Work Text:
Setelah Sakura berbicara dengan Momijikawa hari itu, ia memutuskan untuk datang ke Bankoku-gai langsung besok. Dia bertanya pada Umemiya terlebih dahulu kali ini, karena Sakura tidak ingin kecerobohannya seperti di Keel terjadi lagi.
"Begitu. Kamu ingin bicara dengan Suo? Aku dukung itu. Tapi aku takut, itu terlambat." Kata Umemiya dengan menyesal.
"Haah? Kenapa?" Sakura tak habis pikir. Dugaannya sekarang adalah kelompok Suo-Red Canpuru-mendeklarasikan perang dengan Furin lebih awal. Tapi Sakura salah besar tentang itu.
"Kamu mungkin tidak melihatnya, Sakura. Tetapi, kemarin berita lokal menyiarkan bahwa terjadi kebakaran hebat di Kasai. Aku melihat bangunan yang tampak seperti kastil kuno itu terbakar."
Apa yang dikatakan Umemiya membuatnya ketakutan. Keringat mengalir dari dahinya, namun tangan dan lehernya terasa dingin. Nafasnya memburu dan telinganya terasa terlalu berisik untuk mendengar perkataan Umemiya lebih jauh. Sakura hanya samar-samar mendengar bahwa bendera Red Canpuru ada disana.
"Sakura-san!" Teriakan Nirei akhirnya menyadarkannya. Nirei yang selalu berada disampingnya.
"Sakura-san tenanglah, Suo-san tidak ada dalam daftar korban tewas di kebakaran itu. Aku mendapat informasi ini dari Endo pagi ini." Kata Nirei selanjutnya, berhasil menenangkan Sakura. Begitu melihat berita di tv pagi ini saat sedang sarapan, Nirei langsung pergi menemui Endo, melewatkan jam pelajaran pertama, demi mendapat informasi yang valid.
"Terjadi perang internal di Red Canpuru. Ada dua faksi saling bertentangan. Salah satunya adalah kelompok Suo-san, dan yang lainnya adalah kelompok penatua dari Red Canpuru." Nirei memulai laporannya.
"Kelompok Suo-san menaungi pemuda-pemudi dan anak-anak. Anak-anak mungkin tidak menyadarinya tetapi anak seusia Suo-san dan diatasnya menyadari bahwa pemikiran dan kelakuan penatua di Red Canpuru buruk."
"Apa yang seharusnya pelindung kota, 3 tahun terakhir telah berubah menjadi mafia kecil-kecilan. Semakin kesini semakin parah. Endo juga menemukan beberapa transaksi para penatua ini dengan kelompok yang tidak diketahui, dan apa yang mereka beli adalah narkoba. Mereka menyalahgunakan wewenang dan dana Red Canpuru." Nirei memikirkannya dan tidak bisa berkata-kata lagi untuk hal seperti ini.
"Ini benar-benar diluar nalar kita anak SMA." Umemiya dan Sakura juga setuju dengan hal itu. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk bertemu dengan kasus narkoba didekat mereka.
"Jadi kelompok Suo memutuskan untuk melawan mereka?" Tanya Umemiya.
"Ya. Bukan hanya itu, mereka menghancurkannya. Hanya dalam seminggu Suo-san menghilang dan dia melakukannya. Para penatua itu ditangkap oleh polisi." Kali ini kasus yang tidak bisa diabaikan tentu saja mereka akan bekerja.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Aku tidak tahu. Suo-san jelas-jelas seumuran dengan kita, tapi kenapa bebannya begitu berat." Nirei meracau, hampir menangis karenanya. Otaknya yang berjalan cepat membuat asumsi kedepannya terlihat begitu jelas di kepalanya.
Bahwa Red Canpuru sudah hancur. Tempat tinggal anak-anak yatim. Kemana mereka akan pergi selanjutnya setelah ini. Dan apa yang sedang dilakukan Suo-san sekarang.
"Bagaimana dengan Suo?" Sakura bertanya setelah beberapa hembusan nafas panjang. Jelas memiliki gejolak emosional yang sama dengan Nirei.
"Suo-san, dia juga ditangkap dengan.... Dugaan pembunuhan berencana." Kata Nire tersendat.
Sangat sulit untuk menggabungkan dua kata Suo dan pembunuh bersama. Anak yang begitu kaya senyuman. Dia disana dan akan mencairkan segala suasana. Hatinya yang begitu hangat, suaranya yang lembut, dan tingkahnya yang memerhatikan segala sesuatu disekitarnya untuk baik-baik saja.
"Yaah, tidak bisa dihindarkan karena Suo ada ditempat kejadian. Tempat pemimpin faksi penatua terbunuh. Aku melihatnya basah kuyup di tengah-tengah lautan api yang membakar Bankoku-gai. Tatapannya membuatku merinding hahaha." Endo muncul entah darimana. Mungkin karna Nirei datang padanya pagi-pagi sekali, membuat dia mencium sesuatu yang menarik akan terjadi.
Dan yap, Endo menyelidiki hal ini secara pribadi. Kebakaran tersebut terjadi pukul 1 malam. Dan dia tidak tidur semalaman. Tapi masih memiliki banyak energi untuk datang melihat Sakura.
