh kantung roknya. Ia memberikan Arjuna sesuatu. “Ini, buat kakak ya.”

Arjuna mencermati benda kecil itu. Sekilas terlihat seperti sebuah kotak, dijahit dengan dua tangan pemula yang gegabah. Ada patch berbentuk kucing hitam di bagian depan, jahitannya acak namun aman.

“Aku kemarin coba buat jimat pelindung buat kakak. Tolong jangan sakit lagi ya!” Sesudah memberikannya hadiah, Aya langsung berlari keluar, mengejar kelas yang pastinya sudah mulai sembari tadi.

Sepi kembali datang menemani Arjuna. Ia menatap jimat di tangannya. Rasa dingin di dada perlahan berubah hangat.  

Arjuna lupa bahwa masih ada yang peduli dengannya. Kadang dunia ini terasa begitu sepi, begitu kejam, sampai ia lupa bahwa ia tidaklah sendiri. Aya peduli dengannya, walaupun ia kesusahan untuk mengikuti jejaknya.

Arjuna menggengam jimatnya dengan erat. Walau hanya sebuah jimat yang tidak dibubuhi sihir, Arjuna percaya pada kekuatan doa adiknya. Apapun itu, pasti keajaiban selalu berpaling kepadanya.

000

Arjuna melangkah keluar dari ruang UKS sambil menuturkan terima kasih kepada perawat yang sudah membantunya tadi. Kini matahari sudah hampir terbenam. Untung saja Arjuna tidak ada kelas tambahan hari ini, jadi ia bisa langsung kembali ke asrama dan beristirahat.

“Oh, itu dia ya? Yang tadi di kelas sparring,” Ada sepasang murid perempuan yang memperhatikannya dari jauh. “Masa iya sih dia dari keluarga itu?”

“Iya, beneran!” Temannya berbisik. “Adeknya udah punya bondmate, tapi dia belum.”

“Eh? Aku pikir keluarganya selalu punya bondmate yang kuat-kuat!”

“Ya makanya dia aneh sendiri!”

Arjuna mengacuhkan kedua murid itu. Pandangannya ia arahkan ke depan, enggan menundukkan kepala walaupun dijelekkan sedemikian rupa.

Memangnya kenapa kalau ia belum punya bondmate? Arjuna masih bisa bertarung tanpa harus mengandalkan serangan magis. Tentu mempertahankan dirinya saat melawan abyss nanti tidak akan jadi masalah. Ia masih menjadi aset yang penting bagi keluarganya.

Setidaknya, itu pemahaman yang ia percaya.

Di dalam akademi Guardian yang kompetitif ini, Arjuna bagaikan kambing hitam diantara para serigala. Walaupun tanpa bondmate, Arjuna mampu menyaingi yang lain tanpa bergantung dengan kekuatan magis. Hal itu tentulah menuai rasa benci dan iri. Tidak sedikit orang yang ingin menjatuhkan dirinya.

“Yah, dia lagi,” Segerombolan murid laki-laki mencemoohnya. Mereka teman-teman dari orang yang ia kalahkan waktu kelas sparring tadi. “Pulang sana! Lo nggak cocok sekolah di sini!”

“Dasar nggak guna!”

“Guardian gagal lo!”

Arjuna hanya melirik mereka dengan tatapan tajam. Tangannya ia kepal sampai terasa kebas. Rasa marah yang menggebu-gebu di dadanya ia coba tahan.

Tidak ada gunanya berdebat dengan bedebah. Lagipula, Arjuna juga masih butuh waktu untuk istirahat dan menyembuhkan luka-lukanya. Jadi ia menghiraukan mereka saja, membiarkan mereka merasa menang walaupun rasanya berat sekali.

Sesampainya di gedung asrama, Arjuna langsung masuk ke kamarnya. Ia duduk tersungkur, punggungnya bersandar pada pintu. Di dalam hening, ia baru menemukan tenang. Tangannya meraih jimat pemberian Aya tadi siang. Melihatnya saja sudah cukup untuk menenangkan hatinya.

“Lo harus kuat, Jun.” Arjuna bergumam pada dirinya sendiri. “Pokoknya lo harus bisa bebas dari jahanam ini.”

Ya, ia hanya harus menuruti kemauan orang tuanya sampai ia lulus nanti. Setelah itu, Arjuna akan terbang bebas, pergi jauh-jauh dari jeruji penjara yang ia panggil “rumah”. 

Kedua sayapnya diikat sekarang, tapi ia yakin ia bisa menyambut langit biru begitu semua ini berakhir.

000

Untuk pelajaran meracik ramuan minggu depan, hari libur ini Arjuna memutuskan untuk mengunjungi kota dan membeli beberapa bahan-bahan magis. Sekalian juga ia membeli beberapa perlengkapan hidup untuk di asrama nanti.

Ia sudah mendapatkan setengah barang-barang yang ada di list belanjanya. Sisa tiga hal lagi yang harus ia beli di toko kelontong. 

