Actions

Work Header

Master's Sun

Summary:

Seorang pemuda yang bisa melihat hantu menemukan tempat perlindungan saat ia menyentuh tangan seorang CEO yang angkuh. Sebagai imbalan atas perlindungan tersebut, ia berjanji akan membantu memecahkan misteri di balik kematian kekasih sang CEO.

Notes:

Haiiii, ini cerita yang aku remake dari drama korea yg paling kusukai dengan judul yang sama yaitu MASTER'S SUN.
Aku nulis ini karena pengen aja. Tidak ada niat untuk mencari ketenaran ataupun untuk di komersilkan. Murni karena ingin mencoba memasukkan karakter yoonmin kedalam cerita menakjubkan ini.
Cerita ini akan sangat amat mirip, kecuali pada perbedaan karakter saja.
Jika kalian tersinggung atau tidak suka, tolong tinggalkan saja aku sendiri :(
Buat yang belum sempat menonton drama ini, aku sangat merekomendasikan kalian untuk menontonnya (walaupun drama ini sudah beberapa tahun lalu) karena ini sangat seru dan menyenangkan :)

Chapter 1: Bab 1

Summary:

Seorang pemuda yang bisa melihat hantu menemukan tempat perlindungan saat ia menyentuh tangan seorang CEO yang angkuh. Sebagai imbalan atas perlindungan tersebut, ia berjanji akan membantu memecahkan misteri di balik kematian kekasih sang CEO.

Notes:

Haiiii, ini cerita yang aku remake dari drama korea yg paling kusukai dengan judul yang sama yaitu MASTER'S SUN.
Aku nulis ini karena pengen aja. Tidak ada niat untuk mencari ketenaran ataupun untuk di komersilkan. Murni karena ingin mencoba memasukkan karakter yoonmin kedalam cerita menakjubkan ini.
Cerita ini akan sangat amat mirip, kecuali pada perbedaan karakter saja.
Jika kalian tersinggung atau tidak suka dengan hal ini, tolong tinggalkan saja aku sendiri :(
Buat yg belum nonton dramanya, aku sangat merekomendasikan kalian untuk nonton karena ini sangat seru dan bagus sekali :)

Chapter Text

Diantara banyaknya malam yang Jimin tidak suka, dia paling benci malam dengan hujan dan petir seperti malam ini. Jimin hampir tidak tidur kemarin, membuat lingkaran hitam yang selalu tercetak jelas di matanya menjadi semakin menyedihkan, dan malam ini sepertinya juga harus dia lalui dengan mata terbuka.

Tangannya yang kurus gemetar memegang capitan panjang saat membuang sampah untuk dimasukkan sesuai tempatnya. Bulu kuduknya merinding dan dia selalu gelisah mengawasi lorong penginapan murah tempatnya tinggal itu.

“Nak Jimin, Nak Jimin,” Bibi pemilik gedung turun dari lantai diatasnya, “Sore ini tamu dari kamar 404 sudah keluar lagi, jadi kamu harus membersihkannya.”

“K-kamar 404?” Suara Jimin bergetar ketakutan.

“Haiisshh, kenapa tamu di kamar itu tidak pernah bisa tinggal lama? Apa lemarinya membawa sial?” Wanita paruh baya berambut pendek dan dikeriting itu bergumam kesal tanpa memperdulikan pertanyaan Jimin. “Nak Jimin, tolong kamu singkirkan juga lemari itu.”

Bibi pemilik gedung langsung pergi tanpa menunggu jawaban Jimin.

 

***

 

Jimin menaiki tangga menuju ke lantai 4 gedung dengan langkah berat. Kepalanya bergantian menoleh mengawasi sisi kanan dan kirinya, sementara tangannya yang gemetar memeluk dan meremas kantong sampah besar yang dia bawa.

Dia hampir mengencingi dirinya sendiri ketika sampai di depan pintu kamar 404. Beberapa menit dia ragu, bergelut dengan dirinya sendiri apakah dia harus masuk atau pergi dan meringkuk di kamarnya saja.

Tapi ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa bertahan dia jalani. Lagipula, bibi pemilik gedung membiarkannya tinggal di kamar atap dengan harga sewa yang sangat murah asalkan dia bersedia membantu beberapa pekerjaan bersih-bersih. Jadi Jimin memutuskan bertahan.

Suara guntur mengagetkannya dan membuatnya tersentak. Dengan takut-takut Jimin membuka perlahan pintu kayu yang berderit tersebut.

