Work Text:
SUDAH lagu keempat yang Yudistira dan Nakula garap untuk keperluan demo band-nya sore ini. Belum ada lirik yang akan dimasukkan. Baru ada melodi dari gitar Yudistira dan panduan vokal dari Nakula yang mendendangkan sesuatu dengan kata-kata tanpa arti.
Keduanya berada dalam band indie yang beranggotakan teman-teman satu SMA-nya dulu. Dari kelima anggota, biasanya Arjuna yang akan menginisiasi proyek baru mereka. Baru Nakula dan Yudistira yang bekerja lebih dulu untuk lanjut mencari melodi dan membuat guide. Kemudian Sadewa dan Bima sebagai bassist dan drummer yang menyempurnakan aransemen lagu. Pun dari kelimanya, Yudistira dan Nakulalah yang memiliki jam kerja paling fleksibel karena bekerja secara remote. Sempurna untuk menjadi tim pionir yang bergerak.
Sebentar-sebentar, Yudistira mengecek ponselnya. Memastikan apakah ada telepon atau pesan yang terlewatkan karena ia terlalu larut dalam proyeknya sore ini. Tindak-tanduknya tentu saja disadari Nakula.
"Call aja nggak sih, daripada senewen gitu?" celetuk Nakula sembari mencoret sesuatu di atas ponselnya dengan stylus tanpa menoleh. Sepertinya ia mulai membuat lirik. Yudistira berpaling ke arahnya.
"Mm? Apaan, Nakul?"
"Arjuna, 'kan?"
"Kok lu ta—apaan dah? Ehm. Gue nggak ngerti lu ngomong apa."
"Halah, kentut."
Yudistira pura-pura tidak mendengar. Ia pandai soal itu. Gitarnya menjadi pengalih perhatian paling paten sekarang. Sampai layar ponselnya menyala dan nama dari seseorang yang tadi ia tunggu-tunggu muncul di sana. Dengan cepat kilat ia menyambar benda persegi tersebut. Senyumnya tak sadar merekah terlalu lebar.
Arjuna Arkana
Yudis, kira-kira lu balik jam berapa?
Mau titip bubur ayam tongcai di pertigaan plis?
"Roman-romannya udah dapet kabar kalo udah semringah gitu?"
"Apaan, Na?"
"Arjuna 'kan itu?"
"Iya." Tidak ada alasan untuk mengelak.
"Apa katanya?"
"Titip bubur."
"Oh? Lagi nggak enak badankah?"
"Nggak ... bilang sih?"
"Nggak tanya? Biasanya dia tiap sakau bubur pasti lagi nggak enak badan 'kan?"
"Iya, ya?"
"Astaga, Yudis. Sejak kapan lu jadi blah-bloh gini sih, soal Arjuna? Gue sendiri yang telepon deh." Yudistira hanya menatap sekilas ke arah Nakula kala lelaki itu menempelkan ponselnya ke telinga. Ia berlanjut memainkan ponselnya tanpa tujuan apa pun supaya tidak terlihat terlalu menguping. Sejujurnya ia ingin menelepon kawan serumahnya itu secepat mungkin, tetapi rasanya enggan pula ia disindir-sindir lagi oleh Nakula.
"Juna, hei? Iya, nih masih sama Yudis di studio. Lu lagi teparkah? Enggak, gue nebak aja soalnya tumben titipnya bubur .... Oalah?" Yudistira tidak bisa berlagak tak acuh lagi. Ia menoleh dan mendekatkan dirinya ke arah Nakula dengan mimik muka bertanya. Namun, Nakula malah beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke jendela. Melanjutkan pembicaraannya.
"Udah minum apa aja? Mm ... oke, oke. Tidurin aja yang banyak hari ini. Ntar abis ngebubur langsung tidur, moga-moga besok udah segeran. Sip ... aman, udah kami taruh di server—nggak usah lu liat dulu! Nanti malah gemes ngegarap, makin tepar nanti .... Iyalah, apal banget gue. Oke deh, bye, Jun. Get better soon, ya." Nakula kembali berjalan menghampiri dan duduk di tempatnya semula.
"Juna sakit, Nakul?"
"Butuh tidur aja. Kemarin abis nge-deadline jadi dua hari belum tidur katanya."
"Tsk. Udah gue duga."
"Kenapa? Semalem balik kantor malem banget dia?"
"Balik normal. Terus ngendon aja di kamar, nggak keluar-keluar ampe jalan ngantor lagi. Mukanya ditekuk banget, ampe gue segan mau nyapa."
