Actions

Work Header

Just one wish, please?

Summary:

Permintaan Narain sederhana, kok. Narain cuma mau Julian lebih sering mengungkapkan apa yang dia mau, tapi Julian bisa apa kalau yang dia mau cuma supaya mereka tumbuh berdua dan lanjut menua bersama?

Notes:

A part of a socmed fic series on Twitter that you can read here

Please take note that Jihoon is Julian and Hanjin is Narain. Isinya cuma mereka pacaran aja (walaupun gak pacaran ???) Hope you have a good time reading <3

Work Text:

Hari ini mataharinya agak terik. Bahkan, mungkin kelewat terik buat Julian yang harus menempuh perjalanan pulang naik Scoopy kesayangannya—yang jelas-jelas nggak dilengkapi AC seperti mobil Narain. Sebenarnya tadi Julian sempat kepikiran buat minta dijemput aja. Dia tahu non-kekasihnya itu nggak ada kelas hari ini. Tapi ya gimana? Nggak mungkin juga dia ninggalin motornya di kampus. Walaupun kalau dipikir-pikir lagi, motor itu juga udah butut, dan mungkin aja kampus malah nggak bakal sadar kalau benda itu ditinggal selama seminggu.

Badannya terasa babak belur. Padahal nggak ada yang mau layangin tinju ke mukanya juga, sih. Partner tugas mata kuliah Metopen yang dia temui tadi banyak mau. Semua hal harus sesuai kemauan mereka, sampai-sampai Julian sempat mempertimbangkan untuk cari partner baru, walaupun itu berarti dia harus ngulang dari awal buat nentuin konsepnya.

Wong Kalahan

Kalau kata Arlo yang sama sekali nggak dia sanggah beberapa waktu lalu.

Narain sendiri udah berkali-kali minta dia buat lebih sering ngungkapin apa yang sebenarnya dia mau, alih-alih selalu jadi pihak yang cuma nurut dan manut aja. Serius deh, menurut Narain, Julian bener-bener perlu ngurus kebiasaan people-pleasing-nya itu demi kebaikan hidupnya sendiri.

Sekitar lima meter dari rumah, mata Julian, yang syukurnya masih berfungsi dengan baik, dapat menangkap keberadaan sosok Narain. Lelaki dengan tubuh yang lebih kecil darinya itu berdiri tepat di depan pintu, terlihat tengah menunggunya dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa di balik kacamata tebalnya.

Julian masih punya kesempatan buat puter balik, kan? Walaupun akhirnya motornya tetap diparkir di halaman, dan tungkainya yang mendadak lemas tetap dibawa mendekat ke Narain yang dalam sepengelihatannya bisa menerkam dirinya kapan aja.

 

"Kamu tuh bisa nggak sih berangkatnya tungguin aku bangun dulu?"

Ah… gitu.

"Kan udah dibilangin, kalau aku libur, biar aku aja yang nganter-jemput kamu. Gantian."

Lanjut Narain sebelum Julian bahkan bisa bersuara. Mulutnya yang baru terbuka untuk menjawab langsung terkatup lagi karena dia tahu Narain nggak akan semudah itu berhenti kalau sudah menyangkut kemauannya yang nggak dituruti begini.

Masalahnya tuh, untuk saat ini, mereka masih berada di luar rumah.

Julian otomatis melirik ke kanan dan ke kiri. Jalanan memang terlihat sepi, tapi itu bukan berarti nggak ada yang bisa mendengar mereka sekarang. Narain sih nggak peduli, tapi Julian punya jauh lebih banyak ketakutan yang untuk saat ini belum bisa ia akui.

Salah satunya adalah ketika orang lain mulai menyadari betapa dekatnya mereka.

Orang-orang di lingkungan sini selalu punya pendapat tentang segala hal yang sedikit berbeda dari apa yang mereka anggap normal. Julian sudah terlalu sering mendengar komentar yang dilontarkan ibu-ibu yang suka ngumpul di ujung jalan sambil tertawa. Tentang laki-laki yang dianggap terlalu dekat dengan laki-laki lain, tentang cara seseorang berpakaian, berbicara, atau membawa diri, pokoknya tentang hal-hal yang sebenarnya bukan urusan mereka sama sekali.

Masalahnya, hubungan mereka memang sudah jauh melewati batas sekadar teman. Dan Julian belum siap kalau suatu hari ada orang yang mulai menyatukan titik-titik yang selama ini mereka berusaha sembunyikan.

"Ayi…"

Julian mencicit pelan.

Satu tangannya terulur mencari jemari Narain yang selalu terasa lembut untuk ia tarik perlahan, berharap Narain dapat menangkap isyarat yang dirinya coba sampaikan dengan mati-matian lewat tatapan yang memohon belas kasihan. Wajahnya ia bentuk semenyedihkan mungkin, menirukan ekspresi anjing peliharaan kakaknya saat meminta jatah snack tambahan.

"Yi, masuk dulu, yuk? Aku butuh minum. Abis itu kita ngobrol lagi."

Kalau ini nggak berhasil, mungkin langkah Julian berikutnya adalah tiduran di aspal sambil nangis sesenggukan.

