Work Text:
***
“Oke, bulan depan, lo sama Max jadi fix berangkat ke Jakarta?”
Siang itu, George dan Alex baru saja menyelesaikan kelas Politik Ekonomi Internasional—serius, selama tiga semester kuliah Hubungan Internasional, George berani bersumpah kalau mata kuliah ini adalah matkul KEMATIAN. Benci banget dia kalau sudah bahas supply and demand, comparative advantage… mana dosennya sering ngasih tugas DILUAR NURUL.
George menoleh ke Alex yang menghampirinya, dengan hoodie yang tersampir di lengan. “Iya. Sumpah gue udah muak banget dengerin si Toto yapping, jadi tadi dua jam gue cuma scroll KAI Access,” George mengangkat bahu.
Alex tertawa. Mereka turun dari tangga. “Kereta Malang–Jakarta berapa, sih? Eksekutif, kan?”
“Yoi, dong, yang enak sekalian aja, toh nanti di reimburse fakultas,” jawab George.
“Yeu, kayak fakultas lo nggak medit aja,” sahut Alex. “Jadi berapa tiket Malang–Jakarta?”
“700,” jawab George, ia menunjukkan layar ponselnya yang berisi email dari KAI Access. “Udah secured, tinggal latihan dan bikin position paper.”
Keduanya kini duduk di kantin fakultas, rush hour membuat seluruh tenant kantin begitu ramai, sehingga mereka akhirnya mengurungkan niat untuk membeli makanan di kantin sekarang. Menunggu sampai agak lengang saja.
George mengetik sesuatu di laptopnya. Ia menatap layar lekat-lekat, membaca rentetan kalimat yang tertera di spreadsheet yang baru saja dibagikan oleh panitia penyelenggara Jakarta MUN melalui email nya.
2026 Jakarta Model United Nations
Motion: Stability in International Politics
Committee: United Nations of General Assembly
George tersenyum lebar. Mosi ini sudah dikuasainya di luar kepala. Lantas, he scroll down through the spreadsheet, searching for his name and country that he will represent.
…
George William Russell — People’s Republic of China
…
…
George makin tersenyum lebar. Posisinya di Jakarta MUN nanti sangat strategis. Ia sudah membayangkan argumen seperti apa yang akan dikeluarkannya sebagai delegasi Republik Rakyat Tiongkok di MUN dengan mosi stabilitas internasional. And then, he continued scrolling down.
…
Max Emilian Verstappen — United States of America
…
Senyum George luntur seketika. Matanya melebar. Tubuhnya menegang. Ia membaca kalimat di layar laptopnya berulang kali, seolah kalimat yang baru saja dibacanya bisa berubah kapan saja. Namun nihil, nama Max Emilian Verstappen yang bersanding dengan United States of America tidak berubah.
“Alex.”
Alex mengangkat alis. “Apaan?”
George meneguk ludah. “Gue. Delegate. China.”
“Motion nya?”
“International stability.” Jawabnya cepat.
Alex memiringkan kepala, heran dengan George yang kini memberinya tatapan kosong saat temannya itu tengah mengikuti kuliah Politik Ekonomi Internasional. “Good. Then, what’s the problem? Ekspresi lo kayak lagi ditunjuk Toto ngejelasin history of mercantilism theory.”
“Max.”
“Kenapa?”
George memutar laptonya, menunjukkan layar spreadsheet di hadapan Alex.
2026 Jakarta Model United Nations
Motion: Stability in International Politics
Committee: United Nations of General Assembly
…
George William Russell — People’s Republic of China
…
…
…
Max Emilian Verstappen — United States of America
…
“Pffttt—” Alex menahan tawa. “The fuck, George??!!”
“The fuck.”
Alex tergelak keras. Membuat orang-orang di kantin FISIP saat itu, pada pukul sebelas siang yang mana adalah rush hour puncak keramaian kantin, menjadi memusatkan perhatian sejenak kepada tawa Alex yang begitu menggelegar. “Lucu banget, George, gila, lucu banget??? The idea of you both against each other di ruangan JMUN udah lucu banget di kepala gue. Apalagi… Aduh, US vs China banget, nih? HAHAHAHAHAHA ANJINGGGG aduh sakit banget perut gue demi Tuhan.”
George memijat pelipis nya. Ia menghela napas, mengabaikan Alex yang masih tergelak.
