Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-12-06
Words:
2,204
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
19
Bookmarks:
2
Hits:
461

Suki Dakara, Ijimete Shimau

Summary:

Hajime suka Haru, dengan caranya sendiri. Haru jangan marah, ya?

Work Text:

好きだから、苛めてしまう

 

 

“Hajime—! Sakit, sakit, sakit!”

 

Itu seminggu yang lalu. Saat Hajime mencubiti lengan Haru.

 

“Hajime—sakittt!!!”

 

Itu tiga hari yang lalu. Saat Hajime menarik-narik pucuk rambut Haru.

 

“Hajimeeeee—sudahhhh! Jangannn! Sakiiiitttttt!!!”

 

Itu hari ini. Saat Hajime menarik pipi Haru.

 

Akhir-akhir ini, Hajime kecil rasanya semakin gemar menjahili, menyakiti, dan menindas Haru kecil (atau paling tidak, dari sudut pandang Haru kecil, kelihatannya begitu). Tanpa ada sebab, tanpa ada alasan, tiba-tiba saja Hajime datang, menjahili bagian tubuh apapun yang sedang ingin diraih oleh tangan-tangan kecil itu.

 

Kanade sudah berkali-kali menegur Hajime, tidak boleh menyakiti teman. Tapi biasanya Hajime hanya mendengus, agak cemberut, seperti tidak terima kalau ia dipersalahkan atas kelakuannya.Ia juga tidak minta maaf. Waktu ditanya kenapa, Hajime juga hanya menggerutu, tidak menjelaskan alasannya. Yang ada ia malah mendelik ke arah Haru, membuat si korban berjengit takut di balik perlindungan punggung Kanade.

 

Biasanya, kalau anak kecil ditanya ‘kamu kenapa melakukan itu?’, bisa jadi alasannya sederhana saja. Mungkin. Namanya juga anak-anak. Dalam kasus Hajime, ia jahil untuk dapat perhatian. Tidak ada anak lain yang menjahili Haru sampai seperti itu selain dirinya. Hajime beda dari yang lain. Tentu saja, Haru juga menganggap keberadaan Hajime beda dari yang lain, kan? Spesial.

 

Dalam artian yang buruk, tentu saja, kalau dari sudut pandang Haru.

 

*

 

“Kakeru, mau cookies? Aku di—”

 

Tadinya Haru sedang berbicara ceria dengan Kakeru, tentang beberapa kantung kecil cookies yang sengaja dibawakan ibu Haru, yang ingin Haru bagi nanti dengan Kakeru. Tapi raut Haru tiba-tiba menegang, saat matanya menyadari kedatangan Hajime, yang sepertinya berjalan menuju arahnya.

 

Pembicaraan tentang cookies terputus begitu saja. Tanpa berkata apa-apa Haru langsung kabur. Kakeru ditinggalkan dengan rasa keingintahuan yang sudah naik ke kepala gara-gara cookies terlanjur disebut.

 

“Haru-san?! Cookies-nya?! Cookies-nya kenapa?!” Kakeru mendelik bingung di tempatnya. Obrolan cookies-nya belum selesai! Haru-san mau ke mana?!

 

Dan saat Hajime sampai di samping Kakeru, ia mengernyit. Sebal sepertinya. Habis, yang mau ia jahili—un, yang mau ia sapa, tiba-tiba langsung pergi begitu ia mendekat.

 

“…dia kenapa?”

 

Kakeru merengutkan bibir. Masih heran sepertinya. “Tidak tahu. Tiba-tiba Haru-san langsung lari.”

 

“…memangnya tadi kalian mengobrol tentang apa?”

 

Cookies!”

 

Itu tidak terjadi sekali.

 

“Heee… Menu makan malam Yoru-kun kedengarannya enak. Menu maka………ah. U, unnn, Yo, Yoru-kun, aku ke sana dulu. Sampai nanti!”

 

Sesi mengobrol Haru dengan Yoru, tentang menu makan malam kemarin, terputus gara-gara Haru buru-buru menyingkir dari tempat. Sebabnya, ada Hajime yang sedang berjalan ke arahnya.

