Work Text:
Kencan hari ini dengan Xavier berjalan dengan indah. Tangan kami saling terpaut sepanjang jalan dan tidak hentinya candaan yang terlontar sepanjang durasi kencan.
Kakimu bergerak gelisah kala menunggu Xavier yang tengah mengantri makan. Pikiranmu melayang ke percakapan dengan temanmu, Tara, beberapa jam sebelumnya, "Mau sampai kapan di hubungan tanpa kejelasan dengan Xavier?"
Ah, ada betulnya juga apa yang Tara katakan. Bagaimana bisa pertemuan sore ini disebut kencan apabila kamu dan Xavier bahkan tidak memiliki kejelasan status. Teman? Atau lebih tepatnya teman tapi mesra? Duh, kenapa tidak sekalian dipatenkan status pacaran saja?
Sejujurnya kamu ingin sekali mempertanyakan kejelasan hubunganmu dengan Xavier. Namun, lelaki itu selalu saja memiliki cara untuk mengalihkan pembicaraan. Entah apakah ia memiliki perasaan yang sama denganmu seperti yang kamu harapkan atau memang baginya hubunganmu dengannya tidak sespesial yang kamu kira.
Gerak-gerikmu yang gelisah sepanjang di restoran disadari oleh Xavier, "Kamu nggak papa?"
Tubuhmu kaku sesaat, bingung ingin menjawab apa, "Umm, nggak papa."
Jawabanmu berbanding terbalik dengan suara tubuhmu yang terus-menerus menunjukkan kegelisahan dan tak henti mencuri pandang ke arah Xavier yang kini tengah menyantap makanannya dengan nyaman.
"Xavie,"
"Iya? Ada yang mau diomongin? Dari tadi kamu kayak gelisah gitu." Wajahmu memerah malu mengetahui Xavier sadar dengan tingkah lakumu yang tidak biasa. Jemarimu kini saling berganti mengetuk meja restoran untuk menghilangkan rasa gelisahmu.
"Ada sih, but i'm not sure if we're ready to talk about that." Tak sanggup dirimu memandang wajah Xavier saat mengatakan kalimat itu. Takut jika lelaki itu memberikan ekspresi muka yang tidak kau harapkan.
"Ah, about our relationship? Pembicaraan kita beberapa waktu lalu." Suara Xavier terdengar tenang, berbanding terbalik dengan dirimu yang sudah salah tingkah.
Suasana di antara kalian menjadi hening, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Kamu tahu 'kan kalau aku belum siap komitmen." Kamu mengangguk, kamu ingat apa yang Xavier katakan tentang hubungan orang tuanya yang buruk sehingga dirinya takut untuk menjalin komitmen dalam hubungan percintaan.
"Sorry, it's just my selfishness, but I'm afraid that if we're together, I'll become like him."
Mendengarnya membuat kamu ingin protes, "Nggak, Xavier. You're not your father. Lagi pula, aku tahu dari kita bareng selama beberapa bulan terakhir, kamu bukan cowok berengsek kayak ayahmu itu."
Xavier memberikanmu senyuman hangat, tangannya meraih tanganmu di seberang meja untuk menggenggamnya. "Makasih, tapi untuk kali ini aku belum bisa jawaban yang kamu pengin. Nggak papa 'kan kita kayak gini dulu untuk sekarang?"
Entah untuk keberapa kalinya senyuman tipis serta suaranya yang tenang meyakinkanmu untuk memberikan lelaki itu waktu. Mungkin esok Xavier akan sadar kalau dirinya bukanlah ayahnya yang akan meninggalkanmu dengan cara yang jahat atau lusa mungkin Xavier akan sadar kalau dirinya dan kamu dapat membangun hubungan yang sehat bersama-sama melalui komitmen yang kalian sepakati.
