Work Text:
Mungkin ada sesuatu di balik betapa ajaibnya hembusan angin yang menerbangkan helaian rambut berwarna putih. Potongan pendek sebahu yang menutupi wajah itu tak perlu menunggu siapapun, semuanya sudah mengenal Lily dan betapa elok parasnya. Haewon jatuh cinta.
Lily mengaku ia tak pandai menari, tapi dengan suaranya yang kuat, tangga lagu itu seperti bergoyang dan menjembatani sebuah tarian yang bisa dibayangkan hanya dengan memasang telinga sungguh-sungguh. Haewon tidak pernah mendengar suara seperti milik Lily. Suara yang lebih murni dari kicauan burung atau suara air menetes. Biru dan putih menjalin kasih di atas kain satin yang lembut.
Haewon tahu ia tidak banyak bicara dengan Lily. Di musim panas di mana mereka kebetulan bertemu di sebuah pantai itu Lily menghampirinya dengan topi pantai lebar dan sandal jepit dengan hiasan bunga yang manis. Betapa terkejutnya Haewon saat Lily mengucapkan namanya dengan sedikit guratan ragu-ragu.
"H-haewon..?"
"Ya, kak?"
"Oh! Ternyata bener, ya? Nggak nyangka bisa ketemu di sini!"
Lalu mereka berjanjian untuk membeli jus semangka bersama. Haewon merapatkan jaketnya yang melindungi sepasang bikini yang ia kenakan. Semalam ia makan begitu banyak dan perutnya lumayan kembung.
"Kamu sering ke sini, Won?"
Haewon berpikir sejenak, "Nggak, kalau liburan keluarga suka eksplor tempat baru. Ini pertama kalinya aku ke sini. Kalau kakak?"
"Aku sering ke sini. Aku hapal tempat paling bagus buat lihat matahari tenggelam dan terbit. Aku juga tahu penjual kelapa mana yang buahnya paling segar. Atau churros yang tidak banyak orang tahu karena tempatnya ngumpet di belakang."
Haewon hanya bisa bergumam kagum.
"Wah, kakak beneran paham banget, ya."
"Kamu mau?"
"Huh?"
"Mau, nonton matahari terbenam sama aku hari ini?"
Haewon tidak pernah mengangguk secepat ini.
Lily memang dipahat Tuhan dengan hati-hati. Haewon memastikannya saat sinar matahari warna oranye terhalang oleh wajahnya. Hidung yang tinggi dan mata yang cantik. Bibirnya murah senyum dan selalu keluar kata-kata baik.
Bolehkah ada manusia seperti ini lolos dari surga?
Apa jangan-jangan Lily bukan manusia?
"Hush! Ngelamunin apa ya?"
Haewon kembali ke keadaan sekarang. Mereka sedang duduk di balkon villa sewaan keluarga Lily. Di depan Haewon Lily banyak berceloteh soal betapa ia mencintai tempat ini. Dan Haewon pun jadi ingin cepat mengutarakan perasaan yang ia pendam.
"Dan ya, rencananya sih kami bakal tunangan setelah lulus nanti, kamu jangan lupa datang, ya?"
Huh.. Apa yang Lily katakan barusan?
"Apa, kak?"
Haewon berusaha memastikan kembali.
"Tunangan. Aku dan Jihyeong."
Dan saat itu juga angin datang menyerbu hati Haewon, meluluh lantakkan kepingannya seperti permainan papan balok susun. Balok kayunya berhamburan terbawa angin ribut di dalam hatinya.
"O-oh.. Iya, aku bakal dateng kok, kak."
Dan begitulah musim itu berlalu, seperti angin, cinta bertepuk sebelah tangan yang Haewon miliki hanyalah benda tak kasat mata yang tak memiliki dampak bagi Lily.
Hanya angin laut yang sejak dari dulu, bertiup menujumu
Maafkan, Summer.
Ide utama dari Maafkan Summer by JKT48