"Lu tuh, ya. Idup bareng udah berapa taun sih, masih segan-seganan segala?"
Hangat menjalar ke pipinya kala mendengar bagaimana Nakula menyebut hubungannya dan Arjuna. Ia dan memang betul adalah partner hidup bersama dengan konteks berbagi flat untuk meringankan biaya sewa dalam tiga tahun ke belakang selulus keduanya dari universitas. Namun, tetap saja mendengarnya—idup bareng, katanya—membuatnya malu.
"Oke, sampe mana tadi kita?" Nakula menaikkan satu alisnya atas pertanyaan Yudistira.
"Seriously?"
"Apa?"
"Emang masih bisa konsen setelah denger Arjuna tepar dan lagi nungguin bubur lu di rumah gini?"
"Ya, kalo—"
"Dis, come on. Let's wrap it up for today." Keduanya bertatapan beberapa saat, seperti sedang memutuskan siapa yang lebih keras kepala dari keduanya.
Nakula yang menang.
"Oke deh kalo gitu. Gue ... balik duluan, yah?"
"Good. Kita udahan dulu aja hari ini, ya? Udah dapet lumayan banyak juga." Nakula beranjak dari duduknya untuk membereskan peralatannya.
"Gitu? Oke deh. Lu abis ini lanjut ke mana?" Yudistira bertanya seraya memasukkan gitar ke dalam sarungnya.
"Rumah aja. Pengen tidur gue."
"Ya udah ati-ati."
"Mm."
"Dis ...."
"Iya?"
"Kalo mau lanjut, lanjutin aja. Gue yakin anak-anak support. Asal lu-nya mantep dulu."
"Gue nggak tau lu—"
"Lu tau, Dis."
Telak. Kalimat tanggapan Nakula yang menyela membuat Yudistira terdiam. Paham jika pembelaan apa pun yang ia lontarkan tidak akan berhasil. Nakula menepuk bahunya sekilas kemudian berlalu melewatinya yang masih termenung.
Di perjalanan ke lokasi bubur ayam tongcai favorit Arjuna, Yudistira mau tak mau mengingat banyak memori soal ia, Arjuna, dan bagaimana orang-orang di sekitarnya terlihat lebih tahu soal mereka. Lebih dari keduanya. Di saat-saat biasa, Yudistira akan dengan mudah mengabaikannya dan menganggap itu sebagai candaan atau angin lalu. Namun sore ini, semuanya ia pikirkan kembali. Satu-satu.
Sesederhana Bima kerap bertanya soal di mana posisi Arjuna berada padanya. Hampir tiap pertanyaannya dapat Yudistira jawab. Karena sebagian besar waktu memang ia habiskan dengan Arjuna. Jika tidak sedang bersama pun, keduanya kerap berbagi info lokasi terkini. Entah untuk memberi perkiraan waktu kapan sampai di rumah atau sebagai pengantar menawarkan menu makan malam terdekat sekalian pulang.
Bukan sesuatu yang aneh untuk dua orang yang tinggal di satu tempat yang sama untuk tahu posisi satu sama lain. Yudistira nyaris mengira hal itu sudah lumrah. Sampai saat ia berbincang dengan kawannya yang lain—yang memiliki hubungan normal dengan kawan serumahnya. Mereka kebanyakan memiliki jarak aman satu sama lain untuk saling memberi ruang dan menghormati privasi satu sama lain. Membayangkan ia dan Arjuna memiliki konsep seperti itu saja sudah membuat Yudistira ingin mengamuk.
Jika Arjuna menjauh, mungkin ia tidak akan bisa tidur berhari-hari demi mengingat-ingat apa salahnya ke belakang—selama tiga tahun tinggal bersama, sudah enam kali ia mengalami saat seperti itu. Yudistira sumpah mati tidak mau mengulanginya lagi. Maka, dilabeli satu paket dengan Arjuna, bukan menjadi alasannya untuk risih. Tentu saja, selama Arjuna tidak menganggapnya gangguan juga. Selama ini, lelaki itu terlihat santai jika ada kawan-kawan Yudistira yang mencarinya lewat Arjuna. Paling sering lelaki itu mengomel soal kebiasaannya mengabaikan pesan atau telepon dari orang lain yang membuat mereka berlari pada Arjuna.
