Work Text:
“Nggeh, Bu, ndak apa-apa. Kulo seng telat konfirmasi ne. Nanti kulo mbek kancaku keliling cari kosan lain di sekitar sini. Pripun nggeh, Bu, sekali lagi. Matur suwun, Bu.”
Usai membungkuk dengan hormat dan pamit kepada induk semangnya, Ryul merangkul Woojin memasuki indekos yang ia tempati. Mereka berjalan beriringan melewati kamar-kamar dengan pintu yang ditutup rapat. Ryul bilang indekos ini mayoritas dihuni oleh mahasiswa fakultas kedokteran, maka masuk akal jam lima sore begini lampu kamar yang menyala baru satu dua.
Kamar Ryul terletak paling ujung dengan akrilik kayu angka 12 tergantung di pintunya. Tatkala si pemilik kamar membuka lebar-lebar pintu kamarnya, si bungsu langsung mendengus.
“Babi pun bakal marah kalau dibilang kamarmu mirip kandang babi.”
Ryul nyengir tanpa mengeluarkan bantahan apapun. Kondisi kamarnya memang jauh lebih berantakan dibandingkan hari biasanya. Ujian akhir kampusnya yang berselang dua minggu belakangan ini benar-benar menguras otak maupun fisiknya. Daripada menyisihkan satu atau dua jam untuk membereskan kamarnya, Ryul lebih memilih untuk menggunakan waktu tersebut untuk tidur. Jangankan sekadar menyisihkan satu atau dua jam untuk membereskan kamar, kesempatan untuk tidur sebentar saja hanya bisa ia peroleh dengan mencuri-curi waktu.
“Ini baju-baju yang abis di-laundry udah berapa hari ditaro di sini?” Woojin menuntut jawaban sambil menunjuk dua kantong besar berisi pakaian di samping lemari.
“Seminggu…” Ryul menjawab pelan sambil berusaha menghindari tatapan tajam Woojin.
Ia berani bersumpah bahwa samar-samar dapat ia saksikan dua tanduk iblis mencuat di atas kepala pacar kecilnya. Efek kurang tidur membuatnya mengalami halusinasi. Woojin yang tampaknya sudah berhasil untuk mengendalikan emosinya, langsung menarik lengan Ryul dan mendorongnya ke samping lemari.
“Kamu susun baju-bajunya ke dalam lemari. Aku mau bersihin kamarmu dulu.”
Kim Ryul, mahasiswa hukum, kepala divisi kastrat BEM universitas yang omongannya paling didengar oleh para pemangku jabatan di kampus, selalu buas saat orasi di setiap aksi demonstrasi mahasiswa, ciut begitu saja ketika dihadapkan dengan pacarnya yang bahkan baru lulus SMA. Ia yang digadang-gadang sebagai macannya fakultas hukum cuma setara patung macan Cisewu kalau menghadapi omelan si bungsu.
“Apa-apaan kaos kutang digantung di jendela? Berdebu anjir. Nih ambil.”
“Ini sampah ditumpuk di pojok buat apa sih? Mau nyaingin TPA Bantar Gebang?”
“Ini yang digantung di kamar mandi baju bersih apa kotor? Cuci ajalah ya, udah apek soalnya.”
Dan begitulah sepanjang hari itu berlalu. Matahari mulai malu-malu untuk memancarkan pendarnya, kontras dengan Ryul yang malah tidak ada malu-malunya menjatuhkan tubuh bongsornya ke atas tubuh Woojin yang sedang berbaring.
“Baru mau istirahat anjir.” Ryul hanya cengengesan mendengar protes dari yang lebih kecil.
Ia bawa tangannya mengelus-elus pucuk kepala Woojin sembari matanya menatap lurus pada milik pacarnya. “Makasih loh udah mau repot beres-beres kamarku. Maaf ya aku telat ngasih tau ibu kos, jadinya kamar kosongnya keduluan diisi orang lain. Mana kita batal pula buat keliling buat cari kos karena beresin kamarku yang berantakan.”
“Sekali lagi maaf ya, sayang.” Tepat setelah kalimat ini keluar dari lisan Ryul, Woojin cepat-cepat mengerlingkan matanya untuk menghindari tatapan Ryul yang makin intens mengoyak netranya hingga retina.
“Iya sama-sama. Sebenernya agak sayang juga ga jadi kos di sini, mengingat ini kos paling deket sama fakultas aku. Tapi gapapa sih, siapa tau ntar ketemu yang lebih bagus.”
Ryul mengangguk, diam-diam bersyukur pacarnya tidak mengamuk. Ia rebahkan badannya ke sebelah kiri Woojin, lalu tangan kanannya diselipkan ke bawah tengkuk Woojin untuk merangkul bahu kecilnya. Mereka bertahan di posisi tersebut ditemani hening.
Woojin memejamkan mata. Memori semasa ia dan Ryul belajar bersama di perpustakaan sekolah melintas di otaknya. Masa-masa di mana Woojin yang lebih sering nongkrong di kantin malah memaksa untuk membiasakan dirinya tenggelam di rak-rak buku. Semua ia lakukan demi mendampingi Ryul menggapai ambisinya untuk melanjutkan studi di universitas impiannya.
Di sinilah mereka sekarang, sama-sama meninggalkan tanah Sumatra untuk berkuliah di pulau Jawa. Ia dan Ryul sudah sejauh ini rupanya. Hubungan jarak jauh yang konon menjadi momok menakutkan itu berhasil mereka lewati dengan lancar.
Dan kalau Woojin boleh jujur, ia mengaku enggan membiarkan Ryul jauh dari jangkauannya lagi. Kalau bisa, ia mau satu indekos dengan Ryul. Biar gampang ketemu tiap keduanya dihampiri rindu.
Sebuah ide muncul di otaknya.
“Gimana kalau kita sekamar berdua? Boleh kan ya? Biar kamarmu selalu bersih dan rapi juga.”
Ryul yang hampir sepenuhnya tertarik ke alam mimpi itu langsung nyalang matanya. Ia bangkit dari tidurnya lalu sedikit berteriak seolah tidak percaya.
“Ini asbun apa beneran sih? Di kos ini emang boleh sekamar berdua sih. Tapi emangnya kamu mau tidur bareng aku?”
“Lebay. Kayak sama siapa aja. Dulu pas sekolah kamu juga sering nginep di kamarku.”
Ryul menghela napas. “Beda kasus anjir. Sekarang kita udah gede. Gaada mama kamu di sini. Kita bisa aja malah pergaulan—”
“OTAK LU KOTOR ANJING!”
Sore itu Ryul ditendang keras oleh Woojin hingga ia terjengkang ke belakang. Sakit sekali, tapi tidak seberapa dengan sakit hatinya tatkala Woojin membatalkan usulannya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