Jimin membuka pintu sedikit dan mengintip, ruangan itu gelap dengan beberapa sampah kertas berserakan. Dia menelan ludah dengan keras sebelum kepalanya dengan cepat menoleh ke arah lemari kayu yang tiba-tiba terbuka perlahan. Jantungnya berdegup sangat kencang menunggu sesuatu muncul dari dalam sana, dan bersamaan dengan petir itu menyambar, tampak sesuatu berjongkok di atas nakas di dekat jendela. Jimin berteriak dan langsung menyalakan lampu kamar.

Begitu ruangan terang, dia menatap tajam nakas yang kosong di dekat jendela itu sebelum perlahan berjongkok memunguti sampah dan memasukkannya ke dalam kantong.

"Huaaa!!! Aaakkk!!!!" Jimin terjengkang kaget karena lampu kamar tiba-tiba meledak dan padam membuat ruangan kembali gelap.

"Aku tidak melihatnya, aku tidak melihatnya." Dia bergumam sendiri dan tergesa-gesa memunguti sampah yang tersisa.

Bruaakkkk!!!

"Huuuuaaaa!!!!!!!!!" Jimin terjengkang lagi karena kaget mendengar pintu kamar terbanting menutup. Dia jatuh terduduk tepat dibawah nakas dekat jendela, hawa dingin menerpanya dan membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan perlahan Jimin mendongakkan kepalanya, seseorang bergaun putih lusuh berwajah buruk rupa dan menyeramkan berjongkok menatapnya dengan mata hitam yang besarnya dua kali lipat ukuran mata normal manusia.

"Huuuaaaaaa!!!!!" Jimin bangun dan berlari keluar dari kamar tersebut. Dia menoleh ke arah makhluk menyeramkan itu saat mencapai pintu, dan ketika petir kembali menyambar, makhluk tersebut melompat dan mengejarnya.

Jimin berlari sekuat tenaga menghindari kejaran makhluk tersebut. Dia tidak peduli pada kakinya yang gemetar dan nafasnya yang ngos-ngosan saat menaiki tangga 3 lantai menuju ke kamarnya di atap. Begitu sampai, dia menutup pintu kamar dan menguncinya sambil berharap dalam hati agar salib besar, bawang putih kering dan beberapa jimat yang digantung di luar pintu berhasil mencegah makhluk tadi mendekati dirinya.

“Pergilah!” Jimin menahan gagang pintu yang terus bergerak karena makhluk itu berusaha membukanya. “Aku bilang pergilah kamu!” Gagang pintu terus bergerak selama beberapa saat sebelum secara tiba-tiba berhenti. Jimin mengerutkan kening dan menunggu, tapi hanya suara rintikan hujan deras yang terdengar.

Dia membuka kain yang menutup jendela kamarnya dan tidak melihat apa-apa diluar. Tubuhnya merosot dengan nafas tersengal, dia merasa lelah.

Jimin mengatur nafasnya dan memperhatikan kamar sepetaknya yang gelap. Dia menoleh kebelakang dan mendapati makhluk tadi telah duduk di belakangnya. Jimin hampir mengumpat padanya sebelum wajah seram makhluk tadi berubah menjadi wajah nenek-nenek yang  tersenyum ramah padanya.

 

***

 

Lentera kecil yang berayun pelan menyala dengan cahaya kuning dan bertuliskan karakter hanzi tergantung di depan gerbang kayu sebuah rumah tradisional korea. “Memberi penghormatan terakhir”, begitu kurang lebih arti dari karakter hanzi yang tercetak disana.

Jimin menatap lentera itu dengan dingin, rambut pirangnya sedikit basah terkena air hujan karena tudung jas hujan yang dia pakai tidak berhasil menutupi panjangnya yang sudah melewati bahu. Buku-buku jari telapak tangannya yang mulai keriput karena kedinginan menggenggam erat sebuah buku kecil seakan takut benda tersebut bisa tiba-tiba menghilang.

Dengan langkah mantap dia memasuki rumah tersebut, beberapa laki-laki berjas hitam duduk di dipan kayu besar di halaman sambil ngobrol, botol-botol soju tersedia di meja mereka.

