Work Text:
Kembali lagi dia gerakkan kakinya menuju kedai ramen yang berada di dekat laut itu. Sudah terhitung semenjak 2 bulan dia datang ke tempat itu. Sebenarnya... kedai yang didatanginya itu bukanlah salah satu hidden gem yang sering dipromosikan di aplikasi not musik putih dengan latar belakang hitam itu. Lebih tepatnya saat itu Anton sedang menikmati pemandangan matahari terbenam di dekat laut itu sampai-sampai dia tidak melihat jam. Tidak lama dia tersadar karena bunyi dari perutnya, oh, his stomach need to be filled.
Anton memasukkan kameranya ke dalam tas dan berjalan memunggungi laut. Untuk saat ini, dia melihat kedai yang berada tidak jauh dari dirinya berada, karena... nggak mungkin kan Anton harus menahan laparnya untuk lebih lama lagi? Aduh, mana sanggup dia. Sudah keroncongan begini pasti mata nggak bisa mencari apa yang lebih jauh. Tempat ini jauh dari stasiun terdekat, maka dia berjalan mendekati kedai itu.
Hmm... nggak banyak orang. Bahkan dia melihat hanya tiga meja yang terisi. But, whatever. Dia berjalan menuju tempat duduk yang agak jauh dari pintu masuk sambil melihat-lihat interior kedai itu. Nggak terlalu buruk, kok. Malahan terlihat seperti #1 hidden gem kalau kedai ini berasal dari tempat asalnya, Indonesia.
Nah, ini. Hal yang paling nggak disuka oleh Anton jika sedang berjalan-jalan sendirian. Harus. Memesan. Makanannya. Sendiri. Semua juga tau dia memiliki suara yang kurang... besar...? Oh, God, what could be worse than that? Okay now, it's okay, Anton. You've got this! Perlahan dia angkat tangannya dan memanggil pelayan dengan suara pelan, "s-sumimasen..." hah.. bahkan dengan keadaan yang sesepi ini pun nggak ada yang mendengar... yang bener aja. Okay, let's try it again. "H-hello? Sumimasen..." ucapnya dengan kikuk.
Hanya ada dua orang pelayan yang dilihat Anton, pun, dua-duanya tidak mendengarkan panggilan Anton. Duh, susah ini. Anton lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. Lalu, terlihat seseorang dengan celemek yang kurang rapi dan lengan kemeja yang kusut mendatangin mejanya, "hello, what would you like to order?" oh. OH. Akhirnya ya Tuhan... suara dari rakyat kecil seperti Anton bisa terdengar suaranya. Anton melihat ke arah pelayan yang surprisingly kecil itu. Hah? Ini nggak salah? Anton tau kok kalau di Jepang itu anak-anak sudah bisa bekerja, entah di kedai atau di supermarket, tapi dia nggak tau kalau bakalan bertemu dengan salah satunya secepat itu.
Pelayan itu memberikan Anton buku menu yang nggak begitu besar dan diterima dengan baik oleh Anton. Entah kenapa saat menerima buku itu, Anton agak gemetar...? Tapi bukan karena rasa takut. Duh. Rasanya aneh deh kayak begini. Kan dia cuma mau beli makanan saja, bukan mau melakukan hal-hal lain. So he mustered the courage to take a quick glance at the waiter's face. YAELAAAAAAH. Anton paham kenapa dia sedikit gemetar saat menerima buku menu itu. Ternyata pelayan itu bukan anak kecil, ya... tapi malaikat. Nah, kalau yang ini, Anton baru tau sekarang. Anton baru tau kalau Jepang mempunyai malaikat secantik ini.
Dibuka dan dibolak-baliknya lembaran buku menu perlahan-lahan (yang padahal aslinya udah nggak fokus tuh). Yah, jadi bingung mau pesan apa. "Eh... Uh..." dia harus ngomong apa ya ini. "It's okay, just speak Indonesian. Aku paham kok, kak," ucap pelayan yang kecil itu. Anton yang mendengar itu jadi gak paham, ini hari keberuntungan dia apa gimana, sih? Kok kayaknya dia menang mulu hari ini. Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, "uh... apa ya yang best seller disini?" cupu banget sih Ton. Haduh, dia lupa membaca buku 100 best flirting tips itu sih sebelum dia pergi keluar. Tapi bukannya tersinggung atau apa, pelayan itu malah tersenyum kecil dan menarik sedikit buku menu yang di pegang Anton untuk menunjukkan pesanan best seller di kedai itu. "Untuk best seller disini ada Miso Ramen dan Tori Paitan, kakaknya lebih suka yang mana?"
