Work Text:
Tanrak suka panggilan sayang Barth kepadanya.
Dia tau bahwa Barth sangat menyukai segala hal tentangnya, kekasihnya sendiri yang mengatakan itu. Barth pernah bilang mata Tanrak seperti langit malam yang kosong, namun terdapat bintang-bintang berkilauan di baliknya. Senyum Tanrak layaknya Matahari yang senang menyambut hari baru, sifat Tanrak yang begitu lembut mengalahkan kelembutan pie apel yang baru matang.
Tiap pujian itu berlebihan, menurut Tanrak. Tapi bagi Barth, seluruh kata-kata di dunia ini tidak dapat mendeskripsikan kecantikan Tanrak. Barth ingin menjadikan tiap lagu cinta hanya untuk Tanrak, mengumpulkan bintang-bintang untuk dijadikan buket indah hanya untuknya.
Tanrak tau itu semua, namun dia tak menolaknya sedikitpun. Karena Tanrak mengerti, begitulah cara Barth menunjukkan cintanya.
Lalu yang baru-baru ini, panggilan sayang Barth kepadanya.
Pagi itu, langit lebih cerah dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela rumah yang bahkan belum dipasang tirainya, angin sepoi-sepoi membuat pohon mangga yang berada di halaman berdansa mengikuti arah angin.
Ya, mereka baru saja membeli rumah. Setelah perjuangan selama tiga tahun tinggal di rumah sewa yang hanya menyediakan ruang tamu, kamar, dapur dan kamar mandi dalam satu petak, mereka akhirnya bisa memakai tabungan mereka untuk membeli rumah yang sebenarnya.
Rumah itu tidak terlalu besar, hanya ukuran rumah biasa pada umumnya. Tampilannya tidak terlalu mewah, juga bukan rumah yang sempurna. Cat beberapa sudut rumah masih perlu diperbaiki, halaman samping dan belakang masih dipenuhi rumput liar yang selutut tingginya. Kardus-kardus berserakan hampir di tiap sudut ruangan.
Tapi bagi Barth dan Tanrak, rumah itu adalah awal baru. Rumah pertama yang mereka beli bersama setelah sama-sama berjuang bekerja mencari uang setelah lulus dari seminari. Rumah yang mereka pilih setelah berbulan-bulan menabung, membandingkan harga dan berdebat soal lokasi yang paling dekat dengan pasar maupun tempat lainnya.
Dan sekarang, mereka berdiri di ruang tamu kosong sambil memegang kunci. Keduanya memandang rumah itu setelah memijakkan kaki untuk yang pertama kalinya, pikiran mereka penuh dengan segala hal yang tak dapat diungkapkan.
“Jadi…” Barth tersenyum, melirik Tanrak dengan seringai penuh kebanggan.
Akhirnya Tanrak menoleh, “Jadi?”
“Kita resmi jadi orang dewasa.” Barth mengangkat kedua tangannya, mempersembahkan rumah milik mereka dengan semangat.
“Kita udah dua puluh tahun lebih, Barth. Kita udah dewasa.” Tanrak terkekeh geli.
“Bukan!” Barth menolak pemikiran Tanrak, “Dewasa itu saat kita punya rumah buat dijadikan tempat tinggal selamanya, Rak.”
Tanrak terdiam sejenak, “Siapa yang bilang gitu?”
“Aku.”
“Barth…”
“Rak~”
Tanrak menghela nafas panjang, dalam hati bersumpah kepada Tuhan bahwa dia merupakan orang yang sabar dan tidak terbawa emosi. Sementara Barth masih tersenyum dengan bangga, memutar-mutar kunci rumah di jemarinya sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan rumahnya bersama Tanrak.
Terkadang, Tanrak lupa bahwa sebenarnya sang kekasih adalah orang yang sangat menyebalkan.
✿✿✿
Dua jam kemudian, truk yang mengangkut barang mereka akhirnya tiba.
Tanrak berbicara kepada supir truk yang menawarkan diri membantu mereka, namun Tanrak menolak dengan halus karena dia tau Barth akan ikut menolak tawaran itu. Jadi supir truk hanya membantu menurunkan barang dari truk, lalu beranjak pergi dari sana.