Jimin melewati mereka dan masuk mendekati bangunan rumah. Dari luar pintu yang dibuka lebar, Jimin bisa melihat sebuah meja persembahan dengan berbagai makanan, camilan dan buah-buahan. Seorang laki-laki dengan jas hitam dan dua orang perempuan memakai hanbok hitam khas pakaian duka duduk di depan meja persembahan tersebut. Jimin bisa melihat foto wajah arwah nenek di bingkai dengan cantik dan diletakkan di bagian atas meja.

Aroma dupa yang kencang tercium sekalipun dia hanya berdiri diluar pintu, mengingatkannya pada sensasi perasaan ngeri saat ada hantu yang mendekatinya. Jimin bergidik dan memeluk tubuhnya sendiri sebelum dengan suara pelan memanggil mereka.

“Permisi.” Jimin memanggil dengan suara pelan. Laki-laki tadi mendekat ke arahnya dengan wajah keheranan. “Seorang nenek memintaku memberimu ini.” Jimin menyerahkan buku kecil itu kepada si laki-laki.

“Ibuku?” Jimin mengangguk, dia melihat tangan si laki-laki dibalut perban saat ia mengambil buku itu dari Jimin. “U-uang ini… Nilainya lebih dari 10 juta won!” Dia membelalak kaget saat membuka buku kecil yang ternyata adalah sebuah buku rekening tabungan.

Kedua wanita yang duduk bersamanya mendekat dan ikut melihat buku rekening tersebut. “Ini sungguhan.” Kata salah satu diantaranya dengan mata yang sama terbelalak.

“Astaga!” Wanita satunya berseru dengan tidak kalah kaget.

“Setelah membayar biaya pemakaman dengan uang ini, sisanya untuk membayar hutangmu.” Jimin berkata pada laki-laki itu.

“I-ibu..” Si laki-laki terisak perlahan.

“Ada lagi yang ingin dia sampaikan padamu.” Bola mata Jimin bergerak-gerak ragu.

“Tolong katakan.”

Pandangan Jimin berubah gelap dan dia menarik kerah baju laki-laki tersebut. “Dasar kau bajingan!” Bola mata laki-laki itu melebar karena kaget. "Kalau kamu berani berjudi lagi, aku akan potong tanganmu! Jangan berjudi lagi!" Bersamaan dengan teriakan kedua perempuan di belakangnya, Jimin melepaskan kerah baju laki-laki tersebut dan menggigit tangannya dengan takut-takut, “itulah yang dia katakan.”

“Coba kulihat.” Wanita pertama merebut buku dari tangan si laki-laki. “Ini benar-benar tabungan ibu.”

“Ya Tuhan, lebih dari 10 juta! Bagaimana cara dia menabung ini.” Seru wanita kedua.

“Serahkan padaku.” Laki-laki itu merebut kembali bukunya.

“Itu tidak semuanya milikmu, setengahnya merupakan hakku!” Kata wanita pertama.

"Bagaimana bisa ini milikmu? Dia menyuruhnya memberikan ini padaku." Laki-laki itu membentak wanita yang adalah adiknya.

"Kamu telah menghabiskan segalanya! Berikan setengah padaku!" Sang adik bersikeras.

"Apa hakmu? Apa yang pernah kamu lakukan untuk ibu?" Laki-laki itu berteriak dan membuat semua orang yang berada di halaman memperhatikan mereka.

"Lalu bagaimana dengan oppa? Kita kehilangan semuanya karena kamu berjudi. Uang deposit rumah juga diambil sampai aku harus bercerai!" Jimin perlahan menjauh dari mereka ketika perdebatan mereka menjadi semakin sengit.

“Jadi sekarang perceraianmu adalah salahku?” Suara teriakan mereka masih terdengar ketika Jimin mencapai pintu gerbang kayu dan mendapati sang nenek berdiri disana menatap anak-anak mereka yang sedang bertengkar dengan sedih.

Mereka terus saja bertengkar, dan Jimin mulai ragu tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya ketika nenek itu melihat ke arahnya dengan tersenyum dan mengangguk. Jimin membalas anggukannya dan arwah nenek pun menghilang meninggalkan mereka semua, jadi Jimin juga pergi meninggalkan rumah duka tanpa ingin ikut campur urusan mereka lebih jauh.

 

 

☀️☀️☀️

 

 

"Anda bilang, ada hantu disini?” Min Yoongi tersenyum sinis.

“Benar. Mendiang istriku masih ada disini.” Lelaki tua pemilik rumah di depannya menjawab dengan tatapan kosong. “Saya berencana menjual rumah ini demi anak-anak,” sekarang dia menatap Yoongi, “tapi mendiang istriku pasti tidak menginginkannya.”

