Chapter Text
Jumat itu berjalan seperti neraka yang panjang bagi Choi San. Sejak pukul delapan pagi dirinya harus berjuang melawan rasa kantuk berbekal segelas ice americano ditangan. Kakinya dibawa mendaki area tanjakan menuju kampus dengan kemiringan diluar nalar - para mahasiswa menyebutnya kardio gratis - dilanjutkan dengan berlarian di sepanjang koridor untuk bimbingan tugas akhir. Seolah penderitaannya belum selesai, pukul setengah empat sore nanti ia sudah harus berdiri di bangsal Severance Hospital untuk memulai shift magangnya yang menguras energi.
Ketika pemuda Choi itu akhirnya melangkah keluar dari lobi rumah sakit, jam diponselnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia tertahan lebih lama dari jam kerja normal hanya untuk menyelesaikan laporan riwayat pasien. Begitu kakinya menginjak trotoar distrik Sinchon, hawa dingin rumah sakit yang semula menempel pada kulitnya kini berganti dengan udara lembab yang panas - efek malam tropis dari puncak musim panas di Korea. San berjalan gontai, menyeberang jalan besar menuju area Changcheon-dong tempat flatnya berada. Tangannya sibuk mengaduk isi tas saat tiba didepan pintu, mencari kunci flatnya dengan energi yang sudah berada digaris merah - persis seperti baterai ponselnya yang berkedip menunjukkan angka 10%.
"Ah, sialan. Panas sekali, lengket rasanya", umpat San begitu masuk ke kamar flatnya yang sempit. Meski tubuhnya sudah menjerit minta tidur, rasa gerah yang menyiksa memaksa dirinya untuk mandi air dingin. Sialnya, guyuran air dingin itu malah memicu otaknya untuk memproduksi norepinefrin yang membuang rasa kantuknya setelah keluar dari kamar mandi. Mengingat besok adalah akhir pekan dan San tidak ada jadwal part-time caregiver di rumah sakit, ia memutuskan untuk bersantai sejenak. Alih-alih membuka laptop bututnya untuk mengerjakan revisi tugas akhir - hasil bimbingannya tadi pagi - ia justru merebahkan diri di atas kasur, meraih ponsel buluknya yang menempel pada charger, kemudian menggulir layar ponsel dan membuka aplikasi platform online untuk membaca manhwa adaptasi dari novel fantasi populer yang sudah ia simpan di library sejak beberapa minggu lalu.
San membaca dan menikmati gaya ilustrasi dari manhwa tersebut chapter demi chapter dengan cepat dan efisien. Namun semakin menuju pada bagian akhir, dahi San semakin mengernyit dalam. Alur ceritanya mendadak berubah menjadi aneh dan tidak masuk akal, benar - benar sampah ! karakter favoritnya - yang kebetulan memiliki nama depan yang sama dengan dirinya - dibuat menderita secara tidak logis dan berakhir mati ditangan male lead secara tragis !
Tersulut emosi karena merasa waktu istirahat berharganya jadi terbuang sia-sia, San bangkit duduk di tepi kasur - mendadak merasa haus karena kesal. Tangan kirinya meraih susu protein yang dibuatnya setelah mandi, sedang tangan kanannya mengetik dua paragraf berisi makian dan protes di kolom komentar - tidak lupa untuk tag akun si penulis novel.
"Ini yang katanya diadaptasi dari novel populer ? Cih, populer apanya ? plotnya saja seperti sampah begini !", racau Choi San di keheningan kamarnya. "Penulisnya pasti menulis naskah ini sambil mabuk !", kesalnya lalu meneguk minumannya dengan terburu.
Glug...glug... UHUKK !!
Tepat saat jempolnya menekan tombol send, liquid kental itu malah salah masuk jalur lalu mengunci tenggorokannya dalam sekejap. Sialnya, gumpalan serbuk protein yang belum larut sempurna menyumbat total jalan nafasnya. San mendadak sesak napas dan gelagapan diatas lantai sambil memegang lehernya. Sebagai mahasiswa keperawatan, otaknya langsung berteriak panik - Abdominal thrust ! Heimlich maneuver mandiri ! - dengan koordinasi tubuh yang kacau balau akibat panik dan kekurangan oksigen, San mencoba menghentakkan perutnya ke sudut meja belajar. Namun usahanya terasa sia -sia saat pandangannya perlahan mulai menggelap. Ditengah rasa sesak yang mencekik, kilas balik memori kehidupannya - mulai dari masa kecilnya di Namhae, perjuangannya masuk Yonsei, hingga masa-masa wajib militer yang melelahkan - berputar cepat dalam otaknya seperti kaset rusak.
'Ini gila... apakah aku akan mati konyol hanya karena tersedak susu protein setelah menghujat seorang penulis novel ?...'
