Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-02
Words:
1,241
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
98

Waffle yang Adem

Summary:

“Kai-ya bobo lagi aja,” ujar Soobin menggodanya, terkekeh dengan muka menawannya itu yang sok polos padahal sudah membangunkan Kai dari tidur cantiknya lalu malah mengejeknya. Kalau bukan karena sedang memegang bor, itu sang suami sudah dilempar bantal. Oleh karena itulah Kai memilih untuk mengatainya saja.

“Hyung otaknya ketinggalan di dengkul kah?”

Notes:

hehe ini ide jam 2 pagi kebangun dari tidur

Work Text:

“Hyung?” tanya si cantik mengedipkan matanya beberapa kali, kebingungan nampak pada muka bantalnya sebab baru bangun tidur pandangannya disuguhi sang suami mengebor sesuatu… Sesuatu itu ia tidak tahu apa. Jelas kayu sih. Meski begitu ia tetap kebingungan. Kai terduduk pada kasur mereka berdua mengucek-ngucek matanya yang berkaca-kaca karena masih mengantuk. Semua itu pemandangan yang ingin Soobin lihat tiap hari, air mata Kai yang terancam turun, rambut yang berantakan, dan selimut entah tertendang ke mana, bahkan boneka molangnya berserakan di lantai seperti terdampar di pantai akibat ombak yang besar.

 

“Hyuka-yah kok udah bangun?” tanya Soobin tersenyum dengan manis seakan-akan ia bukan baru saja membangunkan pasangannya dengan suara bor yang berisik.

 

Kai memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya dan memutuskan untuk mendekatkan diri ke sang suami yang bercandanya tidak lucu itu.

 

“Kai-ya bobo lagi aja,” ujar Soobin menggodanya, terkekeh dengan muka menawannya itu yang sok polos padahal sudah membangunkan Kai dari tidur cantiknya lalu malah mengejeknya. Kalau bukan karena sedang memegang bor, itu sang suami sudah dilempar bantal. Oleh karena itulah Kai memilih untuk mengatainya saja. 

 

“Hyung otaknya ketinggalan di dengkul kah?” 

 

Si lelaki berambut hitam ini memilih untuk mematikan bornya lalu meletakkannya di meja lalu mengusap-usap muka suaminya (sering dipanggil istri) yang berambut putih lalu membelai rambutnya dengan lembut. Kai membalasnya dengan menyandarkan dirinya pada sentuhan Soobin, meskipun telinganya memerah. Sudah berpacaran lama dan menikah beberapa hari yang lalu pun Kai masih suka tersipu malu dengan tindakan Soobin yang senang memanjakannya.

 

“Duh manja banget sih. Cium nih!” Soobin berkata mencubit pipi Kai dengan gemas sebelum memainkannya seperti playdoh. Pipi istrinya (suaminya) seperti bakpau saking bulat dan lembutnya.

 

“Salah hyung yang manjain akulah,” ucap Kai lalu dengan cemberut berusaha melepaskan diri dari sentuhan Soobin karena hatinya yang risau sebab dari tadi tidak kunjung berhenti berdebar dengan sangat kencang.

 

Soobin membiarkan Kainya melepaskan diri lalu mengecup keningnya.

 

“Sebentar ya sayang. Udah mau selesai kok,” ucap Soobin melanjutkan kegiatannya tadi.

 

“Hmmm… iya lanjutin aja, aku mau masak.”

 

“Mau waffle dongggg,”

 

“Wafer aja kamu mah, ada tango segepok tuh di meja makan,” ujar Kai menjulurkan lidahnya dengan tujuan meledek.

 

“Hiii kejamnya kamu ke suami sendiri,” balas Soobin, lalu ikut menjulurkan lidahnya.

 

Kai lagi-lagi memilih untuk mengabaikannya. Meskipun begitu, ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum melihat kelakuan suaminya. Soobin pun terkekeh menyadari Kai pasti tersenyum juga meskipun ia sedang tidak menoleh ke arahnya.



✧ ₊˚ ✧ ˚₊ ✧



Kai mengambil telepon genggamnya lalu berjalan menuju dapur sambil menyetel lagu karya TWS yang berjudul unplugged boy untuk meredam suara bor Soobin. Ia ambil apronnya yang menggantung dekat tembok dengan elegan. Ia melambaikan tangannya lalu jemarinya dengan perlahan dan akurat mengikatkan tali apron pinknya dengan ikatan pita. 

 

Apronnya bermotif karakter My Sweet Piano, temannya My Melody, berian Hiyyih sebagai hadiah pernikahan. Hiyyih menyebutnya “Kai-oppa domba banget dan cocok warna pink, semoga suka ya,” pada kertas di dalam bungkusan kado itu. Ada juga tulisan “dan mudah dibodohi” meskipun itu dicoret dan Kai pura-pura tidak melihatnya saja.

 

Kai juga mendapatkan timer dapur digital dari noonanya (Leah-noona) yang berbentuk Pochacco, karakter anak anjing lucu dari Sanrio. Timer ini ia dudukkan pada meja dapurnya di samping kalender molang berian teman-temannya yang baru saja diberikan kemarin padahal mereka sudah memberikannya dan Soobin berupa tiket ke Aquarium sebagai hadiah mereka menikah. 

 

Mereka mengatakan serangkaian kata-kata seperti:

 

“Bisa-bisanya lupa nih malaikat,” 

 

“Biarin atuh daripada kita dimarahin Soobin-hyung, lagian bener kok ya katanyaaa”

 

“Itu rambutmu dicat atau ubanan jadi kau pikun?” 

 

Ia tidak ingat persis siapa yang mengatakan apa tetapi kurang lebih seperti itulah ucapan mereka. Dengan demikian ia malah tambah bingung dan membalasnya dengan tersenyum saja ketika teman-temannya membawakan kalender itu ke rumahnya kemarin sore. 