United States of America and People’s Republic of China. Two countries that have very different political perspectives. And in MUN, delegates of each country are always debating against each other.
George menyadari bahwa beberapa pekan ke depan, ia dan Max-nya akan mulai berlatih bersama. Bukan sebagai tim, melainkan sebagai perwakilan dari dua negara yang sangat berlawanan. George tahu bahwa ini hanyalah simulasi, hanyalah penempatan delegasi dalam kompetisi. Namun untuk sesaat, ia ingin membantah, ironis sekali membayangkan bagaimana rasanya berdebat dengan seseorang yang selama ini selalu dipilihnya untuk dipeluk erat tiap kali mata kuliah Politik Ekonomi Internasional memberikannya tugas yang too much.
***
“Okay, so, how is your position paper, Delegate of China?”
George mencebik, memukul bahu lelaki di hadapannya. “Benci banget, stop!”
Max–lelaki yang kini duduk bersandar di headboard ranjang kamar kos George, memeluk erat si pemilik kamar yang kini duduk di pangkuannya–tertawa pelan. “Kok gitu? Kan aku mau check on you, Sayang. Katanya mau latihan bareng buat JMUN?”
Bibir George makin maju lima senti. Kini, ia menatap Max lekat-lekat. “Bayangin, Max. Kita udah ngerencanain mau saling kasih sinyal pas POI. Sekarang malah harus saling serang beneran.” Suaranya mencicit di akhir.
“Lucu, sih.” sahut Max.
“Nggak lucu, Max.”
“Lucu banget, George.” Max terkekeh. “Aku US, kamu China. Mosi-nya international stability. Ini kayak ditakdirin buat jadi enemies to lovers tapi versi kebalik, because we’re already lovers, terus malah jadi enemies on paper.”
George menatapnya. Awalnya masih kesal, tapi lama-lama ia ikut tersenyum. Sebab sulit sekali untuk tetap kesal jika si pemilik mata sebiru lautan di hadapannya ini sudah tertawa lebar. “Oke, oke. Tapi serius, ini gimana? Kita kan udah biasa nyusun argumen bareng. Sekarang kita harus mikir lawan posisi masing-masing.”
“Ya udah,” Max mengangkat alis, masih tersenyum tipis, “berarti kita udah harus mulai latihan beneran. Kita debat di sini. Sekarang.”
George ikut mengerutkan dahi. “Sekarang banget? In my room? With me on your lap gini?”
Max terkekeh lagi. “Kenapa? Takut kalah?”
Itu membuat George duduk tegak, menyingkirkan tangannya dari bahu Max, kemudian turun dari pangkuan kekasihnya. Kini, mereka berdua duduk tegak, berhadapan di tengah ranjang. “Max, kamu harus ngaku kalau tiap ngomongin sovereignty, posisi China selalu lebih masuk akal.”
“Nggak akan pernah.” Sahut Max.
“Coba aja.”
"Oke," Max memulai, mencoba menahan senyum supaya terdengar serius. "Sebagai delegasi Amerika, aku mau menegaskan, bahwa international stability always needs rule-based system, bukan absolute sovereignty yang cuma dipakai buat nutupin tindakan sepihak."
George langsung memasang ekspresi datar khas delegasi serius, meski matanya masih berbinar geli. "Delegasi Amerika lupa, rule-based system itu sering banget dipakai buat melegitimasi kepentingan negara besar doang. China percaya bahwa stabilitas datang dari penghormatan kedaulatan negara, bukan dari double standard yang ditentuin sepihak."
“Double standard?” Max pura-pura tersinggung. “Say the example, Delegate of China.”
“Laut China Selatan,” George menjawab cepat, “di mana negara-negara besar non-claimant suka-suka kirim kapal perang atas nama freedom of navigation, padahal itu jelas-jelas masuk wilayah sengketa yang harusnya diselesaikan negara-negara di kawasan.”
"Itu namanya jaga keamanan kawasan dari klaim sepihak, George—eh, Delegate of China," Max buru-buru mengoreksi diri, hampir lupa peran masing-masing. "It is not a kind of double standard which you mentioned earlier."
Mereka berdua terdiam sejenak, saling menatap dengan ekspresi setengah serius setengah geli, sebelum akhirnya sama-sama tertawa.
“Oke ini aneh banget,” Max berkata, masih tertawa. “Aku lagi pacaran sama kamu, tapi sekarang ngerasa kayak lagi ngelawan musuh bebuyutan.”