"Apa kamu melihat kejadiannya?!" Tanya Sakura panik. Kedua tangannya gemetar dibahu Endo.
"Woow tenanglah Sakura. Aku tidak melihat kejadian lengkapnya." Endo masih dengan seringai jeleknya itu.
"Tapi apinya memang disengaja. Aku mencium bau minyak tanah disana. Untuk siapa pihak yang menyalakannya? Kita tidak tahu sampai penyelidikan selesai."
"Dan sejujurnya, Suo, atau harus kukatakan sekarang, Sun Fei mendatangiku beberapa hari yang lalu. Meminta transaksi rahasia denganku. Untuk mendukung sidang yang akan datang dan memastikan para pria tua itu dihukum dengan sanksi yang berat." Apa yang dikatakannya membuat ketiga orang didepan Endo merasakan harapan.
Namun siapa Endo jika dia peka terhadap perasaan orang lain?
"Tapi- Sun Fei tidak pernah mengatakan untuk membebaskan nama baiknya bersih dan tidak bersalah. Haha, anak itu juga cukup menarik. Melukai diri sendiri sambil mengalahkan 800 tentara? Aah begitukah peribahasanya? Aku tidak peduli."
Setelah tertawa sebentar, Endo melihat Sakura yang tampak murung. Bukan keahliannya untuk menghibur. Chika juga hanya memberikan waktu 15 menit untuk mampir ke Furin ditengah-tengah pencarian makanan penutup mereka. Jadi Endo bangkit dari duduk untuk pergi menemui Chika yang menunggu di motor.
"Yaah pikirkanlah sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin, kalian akan bertemu Sun Fei dan berkumpul dengannya lagi 1 atau 5 tahun kedepan."
Endo hanya mengatakan itu dan langsung pergi. Namun jelas bagi semua orang terutama Nirei yang langsung mengerti apa yang dimaksud Endo, bahwa Suo-san mungkin akan di tahan di penjara remaja 1 sampai 5 tahun kedepan.
Sakura pun juga tahu akan hal itu. Ini sangat berat baginya untuk menerima informasi tersebut. Juga menyesal kenapa dia tidak bisa membantu temannya, teman yang menghubungkan Sakura pada dunia yang lebih berwarna. Tetapi kekecewaan terus berlanjut pada dirinya sendiri, bahwa jika dia memang datang lebih awal, dia juga tidak akan mampu melakukan apapun.
Dia tidak secerdas Nirei, tidak berkepala dingin seperti Kiryu, tidak sepositif Tsugeura dan tidak cepat tanggap terhadap masalah seperti Umemiya. Kehadirannya disana mungkin hanya akan mempengaruhi kemajuan apa yang sudah Suo rencanakan.
Tetapi dia benar-benar ingin ada disana, disampingnya, mendukungnya.
Tapi dia terlambat.
Sehelai tali tersisa yang menghubungkan mereka berdua seakan putus sekarang.
Kenapa Suo memilih jalan itu? Sakura mungkin tahu benar sekarang.
Bahwa suo berada dijalan buntu. Putus asa akan keadilan didunia. Kebebasan anak-anak yang dirawatnya.
Namun, tidak pernah memikirkan kebebasan dirinya sendiri, karena dipundaknya ada harapan orang-orang Kasai yang harus terpenuhi. Lebih cepat terjadi lebih baik mencegah pembusukan.
Omake~
Angin berhembus kencang di musim gugur. Pohon maple di sepanjang jalan membuat temaram sore itu seterang oranye emas. Satu warna mengingatkannya pada dua orang dengan warna tersebut. Satu mata itu melihat matahari terbenam. Senyuman di bibirnya tidak pernah pudar, seolah suasana hati yang baik selalu ada padanya.
Namun tidak salah lagi kali ini, dia benar-benar bahagia. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, karena kedua tangannya tidak bisa berpisah lebih dari 15 centimeter. Tapi tak menghentikan langkah kakinya yang seringan kapas, lembut dan mengalir berayun.
"Aaah ini hari yang sangat cerah!"
Dua orang dibelakangnya yang hampir menangis melihat punggung remaja itu kini hanya bisa menghela nafas. Benar-benar candaan yang buruk di waktu yang tidak tepat. Karena mereka berada di depan kantor polisi sekarang.
Hanya satu malam berlalu mereka menyaksikan adik mereka hampir terbakar menjadi abu, dan adik laki-laki mereka sekarang bisa tersenyum begitu cerah. Seolah tidak ada yang terjadi setelah hal itu yang membuat mereka sibuk.
"Xiao Fei." Rakta memanggil dengan lembut, dengan sedikit kekhawatiran dimatanya.
"Hei, Feifei baik-baik saja tuh, anak itu masih senyum-senyum seperti orang gila. Kenapa kamu cemas begitu." Bukan Sun Fei yang menjawabnya, melainkan Bacchus, yang selalu menjadi pemecah suasana(dalam arti yang tidak baik). Namun tak pelak sudut matanya memerah.
"Rakta, Bacchus." Sun Fei tersenyum pada mereka.
"Sampai bertemu lagi!"
"Sampai bertemu lagi."
Untuk saat ini hanya tiga kata itulah kenyamanan mereka. Kepastian mereka untuk bertemu lagi suatu saat nanti.