Akhirnya mereka mulai memindahkan barang-barang dari luar ke dalam rumah. Barth bersikeras mengangkat barang dan kardus yang berat, membiarkan Tanrak hanya mengangkat barang-barang yang ringan saja. Tentu Tanrak ingin menolak, namun dia tidak ingin berdebat dengan Barth yang tak akan mengganti pikirannya.
Rumah itu perlahan terisi oleh barang-barang yang mereka bawa dari rumah sewa. Ada meja pendek untuk ruang tamu, laci kayu tempat menyimpan barang dan menaruh patung bunda Maria di atasnya. Kompor dan berbagai macam alat masak sudah disusun dengan sempurna oleh Tanrak, sementara TV dan barang elektronik lainnya sudah diatur oleh Barth.
Tanrak baru saja turun dari kursi setelah menggantung patung Yesus di dinding disaat dia mendengar suara kardus yang diseret, membuatnya menoleh dan mendapati Barth sedang menyeret kardus besar dari luar.
“Barth.”
“Hmm?”
“Kamu ngapain?” Tanrak menyilangkan kedua tangannya, mengamati cara pintar sang kekasih yang tadi mengklaim bahwa dirinya bisa mengangkat semua kardus yang berat dan berakhir menyeret mereka semua.
Barth menyeringai, “Kamu gatau kan, Rak? Ini tuh namanya kerja cerdas.”
“Itu isinya piring dan gelas kaca.”
“...”
Keheningan itu canggung, tapi lucu disaat yang sama. Barth menatap kardus itu dalam diam, lalu beralih ke Tanrak yang membalas tatapannya dengan wajah yang sering dibuat ketika kesal dan marah.
“Oh,” Barulah Barth sadar akan perbuatannya, segera membuka kardus dan menghela nafas panjang ketika mendapati tak ada satupun piring-piring dan gelas-gelas yang pecah.
Melihat itu, Tanrak menutup wajahnya sambil bergumam sesuatu yang tak dapat Barth dengar. Dia berbalik dan menatap patung Yesus di dinding, “Tuhan… berikan aku kesabaran.”
Dibelakangnya, Barth terkekeh. Dia menghampiri Tanrak dan memeluknya dari belakang, mencium pipi Tandak banyak-banyak seolah ingin membujuk sang kekasih yang mulai cemberut.
“Rakkk~ aku minta maaf.”
Dan Tanrak kembali dibujuk habis-habisan oleh Barth untuk yang ke seratus kalinya.
✿✿✿
Menjelang siang, udara menjadi sedikit lebih panas dari yang sebelumnya.
Rumah mereka mulai sedikit lebih rapi, barang-barang sudah di susun (oleh Tanrak tentunya) dan ditata pada tempatnya. Debu-debu yang awalnya mengerumuni beberapa tempat sudah dibersihkan, sebuah sarang laba-laba yang menggantung di sudut ruangan sudah diurus oleh Barth.
Tanrak menepuk-nepuk tangannya guna membersihkan debu yang menempel, kemudian berkacak pinggang sambil tersenyum bangga melihat ruang tamu yang lebih rapi dari sebelumnya. Dia tidak percaya dia akan tinggal di rumah yang indah ini selamanya, bersama Barth…
Ah, dimana si pembuat onar itu?
Tanrak terlalu sibuk membersihkan dan merapihkan ruang tamu hingga dia tidak sadar akan keberadaan Barth yang tiba-tiba menghilang, pantas saja dia suasana perlahan berubah menjadi sepi.
Menyeka keringatnya, Tanrak menghampiri pintu yang menghubungkan rumah ke halaman samping. Dia membukanya dan memandang halaman itu dalam diam, sebelum kemudian menemukan sebuah tangga di dinding sampingnya. Tanrak terdiam, dia langsung melangkah keluar dan mendongak keatas, mendapati Barth sedang memanjat tangga dan melakukan sesuatu dengan atap rumah mereka.
“Barth! Kamu ngapain?!” kepanikan langsung melanda Tanrak, tak menyangka Barth sudah berada diatas sana setelah ditinggalkan tak sampai tiga puluh menit.
