Chapter Text
Ohyul mengedip sekali, lalu dua kali, lalu tiga kali dengan cepat setelah menyadari plafon ruangan ini tampak sangat berbeda dengan apa yang diingatnya. Pun ia masih ingat dengan jelas kegiatan yang dilakukan sebelum semuanya berubah.
Sisa kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tapi ia masih sanggup jangkau pengelihatan lewat ekor mata. Dinding putih bersih, selang infus tergantung, dan nakas dengan monitor kecil yang mengeluarkan bunyi bip secara teratur seketika membuat napasnya tertahan.
Rumah sakit?
Setengah jam yang lalu, ia masih bersama tim estimate engineer selesaikan rapat terakhir bahas perhitungan RAB untuk tender yang akan dikerjakan enam bulan ke depan. Ia masih mengingat dengan jelas tumpukan draft RAB dan hasil pemetaan yang dipenuhi berbagai coretan angka di atas meja, juga proyektor yang belum sempat dimatikan.
Dua hari suntuk bersama Woonhak– kawan kantor sesama estimator–berkutat dengan angka, volume pekerjaan, serta revisi yang tak ada habisnya. Dengan embusan napas panjang, Ohyul rebahkan tubuhnya di sudut ruang rapat bersebelahan dengan Woonhak yang sudah lebih dulu terlelap.
‘Cuma dua puluh menit,’ pikirnya. Power nap untuk mengembalikan tenaga sebelum melanjutkan revisi terakhir yang tersisa dan pulang ke rumahnya.
Namun, kini semua terasa salah.
Tidak ada ceceran kopi yang tidak sengaja tumpah di sudut meja. Tidak ada suara pendingin ruangan kantor yang berdengung pelan. Tidak ada Woonhak yang seharusnya masih terlelap di atas matras tipis yang mereka gelar di lantai. Hanya ada bau antiseptik yang menusuk hidung dan keheningan asing yang membuat bulu kuduknya meremang.
Ohyul paksa kelopak matanya terbuka lebih lebar, biarkan pandangannya menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang memenuhi ruangan. Kepalanya berdenyut nyeri dan berat, kayak baru aja dihantam sesuatu yang besar dan kuat.
‘Anjing… dimana sih?’
Pertanyaan itu terus berputar di pikirannya tanpa satu pun jawaban muncul. Bahkan sewaktu coba gerakkan kepala, rasa ngilu yang terasa nyata menjalar dari pelipis sampai tengkuk memaksa dirinya kembali pejamkan mata.
Lalu telinganya tangkap suara pintu yang bergeser memecah keheningan. Seseorang masuk perlahan, dengan kemeja putih yang kusut dengan jaket yang ditenteng seadanya di tangan kanan. Rambutnya sedikit berantakan, sementara lingkar hitam di bawah matanya itu nampak jelas bahwa ia belum benar-benar beristirahat dalam beberapa hari terakhir.
Langkah itu terhenti sedetik setelah pandangan mereka bertemu. Tidak ada yang bersuara, hanya deru tipis pendingin ruangan dan monitor di sebelahnya yang berbunyi nyaring.
Raut lelah di wajah lelaki itu perlahan berubah menjadi kelegaan yang sulit untuk dijelaskan. Bibirnya bergetar kecil sebelum sebuah senyum tipis terukir.
"Sayang..."
Bisikan itu pelan. Terdengar akrab. Seperti mantra yang diucap beribu-ribu kali sepanjang tahun hidupnya. Namun bagi Ohyul, suara bahkan rupa lelaki itu sepenuhnya asing.
'Siapa lagi ini anjingggggggg.'
Lelaki itu berjalan mendekat, dengan hati-hati menggenggam jemari Ohyul yang dingin. "Kamu... akhirnya bangun,” ujarnya pelan.
Ohyul membeku.
Ada seribu pertanyaan yang ingin dilontarkan pada sosok di hadapannya, ingin menarik tangannya, ingin meminta penjelasan tentang semua yang terjadi. Tapi, selang bantu napas yang masih terpasang di tenggorokannya membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan menarik tangannya saja ia tak mampu.
Yang keluar hanya hembusan napas lemah dan sorot mata penuh kebingungan. Lelaki di hadapannya masih tersenyum kecil, berusaha menenangkan meski kedua matanya tampak memerah.
"Bentar ya, sayang."
Ia mengusap pelan punggung tangan Ohyul lagi sebelum menekan nurse call, seolah hal itu sudah ia lakukan ribuan kali sebelumnya.
"Aku di sini."
"Aku nggak ke mana-mana."