 

Beruntung bagi Julian, Narain segera menuruti. Bahkan nggak lanjut mengomel seperti yang sudah dirinya bayangkan. Sebaliknya, Narain justru menuangkan lemon tea untuknya dengan penuh perhatian, sebelum menjatuhkan diri di sisi Julian di sofa, cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.

"Maaf ya, tadinya aku mau minta anter, kok. Tapi aku nggak tega karena aku tau kamu baru tidur sebentar. Jadi, pikirku, mending waktu luangnya kamu pakai buat istirahat selama aku masih bisa ke mana-mana sendiri. I can take care of myself, Yi."

Jelas Julian dengan hati-hati. Kedua telapak tangannya mengusap permukaan gelas yang sedikit berembun, sedangkan kedua matanya ia bawa menatap apa saja selain membalas tatapan tajam yang rasanya mampu melubangi sisi kepalanya.

Hening kembali menggantung di udara. Sampai akhirnya sebuah embusan napas panjang dan berat terdengar dari sampingnya,

"What should I do with you ya, Juyi…"

Bersamaan dengan itu, Julian merasakan jemari lembut nan hangat yang sudah terlalu familiar baginya menyentuh tangannya lagi. Narain membantu melepaskan gelas yang sejak tadi digenggam Julian erat-erat, lalu mengambil alihnya untuk diletakkan di meja. Sebagai gantinya, jemari mereka saling bertaut, seperti pada banyak penghujung hari lain yang selalu mereka habiskan bersama.

Dan Julian, tentu saja, selalu tahu cara pulang. Kali ini, tujuannya adalah buku-buku jari Narain, tempat ia menambatkan beberapa kecupan ringan dengan penuh sayang.

"Do you remember what I asked you last time? Aku mau kamu juga bergantung sama aku. Aku mau kamu minta apa pun yang kamu mau atau butuhin dari aku."

Julian mengangguk pelan. Netranya mulai menemui tatapan penuh kasih yang sejak tadi masih setia tertuju padanya, juga dengan senyum lembut yang terukir di wajah sendunya. Narain tidak pernah sekalipun memaksanya, tidak pernah mendesaknya untuk berubah dalam semalam, yang justru ironisnya malah menjadi sebuah beban bagi dirinya. Narain begitu memercayainya, maka Julian juga harus menemukan cara untuk meredakan kekhawatirannya, kan?

"Jadi, mulai hari ini, setiap hari kamu harus punya seenggaknya satu hal yang bisa kamu minta dari aku."

Kata Narain lagi, kali ini lebih cerah daripada sebelumnya. Julian pun kembali mengangguk mengerti. Ia menggeser posisi duduknya hingga bahunya menempel pada bahu Narain, lalu menyandarkan sebagian berat tubuhnya ke sana. Alisnya berkerut, sedangkan bibirnya mengerucut tipis. Ekspresi itu rupanya tak luput dari perhatian Narain, hingga sebuah kekehan ringan pun lolos dari bibirnya.

"Bentar ya, soalnya permintaan aku yang ini penting."

"Oh ya?"

"Iya."

Narain hanya terkekeh lagi.

"Sepenting apa sih?"

"What if I ask for a kiss?"

Tanyanya mudah setelah beberapa saat, yang segera disambut dengan sebuah kecupan yang mendarat di pipinya.

Lalu di pelipisnya.

Lalu di ujung hidungnya.

Lalu di tempat-tempat lain yang membuat Julian langsung menyesali fakta bahwa hanya permintaan itu yang berhasil ia utarakan untuk saat ini.

"Ayi—"

Protesnya terputus oleh kecupan berikutnya dan berat tubuh Narain yang bertumpu padanya, mendorongnya hingga punggung Julian mendarat di permukaan empuk sofa ruang tamu mereka. Di atasnya, Narain masih sibuk membubuhkan ciuman-ciuman singkat ke seluruh wajahnya, sesekali diselingi tawa kecil yang terdengar terlalu menggemaskan baginya.

Permintaan Narain terlampau sederhana, kok. Narain cuma mau Julian lebih sering mengungkapkan apa yang ia inginkan. Hanya saja, yang Julian mau mungkin tidak akan sesederhana itu untuk diucapkan, terlebih lagi diterima.

Julian ingin mereka terus tumbuh bersama.

Julian ingin tetap bisa menemukan Narain di sampingnya setelah hari-hari buruk, setelah pertengkaran kecil, setelah tahun-tahun yang akan datang berlalu tanpa permisi.

Dan kalau semesta bisa berbaik hati sedikit saja kepadanya, Julian ingin mereka lanjut menua bersama juga. Kalau tidak di kehidupan ini, maka Julian akan menunggu di kehidupan berikutnya. Dan kalau masih belum cukup, dia akan menunggu lagi di kehidupan setelahnya, sebanyak apa pun kesempatan yang dibutuhkan semesta untuk mengabulkan satu-satunya keinginan yang ia miliki.

Narain boleh saja bilang permintaannya sederhana. Tapi bagaimana Julian bisa menjelaskan bahwa hal yang benar-benar ia inginkan adalah Narain seorang?