Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-28
Words:
3,773
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
48
Bookmarks:
1
Hits:
379

Setengah Abad yang Terkubur Dalam Kotak Jati

Summary:

Terjebak di desa tanpa adanya internet, satu-satunya hiburan Tama adalah memperhatikan Kakek Tyo yang gemar menatap kosong ke arah sawah. Namun, sebuah buku harian tua yang Tama temukan di loteng mengubah segalanya, membuka luka kakeknya di tahun 1976 tentang gubuk di ujung persawahan selatan yang dihujani batu, dan pemuda bernama Juna yang ditinggalkan oleh Kakek sendirian selama puluhan tahun.

Keonho as Tyo
Juhoon as Arjuna/Juna

Notes:

Foto Juna & Tyo 1975 bisa di cek di X: @nakajimakeonho

Work Text:

Jujur saja, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di desa ini jika bukan karena Ibu. Begitu pengumuman kelulusanku SMA ku keluar, Ibu langsung memintaku untuk ikut pulang kampung bersamanya. Tujuannya hanya satu, yaitu menjenguk Kakek Tyo yang kondisinya semakin sepuh dan linglung sejak Nenek Ningrum wafat tiga tahun lalu. Sementara Bapak terpaksa kami tinggal sendirian di kota, terjebak di antara tumpukan berkas dan rutinitas kerja yang tidak bisa ditinggalkannya.

​Jadilah di rumah sebesar ini, hanya ada aku, Ibu, dan Kakek. Sebagai remaja yang terbiasa dengan bisingnya klakson dan gemerlap lampu kota, minggu-minggu pertamaku di desa ini rasanya snagat sunyi. Tidak ada sinyal internet yang pada akhirnya handphoneku pun tidak berguna di tempat seperti ini. Satu-satunya hiburanku disini hanyalah memandangi hamparan hijau sawah atau mendengarkan radio transistor milik Kakek yang suaranya selalu kemeresek.

Siang di desa Giriwedari rasanya begitu menyengat, tetapi tidak semenyengat di kota, karena banyak pohon yang berjejer di sepanjang jalan dan di halaman rumah Kakek. Karena bosan tidak tahu harus berbuat apa, aku memutuskan untuk menyusul Kakek Tyo yang sejak tadi duduk sendirian di teras depan. Tubuh ringkihnya bersandar pada kursi goyang tua, sementara matanya lurus menatap ke arah hamparan sawah di depan rumah.

​"Kakek," panggilku sambil mendudukkan diri di kursi panjang teras, tepat di sebelah kursi goyangnya.
​Kakek menoleh pelan, getaran halus di kepalanya membuat gerakan itu terasa lambat. Saat sepasang mata tuanya yang mulai mengeruh itu menatapku, aku masih menemukan sisa-sisa kekosongan yang sama seperti biasanya. Namun, siang ini ingatan Kakek tampaknya sedang cukup baik. Beliau mengerjap beberapa kali, mencoba mengenali wajahku sebelum akhirnya segaris senyum tipis terukir di bibirnya yang kering.

​"Eh, cucuku Tama. Gimana? nyaman gak tinggal di desa?" tanya Kakek dengan suara serak yang putus-putus.
​"Agak bosan sih karena gak bisa main handphone, tapi lama-lama nyaman kok karena di sini tenang, beda sama di kota yang berisik." jawabku sambil tersenyum, senang karena siang ini Kakek tidak terlalu linglung dan bisa merespons omonganku dengan jelas.

​Kakek mengangguk pelan, jemarinya yang keriput menepuk lututku sekilas. "Ya, syukurlah kalau nyaman. Di sini memang tenang."

​Namun, setelah kalimat itu terucap, keheningan kembali merayap di antara kami. Kakek kembali mengalihkan pandangannya, melempar tatapannya jauh-jauh ke arah hamparan sawah yang bergoyang ditiup angin siang.

Tatapan yang awalnya fokus itu perlahan-lahan kembali meredup, berubah menjadi kosong dan menerawang jauh mengunci satu titik di tengah sawah, seolah-olah ada magnet tak kasat mata yang selalu menarik jiwanya untuk melamun ke sana setiap kali obrolan kami selesai.Melihat perubahan tatapan Kakek yang mendadak sunyi itu, rasa penasaran yang aneh mulai mengusik kepalaku.