Ungkapan bahwa penyesalan selalu datang diakhir memang benar adanya, Choi San sangat menyayangkan hal itu sebelum kesadarannya hilang penuh dan dingin merambat keseluruh tubuhnya. Namun, ternyata rasa dingin kematian yang menyelimutinya tidak bertahan lama. Saat San kembali membuka mata, ia tidak melihat langit-langit kamarnya, melainkan sebuah ruang hampa serba putih sepanjang mata memandang.
San tertegun, 'Apakah ini surga ?' - batinnya heran. Monolog hatinya berhenti seketika saat melihat seseorang dibelakangnya. San terkejut bukan main, pasalnya didepannya kini berdiri seorang pemuda dengan paras tampan dan terlihat familar - mirip sekali dengan dirinya. Hanya warna rambut dan binar mata yang membedakan mereka berdua. Pemuda asing itu - Park San, tokoh favoritnya dari manhwa yang ia baca semalam. Warna rambut blonde dan pakaian dari medieval-era sama persis dengan visual yang ia lihat dilayar ponsel miliknya. Park San tersenyum kecil, rautnya terlihat lelah. Choi San paham apa yang dirasakan oleh tokoh ini, ia membalasnya dengan senyuman tulus penuh pengertian.
"Park San ?", tanya Choi San hati-hati.
Pemuda blonde itu mengangguk kecil, senyumnya berubah cerah dengan mata yang menyipit dan lesung lucu pada masing-masing pipi - membuat Choi San tertegun sejenak. Selama membaca, baru kali ini ia melihat tokoh Park San tersenyum tulus - bahkan saat bertemu dengan heroine pun Park San hanya akan tersenyum sedikit hangat, tidak secerah ini.
"Aku rasa kau sudah sedikit mengenalku kan, Choi San-ssi ?", tanya Park San yang hanya dibalas anggukan olehnya. "Aku punya sedikit permintaan, apa kau mau membantuku ?"
"Tentu saja, akan aku bantu semampuku", balasnya tegas.
"Aku ingin kau mengambil tubuhku"
"A-apa ?! bertukar jiwa maksudmu ?"
"Bisa dikatakan seperti itu, tapi tidak", Park San menggeleng kecil, "Aku ingin bertemu dengan Abeoji dan Eommoni", senyumnya menyendu.
Choi San terdiam, otaknya menelaah perkataan pemuda didepannya. Sejenak rasa iba datang menghampiri. Ia tahu persis perasaan itu, kadang dia juga rindu dengan mendiang kakek dan neneknya - bahkan kedua orang tuanya yang hanya ia kenali lewat foto usang.
"Baiklah, aku akan menganggap ini sebagai hadiah kesempatan kedua", Choi San mengangguk mantap, binar matanya menunjukkan kesungguhan. Park San yang mendengar itu berkaca-kaca, ia tersenyum haru sembari mengucapkan terima kasih lengkap dengan menundukkan badannya 90°. Melihat tingkah pemuda Park itu membuat hati Choi San tergelitik, pikirannya sibuk mengumpat si penulis novel yang tega membuat tokoh ini hidup sengsara dan mengemban tugas figuran antagonis dengan akhir yang tragis.
Park San bangkit kembali, kini dengan binar mata yang bahagia. Kedua tangannya terulur maju, menangkap jemari Choi San yang sedikit terlihat lebih berisi daripada tangan kurusnya.
"Ikuti kata hatimu, hiduplah dengan bahagia"
Choi San balas menggenggam tangan itu, spontan dalam hati sibuk membuat daftar gizi yang harus dikonsumsi saat merasakan jemari ringkih bertaut dengan miliknya.
"Tolong sampaikan salamku kepada nenek dan kakek jika kau bertemu mereka disana", Choi San tersenyum kikuk, dengan suara pelan ia menambahkan, "...Appa dan Eomma juga".
Cicitannya diakhir membuat Park San tertegun, seketika itu juga ia menabrakkan tubuhnya kedepan, meraih pemuda Choi dan merengkuhnya hangat. Hal itu sontak membuat Choi San terkejut dan tanpa sadar meloloskan bulir air mata yang jatuh bebas menuruni pipi kirinya. Pertahanannya runtuh, air matanya berganti mengalir deras layaknya bendungan yang terbuka. Keduanya tertawa kecil bersama setelah momen haru itu berakhir.
"Aku akan menyampaikan salammu, jadi tolong hiduplah dengan baik. Jangan seperti aku ya"
Itu adalah kalimat terakhir yang Choi San dengar sebelum ruang hampa itu dipenuhi dengan silau cahaya. Ia merasa seperti sedang bermimpi, tapi perasaan itu tiba-tiba hilang saat ia sadar dan membuka mata. Rasa dingin menusuk hingga ketulang, dadanya terasa sesak dan tangan serta kakinya sedikit lemas. Tubuhnya seperti mengambang, namun ada satu hal yang membuat adrenaline otaknya langsung aktif. Basah, ia seperti berada didalam air.
'OH SHIT ! AKU TENGGELAM ?!!! BEDEBAH KAU PARK SAN !!! AND FUCK YOU AUTHOR !!!"
