Work Text:
JIKA mengikuti jadwal rutinannya, Arjuna seharusnya sudah naik ke kasur dan tertidur. Ada rapat daring jam sembilan pagi. Setidaknya ia perlu dua jam persiapan dari mandi pagi, membuat sarapan, memastikan bahan paparan sudah tak ada cela, sampai membuka kamera. Namun, di sinilah ia. Berguling ke kanan dan kiri di atas ranjangnya di depan televisi.
Ponselnya menyala dengan cahaya yang sudah diredupkan. Ibu jarinya masih asik menggulirkan laman Instagram milik seseorang yang ia rasa sedang menjaga jarak darinya—entah untuk pergi menjauh sepenuhnya atau untuk menenangkan diri. Ia harap yang kedua. Kantuknya belum kunjung datang dan kepalanya masih terlalu fokus supaya tidak tanpa sengaja mengeklik dua kali kemudian memunculkan tanda hati. Jam-jam begini terlalu rawan untuk membuat kesalahan fatal. Arjuna harus lebih waspada dengan jemarinya sendiri.
Sampai gawainya itu bergetar dan mengeluarkan nama orang yang sedari tadi ia jejaki media sosialnya. Arjuna terlalu kaget sampai membuyarkan koordinasi tubuhnya sendiri, mengakibatkan ponselnya jatuh tepat di atas muka.
Yudistira is calling ....
Arjuna segera mengambil ponselnya dan memastikan ia belum menerima panggilan telepon itu. Tidak lucu jika di seberang, Yudistira mendengar gedubrakan dari sisinya. Ia mendudukkan diri dan merapikan rambutnya—dipikir-pikir untuk apa, ini bukan panggilan video?—sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Yudis, hei? Gimana?"
"Masih seger, Jun?"
"Mm. Lu aman?"
"Aman. Masih di kantor."
"Oh? Ada deadline?"
"Udah kelar. Juna ...?"
"Iya?"
"Kalo gue pulang ke sana, apa-apa nggak?"
"Nggak apa-apa. Gue tunggu, ya?"
"Makasih. Lu udah makan? Mau martabak?"
"Tadi udah, nggak usah bawa apa-apa. Lu?"
"Udah jam tujuhan. Laper. Kangen masakan Juna." Arjuna tersenyum.
Sudah cukup lama dari jam Yudistira makan. Arjuna terpikirkan sesuatu yang hangat. Sesuatu di dalam kulkasnya. Bahan-bahan makanan yang bisa dibuat cepat. Atau mungkin Indomie dan telur saja jika kepepet?
Oh, ada yang lain.
"Gue bikinin cuanki, ya? Ntar lu dateng kita makan anget-anget."
"Makasih, Juna."
"Ya udah, ati-ati."
"Mm."
Arjuna meletakkan ponselnya ke atas kabinet kecil yang menempel di bawah televisi, tempatnya biasa menyimpan remot. Ia masih terdiam di tempatnya. Yudistira baru saja menghubunginya. Setelah tiga hari lelaki itu mengelak untuk memberi kabar. Telepon tidak diangkat. Pesan hanya dibaca—setidaknya dibaca. Ia menelepon Arjuna juga pada akhirnya. Di pukul satu pagi. Dari kantornya.
Apa ia baik-baik saja?
Sesibuk apa hari-harinya sampai Yudistira baru bisa meninggalkan ruangannya di jam-jam ajaib seperti ini?
Apa ada yang lain yang Arjuna tidak tahu selain Yudistira yang menjauhinya karena cemburu?
Ia beranjak menuju ke kulkas. Ada bahan-bahan untuk membuat bakso cuanki yang dikirimkan adiknya setelah berjalan-jalan dari Bandung lengkap dengan sambalnya. Ada siomay, tahu goreng berisi bakso, dan tahu kukus berisi bakso, juga bakso halus berukuran kecil yang tinggal direbus ke dalam kuah kaldu. Arjuna hanya perlu menjerang air dan memberi bumbu—ada bawang putih yang digeprek lalu dirajang halus dan ditumis sebentar dengan minyak, garam, gula, merica, dan kaldu jamur. Sambil menunggu bakso dan tahunya empuk, ia merajang daun seledri untuk ditabur. Sudah.