Sampai akhirnya sore itu tiba. Sore yang tenang, saat langit di luar berwarna jingga pekat, mirip seperti warna teh yang terlalu lama diseduh. Ibu yang sedang sibuk di dapur bawah meneriakkan namaku, memintaku untuk membersihkan loteng rumah yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh.

Sejak Nenek meninggal tiga tahun lalu, loteng ini jarang sekali disentuh karena Kakek pun terlalu enggan untuk menyewa orang sekadar untuk membersihkannya. Begitu daun pintu kayunya kupaksa terbuka dengan derit panjang yang nyaring, keheningan ruangan itu langsung pecah. Di sela-sela cahaya sore yang menerobos masuk dari ventilasi, bau apek khas ruangan yang tidak pernah ditinggali langsung menyengat hidung, bersamaan dengan jutaan butiran debu tebal yang beterbangan.

Aku mulai memilah barang-barang tua. Ada mesin ketik berkarat, tumpukan koran tahun sembilan puluhan, dan beberapa jarik batik yang sudah dimakan ngengat. Di sudut paling belakang, di bawah tumpukan karung goni kosong, mataku menangkap sebuah benda yang berbeda. Sebuah kotak kayu jati kecil dengan ukiran khas jaman dulu. Kotak itu tidak terlalu besar, mungkin hanya seukuran telapak tangan orang dewasa, tetapi bobotnya terasa berat saat kuangkat.

Ada sebuah gembok kuningan kecil yang mengunci bagian depannya. Rasa penasaranku langsung terusik. Aku duduk bersila di atas lantai papan yang berdebu, mengambil sebatang klip kertas dari saku celanaku, dan mulai mengotak-atik lubang kuncinya. Aku sering melakukan hal ini pada laci-laci meja yang macet di sekolah dan juga untuk membuka gudang tua di sekolah untuk aku bolos. Jangan kasih tahu ibuku ya.

Dan kurang lebih 3 menit terdengar bunyi...

𝙆𝙡𝙞𝙠—

Gembok itu terbuka dengan suara patah yang memuaskan. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang tanpa alasan yang jelas. Ketika tutup kotak itu kuangkat, bau harum kayu tua dan kertas lapuk langsung menguar. Di dalamnya tidak ada emas atau surat tanah yang berharga, jujur saja aku sedikit kecewa karena di dalamnya hanya ada dua benda yaitu selembar foto hitam-putih yang ujung-ujungnya sudah menguning dan melengkung, serta sebuah buku catatan bersampul kulit buatan lokal yang sudah mengelupas.

Aku mengambil fotonya terlebih dahulu. Aku meniup debu tipis yang menempel di permukaannya. Dua orang pemuda berdiri berdampingan di depan sebuah semak-semak liar. Salah satu dari mereka sangat kukenal, Kakek Tyo di masa mudanya. Rahangnya tegas, tubuhnya tegap, dan dia memiliki senyum lebar yang sangat mirip dengan pantulan diriku di cermin setiap aku berkaca. Di sebelahnya, ada seorang pemuda lain. Pemuda itu sedikit lebih pendek, kulitnya tampak lebih cerah jika dilihat dari kontras warnanya, dengan mata bulat yang memancarkan ketenangan yang aneh. Lengan Kakek Tyo merangkul pundak pemuda itu dengan erat, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mereka berdua tertawa lepas, seolah-olah dunia di luar bingkai foto itu tidak pernah ada.

Aku kemudian membalik foto tersebut. Di bagian belakang, tertulis sebaris kalimat dengan tinta hitam yang sudah memudar, ditulis dengan gaya tulisan tangan Kakek yang rapi dan tegas:

 

'𝘛𝘺𝘰 & 𝘑𝘶𝘯𝘢, 1975'

 

Juna? Siapa Juna? Aku belum pernah mendengar nama itu disebut sekali pun di dalam silsilah keluarga kami.
Aku meletakkan foto itu dengan hati-hati di atas lututku, lalu beralih membuka buku harian bersampul kulit tersebut. Lembar demi lembar kutelusuri. Lembaran-lembaran awal dipenuhi oleh catatan harian biasa seperti tentang hasil panen cengkeh, tentang harga pupuk yang naik, dan tentang bagaimana Kakek sering mencuri waktu untuk pergi ke sungai setelah selesai membajak sawah. Namun, semakin aku membaca ke dalam, nama 'Juna' semakin sering muncul. Tulisan tangan Kakek berubah dari yang semula rapi menjadi goyah, seolah-olah ditulis dengan tangan yang bergetar hebat karena emosi yang tertahan.