Mungkin Arjuna menyadari jika pesan dan telepon darinya tidak pernah dibiarkan menunggu lama untuk dapat jawaban dari Yudistira. Namun, lelaki itu memilih untuk tidak pernah membahasnya. Oleh karea itu, Yudistira memilih cara yang sama. Pernah beberapa hal itu dibahas saat briefing dengan kawan satu band-nya. Arjuna terlihat tersipu dan menanggapi godaan dengan kelewat ketus yang berakhir digoda oleh membernya. Yudistira tidak perlu mengatakan isi kepalanya yang menikmati bagaimana sepasang pipi kawan serumahnya itu terlihat cantik dalam warna merah muda.
Yudistira juga ingat jelas bagaimana wajah menyebalkan Sadewa kala memergokinya mendadak masam dan memperlihatkan suasana hatinya yang seketika acak-acakan di satu waktu mereka berlatih. Arjuna datang terlambat saat itu. Ia datang satu jam lebih malam dari janji di awal. Soal itu, Yudistira tidak masalah. Soal lain, yang adalah Arjuna diantar oleh teman kantornya yang bernama Eray, membuat Yudistira sama sekali tidak mood untuk melakukan apa-apa. Rasanya dongkol seharian. Petikan gitarnya kerap tidak sinkron dengan yang lain, membuat sesi hari itu berakhir lebih cepat dari rencana.
"Lemesin aja bisa nggak sih, lu?" celetuk Sadewa pelan saat Yudistira sedang menyetel ulang pedalnya.
"Mm? Lu ngomong sama gue?"
"Tsk. Sama siapa lagi?"
"Gue biasa aja."
"Iya, sebelum vokalis kita dateng dianter laki lain."
"Tsk. Gue cuma kesel aja dia dateng telat."
"Dia udah kasih notice dari semalem bakal telat. 'Kan ada lembur dadakan di kantornya, bukan maunya dia juga. Lu sendiri juga udah baca grup, terakhir gue cek."
"Arah lu ngomong ke mana sih, Sadew?"
"Arah gue ngomong adalah lu keliatan banget jelesnya, Yudis." Yudistira yang sebelumnya siap mengajak Sadewa berdebat, seketika terdiam.
"Ngaco lu."
"Mungkin iya. Tapi kalo gue jadi lu, gue nggak akan bikin gebetan gue ngeri sama gue ampe nggak mau deketin gue walau gue mau ajak ngobrol," ujar Sadewa sembari menggedikkan dagunya ke arah Arjuna yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak nyaman. Lelaki itu seketika memalingkan pandangan kala tatapan keduanya bersirobok. Yudistira seperti ditusuk jarum kecil di permukaan kulitnya.
"Kentara bangetkah gue?"
"Crystal clear, Yud."
"Anjrit."
"Samperin gih, keburu—"
"Guys, gue balik duluan, ya. Sori lagi, gue datengnya telat. Next latian gue yang traktir, ya? Sori, ya, Dis." Arjuna tersenyum kagok sembari beranjak dari duduknya. Yudistira refleks berjalan cepat, menyusulnya ke parkiran studio. Tidak peduli akan kawan-kawannya yang terang-terangan saling melirik.
"Jun, pulang naik apa? Kenapa nggak bareng gue sekalian?"
"Ini, GrabCar. Nggak apa, Dis. Sori, ya, gue terlambat tadi. Bikin mood anak-anak off, ya?" Anak-anak nggak apa-apa. Gue doang yang payah, Jun.
"Nggak bareng gue aja?"
"Ini, mobil pesenan gue udah nyampe. Ketemu di rumah aja, ya? Gue jalan duluan, Dis."
Rumah terdengar seperti suaka bagi keduanya. Bagi Yudistira, seperti janji bahwa setelah sampai di rumah lagi nanti, setelah bersama Arjuna, semua akan baik-baik saja. Kembali seperti semula. Maka, sinyal itu Yudistira tangkap untuk segera menuntaskan apa pun yang membuatnya merasa senegatif ini sekarang dan tidak membawanya ke rumah. Atau jika memang belum selesai, ia akan pulang dan keduanya akan membicarakan ini di rumah.
Yudistira menggigit bibirnya sembari melihat taksi daring pesanan Arjuna meninggalkannya di teras studio. Arjuna sama sekali tidak punya salah di sini. Perasaannyalah yang terlalu sensitif yang membuat lelaki itu merasakan ketidaknyamanan. Sadewa bilang apa itu, tadi? Cemburu? Astaga. Rasanya ingin ia membenturkan kepala. Mengapa Yudistira bisa punya perasaan serapuh itu? Dan seterlihat itu?
Tidak heran ketika ia kembali masuk ke dalam studio, Yudistira tidak perlu kaget dengan nyinyiran bassist-nya yang tinggi besar itu.