Arjuna masih menghadap panci berisi bakso cuanki yang wanginya sudah menguar ke seluruh sudut apartemen studionya. Ia masih memakai kaus belelnya yang biasa dipakai santai di rumah dengan celana panjang dari Uniqlo yang sebenarnya difungsikan untuk berlari tetapi ia pakai untuk tidur. Terdengar bunyi ketukan dua kali yang disusul dengan suara ceklek pelan, pertanda Yudistira sudah datang. Arjuna mengiriminya pesan untuk langsung saja masuk tadi. Pintu tidak ia kunci.
Sengaja.
Supaya Yudistira bisa memilih mau seperti apa ia menghampiri Arjuna lagi. Menemuinya di depan pintu secara langsung kala ia sampai mungkin akan menjadi intervensi tatap muka yang akan membuat kagok. Arjuna tidak mau itu terjadi.
Ia mendengar suara pintu unitnya dikunci, lalu kasak-kusuk Yudistira yang membuka sepatunya dan mencuci kaki di kamar mandi.
"Misi, Juna ...."
"Yo. Sini, Yud."
"Seger banget wanginya."
Yudistira akhirnya masuk ke jarak pandangnya. Ia bersandar di samping meja kompor Arjuna. Lelaki itu memakai kemeja berwarna hijau dengan jaket hitam dengan tudung kepala dan celana berwarna senada. Wajahnya terlihat lelah. Senyumnya juga. Arjuna harus berpura-pura sibuk dengan sup cuankinya supaya bisa mengelak dari tatapan Yudistira padanya yang sarat akan damba.
Lelaki itu berjalan mendekat dan berhenti di belakang tubuhnya. Arjuna lalu merasakan ujung dahi Yudistira bertumpu pada punggungnya.
"Rough day, Yud?"
"Mm."
Arjuna tersenyum. Ia mengecilkan api kompornya. Semuanya sudah selesai dan mereka bisa langsung makan sebenarnya. Namun, sepertinya Yudistira masih nyaman begini. Arjuna juga tidak keberatan. Kedua tangan Yudistira yang tadinya menggantung di sisi tubuhnya, terangkat lalu berpegangan ke kain di samping tubuh Arjuna. Pegangannya rapuh. Tidak bertenaga. Lalu ia meremas kausnya, meremas pinggangnya. Arjuna membawa salah satu lengan Yudistira untuk melingkari perutnya. Ia merasakan Yudistira semakin berniat memeluknya. Kepalanya menyeluduk ke perpotongan lehernya.
Ada isakan kecil yang terdengar.
Arjuna memejamkan matanya. Ia mengelus lengan Yudistira dengan gerakan yang teratur. Mengindikasikan bahwa ia ada di sana. Bersamanya.
Sudah lama sekali, Arjuna ingat, Yudistira pernah bertanya padanya sesuatu yang bersifat hipotesis. Keduanya sedang sama-sama melamun menatap palfond di atas ranjang milik Yudistira.
"Lu pernah jeles nggak sih, Jun?"
"Pernahlah. Kenapa? Lu jeles sama siapa?"
"Enggak. Belom. Mungkin nanti."
"Cemburu kok direncanain."
"Ya namanya juga sedia payung sebelum hujan, Kak."
"Baik."
"Lu kalo jeles ngapain, Jun?"
"Gue biasanya bisa handle sendiri sih. Dibawa tidur juga besokannya ilang."
"Mm. Kalo nggak ilang?"
"Gue telepon, gue samperin."
"Orang yang bikin lu jelesnya? Langsung lu labrak gitu?"
"Bukanlah, gila. Ya partner guenya."
"Kalo udah disamperin mau apa? Lu labrak?"