 

“Haru-san?!” Yoru mengerjap bingung. Pembicaraan dengannya tiba-tiba diputus?! Apa ia salah bicara?! Eh? Eh???

 

Belum sampai ia berjalan ke tempat Haru tadinya berada, muka Hajime sudah makin masam saja. Yang barusan, sengaja?

 

Tidak juga terjadi dua kali.

 

“Nnn… Pasirnya masuk ke dalam sepatuku.........ah. Ka, Kai!” Haru menarik Kai berdiri dan mengajaknya cepat-cepat pergi dari bak pasir. “Main di sana saja, yuk!”

 

“Tunggu, hei—Haru!” Yang ditarik tiba-tiba sampai tidak sengaja menendang gundukan pasir yang sengaja dikumpulkan. Istana pasir Kai masih setengah jadi. Tidak sampai jadi karena terburu diajak mengungsi dari posisi. Ia tidak melihat ada Hajime yang berdiri sekian langkah dari tempatnya tadi.

 

Tapi Haru melihat Hajime. Dan Haru, setiap melihat Hajime, ia akan kabur.

 

Hajime sadar kalau Haru sedang jelas-jelas, secara gamblang menghindarinya. Saat mereka berpapasan di jalan, Haru akan sengaja berputar arah dan mencari jalan lain asalkan tidak perlu bertemu dengan Hajime. Saat di kelas, kalau Haru sedang duduk sendiri dan Hajime terlihat mendekat, Haru akan buru-buru berkerumun dengan anak-anak lain.

 

…apa, sih? Sengaja menghindar begini, maksudnya apa? Marah?

 

Hajime meyakinkan sendiri kalau ia tidak salah. Kalau Haru seharusnya tidak perlu marah. Kalau ia main-main sedikit dengan Haru, salahnya di mana? Kalau Haru memang bikin gemas, apa itu salah Hajime. Pokoknya, Hajime tidak salah.

 

Tidak sa…lah…

 

Mungkin memang salah, ya?

 

*

 

Hari ini Hajime akan minta maaf ke Haru, begitu ia menetapkan hatinya pada pagi itu. Kalau ia bertemu Haru nanti, pokoknya ia akan membuat Haru mendengarkannya. Lalu Hajime akan minta maaf. Haru pasti akan memaafkannya kalau ia minta maaf dengan sungguh-sungguh. Hajime sudah sengaja membawa beberapa bungkus kecil cokelat dari rumah (tidak tahu punya siapa, pokoknya ada di lemari es). Kalau ia memberikan Haru cokelat, Haru pasti akan senang.

 

Hajime masih belum menemukan timing yang tepat saat pelajaran di kelas ataupun saat istirahat siang. Istirahat siang, Haru masih terlihat asyik bermain bersama dengan anak-anak lain. Tidak mungkin juga Hajime menyerobot tiba-tiba. Hajime akan menunggu sampai pulang.

 

Anak-anak berhamburan keluar saat jam pulang tiba. Hajime masih diam sejenak di kelas. Ia biasa dijemput agak terlambat. Sudah biasa. Haru juga sudah keluar duluan, tapi sepertinya masih belum dijemput ibunya. Kalau ingin berbicara dengan Haru, maka Hajime punya waktu sebelum ibu Haru datang menjemput.

 

Dari kejauhan Hajime memandang. Itu Haru yang sedang duduk sendirian di ayunan sambil membaca buku sambil menyuarakan sebait pendek kalimat yang tercetak di sana. Kalau berbicara tentang timing, ini timing yang tepat untuk mendekati Haru.

 

Haru, yang kelewat senang membaca bukunya, tidak sadar kalau Hajime berjalan mendekatinya. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga ayunan itu turut mengayunkan dirinya. Baru ia sadar saat namanya dipanggil.

 

“…Haru…”

 

Raut tenang itu menegang tiba-tiba. Haru menolehkan kepalanya dengan cepat dari bukunya, ke arah anak lain yang memanggilnya. Ah, wajah ketakutan itu. Wajah yang seperti mau kabur itu. Hajime sudah kebanyakan melihatnya akhir-akhir ini.

