Work Text:
Angin menyapu rambut Taesan, seolah memberi kabar bahwa malam ini akan jadi malam yang dingin, lalu angin seolah pula bernasehat; pulang, kalau larut di sini, tidak baik. Dan Taesan, acuh tak acuh. Karena Taesan memakai kaos lengan pendek dihiasi kalung yang ia dapat dari pasar. Tidak begitu mahal.
Derap langkahnya melambat, kemudian melompat, tangan Taesan memegang ujung dinding untuk dilewati. Setelah berhasil mencapai seberang dinding, Taesan segera mencari tempat untuk duduk. Biasanya, di pom bensin terbengkalai ini, tidak ada siapa-siapa. Mangkanya saat Taesan mencari, ia malah bertemu dengan seorang lagi. Berdiri sambil mengetuk pom.
Taesan menaikkan alis kanannya. Tumben ada orang. Dia merogoh sakunya, guna cari koin seratus rupiah, karena siapa tau bisa dia lempar ke orang yang berada di depannya. Aneh, memang, si Taesan itu punya banyak cara unik biar bisa mendapatkan atensi orang di sekitarnya. Kelampau aneh lagi, soalnya, seratus rupiah tadi berhasil Taesan temukan kemudian ia lempar ke orang depan dia. Orang depan Taesan, pemilik bibir manyun ketika orang ini berpikir, tersentak dan berdecit.
Taesan, tidak tahu malu, malah cengengesan. Usaha mengambil perhatian dengan cara unik itu sukses besar. Kalau Taesan punya kembang api, sudah ia nyalakan dari tadi.
Pemilik bibir manyun ketika berpikir itu lantas mengusap bagian tubuhnya yang dilempari koin, mana seratus rupiah juga, lalu mendelik sambil teriak.
“Lu abis ngapain?!” katanya. Dia juga melangkah mundur agar bisa memfokuskan matanya kepada sang Pelempar Koin. Karena pencahayaan pom bensin yang terbengkalai masih nyala itu mitos, cuma ada bulan benderang.
Taesan masih cengengesan, di sela tawanya Taesan mencoba meminta maaf. Gesturnya memang bener mau minta maaf, tapi Pemilik Bibir Manyun itu tidak percaya kalo Taesan beneran mau minta maaf.
Taesan mulai membuka matanya lebar, si Manyun itu ternyata bisa makin manyun. Jadi, Taesan berujar, “Oke, oke, gue minta maaf.” sambil tos ke pundak si Manyun.
Si Manyun menaikkan bibir sebelah kanan, mengejek, “Curiga lu beneran gak mau minta maaf.”
“Yaudah sih.”
Taesan akhirnya tidak tertawa mau nangis. Kini dia tenang, menaruh kedua tangannya di saku. Si Manyun kini yang memulai percakapan, memulai sapaan pantas. “Lu sering kesini?” kata Manyun dengan melipat tangan di dadanya.
Taesan memajukan serta memposisikan dirinya sejajar dengan bibir Manyun, “Hm? Oh iya, paling.”
“Hah paling …?”
Acuh tak acuh, Taesan menaikkan kedua bahunya tidak tahu. Pikir Manyun, paling pecandu narkoba yang lagi tinggi, “Lu pengedar apa konsumen?”
Dibuat mendelik sama pertanyaan Manyun, kedua tangan Taesan mengambil bahu kanan kiri, bertanya serius ke Manyun. “Gue keliatan orang nyabu gak anjing?!”
Manyun melepas kedua tangan Taesan, sambil mengeluarkan rintihan ah begitu, lalu mulai memberi jarak. “Udah tengah malem ini anjing, kalo bukan pengedar apa coba?!”
“Lu juga di luar!”
“Beda!”
“Enggak ada yang beda goblok!”
Manyun menghelas nafas, harusnya Manyun lebih santai, harusnya Manyun tidak langsung mengasumsi semua di dunia yang keluar di malam hari itu Pengedar. “Oke, oke, lu bukan pengedar maupun konsumen.” Taesan dengan cepat menjawab, “Emang bukan!”
Setelah lumayan tenang, Taesan tahu kalau si Manyun itu namanya Sungho. Masih abu asalnya di mana, dari mana, nyata atau bukan. Tapi karena Sungho juga pakai kaos lengan pendek dan jeans, dan kalau berpikir bibirnya manyun, pasti Sungho itu nyata.