Yoongi menatap bingkai foto yang berada di meja nakas di belakang pemilik rumah yang duduk di hadapannya. Potret sang lelaki dalam usia yang lebih muda bersama dengan wanita disampingnya, pasti si istri, pikir Yoongi. “Jadi, anda ingin tinggal di lapangan golf milikku?” Dia menatap lagi bingkai foto tadi sebelum melanjutkan, “baiklah, mari kita bernegosiasi.”

“Kalau istri saya masih disini, bagaimana mungkin saya menjual rumahnya?” Laki-laki tua itu meninggikan suaranya.

“Orang meninggal masih ada disini, begitu?” Yoongi mengerutkan alis, dirinya mulai tidak sabar. “Baiklah, mari kita bernegosiasi bersama-sama.” Dia mencondongkan badannya ke depan, mendekati pemilik rumah di seberang meja sambil menunjuk dengan dagunya kearah potret sang istri, “beliau mengatakan apa?”

“Anda lihat bunga mawar itu,” Si lelaki menunjuk setangkai mawar putih hidup di dalam pot kecil disamping bingkai foto mereka. “Istriku sangat menyukai bunga itu.” Yoongi menatap tajam bunga mawar tersebut. “Saat saya putuskan untuk menjual rumah ini, bunga itu jadi layu. Kemudian saat saya mengubah keputusan, bunga itu kembali mekar.”

“Jadi anda mengatakan, istri anda mengungkapkan perasaannya melalui bunga itu?”

“Tepat sekali.”

Yoongi menggebrak meja dengan tinjunya, senyum ceria merekah di wajahnya yang tampan. “Kalau begitu, saya harus bernegosiasi dengan bunga itu.”

Laki-laki tua itu mengerutkan kening karena tidak memahami maksud kata-kata Yoongi. Keheranannya bertambah ketika melihat Yoongi bangkit berdiri dan mendekati pot bunga mawar tersebut.

Yoongi berdiri di depan meja nakas itu, mengamati potret tersenyum pemilik rumah dan sang istri yang ditemani sebuah pot lengkap dengan setangkai bunga mawar putih. Dia tersenyum puas menemukan sebuah gunting tanaman tidak jauh dari sana dan mengambilnya. “Nyonya bunga, dengarkan baik-baik dan berikan pendapatmu. Suamimu tidak mau menjual rumah ini, tapi aku harus membelinya. Benarkah kau tidak akan menjualnya? Kalau “iya” tundukkan tangkai bungamu atau  akan kugunting dia.”

Pemilik rumah menatap Yoongi dengan ngeri. “Apa yang sedang anda lakukan?”

Yoongi mengangkat telapak tangannya, mengisyaratkan sang pemilik rumah untuk berhenti. “Anda tidak melihat saya bernegosiasi?” Sekretaris yang setia berdiri di belakangnya sedari tadi menghela nafas lelah karena kelakuan atasannya itu.

Yoongi memainkan gunting tanaman dengan seringai diwajahnya lalu mengarahkannya ke tangkai bunga. “Saya beri waktu 3 detik. “Satu…” dia mulai menghitung sambil menatap mata si istri di foto. “Dua…”, kali ini dia memberi jeda agak panjang. “Tiga…” Yoongi menunggu sedikit lebih lama sebelum tanpa ragu memotong hingga bunga mawar putih yang berdiri tegak itu terjatuh.

Si pemilik rumah berdiri dengan marah, wajahnya merah padam dan matanya memancarkan kengerian. “Anda sudah gila?!”

Yoongi menoleh menatapnya, “anda yang gila. Kesepakatan dibuat oleh orang yang masih hidup, anda malah membawa-bawa orang yang sudah meninggal. Bukankah itu gila?” Yoongi mengambil kertas yang dipegang sekretarisnya, dan menatap tulisan disana. “Karena saya sudah memotong keinginan istri, sekarang anda penuhi keinginan anak anda yang masih hidup. Tolong, tanda tangan.” Dia tersenyum ramah dan menyodorkan kertas tersebut kepada pemilik rumah yang masih menatapnya dengan marah, nafasnya tersengal dan telapak tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

 

***

 

Yoongi keluar dari rumah itu dengan senyum lebar di wajahnya. Sang sekretaris siap dengan payung besar untuk mencegah hujan membasahi tubuh Yoongi.