George menggeleng, masih terkekeh, lalu merangkak pelan, duduk di samping Max kemudian membawanya bersandar di headboard ranjang. Dipeluknya lengan Max, lantas ia meletakkan kepalanya di bahu lebar sang kekasih. “Nggak musuh kok. Cuma... lawan debat yang kebetulan jadi pacar. Atau pacar yang kebetulan jadi lawan debat. Udah, lah, pilih aja mana yang lebih enak didenger.”
Max balas menggenggam tangannya, senyumnya melembut. “Selama abis sidang kita tetep bisa pulang bareng dan kamu nggak ngambek gara-gara kalah debat, aku bakal tetap oke-oke aja, sih.”
“Siapa bilang aku bakal kalah?”
“Tadi kan aku yang punya argumen lebih kuat soal freedom of navigation.”
“Itu menurut kamu,” George membalas, mencubit pelan punggung tangan Max. “Tunggu aja pas hari-H, aku bakal bikin kamu kewalahan jawab POI aku di depan satu ruangan penuh orang.”
“Try me,” Max menjawab, tangannya bergerak mengelus kepala George dengan lembut. “Tapi inget, habis sidang, siapa pun yang menang debat, kita tetep harus pelukan gini. Sebagai US sama China yang lagi gencatan senjata.”
***
Sore itu, George sudah menyelesaikan kuliah terakhirnya. Kini ia sudah berada di kontrakan Max—rumah kecil yang disewa Max dan teman-teman SMA nya yang melanjutkan kuliah di Kota Malang. Kontrakan ini kebetulan sedang kosong sore ini, sebab nampaknya penghuni-penghuni yang lain masih ada urusan di kampus.
George duduk di sofa kecil ruang tamu kontrakan. Tubuhnya menempel erat dengan kekasihnya, yang sedang menyusun position paper di laptop yang kini berada di pangkuan.
George membaca rentetan kalimat yang diketik Max.
“Kamu udah ngetik rule-based order empat kali, tuh.”
Max berhenti mengetik, ia melirik sekilas kepada George yang terlihat sedang mengamatinya. “Kenapa, Sayang?”
“Don’t ‘sayang’ me.” George mendengus. Ia menegakkan tubuhnya, tidak lagi bersandar kepada Max. “Rule-based order yang digadang-gadang sama Delegasi Amerika tuh sebenarnya dibuat oleh siapa, dan diberlakukan oleh siapa, sih? Bukannya institusi-institusi yang sering disebut-sebut sama kalian itu, isinya ya cuma kalian-kalian aja? Dari tahun 1945 pas pertama kali kalian mencetuskan konsep institusi itu, keterlibatan negara-negara Global South nyaris nggak ada. Itu, tuh, yang kalian sebut sebagai international stability?”
Max terkekeh, ia tersenyum kecil melihat George-nya yang sudah mulai locked in. Ia selalu menyukai sisi George yang ini. Tajam, ambisius. Tapi tidak dipungkiri bahwa dirinya jauh lebih menyukai George yang bermanja-manja padanya.
“Okay, that’s a fair historical point, Delegate of China,” Max menjawab dengan tenang. “But institutions evolve. The UN Security Council, WTO, Bretton Woods—all of them have all undergone reform processes. Kami nggak klaim bahwa tatanan saat ini sempurna, tapi kami berpendapat bahwa tatanan ini lebih baik daripada dunia di mana negara-negara besar cuma sekadar mendiktekan ketentuan kepada tetangga yang lebih kecil tanpa adanya konsekuensi yang disepakati bersama di international institutions.”
George memiringkan kepala. “Then, would the Delegate of US explain why reform processes you mentioned have repeatedly digunakan cuma untuk pertahanin hak veto dan dominasi kalian, alih-alih meredistribusi pengaruh kepada negara-negara berkembang?”
“Because, reform is incremental by design. Multilateral systems require consensus, and consensus takes time.” Max menjawab.
George mengambil napas, hendak menyanggah kembali. Namun lidahnya seolah kelu, ia hanya bisa membuka mulut, lantas menutupnya kembali.
Hal itu kemudian membuat Max mengulum senyum, sebuah gestur menahan tawa.
“Delegasi China kayaknya menawarkan alternatif lain, yaitu berupa a world order shaped by spheres of influence and bilateral coercion, isn’t it?”
George mengangguk pelan. “Yes, it is.”