Sumpah, Anton beneran jadi lupa tujuan utama dia kesini tuh buat MAKAN. Buat MAKAN. Tolong ingatkan terus kalau Anton itu tadi sedang kelaperan. Bukannya gimana, ya... tapi dia udah beneran gak fokus sekarang, emang ada ya manusia secantik itu? Dua puluh dua tahun dia hidup, nggak pernah tuh ketemu manusia secantik sosok yang sedang berada di depannya. Maka dia mengangguk-angguk saja atas pertanyaan pelayan itu. Pelayan tadi malah jadi tertawa kecil, "maksudnya mau yang mana ya, kak?" malu-maluin aja lu, Anton. "O-oh, eh, maksudnya mau Miso Ramen aja, thank you, ya..."
Boleh nggak sih kalau Anton pesan 2 Miso Ramen, yang satu buat dia dan satu lagi untuk pelayan itu. Consider it as a first date.
Ah, NGGAK! Anton harus bawa malaikat secantik dia ke tempat yang lebih mewah, yang lebih megah. Tempat yang memang dikhususkan untuk bidadari sepertinya.
"Oke, kalau gitu, mohon ditunggu pesanannya ya kak," kata pelayan tadi sambil tersenyum dan berjalan kembali ke arah kitchen. Boleh... boleh Anton tunggu pelayan itu sampai ke pelaminan? Ups. Nama aja nggak kenal udah mau pakai acara sejauh itu.
Dikeluarkannya kameranya tadi dan mengambil beberapa foto di dalam kedai ramen itu. Cukup unik sih, jujur. Dia mendapati beberapa figur Naruto di sudut-sudut kedai itu. Yang bikin Anton bingung tuh, ini kenapa Naruto doang ya? Sejauh pengetahuan dia tuh anime yang terkenal kan banyak, tapi kenapa isinya Naruto doang ya.
Wow! Bahkan ada beberapa manga yang disusun rapih. Anton jadi berpikir, kayaknya yang punya kedai memang fans berat Naruto. Kayaknya Anton harus ajak siapapun orang itu berteman deh. Soalnya Anton juga cinta mati sama One Piece, habis ini bisa diajak untuk jadi #BestDuo deh.
Setelah merasa cukup mengeksplor kedai itu, Anton kembali ke tempat duduknya dan mengambil foto yang ada dihadapannya. Cekrek!
Uh. EH.
Anton nggak sengaja mengambil foto saat pelayan yang tadi mau mengantarkan pesanannya. Dia terdiam sebentar sebelum pelayan itu berjalan ke arahnya. Duh, Anton takut dimarahi... dia belum siap untuk dimarahi di negeri orang...
Mangkuk sudah dipindahkan ke atas mejanya dan Anton masih bingung harus berkata apa. Soalnya, ya...
Ekhem.
"Bol-" ucapan itu terputus begitu saja karena kepanikan Anton, "Iya kak maaf ya, aku bakal hapus foto kakak. Tadi aku mau foto POV aku aja tapi kakaknya malah eh- bukan gitu, aku nggak nyalahin kakaknya. Aku yang salah kok foto foto begitu di kedai dan nggak lihat sekeliling. Lain kali aku bakal lebih hati-hati dan nggak begini lagi. Sekali lagi maaf ya kak," ucap Anton sambil berdiri dari kursi dan membungkuk 90° hadeh. Kayaknya ini semua penonton juga malu liatnya deh.
Pelayan tadi yang melihat Anton begitu malah bingung dan tertawa. Besar sekali. Seakan ini bukan awal pertama pertemuan mereka. Dilanjutkannya kalimat tadi yang terpotong oleh Anton, "Eh santai aja kak. Aku tadi malah mau minta lihat fotonya, soalnya kebetulan aku suka difoto. Hehe," ucap pelayan itu sambil menunjukkan gigi taring kecilnya.
Entah sudah berapa kali Anton terkena serangan jantung hari ini. Both in a bad and a good way.
Anton yang mendengar hal itu langsung cengengesan gak jelas dan berkata, "Oh... Ya..." yaaa? Pelayan tadi menunggu kata-kata Anton setelahnya dan berkata "Ya... Boleh kah kak?" Anton yang mendengar itu langsung kembali ke dunia nyata dan berkata, "Oh! Oh, iya boleh banget kok kak,"
Diambilnya kamera tadi dan disodorkannya ke arah pelayan itu dan menunjukkan foto yang-gak-sengaja-terfoto tadi ke dia.
Senyum adalah hal yang didapat oleh Anton. Baginya ini bukan senyuman biasa. Anton memang senang mengambil foto dan beberapa momen. Tapi nggak pernah dia sebahagia ini ketika ada orang yang senang karena foto yang dia ambil.