"Drama boliwud banget lu, sumpah."
"Gue bego ya, Dew?"
"Kadang iya."
Yudistira menoleh ke arah keyboardist dan drummer-nya yang berlagak tidak mendengar apa-apa dengan memainkan instrumen jazz—tumben sekali. Sore itu, Yudistira menghabiskan waktu di studio sampai larut malam. Kawan-kawannya pamit satu-satu tak lama setelah Arjuna pergi. Ia sendiri memutuskan untuk tinggal lebih lama dan bermain dengan gitarnya tanpa henti. Ada dua lagu yang ia ramu malam itu. Yudistira akhirnya memutuskan pulang saat sudah memasuki waktu tidur Arjuna. Berharap ia sampai rumah tanpa perlu bertemu dengan sosok yang sudah ia sakiti dan ia buat bingung secara tidak langsung.
Hanya untuk menemukan Arjuna menunggunya di sofa ruang tengah dengan bergelap-gelapan. Ada televisi menyala yang jelas-jelas diabaikan, melihat bagaimana manusia di hadapannya menatap kosong ke depan. Saat Yudistira mendekat ke arahnya, Arjuna mendongak lalu tersenyum.
Dunia Yudistira seketika kembali terang. Kelumit di kepalanya sekelita mengurai.
"Mau teh nggak? Gue abis bikin. Biar bisa bikin kalem terus ngantuk."
Yudistira tidak pernah menahan tangisnya sesulit kala itu.
"Mau, Jun," jawabnya dengan suara bergetar.
Keesokan harinya setelah tragedi cemburu yang memalukan itu, Yudistira menelepon kakaknya di rumah, Naia. Inginnya menenangkan diri, apa daya ia mendapatkan semprotan yang cukup pedas dari senior sedarahnya itu.
"Kamu abis ngapain Arjuna, Dis?"
"Nggak aku apa-apain, Kak."
"Dis, jangan disakitin itu anak orang. Kalian sama-sama ngerantau di sana. Harus bisa saling jaga."
"Iya, Kakak."
"Juna telepon Kakak semalem, suaranya lemes banget." Jantung Yudistira sejenak berdetak lebih cepat.
"Oh?"
"Mm ...."
"Juna cerita apa aja sama Kakak?" Yudistira sudah siap-siap untuk semakin diomeli.
"Nggak cerita apa-apa. Nanya kabar Kakak sama orang-orang rumah aja. Bilang kalo dia tiba-tiba homesick. Bilang juga kamu masih di studio."
"Oh ...."
Kawan serumahnya itu memang memiliki tendensi untuk menelepon orang-orang rumah jika sedang merasa berat hatinya. Katanya, berbicara dengan keluarga di rumah akan membuat hatinya lebih lapang dan perasaan lebih tenang. Kenyataan bahwa Arjuna mencari keluarga Yudistira semakin membuat ia merasa bersalah. Mungkin Arjuna ingin mencari ketenangan dari keluarganya karena Yudistira tidak bisa memberikan rasa itu padanya. Mungkin Arjuna tidak ingin keluarganya sendiri khawatir.
Begitu saja sudah membuat Yudistira merasa berengsek.
"Dia ada rencana mau balik kampungkah, Dis?"
"Enggak cerita apa-apa sih." Semoga tidak.
"Jangan dijahatin. Kalo kamu emang nggak punya rencana buat ngajak serius, stop, Dis. Jangan dibuat main."
"Kak, kok ngomongnya gitu ...?"
"Cuma orang buta yang nggak bisa liat kalian berdua kayak apa. Kakak sayang sama Arjuna, Dis. Dia udah Kakak anggap kayak adek sendiri. Mungkin Kakak emang nggak sedeket kamu dan dia, tapi Kakak tau waktu Juna telepon Kakak, dia lagi nggak baik-baik aja. Cuma dia nggak mau ngomong ada apa. Juna cuma bilang lagi capek di kerjaan. Kakak nebak aja lagi ada apa-apa sama kalian."
"Oh .... Iya, Kak. Semalem aku pulang telat ke flat. Rasanya males ketemu Juna, soalnya sorenya dia pulang bareng orang lain dan aku nggak suka." Jika kekhawatirannya dijabarkan begini, Yudistira merasa semakin kecil. Dipikir-pikir, penyebabnya marah sangat sepele. Walau ia tahu perasaannya kemarin itu valid, tetapi tetap saja ia mengekspresikannya dengan terlalu kekanak-kanakkan.