 

“Haji…me…”

 

Cepat-cepat Haru turun dari ayunan. Langsung ia berlari sekencang yang ia bisa. Bahkan ia tidak mau dengar Hajime mau berkata apa kepadanya.

 

“Haru!” Hajime mengejar dari belakang. “Haru, tunggu!”

 

Dibilang tunggu pun Haru tidak mau menunggu. Anak itu berlari terbirit-birit. Melewati jungkat-jungkit. Melewati bak pasir. Larinya memang tidak begitu kencang, kalau dibandingkan dengan Hajime. Ia menoleh ke belakang. Hajime makin berada dekat di belakangnya. Semakin ia bertambah panik.

 

“Hajime jangan kejar aku! Tidak ma—”

 

Haru, karena tidak memperhatikan langkahnya, atau karena memang anak kecil rawan limbung, jatuh berdebam gara-gara tersandung bebatuan di tanah. Ia jatuh cukup keras. Bukunya, yang sedari tadi ia pegang erat-erat saat berlari, terlempar cukup jauh. Wajahnya beradu dengan tanah berpasir dan berkerikil. Tangan dan kakinya juga.

 

“Haru!” Hajime bergegas menghampiri sosok yang sedang tersungkur itu. Selama beberapa saat Haru terbaring di tanah. Tidak bergerak, tidak bersuara. Baru ketika Hajime memeganginya dan membalikkan tubuhnya, Haru mulai menangis. Dagunya, telapak tangannya, lututnya, lecet dan berdarah.

 

“Haji—uwaaaaa—Hajimeeee!!! Sakiiitttttt!!!”

 

Haru. Menangis.

 

“Ha, Haru…” Dengan agak panik, Hajime mengusap-usap bagian tubuh Haru yang sepertinya tidak terluka. Ingin menenangkannya. Tangis Haru tidak juga reda. Ah, bagaimana ini? Lukanya juga parah begini.

 

Sambil tetap memegangi Haru, Hajime berteriak-teriak. “Tsukishiro-sensei! Tsukishiro-sensei! Haru jatuh! Tsukishiro-sensei!”

 

Sekedar jatuh ke tanah itu ternyata bisa cukup parah juga. Haru sama sekali tidak berhenti menangis, terus saja mengaduh-aduh saat lukanya diobati oleh Kanade. Mau meminta maaf pun Hajime tidak punya kesempatan. Haru sudah mengusirnya sambil menangis. “Tidak mau sama Hajime! Hajime jangan ke sini!” Begitu katanya. Maka Hajime mundur lagi, kecewa.

 

Saat ibu Haru datang menjemput, Haru sudah tertidur karena kelelahan. Ibunya bertanya mengapa Haru bisa sampai terluka seperti ini. Biasanya Haru jarang terluka. Jarang berlari-lari ceroboh.

 

“…maaf. Aku yang mengejar Haru.” Hajime meminta maaf. Kepalanya agak tertunduk, tapi sorot matanya menatap ke atas. Ucapan maaf itu tadinya untuk Haru, tapi dalam gendongan ibunya, Haru tidak mendengar permintaan maaf itu.

 

Ibunya menghela napas dan tersenyum. Senyumnya mirip dengan senyum Haru. Ia menunduk dan mengusap lembut kepala Hajime. “Hajime-kun cuma mau main dengan Haru-kun, kan? Lain kali hati-hati, ya?”

 

Aku cuma mau minta maaf ke Haru. Hajime mengoreksi dalam hati, tapi mulutnya diam saja. Ia mengangguk. Lain kali hati-hati, kata ibu Haru. Apa lain kali Haru masih tetap mau bermain bersamanya?

 

*

 

Pokoknya besok ia harus minta maaf ke Haru. Begitu ia menetapkan hatinya malam itu, kala ia sudah di kamar tidurnya dan bersiap untuk tidur. Cokelat yang ia bawa sedari pagi sudah meleleh, tergeletak di samping tempat tidurnya. Mungkin Haru sudah tidak akan senang lagi kalau Hajime hanya membawa cokelat itu saja. Ia tidak punya manisan lagi untuk dibawa. Apa ia punya hal lain yang akan membuat Haru senang?