 

14 Agustus 1976
𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘣𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘸𝘢𝘩, 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘙𝘶𝘮𝘰𝘳 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘗𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘳𝘮𝘰 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘪𝘢𝘳. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 '𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴' 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘳𝘶𝘵 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢. 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘕𝘪𝘯𝘨𝘳𝘶𝘮, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘋𝘦𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘴𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘶𝘵 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘢𝘮𝘢𝘯.

 

Napasku tertahan sebentar selama membaca kalimat demi kalimat tersebut, rongga dadaku mendadak terasa begitu sempit. Ada rasa sesak yang teramat sangat, bercampur empati yang mendalam atas kepedihan yang disembunyikan Kakek selama ini. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, bukan karena menghakimi apa yang kubaca, melainkan karena akhirnya aku memahami beban seberat apa yang berkecamuk di dada orang tua itu selama setengah abad. Seolah takut kehilangan momentum atau ditarik paksa keluar dari rahasia pilu ini, aku langsung membalik halaman berikutnya dengan jemari yang sedikit gemetar.

 

20 November 1976.
𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘕𝘪𝘯𝘨𝘳𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘸𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘴𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘬𝘶 𝘑𝘶𝘯𝘢, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶. 𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘨𝘪𝘭𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘕𝘪𝘯𝘨𝘳𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘵𝘶𝘵𝘪𝘬𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘮𝘣𝘶. 𝘞𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬. 𝘋𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘳𝘶𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬.

 

22 November 1976
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘑𝘶𝘯𝘢. 𝘕𝘪𝘯𝘨𝘳𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘯𝘢-𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘢𝘵𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘋𝘦𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘨𝘰𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘑𝘶𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘶𝘯𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘱𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨. 𝘔𝘢𝘢𝘧.. 𝘮𝘢𝘢𝘧.. 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘑𝘶𝘯𝘢, 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.

 

Aku menutup buku itu dengan sentakan keras. Dadaku terasa sesak, seolah-olah udara di loteng ini mendadak habis. Aku memandang foto hitam-putih di lututku sekali lagi. Jadi, pernikahan kakek dan nenekku yang selama ini dianggap sebagai pernikahan ideal di desa ini... hanyalah sebuah kepura-puraan yang dibangun di atas penderitaan orang lain? Dan Kakek Tyo, laki-laki tua yang setiap hari duduk diam di beranda sambil menatap kosong ke arah sawah, menyimpan badai penyesalan ini selama bertahun-tahun?

Keesokan paginya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Rasa penasaran dan rasa bersalah yang aneh karena aku adalah darah daging dari garis keturunan yang menghancurkan hidup pemuda, ah sekarang harushya Kakek bernama Juna itu mendorongku untuk mencari tahu.

Aku berjalan menuju warung Pak Darmo di dekat pasar desa. Tempat itu adalah pusat dari segala gosip yang beredar di desa Giriwedari, dari zaman dulu hingga sekarang. Begitu melangkah masuk, aroma kopi hitam yang pekat dan gurihnya pisang goreng langsung menyambutku. Di sudut ruangan, tampak beberapa orang tua sedang asyik mengobrol, namun perhatianku langsung tertuju pada satu sosok yang duduk agak terpisah di dekat meja kasir.
​Dialah Mbah Harjo, teman lama Kakek Tyo. Waktu aku kecil, beliau selalu memberiku uang saku sebelum aku pulang kembali ke kota

​"Mbah Harjo!" panggilku setengah berseru, memecah kebisingan kecil di dalam warung.
​Orang tua yang sedang memakan pisang goreng di hadapannya itu menoleh pelan ke arahku. Matanya yang sudah rabun menatapku dari balik kacamata tebal yang sedikit melorot. Butuh waktu beberapa detik bagi beliau untuk menyisir ingatannya, sampai akhirnya kerutan di wajah tuanya melar, berubah menjadi senyuman lebar yang tulus.

​"Loh, Tama? Apa kabar, Le? Sudah besar saja kamu!" sahutnya dengan suara serak khas orang tua.
​"Kabar baik ko, Mbah," jawabku seraya melangkah mendekat. Aku segera meraih tangan ringkihnya yang terasa kasar dan dipenuhi guratan usia, lalu mencium punggung tangannya.