"Otaklu isinya ngelabrak-labrak aja, kebanyakan nonton Indosiar ya, lu?"
Yudistira terbahak.
"Ya 'kan mana tau."
"Enggaklah. Gue bakal peluk dia paling. Biar kepala gue kalem."
"Oh."
Sekarang, ingatan itu menjadi memori yang datang dalam gerak cepat di kepala Arjuna. Keduanya sepakai jika memilih amarah untuk sesuatu setrivial rasa cemburu terlalu membuang energi dan waktu. Namun, keduanya juga paham jika peraasaan manusia tidak bisa diatur.
Kita tidak akan pernah selalu bisa merasa aman setiap saat, termasuk dengan diri sendiri.
Sudah satu bulan ada pegawai baru yang kini bekerja di kantor Arjuna. Yang juga adalah mantan kekasihnya dulu. Arjuna, tentu saja, tidak berminat kembali menjalin kasih dengan orang itu. Ada alasan solid mengapa keduanya tidak bisa bersama, sebagaimanapun ia mengingat memori-memori indahnya. Ia merasa tidak perlu mengulanginya dengan orang lama. Maka itu, Arjuna membatasi hubungan mereka sebatas rekan kerja saja.
Yudistira tahu itu.
Sampai minggu lalu. Ia pergi bertugas ke luar kota sampai tiga hari lamanya dengan mantan kekasihnya itu.
Yudistira tidak banyak komentar soal kepergiannya. Tidak juga memberikan banyak wejangan yang tak perlu. Namun ternyata, sekembalinya Arjuna, lelaki itu bergerak menghindarinya. Di perjalanan dinas kemarin, walau tidak diminta, Arjuna selalu mengabari posisi dan kegiatannya pada Yudistira. Hanya untuk berbagi saja, supaya jika—amit-amit—ada sesuatu padanya, Yudistira memiliki back up kegiatan terakhir Arjuna. Juga supaya lelaki itu tidak mengetahui kondisinya dari media sosial lebih dulu daripada dari dirinya langsung.
Bukannya mau ge-er, tetapi hubungan dengan mantan memang sensitif. Arjuna paham itu. Pun seringan apa pun hubungannya dengan Yudistira, Arjuna menghargainya. Ia menganggapnya ada. Sebagaimana ia rasa, Yudistira juga memperlakukannya.
Kini, mendapati Yudistira Yogendra sendiri menghampirinya dan menyerahkan dirinya begini, mau tak mau Arjuna kembali mengingat obrolan keduanya dulu di kamar Yudistira. Pelukan di sekeliling pinggangnya mengetat. Arjuna menepuk lengan lelaki yang menempel seperti koala di belakang tubuhnya. Memberi kode supaya mereka bergerak dari posisi ini dan beranjak makan. Tangan Yudistira dingin dirasanya. Efek terkena angin di perjalanan tadi sepertinya.
"Makan dulu, ayo."
"Mm."
"Mau pake apa aja?" Yudistira melongokkan kepalanya melewati bahu Arjuna. Sesekali masih menarik ingusnya.
"Baksonya tiga, somaynya tiga, tahunya dua. Somaynya empat deh."
"Lapar si Bapak?"
"Maklum, Pak, masih dalam masa pertumbuhan."
Arjuna mendecih, lalu keduanya terkekeh. Yudistira tiba-tiba bergerak gesit mengambil dua mangkuk dan sendok. Mendekatkannya pada Arjuna yang perlahan menuangkan makanan dari panci untuk keduanya. Yudistira membantunya menata kedua mangkuk beserta bumbu tambahan yang sekiranya akan mereka butuhkan untuk meramu kuah ke atas meja makan kecil yang hanya muat dua orang di samping ranjang Arjuna.
Arjuna memperhatikan lelaki di hadapannya menambahkan sedikit saus lalu berdecak puas.
"Kuahnya enak, Juna."
"Mm. Makan yang banyak. Abisin yang di panci, gue nggak mau tau."