 

Dibongkarnya kotak mainannya. Apa kalau dibawakan mainan Haru akan senang? Dikeluarkannya buku-buku bergambar miliknya dari laci di samping kasur. Apa kalau dibawakan buku bergambar Haru akan senang?

 

Hajime jadi ingat lagi bagaimana Haru tadi berlari darinya. Haru yang menangis di pelukan Kanade sambil mengusirnya menjauh. Apa Haru sekarang sudah benci padanya? Padahal ia kan hanya…ia hanya…

 

Hajime mengerutkan bibirnya. Dimasukkannya buku-buku bergambarnya ke dalam ransel. Haru suka buku. Haru pasti akan senang kalau dibawakan banyak buku. Pokoknya Hajime akan membuat Haru memaafkannya.

 

Besoknya, dengan tas ransel yang lebih penuh dari biasanya, Hajime sejak pagi menunggu kedatangan Haru. Tapi ternyata yang ditunggu-tunggu hari itu tidak datang. Kata Kanade, Haru tidak hadir karena sakit. Sepertinya gara-gara terjatuh kemarin.

 

Hari itu Hajime tidak berminat melakukan apa-apa. Ia diam saja di dalam ruangan, melihat anak-anak lain yang sedang bermain. Ia pulang dengan beban di punggung yang terasa lebih berat.

 

Besok. Haru pasti datang besok.

 

*

 

Tas ranselnya hari itu pun masih berat. Buku-buku yang ia bawa kemarin sama sekali tidak dikeluarkannya dari tas ransel. Haru datang setelah ia tiba di kelas. Kapas dan plester di dagu Haru terlihat mencolok. Lututnya juga ditempeli kapas dan plester. Anak-anak lainnya bertanya Haru kenapa.

 

Haru hanya sempat melirik sekilas ke arah Hajime. Dalam pandangan yang sekilas itu terlihat sekali sisa-sisa ketakutan tempo hari. Kelas sudah dimulai, sehingga Hajime tidak memiliki waktu untuk mendekati Haru. Kalaupun punya, ia tidak akan melakukannya. Tiba-tiba ia terbayang lagi penolakan dari Haru untuknya. Separah itukah perlakuannya? Apakah semuanya bisa baik-baik saja meski ia minta maaf?

 

Waktu istirahat akhirnya tiba juga. Anak-anak bersemangat keluar ruangan. Tidak seperti biasanya, Haru tidak terlihat bersemangat hari itu. Ia menghela napas dan tetap duduk di kursinya, sambil mengeluarkan bekal yang dibawakan ibunya.

 

“Haru.”

 

Haru tersentak. Ia menatap sekeliling. Anak-anak lain berada di luar kelas. Hanya ada dirinya dan Hajime. Mukanya terlihat seperti siap-siap berlari. Itu kalau lututnya tidak berdenyut-denyut perih.

 

“Haru, jangan lari. Aku tidak akan menyakiti Haru. Haru diam saja di sana.” Seperti mendekati hewan yang tidak mau disentuh manusia, Hajime menjaga jarak dari Haru. Perlahan, perlahaaan mendekat selangkah dua langkah.

 

“Aku mau minta maaf sama Haru.” Hajime berkata pelan, tapi tegas. Jaraknya masih ada beberapa langkah dari tempat duduk Haru.

 

“…nnn…” Haru tidak tenang di tempat duduknya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya mencari-cari. Sepertinya ia berharap ada orang lain yang masuk ke ruangan ini, hingga yang mengisi tidak hanya Hajime dan Haru.

 

Cepat-cepat Hajime mengeluarkan buku-buku dari dalam tas ransel yang ia peluk sedari tadi. “Aku akan berikan ini untuk Haru. Haru suka baca buku, kan? Lihat.”

 

Tiba-tiba diberikan banyak buku begini, Haru jadi bingung. Ia jadi ingat nasib bukunya kemarin, yang terlempar saat ia jatuh. Ada di mana sekarang, ya? Matanya menatap buku-buku itu. Maksudnya bagaimana?

