Work Text:
Sungho punya kebiasaan untuk memesan menu yang sama setiap kali dia datang di tempat makan tertentu. Selalu begitu, tidak pernah coba menu lain. Jadi, Taesan, bertanya. Di meja nomor empat-lima, “Kak, ini udah ke-tiga kali Kakak pesen itu,” kemudian, Sungho jawab, “Aku suka.” setelahnya, Taesan tidak pernah lagi menanyakan perihal menu Sungho.
Sebab, Sungho sendiri kira kesukaan tidak perlu alasan. Hanya suka dan itu sudah cukup, sama dengan rasa suka Sungho kepada Taesan, begitu juga perasaan Taesan kepada Sungho. Suka.
Kali ini masih sama. Taesan, Sungho, dan menu kesukaan Sungho dihidangkan pada pukul delapan malam. Sungho dengan lihai memotong porsi daging yang baru saja matang. Sungho ulangi prosesnya; menaburi saus, memotong, melahap. Sementara Taesan melihat Sungho penuh perhatian. Bagaimana Sungho mengunyah, jakun Sungho yang naik turun saat melahap, dan mulut Sungho yang kadang kala cemot akibat saus.
Sebut Taesan orang mesum, bila sekiranya dia terlalu lekat dalam melihat Sungho. Atau ketika Taesan meneguk salivanya sendiri saat Sungho mengusap bibirnya yang berkilau. Taesan cuma manusia biasa, dia harap kalau semua, apapun itu, akan memaklumi dirinya.
Biasanya, setelah hidangan Sungho selesai, Sungho mulai menaburi bibirnya dengan lip balm, oh iya, lip balm yang Taesan belikan tidak lama. Sehingga, bibir Sungho tetap berkilau dimanapun ia berada. Kalau seperti itu, bagaimana cara Taesan menahan nafsu yang kerap kali bergejolak?
Agar malam pukul sembilan itu sedikit ramai bagi dua orang, Taesan membuka suara, berupa pertanyaan, “Kak, semisal besok kiamat Kakak tetep mau makan ini?” Sungho yang sedang melihat dirinya di cermin reflek mendongak, kemudian matanya melihat ke atas untuk berpikir. “Makanan ini, kali?”
Mendengar jawaban Sungho berisi keraguan, lantas Taesan memiringkan kepalanya, “Hm? Kok kali?”
“Karena belum tentu kiamat datang, aku di resto ini.” ujar Sungho seraya melakukan peregangan tangan ke depan. Layak kucing. Taesan dibuat malas oleh jawaban Sungho, jadi dia beri tambahan informasi untuk Sungho. “Ya, semisal, aku ajak Kakak ke sini lagi besok tapi kiamat.”
“Iya, aku bakal makan ini lagi.”
Taesan bersiul, takjub dengan jawaban cepat orang yang duduk di depannya. Seolah sudah puas akan jawaban Sungho, Taesan melipat kedua tangannya di atas meja, berusaha memberikan bantal bagi kepalanya. Sungho sendiri memilih menangkup pipi sebelah kanan miliknya, melihat mata Taesan yang mulai sayup.
Dalam hitungan detik selanjutnya, Sungho mengusap kepala Taesan. Perlahan-lahan, tanpa merusak gaya rambut Taesan. Kadang disisir, lalu dibuat main. Taesan hanya diam, ia memilih bersandar pada sentuhan Sungho. Sangat lembut bagai senandung pengantar tidur. Mata sayup Taesan perlahan membuka dan menutup.
“Emang kenapa kamu tanya itu?” pertanyaan Sungho tidak membuat Taesan bangun sepenuhnya, Taesan masih mampu menjawab. “Soalnya Kakak sering makan itu, aku penasaran.”
Itu membuat Sungho melontarkan pertanyaan serupa kepada Taesan, “Yaudah, kalo besok kiamat emang kamu mau makan apa?”
Taesan tidak memikirkan jawabannya dua kali, dia jawab, “Gatau.” membuat Sungho menghela nafas. “Aku aja jawab serius, masa kamu enggak?”
Mendengar protesan Sungho, Taesan memberikan alasan. “Ya, aku beneran gatau. Kiamat aja belum.” Taesan kira itu cukup memuaskan bagi Sungho, karena selanjutnya muncul pertanyaan baru lagi, “Kalo besok kiamatnya bareng aku?”
“Nanti aku cium Kakak.” kata Taesan seraya mengambil tangan Sungho, dicium sela-sela jarinya seputih susu, kuku Sungho yang baru saja dia potong. Sungho membiarkan Taesan mencium tangannya seolah Sungho adalah bentuk persembahan Tuhan yang patut disayang. Selalu dicium, diberi kasih sayang, ditumpahkan perhatian lebih banyak.