​"Kapan kamu sampe disini, Le? Terakhir Mbah lihat kamu ke sini waktu masih kecil, kan? Sekarang tahu-tahu sudah tinggi saja, Mbah sampe kalah loh tingginya," lanjut Mbah Harjo sambil menepuk-nepuk pundakku bangga, menyuruhku duduk di bangku kayu panjang di sebelahnya.
​"Baru tiga hari yang lalu, Mbah. Makanya ini langsung mampir ke sini," kataku sembari mendudukkan diri.

​Aku sempat celingak-celinguk, mengedarkan pandangan ke sekeliling warung. Meski ada beberapa pengunjung lain di sudut sana, posisi duduk kami yang agak menyendiri di dekat jendela membuat obrolan ini terasa cukup privat. Jika suasananya seaman ini, aku bisa mengulik cerita tentang Kakek Juna tanpa perlu khawatir percakapan kami mengundang perhatian kuping-kuping yang penasaran.
​Aku memajukan posisi duduk, melipat tangan di atas meja dan mengubah ekspresi wajahku menjadi lebih fokus.

"Mbah... Aku mau tanya sesuatu, boleh nggak?"
​Mbah Harjo yang baru saja hendak menyeruput kopinya kembali meletakkan cangkir itu. Alisnya yang memutih tampak bertaut heran. "Eh? Mau tanya apa, Le? Kok mukanya sampai serius banget begitu, kayak mau nagih utang saja hahahah."

​Aku menelan ludah sebentar. Kupastikan suara obrolan orang-orang di sudut lain cukup bising untuk menyamarkan suaraku, sebelum akhirnya aku membisikkan nama yang sejak kemarin mengganggu tidurku.

​"Itu... Mbah tahu gak orang yang namanya Juna? Yang dulu tinggal di dekat sawah, sekitar tahun tujuh puluhan?"

​Suasana di meja kayu itu pun mendadak hening. Suara dentingan sendok yang beradu dengan cangkir kopi langsung berhenti. Mbah Harjo mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya berubah dari ramah menjadi masam dalam sekejap. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, seolah-olah nama yang kusebutkan adalah sebuah mantra terkutuk yang tidak boleh diucapkan keras-keras.

"Kenapa kamu tanya-tanya soal orang itu, Tama?" tanya Mbah Harjo dengan nada suara yang merendah, hampir berbisik.
"Nggak apa-apa, Mbah. Kemarin pas bersih-bersih loteng rumah, aku nemu beberapa barang lamanya Kakek, terus kepo aja sama yang namanya Juna di buku catatan lama Kakek,"

Mbah Harjo menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. "Juna itu... ah, dia itu noda hitam di desa ini, Le. Dulu waktu jaman kakekmu masih seumuran kamu, Juna itu pemuda yang aneh. Mosok iya ada lelaki suka sesama lelaki. Dia dulu mau coba merusak kakekmu loh, Le. Untung saja Kakekmu cepat-cepat diselamatkan dengan nikah sama si nenekmu itu Ningrum. Kalau tidak, entah jadi apa kakekmu itu."

"Tapi, Mbah, apa benar kalau Kakek Juna yang salah?" tanyaku, mencoba menahan emosi yang mulai merayap di dadaku.

Seorang lelaki tua lain yang tiba-tiba datang ke meja ku menyahut dengan ketus. "Ya pastilah! Orang macam begitu kan penyimpangan. Dulu setelah ketahuan berbuat tidak senonoh di rumahnya sendiri, dia dikutuk satu desa. Rumahnya dilempari, warung-warung tidak ada yang mau menjual makanan ke dia. Ibunya meninggal karena stres menanggung malu anak satu-satunya. Sampai sekarang, si Juna itu masih hidup di gubuk reyotnya di ujung sawah selatan. Hidup sendiri kayak orang buangan. Tidak punya istri, tidak punya anak, tidak ada tetangga yang mau menyapanya. Itu hukuman dari Tuhan buat orang yang melanggar adat dan agama!"