Max meletakkan laptopnya di meja ruang tamu, kini ia memfokuskan diri sepenuhnya kepada dialog debat spontan yang muncul dari George-nya. “We thought that the alternative the delegate of China seems to propose has historically proven less stable.”
George melebarkan mata. Tidak terima dengan argumen Max yang membantah inti dari keseluruhan stance nya. Namun sebelum ia berhasil membuka mulut, Max sudah memotong kembali.
“Apakah kemudian kalian menyarankan bahwa sengketa regional yang terjadi antara negara besar dengan negara berkembang itu cuma diselesaikan secara bilateral tanpa adanya pengawasan dari badan hukum internasional?”
George menelan ludahnya susah payah. Tatapannya yang sedari tadi tajam kini mulai melunak, menatap Max dengan pandangan memelas.
“Max…”
“Berarti nggak stabil juga, dong? Yang satunya negara kuat, satunya lebih lemah. Gitu, Delegate of China?”
“Max, I…” Mata George mulai berkaca-kaca. Bibirnya mencebik, maju lima senti.
“Kenapa, Sayang?” Max bertanya lembut, kontras sekali dengan nada bicaranya barusan saat berargumen dengan tajam dan arogan. Lantas, saat menatap mata biru kesukaannya yang mulai digenangi air mata yang siap tumpah kapan saja, ia tersenyum, membawa George ke dalam pelukan.
George balas memeluk Max erat-erat. Bahunya bergetar, ia mencengkram erat kaos yang dikenakan Max. “Oh, my darling…” Max mengelus punggung George dengan lembut, penuh sayang.
“Max, I… I think I can not do this.” George berkata lirih.
“Sayang,” Max melepas pelukan, tersenyum lembut sembari mengusap ujung mata George yang basah, “why would you say that?”
“Aku nggak bisa ngelawan kamu.” George menunduk dalam-dalam, memilin ujung kemeja nya seperti anak kecil yang baru saja dimarahi. “Aku cancel aja, kamu aja yang berangkat ke Jakarta minggu depan.”
“No.” Jawab Max dengan tegas. “Kita kan daftar bareng, selama ini latihan bareng, masa cuma aku yang berangkat?”
“Aku nggak bisa.”
“Yes, you can.” Max menarik pelan lengan kekasihnya, membawa George kini duduk di pangkuannya. Satu tangannya melingkar di pinggang George dengan lembut, sedangkan yang satu lagi membelai wajah George, seolah Max sedang berusaha memahat sesuatu dengan lembut di atas permukaan kulit kekasihnya. “Kamu rajin ikut MUN berkali-kali. This is just a piece of cake for you, Sayang.”
George menggeleng, bibirnya masih maju, dengan air mata yang mulai menetes. “Not for this time, Max.”
“Kalau kamu cancel, aku juga nggak akan berangkat.”
“Max—”
“Sayang, we still have a lot of time to practice. Jangan cuma kamu kalah debat sekali sama aku, terus kamu ngambek nggak jadi ikut.” Ucapnya sembari mencubit pelan hidung George.
George memukul pelan dada kekasihnya. “Nyebelin.”
“I am.”
Setelahnya, Max memeluk George erat-erat. Sesekali ia mengecup kepala George pelan, tangannya bergerak mengelus punggung kekasihnya dengan lembut. Mereka terdiam dalam posisi ini cukup lama. Hingga tidak sadar bahwa Carlos—salah satu teman Max yang ikut menyewa rumah kontrakan ini—baru saja pulang dan langsung mendapati kedua sejoli tersebut tengah berpelukan dan pangku-pangkuan di ruang tamu.
Carlos berdehem. “Hello, get a room, please!”
***
Ruang sidang utama Jakarta Model United Nations sudah penuh sejak pukul delapan pagi. Plakat-plakat negara berjajar rapi di atas meja delegasi berbentuk tapal kuda, lampu sorot memantul dari logo PBB raksasa yang tergantung di panggung utama. Mosi hari itu tertulis besar di layar proyektor:
UNGA — Stability in International Politics
Max menata kembali position paper-nya untuk ketiga kalinya. Dari sudut matanya ia bisa melihat kekasih manisnya, George—delegasi China—duduk dua baris di seberangnya, sibuk mencoret-coret catatan dengan pulpen yang diketuk-ketukkan ke meja, kebiasaan yang sudah Max hafal sejak MUN pertama mereka di semester satu. Max tertawa kecil saat menyadari bahwa dua jam yang lalu, ia baru saja memakaikan George dasi kupu-kupu. Dua jam yang lalu, mereka masih berciuman lembut di kamar hotel. Detik ini, mereka harus berhadapan dengan argumen kuat yang saling berlawanan.