“Kamu bajingan kejam!” Pemilik rumah meneriaki Yoongi dari depan pintu, bunga mawar yang sudah terpotong dia genggam. “Apapun yang kamu lakukan, istriku tetap disini.”

Yoongi berhenti dan menoleh menatap pemilik rumah. “Tidak ada. Sadarlah!” Suaranya hampir teredam hujan deras dan guntur yang menyambar sesekali.

“Kamu terlalu menyepelekan perasaan orang. Kamu akan disambar petir!” Laki-laki itu menunjuk-nunjuk Yoongi dengan bunga di tangannya.

Sekretaris Yoongi kaget. “Saya akan terus hidup dengan cerdas dan sukses, dan mengabaikan apa yang tidak bisa dilihat. Kalau apa yang saya katakan salah,” dia mendorong sekretarisnya menjauh, “maka biarlah saya disambar petir sekarang.” Yoongi merentangkan tangannya dan mendongakkan kepala, dia menutup mata saat wajahnya diterpa rintik hujan.

Dia menunggu hingga terdengar petir menyambar dan guntur menggelegar keras. Tidak ada apapun yang terjadi. Sekretaris memayungi tubuh Yoongi lagi ketika dia membuka mata dan menatap pemilik rumah dengan senyum puas. “Saya kira tidak ada petir yang menyambar saya. Hari ini keluarga anda mendapatkan uang. Selamat!” Masih dengan senyum sumringah, Yoongi bertepuk tangan pada pemilik rumah yang menatapnya dengan kesal.

“Kalau hantu memang ada,” laki-laki itu bergumam ketika Yoongi berbalik meninggalkannya, “mereka pasti akan datang pada orang sepertimu.”

 

***

 

Sedan hitam mewah Yoongi melaju menembus hujan di jalanan sepi pesisir sungai di Provinsi Gyeonggi untuk pulang kembali ke Seoul.

“Tuan Min, anda benar-benar tidak takut hantu?” Sekretaris Kimi yang sedang menyetir menatapnya lewat spion tengah mobil.

“Untuk apa aku harus takut pada orang mati?” Yoongi menatap jalanan disampingnya. “Kehidupan lebih menyeramkan.” Dia menghela nafas dan menyilangkan tangan di dada. “Aku ingin mengkonfirmasi ulang isi kontraknya. Tolong berikan aku catatannya.”

“Oh, iya.” Sekretaris Kim gelagapan mencari sesuatu di dashboard mobil. “Dalam file ke-4.” Laki-laki yang memiliki beberapa semburat uban itu menyerahkan sebuah alat rekam kepada Yoongi.

Yoongi menerimanya dan memasang earphone nirkabel di kedua telinganya. Dia mulai mendengarkan rekaman suara Sekretaris Kim dan mencocokkannya dengan lembaran kertas kontrak yang dia pegang.

“Kontrak perjanjian pembelian lapangan golf group kingdom.” Suara Sekretaris Kim melantun di telinga Yoongi. “Penjual : Min Yoongi yang selanjutnya disebut pihak pertama.” Huruf-huruf yang tercetak di lembaran kontrak mulai bergerak sendiri dan menjadi buram, Yoongi mengerjapkan matanya beberapa kali agar bisa membuatnya kembali menjadi jelas. “Pembeli : Kingdom, selanjutnya disebut pihak kedua. Perjanjian pembelian kedua belah pihak sebagai berikut—” Yoongi mengalihkan pandangannya ke arah jalanan diluar, tetap tidak bisa memaksakan diri untuk membaca tulisan yang tercetak di lembaran kontrak tersebut.

“Apa itu manusia?” Sekretaris Kim menunjuk seseorang yang berdiri di pinggir jalanan sepi yang sedang mereka lalui.

Yoongi ikut mendongak untuk melihatnya, dan orang yang mengenakan jas hujan putih itu melambaikan tangan ke arah mobil mereka.

“Sepertinya dia ingin menumpang, apa aku harus berhenti?” Sekretaris Kim meminta izin.

“Abaikan saja.” Perintah Yoongi.

Dengan berat hati Sekretaris Kim melewati orang yang melambai-lambaikan tangan itu. Dia menatap anak muda yang menatap mereka dengan wajah kecewa melalui spion mobil. Kilatan cahaya menyilaukan matanya begitu ia kembali fokus ke jalan di depannya, jadi Sekretaris Kim secara otomatis menghentikan laju mobil.

“Ada apa?” Yoongi bertanya setelah sedikit terpental, bersyukur sabuk pengaman menyelamatkannya.