Mendengar kata-kata itu, rasanya ada sesuatu yang patah di dalam hatiku. Hidup sendiri di ujung sawah selatan. Tanpa siapa-siapa selama puluhan tahun. Sementara Kakek Tyo hidup di rumah besar, dirawat oleh anak dan cucunya, orang yang dicintainya harus membusuk dalam sepi dan pengasingan sosial atas dosa yang mereka lakukan berdua... bahkan atas dosa yang sebenarnya dimulai oleh ketakutan Kakek sendiri.

Aku berdiri dari bangku tanpa pamit, meninggalkan dengan cepat warung tersebut. Aku harus pulang. Aku harus menemui Kakek!

 

Matahari sudah mulai tergelincir ke barat, melemparkan bayangan panjang yang kurus di atas lantai semen rumah. Sebelum menemui Kakek, aku melangkah pelan masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat. Aku berjalan ke sudut meja, mengambil kotak kayu jati kecil yang kusembunyikan semalam sejak menemukannya di loteng. Setelah mengusap sisa debu di permukaannya, aku menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi apa pun reaksi yang akan muncul nanti.

​Aku kembali keluar, berjalan menuju beranda samping tempat Kakek Tyo sedang duduk di kursi goyangnya. Beliau memegang sebuah cangkir teh yang sudah mendingin, sementara matanya menatap lurus ke depan, ke arah hamparan sawah hijau yang membentang luas. Wajahnya yang penuh kerutan tampak begitu rapuh dan sunyi sore itu.

​Aku melangkah mendekat tanpa suara, lalu berlutut di samping kursi goyangnya. Perlahan, aku merengkuh tangan tuanya yang mulai gemetar akibat usia.

​"Kek..." panggilku lembut.
​Kakek menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Eh, Tama. Sudah pulang dari pasar, ya?"
​Aku tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Sebagai gantinya, aku mengeluarkan kotak kayu jati kecil yang kutemukan kemarin.

Aku meletakkannya di atas meja kecil di sebelah cangkir tehnya, bersama dengan selembar foto hitam-putih dan buku harian bersampul kulit itu. Senyum di wajah Kakek Tyo langsung lenyap. Mata senjanya melebar saat menatap foto dirinya bersama Juna, kasihnya.

Cangkir teh di tangannya bergetar hebat, hingga beberapa tetes air tehnya tumpah mengenai celananya. Kulit wajahnya yang semula sawo matang mendadak berubah pucat pasi, seolah-olah seluruh darahnya tersedot keluar dalam satu detik.

"Kamu... dari mana kamu nemuin ini, Tama?" Suara Kakek berbisik, begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh suara jangkrik yang mulai bersahutan.

"Di loteng, Kek. Kemarin sore waktu Tama bersih-bersih," jawabku jujur, tetap menggenggam jemarinya yang kini terasa sedingin es. "Tama sudah baca semuanya, buku catatan Kakek, dan Tama juga sudah dengar cerita dari orang-orang di warung kopi Pak Darmo tentang apa yang terjadi pada kakek dan juga.. orang bernama Juna."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kakek yang sudah menguning. Bahunya yang tegap di masa lalu, kini tampak merosot turun, menanggung beban rahasia yang teramat sangat berat.

"Kakek... Kakek adalah orang paling pengecut di dunia ini, Tama," ucap Kakek, suaranya pecah menjadi isakan kecil yang tertahan di tenggorokan. "Kakek membiarkan dia hancur. Kakek membiarkan Juna menanggung semua ludah dan makian orang desa sendirian. Kakek menikah dengan Ningrum, hidup enak di rumah ini, sementara Juna... Juna harus mengubur ibunya sendirian tanpa ada satu pun orang yang mau membantu mengangkat kerandanya."

Kakek menangis hebat sekarang. Air matanya mengalir deras, membasahi garis-garis kerutan di pipinya yang legam. Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang laki-laki tua menangis dengan keputusasaan yang begitu purba. Penyesalan yang dipendam selama setengah abad bukanlah hal yang mudah untuk dipikul.

"Kakek masih sayang sama Juna?" tanyaku pelan, memastikan.
Kakek menatapku melalui pandangannya yang kabur oleh air mata. Dia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk dalam. "Tidak pernah ada hari berlalu tanpa Kakek memikirkan dia, Tama. Setiap kali Kakek melihat sawah ini, Kakek selalu ingat senyumnya. Kakek hidup di sini, tapi hati Kakek... hati Kakek sudah mati dan terkubur di gubuk sawah itu sejak membiarkan Juna di lempari batu dan dicaci maki oleh orang-orang di desa,"

Aku meremas tangan Kakek dengan erat. "Kalau begitu, ayo kita temui dia, Kek."

