Work Text:
Andi menghela nafas berat, badannya terasa sangat hangat, dalam artian gerak tubuhnya amat terbatas.
Dibawa tubuhnya meringkuk dalam selimut, sesekali terbatuk berturut, membuat kerongkongannya panas seperti meminun satu botol minyak urut.
Membuka matanya tidak ada guna, yang ada dirinya kembali merasa tidak berpijak lagi di dunia, pandangannya berputar tidak jelas arahnya
Andi semakin meremat selimut dalam genggam, berusaha menyalurkan rasa tidak nyaman yang penuhi raganya.
Tap
Tangan kecil nan hangat menyentuhnya, Andi mati matian mncoba membuka mata, menemui iris biru anaknya yang menatap khawatir
"Papi sakit...?"
"Iya..."
"Papi panas...."
"Huum..."
Gadis kecil hasil copy-paste dirinya tersebut menunduk, menangkup kepala Andi dengan tangan kecilnya dan meletakkan pipinya pada dahi panas Andi
"Hush hush panas kepala papi, pindah aja ke adek" ucapnya, sbelum berpindah ke sisi pipi lainnya sembari mengutarakan kalimat serupa
"...pfft-"
Andini langsung mengangkat kepalanya, melemparkan tatapan panik
"Papi kalo sakit jangan ditahan!"
Oh apakah anaknya berpikir ia menahan batuk atau muntah? Sbetulnya Andi hanya gemas melihat putri kecilnya melakukan hal tersebut
"Ngga kok..."
"Papi lemess, tidur aja lagi papi" Andini bergerak mendekat dan memberikan ciuman kecil pada sisi dari kedua belah kelopak mata Andi, hal yang biasa ia lakukan juga bila anak gadisnya tidak kunjung terlelap
"Hehe makasih adek" Andi gemas, mengangkat tangannya guna membelai sedikit helai rambut Andini penuh sayang
"Cepet sembuh papii :(("
Bonus!
"Pada kemana ini?"
Kururu baru saja pulang kerja, mengingat tadi pagi Andi tidak berhenti bersin-bersin dan menolak digendong bangun membuat dirinya khawatir dan memutuskan untuk pulang lebih cepat. Karena tidak mendapatkan jawaban, ia segera bergegas memasuki kamar, berharap kekasih hatinya serta buah hati mereka ada disana.
cklek
Benar ternyata, Kururu dapat melihat kekasihnya dengan rambut hitam dan highlight biru itu bergelung di dalam selimut. Dengan kloning mininya yang juga sedang merunduk, bergumam kecil sambil membelai rambut Andi penuh sayang.
"Adek jangan deket-deket papi, nanti ketularan"
Andini langsung menoleh, menatap ayahnya yang kini duduk di pinggir kasur, berusaha membujuknya untuk menjauh.
"Kalo adek sakit juga papi deket-deket adek terus adek sembuh" timpal gadis kecil tersebut. "masa gaboleh adek deket-deket papi biar papi cepet sembuh?"
Kururu sebetulnya bingung harus menjawab apa, kan tidak mungkin dia langsung bilang kalau anak kecil lebih gampang sakit, nanti Andini merasa lemah dan menangis.
"Sini keluar dulu, jangan ganggu papi. Biar papimu bisa istirahat" Kururu kembali berucap, tangannya terulur menarik lepas tangan Andini dari dahi Andi.
Putri kecilnya malah menatapnya dengan pandangan berkaca. "..A-adek ganggu papi istirahat? Maaf papi..." ujarnya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "maaf papi... papi jadi sakit terus karena adek ganggu"
"eh bukan gitu dek..." Kururu jadi merasa salah menjawab. Andi hanya terkekeh kecil melihat interaksi mereka.
