Work Text:
"Sasuke," setitik airmata timbul di safir itu.
"Sasuke... Jawab gue."
Lelaki yang dipanggilnya hanya diam, tidak merespon—ah, lebih tepatnya tidak bisa—dan tidak mau merespon.
"Sas," tangan coklat itu meraih pipi pucat teman sekelas yang juga kekasihnya itu—berusaha memaksa si stoik untuk mengeluarkan setidaknya satu kata untuk menjawabnya, hanya satu kata, itu sudah cukup baginya—tetapi Sasuke enggan.
Dia menepis tangan coklat itu kasar.
Dia sudah tahu, bahwa jika dia melakukan ini—Naruto akan mengeluarkan airmata. Karena itu, tadi pagi, dia menyesal telah mengatakan satu kata. Benar-benar menyesal. Hanya dengan satu kata, dia harus melihat setitik air di pojok mata Naruto.
"Hanya satu kata aja, Sas..."
Tapi wajah itu tetap stoik.
Naruto melepas pipi Sasuke, kelihatannya dia menyerah. "Baiklah, gue gak akan maksa. Ternyata, elo gak bener-bener sayang sama gue..."
Sepasang oniks membelalak begitu mendengar kalimat dari sahabat yang baru-baru saja menjadi kekasihnya itu.
"Woi, odong!" ah, akhirnya dia membuka mulutnya juga. "Curang! Masa' elo make kata-kata itu cuma buat maksa gue buka mulut? Arrgh!" dengan jemari pucatnya, dia berusaha menutup mulutnya. Tapi terlambat, Naruto telah berhasil melihatnya. Naruto nyengir setan, dia menghapus airmata yang ada di ujung matanya—yang ternyata adalah hasil dari terlalu banyak tertawa.
"Habisnya, siapa sih yang tahan ngeliat elo mingkem dari tadi pagi cuma gegara baru masang behel!" dia mengeluarkan BlackBerry miliknya, "Ayo! Sini, kufoto!"
"Argh! Ogah! Kalo gini ceritanya, gue jadi gak beneran suka sama elooo!"
"..."
"... Nar? Gue bercanda."
"..."
"... Gue sayang sama elo."
"..."
"Naru—"
CLICK!
"MWAHAHAHA! GUE DAPET FOTO UCHIHA SASUKE YANG LAGI MEMELAS!"
"NARUTOOO!!!"
-
Oh, andai saja Sasuke tahu kalau sebelum mengambil foto, Naruto sedang merekam video di Blackberry miliknya.
-
Fin
-