“Maaf, tiba-tiba saja ada cahaya yang menyilaukan. Apakah itu petir?” Sekretaris Kim mendongakan kepala melihat langit gelap melalui jendela kaca.

“Astaga!” Yoongi hendak melihat juga ke arah jendela sampingnya dan terlonjak kaget saat orang berjas hujan tadi berdiri di luar mobilnya.

Pintu mobil terbuka dan orang tadi menerobos masuk dan duduk disamping Yoongi, yang dengan terpaksa bergeser ke samping. “Terimakasih,” ucapnya sambil menundukkan kepala. “Aiihsshhh,” laki-laki itu mendesah keras sambil mencipratkan beberapa tetesan air dari jas hujannya dan membuat Yoongi mengernyitkan wajah dengan jijik. “Aku kira kalian tidak melihatku. Tapi anda berhenti. Hehehe.”

“Apa yang harus saya lakukan?” Sekretaris Kim bertanya pada Yoongi yang masih linglung menatap laki-laki asing tadi.

Yoongi menatap laki-laki itu. Rambut pirang sebahunya kusut setengah basah, dia meniup tangannya yang keriput dan gemetar karena dingin. Laki-laki itu menatapnya dengan wajah memohon, Yoongi tidak tahan melihat lingkaran hitam yang sangat jelas di bawah kedua matanya. Dia menghela nafas dan menurunkan sandaran tangan untuk memisahkan duduk mereka berdua. “Lanjutkan saja.”

Sekretaris Kim melanjutkan perjalanan dan laki-laki itu tersenyum lega.

“Permisi, anak muda.” Sekretaris Kim memecah keheningan diantara mereka.

“Anda bisa memanggil saya Jimin.”

“Baik Jimin, kenapa kamu berdiri disana? Bagaimana kamu tahu akan ada mobil yang lewat?” Tanya Sekretaris Kim.

“Seorang bibi memberitahuku,” Jimin menjawab dengan malu-malu, “katanya tunggu disini saja, akan ada mobil yang lewat.”

“Tebakan Bibi itu benar sekali, dia seperti hantu saja.” ucap Sekretaris Kim.

Jimin menyingkirkan rambut yang menutupi matanya dengan canggung, “benar, dia pasti hantu.” Jimin melirik Yoongi yang diam saja. “Bibi itu bilang walau bisa menghindar dari petir, tidak akan bisa menghindar darinya. Kurasa dia benar.”

Yoongi sedikit tersentak mendengar ucapan Jimin. Dia melihat Jimin yang sedang berusaha membuka jas hujannya dengan raut tegang.

“Maaf, apa mobil ini akan ke Seoul?”

“Ya. Tidak.” Yoongi dan Sekretaris Kim menjawab bersamaan. Dan mereka berdua saling menatap melalui spion.

Jimin menggigit bibirnya dengan canggung.

“Cari saja tempat yang aman untuk menurunkannya.” Perintah Yoongi.

“Baik, Presdir.”

“Kingdom?” Jimin menunjuk kertas di tangan Yoongi dengan jari-jarinya yang kecil dan pendek. “Anda Presdir di perusahaan ini?

Yoongi menepis tangan Jimin, dan mereka berdua tersentak kaget bersamaan.

“Anda kaget juga. Benarkan?” Jimin menggenggam pergelangan tangannya sendiri dengan takjub.

“Tidak.” Jawab Yoongi dengan gugup. Sekretaris Kim menatap mereka lewat spion dengan heran.

“Aku merasakan setruman. Sangat kuat. Iya kan?” Jimin masih kukuh.

“Tidak!” Yoongi sedikit membentaknya dan membuat Jimin terdiam. Bibirnya terkatup rapat, dia merasa sedikit kecewa karena sangkalan Presdir.

“Apakah…” Yoongi hampir meledak karena, kenapa anak itu tidak bisa duduk tenang dan diam saja. “Kalau boleh tanya, apakah kingdom ini sama dengan pusat belanja itu? Sebetulnya…” Jimin mulai dengan ragu, “aku tinggal dekat sana, jadi kalau anda mau kesana—”

“Persimpangan itu, kelihatannya cukup aman. Jadi kau bisa turun disana. Turunlah.” Katanya pada Jimin dengan cukup tegas.