"Cemburu kamu?"
"Mungkin."
"Emang Arjuna siapamu, mm?" Wah.
"Kak ...."
"Kalo nggak kamu seriusin, Arjuna bisa aja pergi ke tempat lain, Dis. Ke orang yang bisa bikin dia lebih nyaman buat pulang. Gimana kamu bisa jadi orang itu, kalo ada masalah dikit aja kamu kabur? Bukannya saling nyari dan kasih ketenangan dari orang yang kamu peduliin?"
"Jangan gitu dong, Kak, ngomongnya ...."
"Loh, kenapa enggak? Dia single, kamu juga single. Kalo Kakak jadi Arjuna sih, daripada nunggu yang nggak jelas, mending sikat siapa aja yang duluan nyeriusin aku."
"Untungnya Juna bukan Kakak, ya."
"Iya, Arjuna limit sabarnya banyak. Kakak nggak relate. Ati-ati aja kamu. Sama kayak orang kalem sekalinya marah serem, orang yang keliatannya sabar terus bisa jadi sekali stok sabarnya ilang, langsung pergi dia." Yudistira bergidik. Amit-amit.
"Kaaak, jangan gitu dong ngomongnya. Ngeri banget?"
"Sengeri itukah ditinggal Juna?" Nada bertanya Naia ringan. Pertanyaannya hanya satu kalimat sederhana. Namun bagi Yudis, jawabannya begitu berat untuk dikeluarkan. Walau akhirnya ia lontarkan juga dengan suara pelan.
"Sengeri itu, Kak."
Sama mengerikannya dengan menggelar perasaan segamblang ini. Yudistira terlalu tidak terbiasa.
"Ya udah, kelarin. Nanti cerita gimana akhirnya dan Kakak nggak mau denger berita jelek."
"Oke, Kak. Doain, ya. Bilang ke ibu sama bapak juga."
"Aman. Itu tadi yang Kakak bilang ke kamu juga hasil ngobrol sama mereka. Banyak wanti-wanti ke kamu tuh, jangan bikin keluarga kita malu ke keluarga Arkana. Tetangga lama itu."
"Buset, makin berat aja kayaknya beban hidup gue."
"Sukurin. By the way, Kakak abis bikin somay, enak deh. Kakak kirim ke tempat kamu sama Juna, yah? Versi frozen-nya."
"Wah, mau, Kak. Thanks, yah."
"Okey. Kakak kirim pake Paxel besok, ya?"
"Makasih, Kak. Buat semua-mua."
"Iyaa. Dah sana, lanjut dikelon itu Junanya."
"Diem nggak?"
Terdengar tawa terbahak-bahak dari ujung panggilan. Untung saja kakaknya itu tidak bisa melihat seberapa panas pipinya kini. Yudistira pikir, sampai berapa pun usia mereka, Naia akan tetap akan menggodanya. Ia hanya harus menerima nasibnya sebagai anak bungsu.
Tidak berhenti di Naia. Yudistira setelahnya menghubungi Aya, adik dari Arjuna. Rasanya ingin tahu, jaga-jaga jikalau Arjuna bercerita sesuatu padanya. Misalnya saja sesuatu soal pulang ke rumah untuk selamanya—mengingat tadi kakaknya membahas soal Arjuna yang homesick. Yudistira gelisah tiap memikirkannya dan ia tidak suka rasa itu. Seperti berjalan di atas air yang baru saja membeku di musim dingin. Ia tidak tahu permukaan mana yang kuat dan permukaan mana yang akan membawanya terperosok ke dalam danau dengan suhu di bawah nol derajat.
"Abang nggak cerita apa-apa sih, Kak."
"Oh, gitu. Oke, oke, Aya ...."
"Kalian lagi berantem, ya?"
"Eh? Enggak kok, Aya. Kakak lagi mau mastiin aja. Soalnya abangnya Aya sempet bahas kangen rumah. Khawatir kalo ternyata si abang mau pulkam."
"Ciyee, Kakak takut ditinggalin abang, ya?" Mendengarnya, Yudistira menggaruk ujung hidungnya.
"Apa deh ...."
"Kakak nggak akan ditinggalin abang sih, percaya sama Aya."
"Oh, ya? Kenapa tuh?"
"Soalnya abang sayang sama Kakak." Yudistira menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga sebelum berkata lagi.
"Oh? Abang pernah bilang ke Aya emangnya?"
"Nggak frontal sih, tapi abang tuh tiap nyeritain Kakak, matanya nyala, ngerti nggak sih, Kak?"