Yang dipanggil menoleh kebawah, senyum Barth merekah melihat Tanrak dan melambaikan tangannya. “Rak! Atap rumah kita yang bagian sini bocor, mau aku benerin!”
“Kita bisa panggil tukang, Barth. Gaperlu sampai naik tangga begini!” seru Tanrak yang khawatir.
“Aow? Kalau bisa di benerin sekarang kenapa harus nanti?”
“Barth, turun!”
Itu bukan permintaan, itu perintah mutlak. Barth sedikit merinding mendengar teriakan Tanrak yang hampir putus asa, lalu dengan cemberut turun tangga pelan-pelan. Tanrak menahan bagian bawah tangga, memperhatikan tiap gerak gerik Barth agar tak terjatuh.
Saat Barth mendaratkan kakinya ke tanah, Tanrak langsung mengecek keadaannya. Sang kekasih memeriksa wajahnya, lengannya, kaki dan bagian tubuh yang lain. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Tanrak, sepertinya dia tak bercanda dengan apa yang dia rasakan sekarang.
“Kenapa kamu ga bilang ke aku? Aku bisa bantu nahan tangganya, Barth.” Tanrak menghembus nafas pelan, “Kalau kamu jatuh gimana?”
“Loh, kan kamu bisa tangkap aku.”
“Barth.”
Sang dominan terkekeh geli, ia menarik Tandak dalam pelukan dan mengelus punggungnya. Barth dapat merasakan betapa khawatirnya Tanrak hanya dengan mendengar suara nafasnya yang tak beraturan, sebuah kebiasaan yang mencolok dari Tanrak.
“Maaf ya?” Barth meminta maaf, menggoyangkan pelukan mereka ke kanan dan kiri, mencoba membujuk.
Karena Tanrak sendiri bukan orang yang berlama lama menyimpan rasa kesal, dia tau dia akan selalu memaafkan Barth. Tanrak tak marah, dia hanya khawatir akan sikap Barth yang terburu-buru dan tak pernah mau meminta bantuan akan sesuatu.
Tanrak melepas pelukan mereka, “Kamu mandi dulu, biar aku panasin makan siang.”
Mendengar kata “makan” membuat Barth senang bukan main, dia mengecup pipi Tanrak dan segera beranjak ke dalam rumah. Melihat itu hanya membuat Tanrak menggeleng pelan, kelakuan lucu Barth selalu membuatnya kehilangan kata-kata.
✿✿✿
Sore hari, matahari sudah berpindah ke barat.
Mereka mulai membersihkan kamar tidur yang berada di lantai dua, mengingat mereka harus memiliki tempat untuk tidur malam ini.
Ruangan itu masih kosong, anehnya tidak sekotor lantai satu. Balkon kecil mengarah ke barat menjadi jalan cahaya Matahari untuk masuk ke kamar, gorden putih yang sudah menguning bergoyang karena angin sore.
Sebuah kerangka kasur tua di sudut ruangan, dengan kasur yang dibawa Barth dan Tanrak sudah terletak di atasnya. Beberapa kardus berisi barang-barang berharga dan dokumen-dokumen penting juga menumpuk, kipas angin tua yang masih berfungsi bergetar pelan.
Tanrak sedang menyapu lantai gelap itu, meyakinkan dirinya bahwa ruangan yang tampak bersih itu masih kotor. Memang benar, beberapa debu dan pasir ikut terangkat ketika di sapu. Sementara Barth yang tadinya mengganggu Tanrak, sekarang ditugaskan mengambil koper mereka yang berisi pakaian dari lantai bawah.
Setelah selesai dengan lantai, Tanrak menghela nafas panjang sambil menyeka keringatnya. Pandangannya menyapu ke tiap sudut ruangan, pikirannya penuh dengan banyak hal.
Ruangan ini akan menjadi tempat dimana Barth dan dia akan tidur bersama, di satu kasur yang sama, berbagi lemari pakaian yang sama, berbagi… privasi yang sama. Memikirkannya saja sudah membuat Tanrak malu setengah mati, dia sudah tidak bisa menahan diri dan bertanya-tanya bisakah malam lebih cepat datangnya.
Di tengah itu semua, Tanrak akhirnya sadar dari pikirannya sendiri. Dia mengulum bibirnya sambil menggeleng kecil, berupaya melupakan segala hal dan mencari sesuatu yang bisa dikerjakan.