14 Agustus. Kira-kira apa yang spesial dari itu ya? Kai tidak tahu. Tidak ada tanda apa-apa pada kalender baru maupun kalender di telepon genggamnya. Meski begitu Ia memilih untuk mulai memasak melihat Soobin masih sibuk dan dia tidak bisa dipercaya di dapur. Sempat masakan Soobin membuatnya diare tiga hari yang sebagai permintaan maaf ia membelikan Kai sebuah boneka kelinci besar yang ia beri nama “Tobin” yang kini selalu duduk di sofa pada ruang tamu mereka memeluk boneka wortel, selalu menemaninya dan Soobin ketika mereka quality time.

 

Kai membuka lemari-lemari pada dapurnya, mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat wafflenya satu persatu. Lalu memecahkan telur pada wadah dan mulai mencampur serta mengaduk bahan-bahannya hingga merata. Setelahnya cetakan untuk membuat wafflenya ia oleskan dengan minyak lalu ia tuangkan bahan-bahannya yang sudah diaduk ke dalamnya. 

 

“Forever in this place~” senandung Kai, ikut menyanyikan lirik lagunya sambil membuat waffle dengan ceria. Ia lalu tekan timernya sekitar 2 menit untuk membalikkannya nanti.

 

“Cause we are united, oh~” bisik Soobin ke telinga kanan Kai, ikutan bernyanyi, tiba-tiba memeluk Kai yang lagi memasak dari belakang. Namun bukannya kesal, tindakan itu membuat Kai cekikikan.

 

Sepanjang lagu berputar Soobin memeluk Kai dengan salah satu tangannya sementara tangan lainnya membelai rambutnya dengan lembut. 

 

Ketika lagu berhenti dan timer berbunyi barulah Soobin melepaskan tubuhnya, meskipun itu berakhir dengan pemberian ciuman yang manis dan singkat pada bibirnya oleh Soobin.

 

“Hyung! Aku lagi masak,” ujar Kai malu-malu padahal tadi membiarkan suaminya memeluknya sampai lagu selesai sambil menunggu wafflenya matang, tetapi satu kecupan cukup untuk membuatnya tersipu malu. Ia mendorong Soobin menjauhinya pelan-pelan untuk meletakkan waffle masakannya ke piring lalu membelahnya menjadi dua untuk mereka makan bersama. Yah walaupun masih kurang sih, jadinya Kai bersiap untuk menuangkan kembali adonannya ke cetakan sebelum Soobin menghentikannya dengan menggenggam tangannya kanannya lalu mematikan kompor dengan sergap.

 

Garpu Kai nyaris terjatuh ke lantai, tetapi Soobin malah lanjut mengejeknya. Walaupun begitu Kai tidak bisa merasa kesal dan hanya bisa balas menatap malu-malu dengan telinganya yang memerah.

 

“Udah mau selesai bukan?” ejek Soobin, sebelum kembali dengan gragas menautkan bibir mereka. Ia menciumnya seperti orang di gurun yang sangat kehausan dan saliva Kai adalah satu-satunya air yang bisa ia dapatkan. Kai menjadi terengah-engah kehabisan napasnya hingga mukanya kini ikut memerah dan matanya sayu.

 

“Happy birthday Kai-ya,” bisik Soobin ke telinganya setelah melepaskan tautan bibir mereka sembari memberikan sebuah boneka penguin kepada istrinya (suaminya). Boneka itu adalah boneka koupen-chan yang memakai topi dan tas kuning. Boneka yang Kai sudah lama taruh di keranjang Shopee tapi tak kunjung ia beli karena bolak-balik lupa. Kai yakin dirinya hanya sekali menunjukkan foto koupen itu kepada Soobin. Itupun sudah lama sekali. Bagaimana Soobin bisa mengingatnya Kai tidak tahu.

 

“Koupe-!” sebut Kai kaget, tetapi belum sempat melanjutkan perkataannya ataupun berterima kasih, sang suami malah menyeretnya ke kamar mereka bersama.

 

“Dan ini meja untuk pasukan Molangie,” ujar Soobin menunjukkan meja yang disusunnya, memamerkan tiap bagiannya dengan mengetukkan tangannya seperti seorang sales yang mempromosikan kekokohan meja itu kepada calon pembelinya.

 

“Aku tau kamu suka meluk molangie, tapi daripada semuanya jatuh berserakan, ku pikir lebih baik mereka mendapatkan tempat tinggal yang nyaman jug-” Soobin berupaya menjelaskan, tetapi malah dipotong dengan tindakan impulsif suaminya.

 

Kali ini Kai yang menautkan bibir mereka, malah sampai melompat ke pelukan Soobin sambil melakukannya.

 

“Makasii Hyung! Makasii! Aku suka banget!!” ujar Kai dengan sangat kegirangan. Boneka Koupennya digenggam dengan erat-erat sambil ia mendusalkan kepalanya ke kaos putih Soobin. Sang suami membalas dengan mendorong Kai mundur untuk menyatukan bibir mereka kembali lalu tersenyum dengan lebar, lesung pipinya kelihatan, lega Kai menyukai kado ulang tahunnya. Mereka berdua keasikan berciuman sampai membiarkan waffle yang tadi dimasak Kai mulai mengadem karena jika ditanya apa yang paling membuat Kai bahagia? Ia akan menjawabnya boneka, tetapi itu juga setara dengan berciuman bersama suaminya. Dengan demikian, Kai mendapatkan keduanya di hari ulang tahunnya. Tak apalah waffle mangadem, itu pengorbanan yang Kai rela korbankan jika inilah yang terjadi setiap kali ia berulang tahun.