“Tadi tau enggak gue lempar koin harganya berapa?” tanya Taesan sambil memainkan kerikil, pandangan masih lurus ke Sungho. “Gak keliatan, Dongo.” seolah itu hal yang patut disayangkan, Taesan jawab, “Padahal kalo tau besok hujan uang.” “Ngablu bangsat.”
Taesan dan Sungho tidak minta maaf apabila tutur katanya kayak orang tidak disekolahkan tinggi-tinggi oleh orang tua. Buktinya, mereka pada pukul satu malam ini, bukannya tidur malah pergi jalan-jalan ke pom bensin terbengkalai. Kalau Taesan tujuan ke pom bensin terbengkalai soalnya sudah sering ke sini. Kalau Sungho, mau upacara pemakaman karena bensin makin mahal.
Tempatnya memang sedikit angker, kata warlok udah sering ada teriakan, cekikikan, dan petasan. Padahal ketiga itu biang keroknya Taesan semua. Jadi, Taesan dan Sungho memutuskan pergi lagi, tanpa arah. Taesan dahulu yang keluar disusul oleh Sungho di belakang. Di depan dinding pom bensin, mereka suit. Kalau Sungho kalah mereka akan ke kiri, kalau Taesan kalah mereka akan ke kanan.
Di hitungan ketiga, Sungho kalah cepat dan Taesan tidak terima. Kemudian meminta pertandingan ulang. Ronde terhitung ada empat kali. Hasil akhir, Sungho menang jadi mereka ke arah kanan.
Di tengah jalan mereka berbincang apa yang ada di sekitar, bukan diri mereka. “Sungho ada tupai, awas nanti dieekin.” kata Taesan ketika mereka berada di bawah remang lampu jalanan dan tupai lewati kabel di atas mereka. “Semoga lu yang kena, San.”
Lalu mereka melewati supermarket bukan 24 jam, “Yah, enggak 24 jam …” Taesan kecewa tapi ceria lagi, “Yaudah sih. Gue gak bawa duit.” lalu dia julurkan lidah. Mirip kucing. Memang humor Sungho itu jelek, jelek banget, Sungho ketawa seraya dorong Taesan.
Kali ini mereka dihadapkan dua jalur. Kalau Taesan kalah, mereka berjalan berdampingan rel kereta api. Kalau Sungho kalah, mereka berjalan melewati gedung tinggi, seperti parkiran, sudah terbengkalai.
“Sumpah, Ho, lu jangan lambat mulu!” protes Taesan karena ini sudah ke-5 kali mereka suit tanpa hasil. Di sisi lain, Sungho jadi terbahak-bahak, terlampau konyol situasi mereka. Taesan frustasi, dia peragakan tangan menunjuk otak, “Lu punya penyakit ijbolitis kah?” Sungho dengan memegang perut mencoba mengeluarkan suara, “S … sumpah …” lalu dia tertawa lagi. Taesan menghelas nafas kemudian melakukan suit dengan dirinya sendiri. Taesan anggap tangan kanan bentuk gunting itu Sungho, lalu tangan kiri Taesan bentuk kertas itu Taesan. “E .. eh! Lu mau … lewat situ?” tanya Sungho sambil terengah-engah. “Iya.” Taesan pegang lengan Sungho lalu seret Sungho bersamanya di jalur kereta.
Tidak jauh dengan rel kereta, tidak jauh pula dengan pemukiman warga. Ada beberapa orang yang masih bangun, berbincang, ada warkop masih ramai. Taesan mau mampir namun dia urungkan niatnya, mengingat duit saja dia tinggalkan. “Lu tau gak sih San?” Sungo mulai bertanya basa-basi. Pikir Taesan itu pertanyaan retoris. Pasti jawabannya, “Enggak.”
“Busuk jawaban lu.”
“Let it be then.”
Di palang kereta selanjutnya, tanpa suit Sungho menarik Taesan ke arah kiri. Hampir saja Taesan masuk got karena tarikan Sungho yang lumayan keras dan tak terstruktur. Gravitasi melupakan Taesan selama sepersekian detik. “Sumpah awas anjir! Gue masuk got ntar bau gue …” Sungho melirik Taesan ke belakang, “Lah bukannya udah?” “Sumpah gue bau?” “Belakang lu kan pembuangan sampah San.” Taesan membalikkan badan sepenuhnya. Terlihat pembuangan sampah, tumpukannya lumayan, padahal tidak ada pemukiman. “Tai.”