“Delegates, please take your seats. The session will begin in five minutes,” suara chairperson menggema dari mikrofon podium.
Max menarik napas. Sebagai delegasi Amerika Serikat, ia tahu persis arah argumen yang harus ia bawa. That international stability must be maintained through a rule-based order, freedom of navigation, and balance of power that ensures no single actor dominates the system. Kekasihnya—George, di sisi lain, sudah menyiapkan pendekatan berbeda. Max paham betul bahwa sebagai delegasi Republik Rakyat Tiongkok, George pasti akan menekankan tentang state sovereignty, non-interference, and criticism of what China terms "unilateral hegemony" cloaked in the rhetoric of multilateralism.
Sidang dibuka dengan general speakers list. Delegasi Prancis bicara soal multilateral cooperation, delegasi Rusia menyinggung spheres of influence, delegasi India menawarkan posisi non-aligned yang hati-hati. Lalu chairperson memanggil nama yang ditunggu separuh ruangan, karena semua orang tahu betul, sesi Amerika-China di MUN ini selalu jadi tontonan.
“The delegate of the United States of America, you have the floor.”
Max berdiri, menyesuaikan jas yang melekat di tubuh tegapnya, lalu mulai bicara dengan nada yang ia latih agar terdengar tegas tanpa arogan.
“Thank you, chair. The United States believes that stability in international politics is not the absence of competition, but the presence of rules that all states—regardless of size or power—agree to abide by. Stability does not mean silence in the face of coercion. It means freedom of navigation in international waters, respect for sovereignty of all nations including smaller states in contested regions, and a multilateral system where power is checked, not concentrated.”
Ia melirik sekilas ke arah George sebelum melanjutkan.
“We are concerned by unilateral actions that destabilize regional security architecture under the guise of historical claims. A rule-based international order is the foundation of lasting peace, not a euphemism used to justify the status quo of any single power.”
Beberapa delegasi mengetuk meja tanda setuju—gestur khas MUN untuk applaus. Hingga akhirnya, sesi berlanjut ke beberapa delegasi lain. Jerman bicara soal European strategic autonomy, Brazil menyinggung South-South cooperation, sebelum chairperson akhirnya memanggil China.
“The delegate of the People's Republic of China, you have the floor.”
George berdiri, menyusun kertas di tangannya.
“Thank you, chair. China believes that true stability in international politics begins with respect for sovereignty and the principle of non-interference in the internal affairs of other states. The greatest threats to global stability in the modern era have not come from states defending their own borders and interests, but from external powers imposing political conditions, military presence, and economic sanctions on nations exercising their sovereign right to development.”
Ia menatap Max sekilas, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih tegas.
“China proposes a multipolar vision of stability—one where no single nation, however powerful, sets the terms of international engagement for the rest of the world. We support a UN-centered international system, not a system centered on the strategic preferences of one capital.”
Meja-meja di ruangan bergetar oleh ketukan tanda setuju, kali ini lebih ramai untuk China. Max tersenyum kecil, ia mengangguk tipis. Di seberangnya, George mati-matian menahan diri untuk membalas senyuman itu.
***
Saat sesi moderated caucus dimulai dengan topik "The Role of Major Powers in Maintaining or Disrupting Global Stability," suasana makin memanas. Delegasi-delegasi lain mulai memihak salah satu blok argumen, namun perdebatan inti tetap berpusat pada Max dan George, sebab merekalah dua kekuatan besar yang nantinya akan saling menyandera argumen satu sama lain.
Di tengah caucus, saat giliran bicara bebas dibuka, Max berdiri lagi.
“Chair, I'd like to respond directly to the delegate of China's framing of US engagement as inherently destabilizing. We emphasize that strategic presence is not the same as occupation. Alliance structures like NATO, or partnerships in the Indo-Pacific, exist because states choose to align with shared values and mutual defense commitments. Not because they are coerced.”
George tidak menunggu izin chairperson, ia langsung mengangkat placard.
“Point of order, chair. May I respond directly?”
“The chair will allow a direct exchange, given the relevance to the moderated caucus topic.”