"Bagus banget kak! Pinter banget deh kakaknya ngambil foto. Jadi keliatan cakep akunya disitu," kata pelayan tadi. Anton yang mendengar hal itu menggaruk lehernya sambil menjawab, "Eh, makasih banyak. Enggak kok, itu mah kakaknya aja yang cantik," Nahloh. Keceplosan kan elu.
"Eh..." keduanya bertatap-tatapan beberapa detik dan tertawa bersama.
Pelayan tadi memegang pundak Anton dan berkata, "Makasih banyak loh. Baru kali ini aku dipuji begitu," sambil menepuk pelan bahu Anton. Dilain sisi, Antonnya malah mau meleleh. Padahal disitu lagi nggak sepanas itu.
"Hehe. Iya sama-sama. By the way, boleh tau nggak ya kamu namanya siapa?" STRIKE. Anton tersenyum bangga pada dirinya dalam hati. Pelayan tadi tentu saja tersenyum dan membolehkan, "Nama aku Sohee. Kalau kakaknya?" tanyanya kembali.
"Unik banget Sohee... baru kali ini aku dengar nama itu. Cocok deh sama kamu. Kalau aku, namanya Anton, salam kenal ya," ucap Anton tanpa gagap. Yah anaknya emang beda kalau udah sepede itu.
"Thank you, Anton. Salam kenal juga," ucap Sohee sembari mengulurkan tangan. Anton yang melihat itu tanpa basa-basj langsung menjabat tangan Sohee. Oh, it's so soft... padahal Sohee terlihat sering bekerja ini itu, tapi mungkin dari sananya semua hal tentang Sohee sudah halus dan lembut.
Setelah itu, Sohee menarik pelan tangannya dan mempersilahkan Anton untuk makan. Sepertinya sedari awal Anton juga sudah lupa untuk apa dia datang kesini. "Silahkan dinikmati ya Anton, let's continue our conversation later,"
Tentu saja Anton yang mendengar hal itu seakan menggoyangkan ekornya dengan semangat. Akan dia habiskan ramen ini dalam sekali nafas. Anton mengangguk-anggukkan kepalanya dan menjawab, "okay, Sohee! Habis ini ada rencana nggak?"
Sohee paham arah bicaranya kemana. Paham sekali karena ini bukan pertama kalinya seseorang mengajaknya keluar. But this is the first time he has accepted someone's invitation. Well, it's Anton after all. Kepribadian seperti Anton ini adalah sesuatu yang Sohee suka, karena dia menjadi dirinya sendiri apa adanya and Sohee thinks it's so cute of him.
Maka Sohee menjawab, "nggak ada kok, I'm free after this. Ayo nanti keluar cari angin sebentar, mungkin?" Anton yang mendengar hal itu serasa ciut. Harusnya kan dia yang mengajak Sohee dan mengajaknya dengan penuh keberanian. Well whatever, itu bukan menjadi masalah baginya. Yang terpenting, Anton tau bahwa Sohee feel the same way as him.
"YES! Eh- maksudnya mau banget, Sohee. Terima kasih udah mau ajak aku," ucap Anton, kira-kira wajahnya sekarang seperti emoji :D
Sohee tersenyum kecil melihat antusias Anton dan berkata, "the pleasure is all mine, Anton. Udah ah selesaiin dulu makannya tuh," Anton yang mendengar itu cengengesan, lagi. Anton acungkan jempol ke arah Sohee dan, "Itadakimasu!"
Waktu berlalu, membuat isi mangkuk Anton yang tadinya penuh menjadi lenyap begtu saja. Selain mengisi perut, Anton rasa dia juga telah berhasil mengisi hatinya untuk hari ini. Jam di dinding menunjukkan pukul 8, yang berarti dia masih punya 2 jam lagi untuk dihabiskan bersama Sohee, kalau yang mempunyai nama berkenan..
Anton lalu berdiri dan keluar dari kedai itu, oh! Sedikit terkejut karena dia melihat sesosok manusia salju yang besar. Dan bergerak...? Baiklah, itu menakutkan. Ini salah Anton karena dia lupa membawa kacamatanya hari ini.
Meski dia adalah penakut sampai daging, dia tetap mendekati sosok itu dan LEBIH TERKEJUT LAGI.
Ternyata itu sosok si imut.
Duh, si imut ini hampir saja buat Anton jatuh di pinggir jalan.
Sohee mendekati Anton dan menutup mulutnya sambil berkata, "HAHAHA, kamu kenapa Anton? Kayak habis liat hantu lewat aja," Anton yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan berkata, "kirain ada manusia salju kecil yang mau nyulik aku."
"Emangnya aku kelihatan kayak gitu ya?" tanya Sohee.