Di depan mereka kini ada sungai, besar. Sungho memberhentikan jalannya. Duduk di pembatas, pandangannya fokus ke sungai. Pencahayaannya kurang, lampu jalanan banyak yang mati karena jadwal pemadaman bergilir. Taesan berhenti di sebelahnya, menaruh kedua tangan agar dapat bersender di pembatas. “Ada buaya gak ya …” Taesan kira air sebutek ini mungkin saja di bawahnya ada buaya. “Kalo ada, udah ketangkep.” buyar sudah imajinasi Taesan jika buaya itu melipir ke arah mereka berdua kemudian Taesan kena gigit. “Tau gak kalo buaya bisa mati boong-boongan, Ho?” Sungho mengernyitkan dahi, “AI ya itu?” “Gatau.”
Sungho menghadap ke arah langit, bergumam kecil kalau dia tidak mau rapat organisasi lagi. Sementara Taesan selalu menyempatkan melirik wajah Sungho yang cantik di bawah rembulan. Walaupun lagi pemadaman bergilir, Taesan pikir bahwa Sungho bisa jadi tenaga surya di pemukiman sini. “Lu panel surya ya, Ho?” Sungho mendelik, bibirnya sedikit membuka, seolah tidak percaya asal bunyi Taesan itu beneran asal bunyi banget.
“Atas dasar apa coba lu ngomong gitu oon …?”
“Asbun.” Taesan jawab singkat padahal mau peluk erat pinggang Sungho. Kelihatan ramping, coba aja kalau tangan Taesan bisa lingkari pinggang Sungho.
Untuk terakhir, Sungho menarik nafas, ia pejamkan mata, hembuskan nafasnya. “Ayo, San.” ajak Sungho beranjak dari duduknya di pembatas. Taesan angguk, walau berhenti dulu sejenak demi melihat paras Sungho dari samping sebelum Sungho membelakangi Taesan.
Mereka jalan sampai di perempatan. Dan Sungho kini mulai prosesi pamit. “Sampe sini ya? Gue mau balik ke kosan.” kata Sungho, dilanjut, “Makasih udah nemenin gue padahal gue kira lu pengedar.” itu berhasil membuat Taesan terkikih. “Emang gentleman.” “Najis.”
Ketika Sungho mulai melangkah maju, Taesan tidak sengaja memegang lengan Sungho. Seperti rasanya, Taesan tidak mau itu berakhir dengan cepat. Harusnya akhirnya tidak secepat ini. Munculah pertanyaan yang dibawa angin kepada Taesan; masa kita dipertemukan hanya untuk ini doang. Sungho melihat Taesan dengan mata berbinar dan penuh tanya.
Namun Taesan itu laki pengecut. Jadi, ketika Sungho pastikan Taesan tidak jadi bertanya, Taesan diam di bawah lampu jalanan berkedip rusak sambil melihat Sungho tenggelam di gelapnya malam. Tanpa lambaian, penuh kenangan.
Di tahun-tahun berikutnya, Taesan masih sering ke perempatan tempat terakhir ia dan Sungho bertemu. Entah sebab apa angin malam itu membawa Taesan bertemu Sungho yang di kemudian ceritanya sebatas cinta satu malam. Ralat karena hanya Taesan yang merasakan ‘cinta’ tersebut. Walau sudah lama, Taesan masih coba mengulang kejadian malam itu. Apabila Taesan menarik Sungho ke dekap Taesan, contohnya.
Angin memang punya cara sendiri agar Taesan kerap menyesal pada diri sendiri tentang perjalanan hidupnya. Masa ia harus cari di internet perihal keberadaan Sungho?
Tidak tahu. Hari ini, Taesan sekalian bawa bunga. Kelopaknya ia tabur ke perempatan itu. Aneh, memang, seperti ritual kalau sudah tidak percaya Tuhan. Sungguh, kata Taesan, dia cuman mau taburi dengan bunga. Kurang jelas alasannya apa.
Setelah selesai, ia pergi. Mungkin ketika Taesan petik kelopak bunga yang baru saja ia beli, dia sambil mengulang, ketemu lagi atau enggak.
Sampai Taesan selesaikan sidang skripsi besok, Taesan akan berharap bahwa besok akan jadi terakhir kalinya dia datangi perempatan ini. Terlepas apapun.