"Iya, ngerti ...."
"Abang juga pernah bilang kayaknya nggak bisa jauh-jauh dari Kakak, mau nemenin Kakak terus ampe Kakak bosen sama abang." Alamak.
"Gitu?" Kedua mata Yudistira panas rasanya. Ia menutup mulutnya untuk menahan suara lain yang keluar dari bibirnya selain kalimat bernada tenang. Jangan sampai Aya mendengar ia terisak.
"Kakak jangan bosen, ya, sama abangku? Kalo abang nakal, omelin aja. Atau kasih tau Aya, nanti Aya bantu omelin juga. Pokoknya kalian jangan ampe putus." Astaga, apa lagi ini?
"Putus? Emang abang pacaran sama Kakak?"
"Halah, nggak usah pura-pura deh, kalian. Abah sama amah juga bilang kalian nggak jago backstreet-nya. Soalnya kasmarannya keliatan banget kalo lagi bareng." Andai mereka tahu.
"Iyakah?"
"Hu um."
"Emangnya Aya nggak apa-apakah, Kakak sama abangnya Aya?"
"Aya bakal apa-apa kalo abang bukan sama Kakak sih."
"Gitu, ya? Makasih banyak ya, Aya ...."
"Sama-sama, Kakak. Aya nggak tau kalian lagi ada problem apa, tapi semoga cepet kelar, yaa. Pokoknya jangan putus!"
"Iya, Aya. Kakak sama abang nggak akan putus." Panas menjalar sampai ke leher Yudistira kala mengatakan ini. Malu sekali rasanya mengaku-ngaku begini.
"Gitu dong. Aya males soalnya kalo harus kenalan lagi dari nol sama calonnya abang."
"Itu alesannya?"
"Salah satu aja." Keduanya terkekeh. Yudistira senang tiap bisa mengobrol dengan Aya. Seperti berbicara dengan kakaknya di rumah tetapi versi lebih kenes dan lebih bocah. Seru sekali untuk digoda. Ia seperti adik bungsu yang Yudistira tak pernah punya.
"Aya lagi mau makan apa? Sini, Kakak pesenin."
"Eh, kok jadi repot-repot, Kak? Nggak usah, Kak."
"Nggak repot. Kakak yang makasih udah ditemenin ngobrol, padahal ini hari libur. Aya pasti punya acara lain, malah Kakak gangguin."
"Aman aja, Kak. Aya udah mam, tadi amah masak. Paling baru jalan nanti sore sama temen-temen."
"Mau ke mana tuh?"
"Nonton sama ngeteh cantik, Kak."
"Kakak yang traktir, ya? Sebentar ...." Yudistira menjauhkan ponselnya sebentar dari telinga untuk membuka aplikasi mobile banking-nya dan membuat transaski cepat di sana.
"Eh, nggak usah, Kak!"
"Udah Kakak transfer, ya. Aya nanti hati-hati di jalan sama temen-temen, ya. Kirim foto-foto ke Kakak atau abang, jangan lupa."
"Ya ampun, Kak Yudis. Makasih banyak ya, Kakak Ipar!" Aih.
"Iya, Adik Ipar. Sama-sama."
Yudistira tidak berhenti tersenyum hari itu. Sampai Arjuna mencurigainya baru saja mendapat rezeki nomplok entah dari mana. Ia memasak sambil berdendang. Membereskan flat sambil tersenyum-senyum senang. Tidak mengganggu Arjuna yang sedang sibuk dengan tugasnya.
Hari ini, ia sudah kembali berada di depan pintu flatnya sendiri. Dengan bungkusan dua porsi bubur ayam tongcai di tangannya. Yudistira menarik napasnya panjang dan menghelanya perlahan. Jika memang semua orang di sekitarnya bisa melihat bagaimana ia berperilaku saat bersama Arjuna, dan tetap mendukungnya, seharusnya Yudistira tidak perlu khawatir lagi. Yang ia perlukan adalah keyakinannya. Juga perasaan Arjuna sendiri.
"Aduh, wangi buburnya semriwing banget, Dis ...."
Suara Arjuna menyambutnya saat baru saja memasuki kediaman mereka. Rasa tegang yang dari tadi Yudistira rasakan perlahan meluntur. Senyumnya melebar kala melihat Arjuna sedang duduk nyaman dengan bersila di sofa dan membungkus dirinya seperti crepes dengan selimut berbahan lembut favoritnya yang berwarna marun. Kepalanya tertutup hoodie berwarna abu muda dengan rambut-rambut nakal yang menyembul di pinggirannya. Kaca matanya merosot ke ujung hidungnya yang bangir.