Ciuman Taesan membuat geli Sungho, jadi beberapa kali Sungho menggigil. “Giliran gini tau.” mata Sungho melembut menatap Taesan. Mendengar hal itu Taesan justru tertawa tipis, “Soalnya Kakak di sebelahku, mati juga aku sanggup.”
Di imajinasi Taesan, ia akan memeluk erat Sungho. Merasakan tubuh Sungho untuk terakhir kali sebelum ditelan bumi dalam keadaan saling melindungi. Kalau lebih rinci lagi, Taesan menangkup wajah Sungho. Menghujani ciuman abadi teruntuk sang Pujaan. Mulai dari hidung, kelopak mata, dahi, dagu, pipi kanan, pipi kiri, telinga, dan terakhir bibir. Di sini, Taesan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sebab Taesan tau pasti Sungho juga memilih diam sambil melihat Taesan dalam-dalam.
Pikirannya buyar karena Sungho menarik tangannya dari Taesan. Membuat Taesan cemberut. “Kakak gitu ya sekarang?”
Sungho cuman memutar bolanya, “Lebay,” tangannya menyisir rambut, “Lagian juga geli.” si Kucing Hitam itu memilih menjulurkan lidah sebelum memejamkan matanya. “Mau tidur?” tanya Sungho membaca gelagat sang kekasih. “Paling … i don’t know …” di akhir Taesan memberi erangan kecil.
Sungho bergumam, “Yaudah kalo tidur, nanti aku bangunin,” tangan Sungho menggulir layar ponselnya. “Paling.” Taesan memilih bangun daripada ditinggal pacar di resto. Ini juga sudah malam, mau tidak mau dia harus menahan rasa kantuknya. “Kakak yang setir ya?” pinta Taesan.
“Mending kamu tidur di sini bentar daripada aku yang nyetir.” adalah penyataan Sungho jika diartikan lagi maksudnya, aku gak mau nyetir, kamu aja. “Ah, Kakak aja deh setir.” nego Taesan sekali lagi. Tapi hasilnya nihil karena Sungho memilih diam daripada menjawab. Kemudian, Taesan menarik lengan Sungho, dilihatnya mata tajam Sungho. “Ayo, ya, Kak?” alasan lain Taesan meminta Sungho menyetir sebab Taesan ingin melihat tangan kekar Sungho memegang setir.
“Kamu cuman mau lihat aku nyetir kan?” Taesan ketahuan. Dia cengar-cengir, menenggelamkan kepala dibantalan tangan Taesan lipat untuk tidur. Sungho mengamati Taesan, diusap kembali mahkota rambutnya. “Tidur aja sana, nanti aku bangunin.” lantas tak lama, usapan Sungho membuat Taesan terlelap.
Selama kurang lebih 10 menit Taesan rasa dirinya tertidur. Taesan segera mencari keberadaan Sungho, tapi Sungho yang duduk di hadapannya kini menghilang. Entah kemana; ditelan bumi atau melangkah keluar resto duluan meninggalkan Taesan, Taesan tidak tahu menahu. Sebelum dia meraih ponsel genggam guna telepon Sungho, Sungho datang kemudian kembali mengusap kepala Taesan yang masih menempel di meja. “Kok pinter bangun sendiri?” ujar Sungho, karena sebelum tidur, Sungho sudah berjanji akan membangunkan Taesan.
Tangan kanan Taesan taruh di atas tangan Sungho, ia usap dengan lembut. “Habis ini mau kemana?”
Taesan balas berbisik, “Pulang.”
“Udah bisa nyetir?”
“Gatau.” Taesan mengusap kedua matanya. Masih sayu, hanya sepuluh menit tidur itu tidak menghilangkan rasa kantuk.
Di sekitar mereka, para pelayan mulai membereskan sisa pelanggan lain. Penuh suara kursi berderit, sendok-garpu bertubrukan, dan pelayan yang bersautan. Mungkin kalau Taesan dan Sungho lebih lama di sini, pelayan akan mulai mengusir keduanya. Sebelum itu terjadi, Sungho memutuskan.
Ketika Taesan masih meraup wajahnya, Sungho mengusul, “Aku aja deh yang nyetir. I’m not risking if you’re still sleepy-headed.” Taesan masih dikuasai oleh rasa kantuknya, jadi, dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Meski begitu, Taesan berhasil mencium tangan Sungho. Tidak tahu sejak kapan ia bawa telapak kekasihnya ke mulut itu.
Merasa gemas, Sungho memeluk kedua pipi Taesan, dicubitnya lucu. Taesan pasrah dalam genggaman Sungho, menutup kembali matanya. “Taesan, ayo pulang.” ujar Sungho sambil mencium hidung Taesan.
Dengan tersenyum dan mata yang sayup, Taesan menjawab, “Iya, ayo.”