Tanrak ingin membuka kardus berisi dokumen-dokumen penting saat mendengar Barth akhirnya datang, membawa koper-koper mereka yang cukup berat itu. Tanrak berdiri dan berniat untuk berbalik, namun tindakannya terhenti saat Barth memakaikan sebuah kain putih di atas kepalanya.
Seketika Tanrak berbalik, menghadap Barth yang menyeringai penuh rencana dihadapannya.
Barth berpindah tempat, berdiri di samping kanan Tanrak. “Kepada Barth, apakah engkau bersedia menerima Tanrak sebagai suamimu yang sah dan berjanji akan mengasihinya dalam suka dan duka?”
Tanrak mengernyit heran, dia ingin berbicara namun terhenti ketika Barth kembali ke posisi berhadapan dengan Tanrak. Sang dominan memegang kedua tangan Tanrak, posturnya yang percaya diri membuat suasana lebih lucu.
“Ya, saya bersedia dengan segenap hati.” Ujarnya tanpa ragu sedikitpun.
Barth kembali ke samping Tanrak, “Lalu Tanrak, apa kau bersedia menerima Barth menjadi suami sah dan mengasihinya dalam suka dan duka?”
Kemudian Barth berdiri di belakang Tanrak, “Ya, saya bersedia.”
“Barth…”
Tak berhenti disitu, Barth kembali menghadap Tanrak dan memegang tangannya lagi. “Sekarang, kalian sudah sah menjadi pasangan… bahagia! Kedua mempelai dipersilahkan untuk berbagi ciuman.”
Setelah mengucapkan itu, Barth memajukan wajahnya dan memanyunkan bibirnya berusaha untuk mencium Tanrak. Namun belum sempat bibirnya bertemu dengan Tanrak, sang kekasih langsung mendorongnya dan melemparkan kain putih polos tepat ke wajahnya.
“Ouch! Rak!!!”
“Malu-maluin.” Pegangan tangan mereka terlepas, Tanrak segera menghampiri koper-koper yang terbengkalai setelah drama kecil-kecil Barth dan mulai membukanya. Sementara dibelakangnya, Barth merengek tak senang.
“Rak, ini tuh latihan biar pas nikah nanti ga amburadul, loh.” Barth meringis kesal, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur sambil menghela nafas tak percaya.
“Daripada main-main ga jelas, mending kamu ambil lagi kardus-kardus yang ada di bawah.” Tandak jelas-jelas mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Walaupun masih cemberut, Barth tetap menuruti permintaan Tanrak, pria itu dengan lemas berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun sebelum itu, Barth berjongkok di samping Tanrak terlebih dahulu. Dia menatap Tanrak tanpa berkedip sedikitpun, membuat yang paling mudah menelan ludah karena gugup.
Tanrak menoleh, “Kenapa?”
“Cium dulu.”
Seketika Tandak menahan senyum, tingkah Barth yang manja seperti ini benar-benar membuatnya kerepotan. Tanpa alasan lagi, Tanrak memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Barth. Kecupan itu singkat, hanya sekedar menempelkan kedua bibir mereka, lalu Tanrak memundurkan diri.
Hal itu membuat Tanrak menarik sudut bibirnya membentuk seringai penuh bangga hingga Tanrak merasakan perutnya dipenuhi kupu-kupu hanya dari tatapan pria dihadapannya.
“Hehe, jadi makin cinta deh sama kamu, Rak~” senyum Barth semakin lebar, matanya membentuk bulan sabit yang tampak indah.
Tanrak tak mengucapkan apa-apa, dia mendorong pundak Barth memberikan isyarat untuk segera bergerak. Barth mengerti tanpa kata-kata, menggumamkan lagu Modern Dog sambil berjalan keluar kamar, merasa bahagia.
Di ruangan yang sepi itu, Tanrak dapat merasakan telinganya memanas. Barth selalu punya cara untuk membuatnya malu setengah mati, bahkan panggilan khusus yang tanpa sadar telah diberikan Barth kepadanya berhasil membuat perutnya mual karena perasaan senang yang berlimpah.
