Work Text:
Suara jangkrik menemani Hana menyusuri jalanan setapak yang kanan kirinya masih ditutup semak belukar. Pagi masih menggulung naik tirainya, matahari pun belum sepenuhnya hadir, mungkin oleh karena itulah mengapa suasana masih terasa sejuk. Embun pagi menetes dari dahan pohon rindang di pinggir jalan.
Saat sampai di semuah rumah dengan teras yang diisi dua kursi rotan, Hana meletakkan bungkusan yang ia bawa di salah satu kursi. Jemarinya kemudian mengetuk pintu kayu dengan cat warna merah tua kecoklatan.
"Punten.."
Mata Hana membelalak saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka. Di baliknya ada sesosok remaja perempuan sekitar umur enam belas tahun menggunakan potongan daster batik santai selutut.
"Ah, yang antar kain, ya?"
"Iya."
Hana menuju ke kursi untuk mengambil kainnya, namun keduluan oleh kakak yang ia asumsikan adalah anak dari penjahit sang pemilik rumah.
"Salam kenal, aku Laila. Kamu tunggu sebentar ya, biar aku kasih dulu ini ke Ibu."
Hana hanya menangguk, padahal sebenarnya tugasnya sudah selesai. Tapi entah apa yang ada di rumah ini yang membuatnya nyaman dan betah berlama-lama.
Dan jangan lupakan senyuman tipis yang dipoles Laila.
Sejak saat itu Hana selalu menanti perintah ibunya untuk mengantar kain hasil kerajinan tangan milik Sang Ibu untuk diantar ke rumah Laila. Dan setiap ia datang pula, Laila akan menyambutnya dengan hangat.
Contohnya seperti saat ini, Hana sedang memperhatikan Laila yang sedang menahan tutup teko keramik yang berisi cairan cokelat pekat. Semerbak melati dan teh mengisi udara, lalu sesendok madu juga ditambahkan sebagai pelengkap.
"Mbak Laila."
"Hmm?"
Laila dengan rambut cepol longgarnya itu menengok ke arah Hana.
"Mbak tuh kok bisa ya selalu keliatan tenang banget." Hana membiarkan isi kepalanya bertutur.
"Aku? Ah, aku juga banyak ngomong kok, Hana."
"Iya, tapi cara ngomong mbak itu kayak… Kalem, adem.. Aku rasanya pengen deket terus sama mbak."
Yang barusan itu sedikit berbahaya. Mungkinkah Laila menangkap makna tersirat dari kata-katanya?
"Dateng aja kapanpun, aku seneng kok kalo kamu dateng. Kita bisa ngobrol sepuasnya."
"I, iya mbak.."
Hana bodoh berharap Laila bisa peka.
"Kamu suka sama aku, Han?"
Teh yang sedang diseruput perempuan kelas tiga SMP itu masuk ke saluran yang tidak seharusnya.
"Eh!"
Laila buru-buru bangkit lalu membantu Hana mencondongkan badannya ke depan, lalu ia mendorong Hana untuk terus batuk dan mengeluarkan cairan yang membuatnya tersedak.
Saat Hana sudah mulai tenang, Laila mengelus punggungnya.
"Maaf, aku ngagetin, ya?"
"Iya.." Dengan mata masih berair, Hana menerima sapu tangan dari Laila.
"Mbak tau aku suka sama mbak? Dari kapan?"
"Abis kamu anter kain pertama kali, aku sama Ibu pernah ketemu Ibuk kamu di pasar, kami sedang antre kelapa dan Ibu kamu beli daging di sebelahnya. Ibu aku nanya, mau sekalian dipesankan kelapa? Ibuk kamu menolak, katanya kamu nggak suka kelapa dan santan. Tapi waktu selanjutnya kamu datang, aku lupa dan malah suguhin kamu kue rangi. Tapi kamu makan sampai habis."
Hana tidak perlu kaca untuk mengetahui kondisi pipinya yang bersemu merah.
"Aduh, ketahuan ya?"
"Lagian kamu selalu datang kayak anak anjing yang ekornya gerak-gerak. Lucu banget kalo kamu dengerin aku ngomong, tuh."
Laila tersenyum.
"Makasih ya Hana, udah sayang sama aku."
Lalu Laila berlutut di depan Hana yang masih terduduk di kursi rotan, pipinya yang sedikit gembul dicium lembut oleh Laila.
"Mbak juga suka sama Hana."
Minggu ini ada pasar malam yang akan datang menyambangi desa mereka. Hana sudah membuat janji dengan kekasihnya, Laila, untuk berkencan ke sana.
Ia mengenakan gaun santai selutut dengan sendal selop warna cokelat kesayangannya yang ia simpan untuk dipakai di acara khusus. Salah satunya adalah kencan dengan wanita kesayangannya.
"Mbak!"
Hana melihat Laila datang dengan kaos hitam polos serta rok midi manis bermotif bunga bunga kecil warna merah. Rambutnya dikepang dua dan wanginya seperti habis mandi.
Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam area pasar malam. Lampu-lampu menghiasi segala sudut yang membuat malam terasa benderang. Seterang hati keduanya yang dengan bahagia memilih wahana untuk dinaiki.
Hana sungguh berharap kenangan ini tak akan pudar selamanya dalam hatinya.