"Tadinya gue mau ngelak, tapi kayaknya possible. Itadakimasu!" Arjuna terkekeh.
Menjadi kesenangan tersendiri melihat Yudistira memakan masakannya. Keduanya bukan orang yang rewel soal makanan. Arjuna sendiri bisa memasak apa pun selama intruksinya jelas—misalnya resep-resep dari laman CookPad. Tergantung mood-nya saja. Sedangkan Yudistira orang yang lebih ringkas lagi. Ia bisa tidak makan hanya karena malas mengambil makanan dari jasa pesan antar ke luar gerbang kostan.
Maka itu, jika Arjuna memasak—yang hanya sekali-kali itu—Yudistira biasanya selalu ada di situ untuk menghabiskannya. Berbonus ulasan jujur diselingi godaan dan berakhir saling memaki sambil tertawa-tawa. Kendatipun demikian, Yudistira selalu lahap memakan masakannya. Begitu saja sudah membuat Arjuna puas.
Seperti sekarang.
"Enak, Yud?"
"He-em. Seger, Jun. Gue tambah, ya?"
"Abisin kata gue juga."
Tidak ada satu kalimat pun yang diucapkan kala keduanya sedang menghabiskan isi di dalam mangkuk masing-masing. Arjuna menikmati kehadiran Yudistira. Lelaki di hadapannya tampak sibuk menyusun sesuatu untuk dikatakan. Terkadang ia terdiam dengan sendok yang melayang di tengah-tengah suapan. Atau kedua alisnya bertaut di tengah sampai keningnya mengerut. Arjunalah yang memutuskan untuk memecah sunyi ini terlebih dulu.
"Yud ...."
"Mm?"
"Kalo ada yang dimumetin, boleh bagi ke gue sih lain kali."
"Oh ...."
"Kali aja kalo dibagi jadi lebih enteng dikit."
"Lu-nya jadi ribet."
"Ya, daripada lu ribet sendiri. Jadinya gue juga dicuekin."
"Malu, Juna ...."
"Just try next time, okay?" Arjuna menekankan kata lain kali karena menurutnya, bagi keduanya, selalu ada lain kali. Waktu mereka masih panjang. Ia ingin Yudistira mengerti.
Lelaki itu mengangguk.
"Gue bakal bilang ini sekali. Lu dengerin baik-baik, ya, Yud."
"Apa tuh?"
"Gue ... nggak bakalan ... balikan sama mantan gue. Gue nggak sebodoh itu. Lu tau gue."
"Gue tau. Gue nggak pernah nganggep lo bodoh, anyway. Gue cuma—ah, malu, Jun."
"Lu nggak harus tiap hari pede petantang-petenteng sih, Yud. Sekali-kali insecure nggak apa-apalah. Biar ada variasinya idup gue."
"Kok idup lu, bukan gue?"
"Soalnya kelakuan lu ngaruh ke idup gue, ya, monyet! Lu kata kemarin didiemin tiga hari, riang gembira hidup gue?"
"Nah, gitu dong, emosi."
"Emang bangke kelakuan lu Yudistira Yogendra."
"Iya, ampun, Juna! Nggak akan lagi, janji. Lain kali gue ngomong."
"Bagus."
Arjuna mengambil dua botol Teh Sosro zero sugar favorit Yudistira yang selalu ia sediakan di kulkasnya. Yudistira menerimanya setelah sebelumnya Arjuna bukakan tutupnya. Lelaki itu tidak langsung meminumnya. Ia memperhatikan botol itu dengan tatapan yang Arjuna sulit definisikan. Lelaki itu kemudian tersenyum getir.
"Gue menyedihkan banget, ya?" Arjuna mencerna pertanyaan Yudistira lamat-lamat. Keduanya bukan orang baru bagi satu sama lain. Ia tak perlu meminta Yudistira berkata sesuatu dengan struktur kalimat lengkap untuk mengerti maksudnya.
"Dikit."
"Sialan." Yudistira tersenyum. Akhirnya ia meminum teh dinginnya. Arjuna sedikit lega melihatnya.