Kakek tersentak, menggelengkan kepalanya dengan panik. "Tidak, tidak bisa... Dia pasti membenci Kakek. Kakek sudah mengkhianatinya. Kakek tidak punya muka untuk berdiri di depannya lagi."

"Juna tidak pernah membenci Kakek, aku jamin itu," kataku, mengingat baris terakhir buku harian Kakek yang mengatakan bahwa mata Juna tidak pernah menyalahkannya saat malam penghakiman itu. "Dan dia sekarang sendirian di ujung sawah selatan. Kakek sudah tua, Juna juga sudah tua. Jangan sampai lembar terakhir dari cerita kalian berdua cuma berisi penyesalan yang dibawa sampai ke liang kubur. Besok, biar Tama yang antar kakek kesana, ya?"

Malamnya, saat suasana rumah sudah sepi dan Kakek sudah masuk ke kamarnya, aku menemui Ibu yang sedang melipat pakaian di ruang tengah. Aku mendudukkan diri di karpet, mencoba membuka obrolan sesantai mungkin agar Ibu tidak curiga.

​"Bu, besok pagi-pagi banget Tama mau ajak Kakek jalan-jalan keluar sebentar, boleh ya?" tanyaku lambat-lambat. "Mau cari angin segar di sekitar sini sebelum mataharinya terik, biar Kakek nggak ngelamun terus di teras."
​Ibu sempat menghentikan lipatan kainnya, menatapku agak heran karena tidak biasanya anak kotanya ini berinisiatif bangun subuh demi jalan-jalan di desa.

Namun, sedetik kemudian senyum lega terukir di wajahnya.
​"Ya ampun, syukur deh kalau kamu perhatian sama Kakek. Belakangan ini Kakekmu emang kelihatan jenuh banget sejak ditinggal Nenek. Ya sudah, boleh, tapi jalan-jalannya jangan jauh-jauh, ya? Jaga Kakek baik-baik, jangan buru-buru juga jalannya."

​Aku hanya mengangguk samar sembari mengulas senyum tipis. Di dalam hati, aku meminta maaf karena harus menyembunyikan tujuan asli kami yang sebenarnya adalah sebuah perjalanan ke masa lalu yang mungkin bisa mengguncang seisi rumah jika Ibu sampai tahu.

Esok paginya sebelum matahari terbit, aku dan Kakek berjalan menuju ujung sawah selatan yang rasanya terasa sangat panjang dan sunyi. Aku menuntun Kakek Tyo berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang sempit. Langkah Kakek sangat pelan, setiap beberapa meter dia akan berhenti untuk mengatur napasnya, bukan hanya karena fisiknya yang sudah lemah, melainkan karena ketakutan yang luar biasa yang mencengkeram dadanya.

Langit sudah berubah menjadi biru kecerahan saat kami akhirnya tiba di sebuah gubuk panggung kecil yang berdiri terisolasi di batas cakrawala. Rumah itu tampak sangat memprihatinkan. Dinding bambunya sudah banyak yang berlubang dan ditambal dengan spanduk bekas, atap rumbianya sudah miring di satu sisi. Tidak ada lampu listrik di depan dumahnya, hanya ada seberkas cahaya temaram dari lampu minyak yang menembus celah jendela.
Di halaman depan yang ditumbuhi rerumputan liar, seorang laki-laki tua bersurai putih bersih sedang duduk di atas sebuah bangku kayu pendek. Dia sedang memilah daun-daun pisang yang kering dengan jemarinya yang kurus dan berkerut.

Aku bisa merasakan tangan Kakek Tyo yang berada di genggamanku mendadak mendatar dan menjadi kaku. Langkahnya terhenti total sekitar lima meter dari halaman rumah itu.

"Kakek Juna?" panggilku dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar di tengah kesunyian sawah.
Laki-laki tua itu menghentikan gerakannya. Dia mendongak pelan. Matanya yang sudah rabun menatap ke arahku terlebih dahulu. Begitu dia melihat wajahku, wajah seorang pemuda delapan belas tahun yang sangat mirip dengan Tyo di tahun 1976, dia tampak tertegun. Daun pisang di tangannya terlepas, jatuh begitu saja ke atas tanah yang berdebu.

