Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-12-08
Updated:
2016-12-08
Words:
928
Chapters:
2/?
Comments:
2
Kudos:
17
Bookmarks:
2
Hits:
284

[hyperlapse]

Summary:

Ada jarak di antara kedua mata Tetsuya yang tak dapat ia ukur.

Notes:

akan diisi drabble drabble yang ditulis ketika saya sedang high, hence the implication and vagueness

Chapter 1: hyperlapse

Chapter Text

Ada jarak di antara kedua mata Tetsuya yang tak dapat ia ukur.

Satu klik, shutter kamera di tangan Ryouta bergegas membuka, meraih satu lagi potret yang menabur ingin di dalam relungnya. Selama ini titik fokus Ryouta hanya satu, dan ia menggigiti bagian dalam pipinya menatapi Tetsuya membaur bersama salju di dalam layar. Sudah dua puluh tujuh hari semenjak mereka terbang ke eropa, menjadi nomaden, meniti esok yang menjadi biang keladi perasaan bahwa ia akan selalu kalah taruhan. Bahwa hari ini semata-mata hanyalah ilusi dan esok hari tak lebih dari sebatas mimpi.
.
["Curi aku, Ryouta."

"Bawa aku pergi dari sini."]
.

Lain halnya dengan getar pasti yang melajur hingga ke ujung jemarinya saat ia mencetak memori hingga memori lewat lensa kamera, sejak awal mula, Tetsuya bukanlah hal yang bisa ia pertaruhkan.

Tetsuya meniti salju di antara remang. Cahaya lampu jalan yang berkedip terdistorsi hujan menjadi kaskade rintik-rintik warna yang jatuh dari langit, membaur di antara salju, menaungi Tetsuya, kemudian turun ke dalam bayang malam.

Ryouta mengangkat kameranya. Satu lagi momen untuk dikenang.

Sering kali Tetsuya mendorong Ryouta berpikir begini; debur laut, bias cakrawala, lelehan salju pertama, kecupan di penghujung hari, potret-potret signifikan hidupnya yang terblur dalam remang gaussian dan yang akan terpatri dalam memori selamanya. Ryouta bertaruh setiap hari, dan setiap waktu dirinya bergemetar bila saja semua itu akan menghilang, karena di dalam potret-potret itu, selalu, Tetsuya menjadi titik fokus yang permanen.

Tetsuya menatapnya dengan mata berkerut, dan Ryouta tahu ia tengah menahan spekulasi di ujung lidahnya, hampir selalu mengerti cara kerja otak Ryouta, mendeteksi rasa cemasnya. Ia mendekat dan mengambil sisa ruang di samping Ryouta, menarik kepala Ryouta untuk menyisihkan salju di poninya. Ryouta membalas dengan caranya sendiri; merasa puas setiap kali menaruh jemari Tetsuya yang merekat pas ke dalam spasi di antara jemarinya sendiri.

Mungkin ia melihat Tetsuya tersenyum, atau mungkin saja ia berhalusinasi. Namun segalanya selalu terasa seperti tidak nyata saat Tetsuya di sini.