"Kalo ditanya harus jawab jujur, biar nggak nyusahin diri sendiri."
"Yaaa, nggak salah."
"Tapi manusiawilah, Yud. Nggak robot-robot amat ternyata lu. Bisa cembokur juga."
"Emang demen lu bikin gue sengsara."
"Emang. Tapi gue lebih demen liat lu seneng sih."
"Mm."
"Udah seneng belom ini? Nggak ada loh, yang gue masakin subuh-subuh gini. Ngajak sahur banget lu."
"Udah seneng. Seneng banyak. Thanks, ya, Juna."
"Sama-sama." Arjuna menatap lelaki dengan rambut lurus di hadapannya. Ia menghela napas panjang sambil tersenyum. Kemudian mengulurkan telapak tangannya untuk menyentuh satu sisi wajah Yudistira yang seketika memejamkan mata, menikmati usapan Arjuna di pipinya.
Satu tangan Yudistira menangkup telapak tangan Arjuna, lalu ia bawa ke hadapan bibirnya untuk dikecup. Arjuna harus menarik napasnya panjang supaya tidak lupa untuk menghirup oksigen. Yudistira bermain-main dengan jemarinya dan mengecupnya satu-satu. Ia berhenti di jari manis Arjuna. Lantas memanggil namanya, nyaris seperti bisikan.
"Jun ...."
"Iya?"
"Kalo gue beliin cincin, buat dipake tiap hari ... di sini ... boleh, nggak?"
Wah?
Arjuna menaikkan kedua alisnya. Sejenak ia memeriksa raut wajah lelaki di hadapannya. Meneliti apakah ada pertanda bercanda atau yang lainnya. Tidak ada. Hanya ada Yudistira dan sepasang manik dengan warna cantik yang memiliki kantung mata gelap. Tatapannya memohon. Bibirnya sedikit-sedikit ia jilat. Anak ini kentara sedang gugup.
Arjuna berdeham sebelum menjawab.
"Boleh aja."
"Serius?" Jika lelaki ini memiliki ekor, pasti sudah Yudistira kibas-kibas ke kanan dan kiri dengan semangat.
"Yoi. Asal pas beli gue diajak. Ntar lu beliin yang modelnya enggak-enggak."
Yudistira terkekeh sembari menggelengkan kepala. Tawanya terdengar seperti seseorang yang tengah tak percaya. Kedua bahunya melemas. Punggung telapak tangan Arjuna dikecup lagi sekali lalu ia bawa ke atas pahanya sendiri, menggenggamnya dengan kedua tangan di sana. Seperti ngeri Arjuna akan lepas jika ia tidak melakukan itu.
"Oke. Deal. Lu mau kapan, kita jalan. Gue ngikut aja."
"Deal."
"Makasih, Jun."
"Dih, lu mewek, ya?"
"Enggak, ini kelilipan aja dikit."
"Kelilipan apa, kocak!? Etdah, nangis beneran anak orang buset?"
"Kelilipan apa kek, seledri kali? Gue mana tau!"
"Ngarangnya nggak nyekil, buset. Sini lu."
"Apaan!? Jangan digodain, gue lagi rapuh!"
"Mau gue peluk, kocak! Mau nggak!?"
"Ngajak meluk kayak preman malak, anjir!?"
"Bacot, jangan banyak omong!"
"Galak banget kepiti—hmph"
"Sstt diem."
"Jangan dilepas."
"Iye."
"Ampe lusa."
"Ngelunjak lu, ntar tangan gue kesemutan."
Ada dua mangkuk bekas cuanki beserta sendok dan gelas bekas. Juga tambahan bumbu seperti saus, kecap, dan Totole di atas meja yang seharusnya mereka bersihkan sebelum sisa-sisa makanannya mengering dan susah dibilas. Namun, kedua manusia yang sedang saling mendekap di pinggir ranjang itu terlihat tidak peduli.
Cuci piring masih bisa dikerjakan nanti saja.
*