Lelaki itu terlihat nyaman untuk dipeluk.
"Jun ...."
"Hey. Welcome back."
"Thanks. Demam nggak lu?" Yudistira memeriksa suhu di kening Arjuna dengan punggung telapak tangannya seperti hal itu adalah sesuatu yang natural di antara mereka. Tidak perlu izin karena keduanya sudah saling terbiasa.
"Aman. Nggak kerasa anget, 'kan, ya?"
"Iya, aman. Tadi sempet demam tapi?"
"Pagi-pagi aja anget. Gue minumin Sanmol tadi siang, terus nyempetin tidur."
"Sukses tidurnya, mm?" Yudistira berlanjut memeriksa kulit leher Arjuna. Kemudian ia usap lengannya. Lalu ia genggam tangan Arjuna yang dibalas dengan remasan si empunya.
Yudistira paham mengapa semua orang di sekitar mereka terbiasa menganggap ia dan Arjuna sebagai sepasang kekasih.
Malu lagi ia rasanya.
"Tidur ayam aja. Lu hari ini ngebut banget sama Nakul. Dipoles dikit aja udah kelar akhir bulan pasti, EP kita."
"Tsk, dibilangin Nakul jangan ngecek server. Bandel, ya?"
"Sorry, too bored." Arjuna menyernyih lalu beringsut untuk berdiri dan melangkah menjauh darinya. Ia terlihat memakai sweter dan celana training satu set lengkap dengan kaus kaki berwarna merah. Selimut masih membungkus bahunya kala ia berjalan, membuatnya seperti penjahat misterius yang memakai jubah di film-film pahlawan super. Yudistira menahannya di ujung selimutnya.
"Ke mana?"
"Dapur? Ambil mangkok sama sendok?"
"Lu diem. Sama gue aja." Arjuna memicing curiga sambil kembali mendudukan dirinya. Yudistira melesat ke arah dapur dan mengambil peralatan makan berikut air minum untuk keduanya.
"Lu kenapa?"
"Nggak apa-apa. Mau kecap nggak, Jun?"
"Mau dong."
Saat semua alat makan sudah berada di meja di hadapan keduanya, Arjuna kembali mendekat untuk mengambil buburnya untuk dituangkan ke wadah. Namun, lagi-lagi Yudistira menyela kegiatannya.
"Sama gue aja."
"Buset, Dis. Gue kurang tidur doang ini, bukan lagi tipes?"
"Jun, sekali ini aja, malem ini, gue manjain lu bolehkah?" Permintaannya frontal. Ia sendiri tidak menyangka bisa mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya. Arjuna tak kalah kagetnya. Seperti menunggu ada kalimat punchline setelahnya yang bisa menjadikan kamilat sebelumnya menjadi bahan bercandaan.
"Lu ... abis kejedot di suatu tempatkah?"
"Serius gue, Jun ... ah, elu."
"Ini kalo gue minta disuapin, lu bakal lakuin?"
"Dengan sangat senang hati, ehm." Yudistira mati-matian memfokuskan dirinya pada mangkuk di hadapannya. Perlahan ia pindahkan bubur. Seledri daun bawang, suwiran ayam, emping, dan tongcainya ia taruh di atas bubur. Ada sate ati ampela ayam yang ia lepaskan dari tusukannya untuk dicampur ke dalam bubur, bersama sambal, dan tambahan kecap. Arjuna suka buburnya terasa manis, asin, gurih, dan pedas sekaligus saat sudah dicampur.
"Yudis ...."
"Iya, Jun?"
"Are you okay? Lu kali yang demam, ya? Muka lu merah—"
"A, Jun ...."
Arjuna menurutinya untuk membuka mulut walau wajahnya masih kentara bingung menghadapi Yudistira yang tiba-tiba menjadi superatentif begini. Mungkin ia harus menjelaskan sesuatu. Mungkin ia harus mulai mengatakan sesuatu. Hanya, dari mana?
"Tadi ada sesuatukah di studio?"
"Nggak ada. Biasa aja. Enak?"
"Mm. Lu nyuap juga dong."
"Lu duluan aja. Itu punya gue masih ada satu di bungkusan."
"Ini abisin bareng aja, terus yang itu makan berdua lagi aja juga." Hangat kini menjalar ke kedua telinga Yudistira.
"Oke."