George berdiri, menatap Max langsung. Bukan ke arah chairperson seperti protokol formal, melainkan langsung ke mata Max, seolah forum di sekitar mereka menghilang untuk sejenak.
“‘States choose to align’, such an interesting choice of words, Delegate. Choice implies the absence of economic leverage, security guarantees contingent on political alignment, and historical patterns of intervention when smaller states choose differently than what a major power prefers. China does not claim moral purity in great power politics. But neither should the United States."
Max menahan tawa kecil, kali ini terdengar lebih ke arah kagum daripada terganggu. “Fair. I'll concede that no major power—including mine—has clean hands in this conversation. But the question before this committee isn't who has the cleanest record. It's what framework produces the most stability moving forward. Multipolarity without institutional checks risks becoming exactly the kind of unchecked power competition this committee is trying to prevent.”
“And unipolarity,” George membalas cepat, “dressed in multilateral language, risks the same outcome, simply with one set of rules written by one capital, and stability defined as whatever does not challenge that capital's interests.”
Ruangan benar-benar diam sekarang, semua delegasi menyimak pertukaran yang terasa lebih personal daripada debat formal biasanya. Chairperson sendiri tampak ragu untuk memotong, membiarkan momentum berjalan beberapa detik lebih lama dari protokol normal.
Max menatap George lama. “Then maybe,” katanya, suaranya sedikit melembut, lepas dari nada formal podium, “stability isn't something either of us can define alone. Maybe it requires both frameworks sitting at the same table, willing to actually negotiate instead of just scoring points.”
Untuk pertama kalinya sepanjang sesi, George terlihat sedikit terkejut. Kali ini bukan oleh argumennya, tapi oleh caranya disampaikan. Lebih jujur. Lebih personal. Seolah Max baru saja bicara bukan sebagai delegasi Amerika, tapi sebagai dirinya sendiri. Sebagai kekasihnya.
George terdiam sebentar. Ia menatap Max dengan penuh arti. Alisnya terangkat sedikit, terlebih saat Max menyunggingkan seulas senyum tipis. Senyuman yang tipis sekali, nyaris tidak terlihat.
Bukan.
Bukan seperti ini.
Hampir tiap hari dalam sebulan lamanya, mereka berlatih bersama. Berdebat, mempertahankan argumen satu sama lain, yang pada akhirnya bukan malah membuat working paper bersama. Ide seperti itu sama sekali tidak pernah muncul di sesi latihan mereka.
Ini jauh melampaui ekspektasinya.
Di kursinya, George menggenggam pulpen sedikit lebih erat. Tatap matanya tidak beralih dari Max, kekasihnya, yang juga masih menatapnya menunggu jawaban.
“Noted, delegate,” George akhirnya menjawab, suaranya juga melunak sedikit. “China would be willing to explore a working paper that reflects shared responsibility, provided it does not presuppose one model of governance as universally superior.”
“The US would be willing to co-sponsor that effort,” Max menjawab, “provided sovereignty isn't used as a blanket excuse to avoid multilateral accountability.”
Chairperson akhirnya menyela, terdengar sedikit geli. “Thank you so much, Delegates. It seems the United States and China have just informally opened bilateral negotiations in the middle of a moderated caucus. The chair will note this and suggest both delegations formalize this into an unmoderated caucus session.”
Tawa kecil pecah di ruangan. Max duduk kembali, masih menatap George, yang juga balas menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Antara puas karena berhasil mempertahankan posisi, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih hangat, yang baru muncul setiap kali mereka berhadapan seperti ini.
***
Ketika unmoderated caucus akhirnya dimulai dan delegasi-delegasi mulai berpencar membentuk kelompok kecil untuk menyusun working paper, George berjalan mendekati meja Max, membawa kertas catatannya.
“Jadi,” George berkata, nada bicaranya berubah total, lepas dari aksen formal podium, kembali ke logat sehari-hari mereka. “Working paper bareng? Atau itu cuma taktik supaya forum nggak makin panas?”
Max tersenyum, menggeser kursi di sebelahnya.
"Dua-duanya, sih. Tapi juga karena…" ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan lebih jujur, "aku capek pura-pura nggak suka tiap kali kamu mojokin argumenku di depan satu ruangan penuh orang."
George mengangkat alis, mencoba menahan senyum. “Itu namanya skill, Max. Not my fault kalau argumenmu itu emang gampang ditembus.”