“Tinggal sabun, sampo, sama snack doang…” Arjuna membetulkan posisi totebag yang tergantung di pundaknya. Walaupun sudah diperbolehkan pergi, sakit bekas kelas sparring kemarin masih terasa nyata. Membawa tas saja rasanya seperti sedang dicambuk. 

Arjuna berharap kelas sparring minggu depan tidak akan sesulit minggu ini, namun kembali lagi, ia hanya bisa berharap.

Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat toko kelontong langganannya. Pandangannya pindah sedikit ke toko roti yang ada di sebelah. Bunyi nyaring keluar dari perutnya. Dipikir-pikir lagi, ia belum makan pagi ini. 

“Hmm, enak nih beli sandwich,” Arjuna menjilat bibirnya, membayangkan setumpuk roti dengan sayur, keju, dan daging yang begitu lezat. Perutnya berbunyi lagi. “Mendingan beli itu atau beli—”

Sesuatu yang keras menabraknya dari samping.

Arjuna jatuh tersungkur bersamaan dengan barang-barangnya. Kacamatanya lompat entah kemana. Ia meraba-raba tanah, sedikit panik karena tidak bisa melihat.

Kalau sampai kacamatanya pecah—aduh, ia belum punya uang untuk membeli yang baru.

“Kak?” Tangan seseorang masuk ke dalam penglihatannya yang kabur. Kacamatanya dipegang diantara dua jari dengan hati-hati.  “Ini kacamatanya.”

“O-Oh, iya, makasih.” Arjuna buru-buru memakai kacamatanya lagi, untung tidak rusak. Matanya berkedip cepat. Dunia sekitarnya tidak lagi terlihat buram. 

Orang yang membantunya (dan orang yang tidak sengaja menabraknya pula tadi) ternyata terlihat seumuran dengannya. Pakaiannya lusuh, robek sana-sini. Matanya yang hijau jamrud seakan memerangkap Arjuna. Lentik sekali bulu matanya, begitu pikirnya.

“Maaf ya kak, tadi nggak liat kakak mau nyebrang, hehe.” Pemuda yang terlihat serampangan itu memberikan Arjuna senyum kecil. “Aku bantu beresin belanjaannya ya.”

Arjuna terdiam sebentar, masih memproses apa yang baru saja terjadi. Ia baru sadar ketika lelaki itu meraih totebagnya yang jatuh ke tanah. “I-Iya, boleh…”

Dengan cekatan, pemuda itu merapikan semua belanjaan Arjuna yang berjatuhan. Setelah semuanya sudah masuk ke dalam tas, ia menyerahkannya ke tangan Arjuna yang terbuka lebar. “Mari kak.”

“Terima kasih ya.” Arjuna memperhatikan pemuda itu dengan seksama, masih sedikit kaget dengan apa yang baru saja terjadi. 

Pikirannya kembali pada list belanja yang ia pegang. Oh iya, Arjuna masih punya tugas belanja hari ini. Langkahnya bergegas ke toko kelontong, tidak lagi kepada lelaki cantik yang baru saja bertabrakan dengannya.

Padahal kalau ia memperhatikan dengan lebih seksama, mungkin ia sadar bahwa lelaki itu sedang menggenggam sesuatu yang familiar di tangannya. 

“Akhirnya ketemu juga~” Dengan senyuman manis, lelaki itu mencium jimat yang ia pegang. 

Bau Arjuna masih menempel di sana, bersamaan dengan energi magis yang samar-samar. Matanya yang hijau berkilat di balik bayang-bayang pepohonan, pupilnya menajam. Sulur-sulur kegelapan muncul dari bayangannya, meliuk-liuk layaknya ular.

Ah, ingin sekali ia bertemu lagi dengan Arjuna, tapi ia masih harus bersabar. Belum waktunya ia bergerak dengan gegabah.

“Mas-mas bakal seneng nih,” Ia bersenandung pelan. “Nanti acara cari jodoh pasti bakal rame, hehe.”

Lelaki itu berdiri di sana, namun dalam satu kedipan mata, ia langsung hilang. Hanya tersisa sedikit energi magis di tempatnya berdiri tadi, larut diterpa oleh segelintir angin.

Notes:

Halo gaes! Buat kalian yang datang dari fic sebelumnya, welcome back! Dan buat kalian yang baru baca, nice to meet you!

Gue akan usahakan tiap chapter nanti ada illustrasinya ya! Sekalian untuk latihan gambar juga hehe~
Karena plotnya fic ini agak belibet mohon maaf ya misalkan ada bagian yang kurang dimengerti / kurang jelas, nanti bisa tulis aja di kolom komentar ya kalo kalian ada masukan! Any kind of input is appreciated!

Also buat kalian yang tadi sempet baca, maaf ya, dari tadi error terus pas pengen hosting imagenya, jadi untuk sementara gue taro gambarnya di Twitter aja ya (─‿‿─)