“Baiklah, aku akan turun disana.” Jimin menjawab dengan setengah hati dan tersenyum getir. “Aaakkkkhhhh!” Tiba-tiba Jimin berteriak dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hingga Sekretaris Kim harus menghentikan laju mobil lagi. “Jalan saja terus,” Jimin masih belum mau menurunkan tangannya. “Tolong jangan berhenti disini.”

“Jimin,” panggil Sekretaris Kim. “Jimin,” dia memanggil sekali lagi.

Jimin menurunkan telapak tangannya perlahan dan melihat hantu laki-laki dengan wajah hancur tepat di depan wajahnya. “Aakkkkhhh!” Dia berteriak lagi dan alih-alih menutup matanya dengan tangan, dia bersembunyi di lengan Yoongi.

Secara ajaib, Jimin tidak lagi merasakan udara dingin. Jadi dia memberanikan diri melihat ke depannya. Hantu itu menghilang. Jimin celingukan mencari keberadaannya, tapi tidak menemukan hantu itu dimanapun. Aneh.

Sebuah jari tangan mendorong kepalanya menjauh dengan keras. Dengan malu-malu Jimin merapikan rambutnya yang berantakan karena ditatap oleh Yoongi yang terlihat sangat kesal.

 

***

 

“Kau baik-baik saja, Jimin?” Sekretaris Kim memberikan segelas kopi panas dari mesin kopi kepada Jimin yang duduk melamun di halaman tempat peristirahatan pinggir jalan.

Jimin menerima gelas kertas itu sambil tersenyum sungkan, “terima kasih.” Jawabnya sambil minum sedikit kopinya. Dia masih gelisah dan celingukan. “Tolong, tunggu sebentar.” Jimin menjauh dari mereka.

“Hanya karena anak itu berteriak di tengah jalan, jadi kita terpaksa mengikutinya kesini. Apakah karena aku menyuruhnya turun, jadi dia sengaja berteriak-teriak?” Yoongi berkata dengan ketus.

“Sepertinya bukan seperti itu.” Sekretaris membelanya dengan sabar. “Sebenarnya apa yang dia lihat sampai membuatnya ketakutan seperti itu?”

 

***

 

Jimin mengusap telapak tangannya sambil memikirkan kejadian di mobil. Dia selalu merasakan seperti terkena kejutan listrik tiap kali menyentuh Yoongi. Dan ajaibnya, hantu yang mengikutinya langsung hilang ketika mereka berdua bersentuhan.

Pikiran Jimin kembali pada kenyataan saat udara dingin lagi-lagi menerpanya. Dia melirik ke arah udara tadi berhembus dan melihat hantu laki-laki berwajah hancur yang mengikutinya berdiri menunggunya.

Jimin menghela nafas lelah, dia tidak akan bisa lolos dari yang satu ini juga sebelum dia mengabulkan keinginan si hantu, jadi mau tidak mau, Jimin harus mendengarkan dan melakukan keinginan hantu itu. Dia pun berjalan gontai menghampiri hantu itu.

 

***

 

Jimin berjongkok di bawah pohon, bersembunyi dari kemungkinan dilihat oleh orang lain. Dia menuang soju kedalam gelas kertas di depannya. “Kau bilang kau kecelakaan setelah minum-minum. Kenapa kamu masih ingin minum alkohol? Aku sama sekali tidak mengerti.”

Orang lain akan mengira Jimin aneh jika melihatnya berbicara sendiri, begitu pula Yoongi yang saat ini mengintipnya dari kejauhan.

“Tidak, aku tidak minum. Sekarang aku tidak bisa minum. Terimakasih.” Jimin berusaha menolak tetapi dia tetap saja mengangguk sungkan sebelum sedikit menyesap soju di gelas.

Yoongi celingukan mencari seseorang yang Jimin ajak berbicara, tapi dia tidak menemukan siapapun.

“Benarkah? Aku juga belum menikah.” Jimin tiba-tiba murung. “Cantik?” Dia tersenyum malu-malu, tangannya menangkup kedua pipinya yang bersemu. “Benarkah?” Jimin terkikik hingga matanya menyipit menyerupai bulan sabit terbalik.

Yoongi mengerutkan hidung melihat tingkah Jimin.

Ditengah-tengah kekehannya, Jimin menyadari bahwa Yoongi memperhatikan dirinya dari jauh. Dia bangkit dan mengejar Yoongi yang menjauh dari tempatnya memperhatikan Jimin. “Tunggu!” Panggil Jimin.