“Oh, iya iya, percaya deh,” Max balas, ikut tersenyum, “argumenku tuh bukan gampang ditembus. Cuma kamu aja yang selalu nemu celahnya.”
Mereka berdua diam sejenak, suasana riuh forum di sekitar mereka memudar jadi latar belakang. George menunduk ke kertas catatannya, berusaha fokus, meski matanya sesekali melirik ke arah Max yang masih memperhatikannya.
“Oke,” George akhirnya berkata, mengetuk pulpen ke meja seperti biasa. “Stability through shared frameworks. Sovereignty diakui, tapi nggak jadi alasan buat lepas tanggung jawab multilateral. How?”
Max mengangguk, lantas ia mengambil pulpennya sendiri. “Agree. Tapi kita tulis ini bareng-bareng, bukan kamu dikte, terus aku yang tulis.”
George akhirnya tertawa kecil, tawa yang selalu muncul saat mereka sedang bersama. Tawa yang membuat Max lagi-lagi jatuh cinta. Dan untuk sesaat, di antara meja-meja delegasi dan plakat negara yang berjajar, Jakarta MUN terasa jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Sebab kini seolah terasa hanya ada mereka berdua dan selembar kertas working paper kosong di hadapan mereka.
***
Ruang sidang yang tadinya riuh oleh debat dan ketukan meja kini berubah jadi ruang closing ceremony. Lampu sedikit diredupkan, layar proyektor menampilkan slide bertuliskan 2026 Jakarta Model United Nations — Awarding Night, dan kursi-kursi delegasi yang tadinya tersusun formal kini lebih santai, banyak yang sudah melepas jas dan dasi.
Max duduk di sebelah George, lengan kemeja nya sedikit digulung karena gerah. Di sampingnya, George menggenggam tangan Max di bawah meja. Gestur yang menjadikannya cara untuk mereka tetap terhubung di tengah peran sebagai dua negara adidaya yang terus-menerus berseberangan di atas podium.
Chairperson naik ke panggung, mikrofon di tangan, daftar pemenang di tangan lainnya.
"Good evening, Delegates. Setelah hari penuh debat, negosiasi, dan let us say beberapa drama antar blok yang cukup menghibur," ia berhenti sejenak, disambut tawa ringan dari seluruh ruangan, jelas menyindir sesi panas antara US dan China, "kita sampai di momen yang ditunggu-tunggu. Saatnya pengumuman penghargaan committee UNGA."
Max merasakan tangan George sedikit mengencang menggenggam tangannya.
"Kategori pertama, Honorable Mention, goes to the delegate of Brazil—"
Tepuk tangan riuh, seseorang dari sisi ruangan berdiri sambil tersenyum lebar. Max dan George ikut bertepuk tangan, meski perhatian mereka mulai terbagi, masing-masing diam-diam menghitung kategori yang tersisa.
"Kategori berikutnya, Best Position Paper, yang akan diberikan kepada delegasi yang papernya dinilai paling komprehensif, didukung data dan kerangka kebijakan yang kuat dari awal hingga akhir sidang."
Jeda sejenak, chairperson membuka amplop kecil di tangannya.
"Best Position Paper of 2026 Jakarta Model United Nation is The delegate of the United States of America, Max Emilian Verstappen!"
Untuk sepersekian detik, Max benar-benar tidak bergerak, seolah perlu waktu untuk memproses namanya sendiri disebutkan di depan seluruh ruangan. Lalu George yang pertama bereaksi, mendorong bahunya pelan, wajahnya sudah penuh senyum lebih dulu daripada Max.
“Itu kamu, Max! Berdiri, woi!”
Max akhirnya berdiri, sedikit canggung, disambut tepuk tangan dan ketukan meja dari delegasi-delegasi lain yang masih ingat betapa runtutnya argumen position paper-nya soal rule-based order. Ia berjalan ke depan, menerima sertifikat dan pin kecil dari chairperson, lalu berbalik, lantas matanya langsung mencari George di antara kerumunan. George-nya yang masih bertepuk tangan paling keras di antara semua orang, yang terlihat begitu bangga tanpa ditutup-tutupi sedikit pun.
Max kembali ke kursinya, masih sedikit tidak percaya, dan George langsung memeluknya singkat. Pelukan cepat yang melanggar sedikit kesopanan formal ruangan, tapi terlihat tidak ada yang benar-benar keberatan.
“Congrats, Sayang.” George berbisik di telinganya. Sedangkan Max tersenyum lebar, jantungnya masih berdebar campur antara bangga dan haru.