Namun, sedetik kemudian, pandangan Kakek Juna bergeser ke sampingku. Ke arah laki-laki tua yang sedang berdiri dengan tubuh bergetar hebat, air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya yang agak tirus.

Suasana di sekitar kami mendadak terasa seperti berhenti berputar. Angin sore yang bertiup kencang seolah-olah menahan napasnya.

Aku melepaskan pegangan tanganku pada lengan Kakek Tyo. Aku melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang penuh bagi dua jiwa yang telah dipisahkan oleh kejamnya penduduk desa selama lima puluh tahun.

Kakek Tyo melangkah maju dengan sangat lambat, kakinya yang gemetar seolah-olah tidak sanggup menopang berat badannya sendiri. Dia membuka mulutnya, mencoba memanggil nama yang selama ini hanya berani dia bisikkan dalam doa-doa rahasianya di tengah malam.
"Juno... ini aku... Tyo," ucap Kakek Tyo. Suaranya pecah, parau, dan sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam.
Aku memperhatikan ekspresi wajah Kakek Juna. Aku bersiap untuk melihat kemarahan, atau setidaknya rasa pahit yang keluar dari wajah orang yang telah dikucilkan seumur hidupnya akibat kesalahan bersama. Namun, apa yang kulihat justru membuat mataku sendiri ikut memanas.
Kakek Juna tidak marah.

Tidak ada kebencian di matanya yang keruh. Sebaliknya, sebuah senyuman tipis, sangat lembut dan hangat, perlahan terbit di bibirnya yang pucat. Senyuman itu persis sama dengan senyuman pemuda yang ada di foto hitam-putih di dalam kotak jati milik Kakek. Kerutan-kerutan di sekitar matanya justru memancarkan rasa lega yang luar biasa, seolah-olah beban berat yang dia pikul sendirian selama lima puluh tahun di gubuk sepi ini menguap begitu saja ke udara.

Kakek Juna bangkit berdiri dari bangku kayunya dengan perlahan, memegangi pinggangnya yang sudah membungkuk.
"Tyo..." sahut Kakek Juna dengan suara yang sangat lembut, sekering daun pisang di bawah kakinya, namun terdengar begitu penuh dengan kasih sayang yang tidak pernah luntur oleh waktu. "Kamu datang... Akhirnya kamu datang kembali, Tyo."

Kakek Tyo tidak bisa menahannya lagi. Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa, lalu menjatuhkan dirinya bersimpuh di depan Kakek Juna, memeluk kedua kaki laki-laki tua itu sambil menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang tersesat di tengah hutan.
"Maafkan aku, Juna... Maafkan aku... Aku pengecut... Aku meninggalkanmu..." ratap Kakek Tyo, suaranya teredam oleh kain sarung yang dikenakan Kakek Juna.

Kakek Juna perlahan ikut berlutut di atas tanah. Jemarinya yang kurus dan gemetar meraih kepala Kakek Tyo, membelai rambut putih kakekku dengan kelembutan yang luar biasa. Dia menarik tubuh Kakek Tyo ke dalam pelukannya. Dua tubuh yang sudah ringkih dan dimakan usia itu kini saling merengkuh erat di atas tanah kering di ujung sawah. Mereka menangis bersama, melepaskan seluruh rindu, dendam, rasa sakit, dan penyesalan yang telah mengunci hidup mereka selama setengah abad dalam ruang-ruang gelap yang terpisah.

Aku berdiri beberapa meter di belakang mereka, menyeka air mata yang ikut menetes di pipiku. Di bawah langit pagi desa yang perlahan mulai menampakkan mataharinya itu, aku tahu bahwa sejarah kelam keluarga kami tidak akan pernah bisa dihapus. Sanksi sosial dan penderitaan yang dialami oleh Kakek Juna tidak akan pernah bisa ditebus sepenuhnya.

Namun, di sisa usia mereka yang tinggal sedikit ini, di ujung sawah yang jauh dari penghakiman orang-orang desa, cinta mereka akhirnya menemukan jalannya untuk pulang. Mereka tidak lagi harus mati dalam sepi yang asing. Selamanya, lembar terakhir di buku harian itu kini telah selesai ditulis bersama.

—End—