“Jangan mengikutiku. Pergi sana!” Jimin mengusir hantu laki-laki yang tidak mau menjauhinya. “Sudah kubilang jangan mengikutiku!” Jimin berlari hingga menabrak punggung Yoongi. Hantu itu seketika menghilang.

Jimin masih tidak melepaskan pegangannya pada lengan Yoongi, “dia berhenti mengikuti.” Ucapnya senang. “Dia pergi.” Senyumnya makin mengembang. Dia tanpa sadar meraba-raba lengan dan punggung Yoongi dengan takjub.

“Ada dua hal yang paling kubenci.” Yoongi berkata dengan menahan kesal. “Satu, menyentuh uangku. Dua, menyentuh tubuhku.” Yoongi melotot pada Jimin. “Yang berani menyentuh uangku akan kugorok. Menurutmu bagaimana nasib yang menyentuh tubuhku?” Dia berkata sambil menatap tangan Jimin yang menyentuhnya.

Jimin menarik tangannya. “Maaf kalau aku membuatmu tersinggung.” Jimin menggigit jarinya, “ahjussi yang mengikutiku membuatku takut.”

“Dengan mataku, aku tidak bisa melihat apapun.” Yoongi memperhatikan ruang kosong di belakang Jimin.

“Tapi dia terus saja mengikutiku.” Jimin memegang lagi lengan Yoongi, “tapi saat aku menyentuhmu begini, dia menghilang. Untung aku mendengarkan bibi itu, dan bertemu denganmu.”

“Apa Bibi dan ahjussi itu, adalah temanmu?” Yoongi menatap Jimin dengan wajah menghina. “Kenapa kalian tidak pergi minum-minum saja? Huh?”

“Sekarang mereka tidak disini.” Jimin tersenyum gembira. “Kurasa ini semua berkatmu.”

“Betul juga,” Yoongi memperhatikan lengannya yang disentuh, dia tersenyum kesal. “Aku punya kemampuan khusus untuk menyingkirkan hal-hal yang menggangguku. Kamu ingin melihatnya?”

Jimin memasang wajah tidak mengerti, tapi dengan polos dia mengangguk.

Sedan mewah milik Yoongi datang mendekat dan berhenti di depan mereka. Dia menggenggam kedua lengan kecil Jimin dengan satu telapak tangannya yang besar dan menjauhkannya dari tubuhnya. “Lepaskan dan diam disini. Jangan takut dan lihatlah dengan baik.”

Jimin masih tersenyum dan mengangguk, menuruti perintah Yoongi saat laki-laki itu perlahan menjauh dan masuk kedalam mobil.

“Hei!” Jimin baru menyadari saat mobil Yoongi mulai berjalan, dia berlari mengejar.

“Dia mengikuti kita.” Kata Sekretaris Kim

Yoongi menatap spion dan melihat Jimin yang berlari di belakang mobil mereka. “Dia gila, tidak usah dipedulikan dan jalan saja.”

Jimin berhenti mengejar dan menatap sedih mobil Yoongi yang pergi meninggalkannya.

 

***

 

Di dalam mobil, Yoongi menghela nafas karena lelah setelah menghadapi banyak hal melelahkan malam itu. Dia melirik ke samping di mana jas hujan milik Jimin teronggok. Dia menyingkirkan jas hujan itu dan menemukan setangkai mawar putih yang telah terpotong pendek tergeletak disana.

Ingatannya kembali pada saat dirinya memotong bunga milik istri pemilik rumah dan kata-kata Jimin tadi, “dia bilang sekalipun kau menghindari dari petir, kau takkan bisa menghindar dariku.”

Yoongi bergegas membuka jendela mobil dan membuang bunga mawar itu ke jalan.





☀️☀️☀️






Di tempat lain, seorang laki-laki menggali tanah dibawah pohon besar yang tumbuh di sebuah bukit taman. Hujan deras dan petir tidak ia hiraukan. Beberapa lubang terbuka ditanah dan dia belum juga menemukan apa yang dia cari.

Laki-laki itu melemparkan sekopnya dan mulai menggali dengan tangan kosong, “Aarrgghh! Dimana? Dimana?” Tidak berteriak marah. Nafasnya tersengal karena lelah, “tidak ada. Bagaimana bisa tidak ada?” Dia menunduk dan meremas tanah basah di depannya. Ada dimana sebenarnya?!” Dia berteriak semakin frustasi.

Jauh di atas, tersembunyi diantara rimbun dedaunan pohon, sepasang mata menyala menatapnya.