Chairperson kembali bicara, membuka amplop terakhir.
“Dan kategori puncak malam ini. Best Delegate. Diberikan kepada delegasi yang menunjukkan penguasaan substansi, kemampuan negosiasi, dan kepemimpinan diplomatik terbaik sepanjang sidang committee UNGA.”
Ruangan mendadak lebih tegang, beberapa delegasi saling berbisik menebak-nebak. George menahan napas, mencoba terlihat tenang meski jari-jarinya diam-diam mengetuk meja, kebiasaan gugupnya yang sudah Max hafal luar kepala.
“Best Delegate of the 2026 Jakarta Model United Nation goes to the delegate of People’s Republic of China, George William Russell!”
Sebelum chairperson selesai menyebutkan namanya, Max sudah berdiri lebih dulu, bertepuk tangan paling keras, berteriak kecil “Itu pacar gue!” yang langsung disambut tawa dan sorakan jahil dari delegasi-delegasi lain yang ternyata sudah menyadari hubungan dua musuh terbesar sidang itu.
George tertawa, wajahnya memerah, sebagian karena malu, sebagian karena bahagia, sambil berjalan ke depan menerima penghargaannya. Ia sempat melirik ke arah Max sebelum sampai di panggung, dan Max hanya membalas dengan senyum paling lebar yang bisa ia tunjukkan, tangan masih bertepuk tanpa henti.
***
Setelah closing ceremony selesai dan ruangan mulai berubah jadi sesi foto bersama serta obrolan santai antar delegasi, Max dan George akhirnya menyelinap keluar menuju balkon gedung, menjauh sebentar dari keramaian. Langit Jakarta malam itu cerah, lampu-lampu gedung berkelap-kelip di kejauhan, angin malam terasa sejuk setelah berada di ruangan ber-AC.
George menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, masih memegang sertifikat dan plakat kecil Best Delegate-nya. “Gila ya. Kita berdua besok balik ke Malang sama-sama bawa penghargaan, Max.”
Max berdiri di sampingnya, ikut menyandarkan diri ke pagar, menatap George lebih lama daripada menatap pemandangan kota di depan mereka. “Aku nggak kaget sih kamu dapet Best Delegate. Kamu emang paling jago di ruangan itu. Selalu jago.”
“Kamu juga,” George membalas, menoleh menatapnya. “Position paper kamu emang paling solid dari semua delegasi US yang pernah aku lawan.”
Max mengangkat alis. “Berapa banyak emang delegasi US yang udah kamu lawan?”
“Banyak. Tapi nggak ada yang sekeren kamu.” George menyeringai jahil.
Max tertawa pelan, lalu meraih tangan George, menggenggamnya erat seperti yang sudah mereka lakukan diam-diam sepanjang sidang, hanya saja kali ini tanpa perlu bersembunyi di bawah meja. George melangkah lebih dekat, menutup jarak di antara mereka. “Congrats, ya, Mr. Best Position Paper.”
“Congrats juga, Best Delegate.”
Max tersenyum, menatap George lama sebelum akhirnya mendekat, meletakkan tangan di pinggangnya, dan mengecup bibirnya pelan. Di balkon hotel venue Jakarta MUN malam itu, mereka memulai sebuah ciuman yang lembut tanpa terburu-buru, jauh berbeda dari nada tegas dan argumen tajam yang mereka lemparkan satu sama lain di ruang sidang. Keduanya memejam mata. Pelukan Max di pinggang George mengerat seiring ia menggerakkan bibirnya. Lidahnya keluar, memaksa George untuk membuka mulut juga dan membiarkan Max membawa lidah mereka berdansa. Lampu kota jadi satu-satunya saksi, suara riuh closing ceremony masih terdengar samar dari dalam ruangan.
Ketika mereka akhirnya melepaskan diri, George menyandarkan dahinya ke dahi Max. Pipinya memerah, napas mereka tersengal setelah ciuman yang cukup lama.
“So, Delegate of America, gencatan senjata kita berlaku sampai kapan?”
***
The conference came to an end. History would remember the conference for its debates, its resolutions, and its award recipients. They, however, would remember it for something far simpler: the day the United States and China managed to reach an agreement without signing a single document.
The committee called it successful diplomacy. The Secretariat called it an outstanding conference. Their friends called it obvious from day one. As for Max and George, they simply lovely called it another date.