Anton berjalan menyejajarkan dirinya dengan Sohee, "iya, kamu bulet dan kecil banget sih," ooooh, udah pinter ya. Setelah berkata seperti itu, Anton melihat wajah Sohee, yang dia nggak tau, apakah wajahnya memerah karena kedinginan atau karena malu? Mungkin opsi pertama ya.
Sohee mendorong Anton pelan dengan lengan kanannya dan berkata, "apaansih," lalu membuang mukanya ke arah kiri.
Anton boleh kegeeran kan? Anton boleh kegeeran kalau opsi kedua itu adalah jawaban yang benar? Sudah anyak sekali drama, entah itu Jepang, Korea, Thailand, China, dan sebagainya, yang sudah lulus dari daftar watchlist Anton di Letterboxd. Anton sering lihat kok hal yang Sohee lakukan tadi adalah tanda bahwa dia sedang malu karena pernyataan dari Anton. Iya kan? IYA KAN? Nggak sia-sia Anton menghabiskan banyak jam untuk menonton. Anton menjadi lebih paham sekarang.
Anton tersenyum kecil dan menggenggam tangan kecil Sohee, "yuk," ajaknya. Sohee menatap Anton dan merekapun berjalan ditemani cantiknya terang bulan pada malam itu. Berdua saja. Tanpa ada satupun yang menghadang.
Atau mungkin itu yang dipikirkan Anton.
Dilihatnya deserts yang tersaji di depannya dengan bosan. Baginya, sudah tidak ada lagi gula yang bisa menyeduh hidupnya menjadi lebih manis. Diarahkannya lagi kamera kebanggaannya itu untuk memotret pada hari yang menyebalkan membahagiakan ini.
Disitu, dia melihat sesosok manusia salju yang 2 minggu lalu baru saja membagikan senyumnya kepada Anton. Disitu pula Anton lihat senyuman itu sudah menghilang. Entah direnggut siapa, Anton tak tau. Yang dia tau, Sohee pun merasakan hal yang sama sepertinya, hari ini adalah hari yang menyebalkan.
Entah kebetulan yang sebrengsek apa hingga membuat Anton menjadi fotografer pada engagement day Sohee dan nggak tau njir itu siapa, menurut Anton juga lebih gantengan dia Wonbin, tunangan Sohee.
Tapi tenang, bukan Sohee yang salah. Nggak ada yang salah. Bukan karena perasaan Anton ke Sohee sebesar itu sehingga membela Sohee.
Anton paham besar kalau Sohee pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindar dari hari ini. Sohee juga mau bebas kok. Sohee juga mau mencintai dengan luas. Sohee juga mau mencintai orang yang dicintainya dengan tulus dan penuh sayang. Sohee juga mau berdua terus bersama Anton.
Tapi bukan hidup namanya kalau tidak ada satu hal yang terjadi diluar dari keinginan kita. Sohee nggak mau dirinya tersisih begitu saja disini, dia akan kejar apa yang memang menjadi isi hatinya. Sekalipun itu semua terdengar naif. What's so wrong with loving someone that deeply?
Maka dari itu, dua hari setelah hari tunangannya, Sohee bangun sangat pagi. Live location dari Anton masih menyala, syukurlah.
Dia merapihkan bajunya dan berlari ke luar. Dia menuju ke arah stasiun terdekat dengan harapan dia sampai sebelum waktunya.
And here he is. Tanpa kehilangan harapan, dia berjalan mendekati orang itu dan menyentuh pundaknya. Anton.
"Eh?"
Sohee memeluk Anton yang sedang memegang koper dan membawa backpack berwarna hitam. Sungguh, sejauh apapun Anton berharap daritadi, dia nggak kepikiran bahwa yang dia imajinasikan beneran terjadi. Sekarang. Disini.
Tanpa berlama-lama, dibawanya kembali Sohee kepelukannya. Perasaan hangat itu menjalar dari hati sampai ke seluruh tubuhnya. Kalau ini mimpi, maka jangan bangunkan Anton. Kalau ini beneran, maka jangan tarik Sohee. They are wrapped in each other's arms so well that even the universe is deeply envious of them.
Sohee nggak pernah peduli dengan perpisahan sebanyak apapun. Tapi untuk kali ini, dia nggak mau mengucapkan goodbye ke Anton barang sekalipun.
He never wondered what kind of life he could have lived somewhere else, or whether there was another version of himself living a different life. He was always too busy living his life, loving what he had, and being content with the world he knew.
He never needed that so-called in another life.
Not until he met Anton.
Because now, somehow, the idea of a universe where he could be with Anton has become his biggest hope. The one thing he wishes for more than anything else. More than any other life he could have lived. More than anything he had ever wanted before.
Because one lifetime with him was never going to be enough.