 

“…eh? …ah… Nnn…”

 

“Aku juga punya cokelat.” Hajime mengeluarkan bungkus-bungkus kecil cokelat yang bentuknya sudah tidak bagus lagi dari kantung celananya. “Kalau kurang, besok-besok akan kubawakan lagi.”

 

Hening. Haru menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal. Daripada sedang menerima permintaan maaf, ia lebih terlihat sedang menerima teguran. Sama sekali tidak terlihat senang. Apa Hajime gagal membuat Haru senang? Apa yang ia bawa sekarang tidak cukup?

 

“Hajime…” Nama itu terucap pelan. Agak serak. “Aku…aku tidak tahu, lho… Sebenarnya aku ini salah apa sama Hajime? Kalau aku salah aku juga minta maaf. Aku cuma…tidak mau Hajime tiba-tiba membenciku.”

 

Hajime mengernyit. Hah? Siapa yang membenci siapa? Yang barusan bukannya harusnya bagiannya Hajime?

 

“Aku tidak—”

 

“Habisnya… Hajime tiba-tiba jadi sering menjahiliku. Hajime jadi sering menyakitiku. Apa aku sudah berbuat salah sama Hajime?”

 

“Bukan begitu! Aku tidak benci Haru!”

 

“Tapi Hajime…”

 

“…itu karena Haru bikin gemas.”

 

“…he?”

 

“Haru manis. Bikin gemas.”

 

Bola mata hijau milik Haru mengerjap-ngerjap. Apa? Hajime bicara apa, sih?

 

“Pokoknya! Aku tidak benci Haru! Sebaliknya, aku suka Haru. Makanya…itu…maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti Haru. Aku tidak akan menyakiti Haru lagi. Aku cuma mau Haru senang lagi. Aku cuma mau bicara lagi sama Haru. Haru mau memaafkan aku?”

 

Sebenarnya tidak paham juga Hajime sedang bicara apa. Tapi Haru jadi tertawa kecil.

 

“Hajime aneh, ah. Kalau suka sama sesuatu, bukannya biasanya sesuatu itu bakal disayang-sayang? Kok malah dijahili. Hajime lucu.”

 

Ah. Haru tertawa. Hajime suka.

 

Jarak antara Hajime dan Haru semakin dekat. Hajime meletakkan buku-buku yang ia bawa di meja Haru. Tasnya ia letakkan di lantai begitu saja.

 

Muka Hajime serius. “Kalau begitu, aku boleh peluk Haru saja?”

 

Muka Haru melembut. “…un, boleh.”

 

Sepasang lengan kecil memeluk tubuh yang mungil. Hati-hati, tidak mau menyakiti Haru yang sedang luka di mana-mana. “Haru… Maaf ya, kemarin pasti sakit sekali.”

 

Haru mengusapkan pipinya pada pipi Hajime. Hati-hati, dagunya masih perih. Ia tertawa. “Sudah tidak apa-apa, kok.”

 

Pelukan Hajime agak mengerat. Seperti anak kecil yang kelewat suka dengan mainan favoritnya sampai tidak mau dilepas. “Karena aku suka Haru, mulai saat ini aku tidak akan membuat Haru menangis lagi.”

 

Haru mengaduh. Tapi ia masih bisa tertawa. “…un. Aku juga suka Hajime.”

 

*

 

“Uwa—Hahimeee—hagithagithagittt—!!!”

 

Faktanya, pipi Haru kena siksa tangan kecil Hajime lagi. Dicubit keras-keras sampai melar. Anak yang sedikit lebih tinggi itu sampai meringis, tapi tidak sampai menangis. Hajime, katanya tidak mau membuat Haru menangis lagi?

 

Tunggu, ini ada alasannya!

 

Hajime melirik tajam ke arah Kai. Anak lelaki itu baru saja memeluk Haru! Haru-nya! Anak lelaki itu baru saja mengusap-usap rambut Haru! Haru-nya! Haru-nya senang-senang saja dipeluk lelaki lain! Hajime sebal!

 

Hajime melepaskan cubitannya pada pipi Haru. Tangannya bersedekap di depan dada. “Haru! Bukannya Haru cuma suka aku?!”

 

“Eee???”

 

Mutsuki Hajime. Sejak usia muda sudah Ousama.