✿✿✿
Matahari mulai tenggelam, kini langit biru muda tadi digantikan dengan warna biru tua gelap dan hiasan bintang-bintang yang menemani Bulan menjalani tugasnya.
Rumah mereka perlahan berubah, suasana yang sepi tadi kini tak lagi terasa kosong. Sudah ada credenza kayu yang menjadi tempat untuk menyimpan barang-barang kecil, di atasnya patung bunda Maria dan pot-pot bunga plastik ditaruh. Ada meja kecil dan pendek di tengah ruang tamu, beberapa foto dipasang dan digantung di dinding.
Sudah ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.
Barth dan Tanrak duduk di lantai ruang tamu dengan keadaan yang cukup… menyedihkan, kelelahan, keringat dimana-mana, punggung pegal-pegal, tangan kotor, dan masih banyak lagi. Cahaya lampu yang cukup redup menjadi satu-satunya penerangan diantara mereka, suara jangkrik dari luar tanpa sadar mengisi keheningan diantara keduanya.
Tanrak menyandarkan kepalanya ke bahu Barth, tersenyum saat merasakan Barth juga ikut tersenyum. Untuk beberapa menit, keduanya tidak berbicara. Hanya ada suara kipas yang berdengung, suara angin yang masuk dari jendela, dan ketenangan yang selama ini mereka cari.
Barth memandang rumah itu, belum pantas dinamakan tempat tinggal yang sempurna. Tapi entah mengapa, dia merasa bersyukur.
“Aku senang,” ucapnya pelan, menarik perhatian Tanrak yang mengangkat kepalanya sedikit. “Aku ga pernah nyangka bisa sampai di titik ini.”
Tanrak diam, fokusnya dibagi antara mendengarkan ucapan Barth atau merasakan detak jantung kekasihnya yang berdetak semakin kencang tiap detiknya.
“Aku bisa bangun pagi tanpa harus khawatir sama segalanya,” Barth melanjutkan ucapannya. “Aku punya rumah, punya seseorang yang pulang sama aku, seseorang yang… bisa aku panggil rumah juga.”
Dalam diam, Tanrak merasakan dadanya menghangat. Barth memang sering mengucapkan hal-hal yang menenangkan seperti ini, tapi entah mengapa, yang satu ini membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena mereka tidak lagi harus menikmati kebersamaan di ruangan sempit, mungkin karena akhirnya mereka berada di tempat yang telah mereka impikan sejak dulu.
Perlahan dia menggenggam tangan Barth, menyatukan jari-jari mereka yang terasa pas. Sederhana, tenang, dan nyaman. Tanrak mengingat apa saja yang dilakukan Barth selama seharian ini. Walaupun pria itu sering membuat masalah, Tanrak sadar bahwa Barth juga orang pertama yang selalu membantunya saat dibutuhkan.
Ketika Tanrak harus memindahkan lemari kecil yang menurutnya tak berada di tempat yang tepat, Barth langsung datang.
Saat dia kesulitan memasang rangka rak sepatu, Barth ikut memegang.
Tatkala Tanrak mulai kelelahan, Barth diam-diam memberinya minum.
Tanrak menyadarinya, dia sangat menyadari itu semua. Tindakan kecil Barth yang sempurna membuatnya merasa lebih bahagia dari yang dia kira, kepedulian diam-diam itu bukanlah tanggung jawab, melainkan sebuah kebiasaan yang tak bisa hilang seenaknya.
Dan mungkin, itulah alasan dia tidak pernah benar-benar marah. Karena dibalik semua tingkah konyol kekasihnya, Barth selalu menjadi orang yang memperhatikan.
“Aku juga senang,” Tanrak akhirnya berbisik. ”Makasih buat hari ini, ya?”
Di dekapannya, Tanrak dapat merasakan Barth terkekeh kecil. Sang dominan menarik Tanrak semakin dekat, seolah takut Tandak akan menjauh kapan saja, takut melepas kekasih yang sangat ia cintai.
“Kamu juga, makasih buat segalanya, Rak~” suara Barth terdengar tulus seperti merpati putih, kepolosan yang selalu terlihat merupakan salah satu sifat Barth yang disukai oleh Tandak.
Serta… panggilan itu.