Yudistira menyuap buburnya dan merasakan kehangatan masuk ke perutnya. Rasanya nyaman. Seperti sup atau mie instan kuah yang dikonsumsi saat hari hujan. Menenangkan.
Ia mendongakkan wajahnya hanya untuk mendapati Arjuna sedang menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?"
"Lu nggak pake sendok sendiri?"
"Oh? Sori. Lu risih, ya?"
"Itu pertanyaan gue sih."
"Gue nggak masalah sih."
"Oke. good. Gue nggak kenapa-napa juga."
Beberapa saat tidak ada dialog yang mereka ucapkan. Hanya ada bunyi kelontang pelan yang diproduksi karena sendok yang Yudistira pegang bertemu dengan permukaan mangkuk. Ia tetap menyuapi Arjuna dengan telaten. Lalu menyuap untuknya sendiri. Sesekali ia mengelap bubur yang tersisa di ujung bibir Arjuna. Membuat lelaki itu menaikkan alisnya lagi.
Yudistira berdeham.
"Jun ...."
"Iya, Dis?"
"Suka nggak, gue suapin?"
"Hah? Suka-suka aja sih."
"Lu mau nggak ... kalo gue manjain gini terus?"
"Oh?"
"Iya ...."
"Gini terus tuh ampe kapan tawarannya, kalo boleh tau?"
"Selama mungkin sih. Kalo lu mau ...."
"Baru sekarang banget nih, ngajaknya?" Wajah Arjuna tampak jahil saat bertanya. Membuat Yudistira semakin tersipu.
"Ketelatan, ya, gue, Jun?"
"Enggak. Malah gue kirain nggak akan pernah diajak ke situ gue."
"Malu gila. Kenapa lu nggak duluan ngajak sih, Jun?"
"Takut ditolak gue."
"Emang gue keliatan kayak bakal nolak lukah?"
"Gimana, ya ... lu kayak masih bingung aja sih. Gue nggak mau nge-push lu ke sesuatu yang nggak lu pengen aja."
"Gue nggak bingung sekarang, Jun. Gue serius pengen manjain lu, barengan sama lu gini selama mungkin. Kayaknya anak-anak sama keluarga kita udah ngasih restu juga. Lu maukah?"
Permintaan ini terlalu serius untuk dibicarakan di kursi ruang tengah flat sederhana mereka, dengan mangkuk bubur favorit mereka yang hampir habis di tangannya, dan bajunya yang belum diganti sedari studio tadi, dengan Arjuna yang memakai setelan tidurnya. Masa bodohlah. Yudistira ingin melakukannya segera.
"Mau, Dis. Thanks for asking."
"Thanks for accepting juga, Juna." Yudistira mengulurkan telapak tangannya ke sebelah pipi Arjuna. Lelaki itu menyandarkan pipi pada sentuhannya sembari tersenyum. Rambut legamnya beberapa turun menutupi wajahnya. "Tau nggak Aya manggil gue apa kemarin, Jun?"
"Apa, Dis?"
"Kakak ipar."
"Bocah asbun."
"Nggak salah loh?"
"Lu gede kepala pasti, ya?"
"Idung kembang kempis dikit aja."
Keduanya terkekeh. Lalu mereka kembali melanjutkan menghabiskan bubur yang kedua sampai tak tersisa apa-apa di mangkuknya. Yudistira sebentar berpamitan untuk membasuh tubuhnya sebentar dan berganti baju. Ia kembali dengan Arjuna yang sudah usai membilas piring gelas dan mangkuk kotor bekas mereka. Membuat Yudistira menggelengkan kepalanya melihat Arjuna dan wataknya yang terlalu keras kepala untuk hanya duduk manis di tempatnya.
Secara teori, situasi ini sama sekali jauh dari romantis. Tidak ada makan malam dengan cahaya lilin di restoran yang mewajibkan pengunjungnya berbusana rapi. Namun, mungkin skenario inilah yang paling cocok untuk Arjuna dan Yudistira. Di rumah sendiri, di ruang tengah dengan suasanya santai, dengan keduanya berlindung di balik selimut yang sama sambil menikmati film yang tidak ditonton dengan fokus. Hanya ada mereka yang menikmati hangatnya kehadiran satu sama lain di sisi.
Yudistira menikmati bagaimana Arjuna beringsut mendekat padanya, menyandarkan punggung di dadanya. Bagaimana satu tangannya melingkar mendekap bahu Arjuna dan tangan lainnya mengusap rambutnya sambil sesekali mengecupnya di puncak kepala.
Yudistira suka ini.
Selama mungkin, tadi, janjinya.
*