Masih dengan ingatan yang kacau dan keadaan yang belum sepenuhnya dipahami, Ohyul tidak bisa perkirakan berapa lama pemeriksaan berlangsung. Kepalanya masih terasa berat untuk proses apa pun, apalagi hitung waktu.
Ia hanya ingat ada beberapa wajah—entah tujuh atau delapan orang—yang datang bergantian, melontarkan pertanyaan yang menggema di dalam kepala, beserta cahaya senter kecil yang berkali-kali diarahkan ke kedua matanya.
Ketika semuanya berakhir, ruangan kembali sunyi. Sunyi yang terasa aneh. Sunyi yang buatnya makin sadar sedang berada di tempat yang benar-benar asing.
Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, Ohyul miliki kesempatan untuk benar-benar bisa perhatikan keadaan di sekelilingnya.
Dan lelaki itu masih disini. Duduk di kursi tepat di samping ranjang dengan ponsel yang menempel di telinga. Suaranya pelan, nyaris berbisik, seolah takut mengganggu seseorang yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Pun jaket yang semula digenggamnya itu terlihat dilipat rapi dalam pangkuan.
Ohyul menatapnya diam-diam. Lingkar hitam di bawah mata lelaki asing itu tampak sangat jelas, seolah ia sudah lewati malam-malam panjang tanpa istirahat. Rambut legam dengan potongan pendek itu sedikit berantakan makin kuatkan kesan ia sudah terlalu lama menghabiskan waktu di rumah sakit.
Lelaki itu hembuskan nafas panjang sebelum menyimpan ponsel ke saku celana. Setelah itu ia mengangkat kepala dan temukan Ohyul menatapnya penuh tanda tanya.
“Bibir kamu kering tuh,” ujarnya. “Mau nyoba minum air?”
Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu bangkit dari kursinya dan raih sebotol air di atas nakas.
Lagi-lagi, Ohyul hanya bisa perhatikan dalam diam. Semua terasa begitu asing, tetapi di saat yang bersamaan, cara lelaki itu memperlakukannya justru seolah mereka telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.
“Kata Dokter Byungchan, kamu belum boleh langsung minum air. Jadi aku basahin bibir dikit-dikit aja ya, sayang?”
Lagi-lagi, Ohyul diam. Bukan tidak ingin bertanya, tapi tubuhnya ini belum mampu mengikuti isi kepalanya sendiri. Dalam diamnya, ia kumpulkan tenaga yang tersisa, persiapkan diri untuk mengeluarkan suara pertamanya.
Bibir pucat itu perlahan bergerak setelah dibasahi air. Tenggorokannya kering dan perih, tetapi tetap ia paksa.
"...Si..."
Suara seraknya nyaris tak terdengar. Tapi sosok di hadapannya langsung menghentikan gerakan.
"Kenapa, sayang?"
Dan untuk pertama kalinya, Ohyul benar-benar berharap lelaki itu berhenti memanggilnya dengan sebutan yang terasa begitu asing.
Makin dalam tarikannapas Ohyul saat dirasa perih di tenggorokannya menjalar hingga ke pelipis, tetapi rasa penasaran yang penuhi kepalanya itu jauh lebih menyiksa.
Maka dengan susah payah, ia kembali menggerakkan bibirnya. "...Si...a..."
Lelaki itu kini bungkukkan badan, makin dekatkan telinganya pada bibir Ohyul. "Aku nggak dengar. Pelan-pelan aja, ya?"
Ohyul pejamkan mata sesaat, masih berusaha kumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya.
"Si... pa..."
Kali ini suaranya sedikit lebih jelas. Meski serak dan terputus-putus, lelaki itu langsung memahami maksudnya. Tapi, bisa Ohyul lihat sesuatu yang runtuh di balik sorot mata lelah pria itu, sesuatu yang perlahan pudarkan senyum hangatnya.
"Yang kamu tanya..." Ia menelan ludah. "...aku?"
Ohyul kedipkan matanya pelan, sekali, dua kali, hingga enam kali. Butuh waktu selama itu bagi lelaki di hadapannya untuk pahami maksud pertanyaan yang belum sempat terucap dengan sempurna. Dan sampai di kedipan ketujuh, pemahaman itu akhirnya menghantam telak, ekspresi di wajahnya seketika membeku.
"Kim Ryul,” jawabnya pelan.
Ohyul dapat merasakan jemari lelaki itu bergetar pelan saat genggam tangannya, seolah itulah satu-satunya cara untuk pastikan bahwa ia benar-benar telah kembali membuka mata.
"Aku Kim Ryul."
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, Ohyul lihat senyum lelaki itu tampak begitu rapuh. Seolah-olah, kalimat berikutnya membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada yang ingin ia tunjukkan.
"...suami kamu."