Tanrak menelan ludahnya gugup, Barth kembali memanggilnya dengan sebutan yang membuatnya merinding sejak tadi lagi. Ini bukan hal yang biasa, karena Barth selalu memanggil Tanrak sebagai “Tan” kalau ingin menyingkatnya. Namun belakangan ini, panggilan tersebut berubah menjadi “Rak”, yang sebenarnya sangat disukai Tanrak.
“Panggilan itu,” Tanrak bergumam. “Aku suka, panggilan yang kamu kasih ke aku.”
“Panggilan apa?”
Tak menjawab, Tanrak menarik tubuhnya dan duduk menghadap Barth. Wajah penasaran Barth yang cukup gemas membuat Tanrak menyeringai geli, menggenggam kedua tangan Barth seperti yang selalu dilakukan Barth saat ingin menenangkan Tanrak atau bahkan membujuknya melakukan sesuatu.
“Ya… belakangan ini kamu sering panggil aku ‘Rak’” si kecil dengan gugup mengusap punggung tangan Barth. “Dan aku suka.”
“Kamu suka? Kamu suka dipanggil… Rak?” Barth terkekeh, matanya berbinar-binar saat melihat betapa malunya Tanrak di hadapannya, mengangguk-angguk mengakui perasaan yang telah dipendam.
Barth, yang selama ini tak pernah sadar bahwa kebiasaan yang berubah tanpa alasan ternyata menjadi sesuatu yang disukai oleh sang kekasih. Barth senang bukan main, dia menerjang tubuh Tanrak dan memeluknya erat-erat. Tanrak terjatuh terlentang sementara Barth diatasnya.
“Rakkk~ aku cinta sama kamu!” Barth dengan semangat menduselkan ujung hidungnya ke leher Tanrak.
“Barth… Barth, aku bau! Aku belum mandi!” Dengan segala usaha, Tanrak mencoba mendorong Barth yang bertingkah seperti anjing golden retriever.
Barth mendongak, “Walau kamu belum mandi, tapi cinta aku ke kamu ga berubah, Rak.”
Tanrak ingin mengucapkan sesuatu, namun terhenti karena Barth lanjut menaruh wajahnya di antara leher dan bahu Tanrak. Helaan nafas Barth membuat kulitnya yang sensitif itu terasa geli, kekehan tak sengaja keluar dari mulutnya. Barth juga begitu, dengan sengaja membawa tangannya ke perut Tanrak dan menggelitik sang kekasih. Tawa Tanrak terlepas begitu saja, Barth ikut tersenyum melihat Tanrak yang putus asa mencoba melepaskan diri namun selalu sia-sia.
Tau usahanya tak mencapai hasil, Tanrak berubah rencana. Dia tak mendorong Barth, melainkan ikut menggelitik perut Barth hingga sang dominan ikut tertawa. Keduanya saling menggelitik satu sama lain, tak peduli suara mereka terdengar sampai keluar rumah.
Karena bagi mereka, tiap detik adalah waktu untuk membuat kenangan.
“Rak, Rak, Rak, Rak, Rak~” Barth bergumam ketika berhasil menggenggam pergelangan tangan Tanrak, menghentikan aksi mereka berdua. “Mulai sekarang, aku bakal selalu panggil kamu ini.”
Dibawahnya, Tanrak sedang berusaha mengontrol nafasnya setelah hampir satu menit tertawa. Dia tersenyum kecil, sudah dapat membayangkan bagaimana rasanya dipanggil oleh panggilan yang dia suka, oleh orang yang dia cintai.
Dengan posisi yang sama, Tandak melepas genggaman tangan Barth dengan lembut. Dia membawa tangannya untuk membelai pipi Barth, lalu memajukan wajahnya untuk mencium bibir sang kekasih, yang membalas ciuman itu dengan penuh kasih sayang.
Diluar, bulan menonton mereka dari atas bumi, diam-diam memancarkan cahaya yang lebih lembut dari sebelumnya. Karena ia tau, meski dunia masih memandang miring cinta mereka, namun kedua orang ini tidak akan pernah berhenti mencintai.
Lalu Barth dan Tanrak, akhirnya akan memulai buku baru mereka yang akan ditulis bersama-sama.
