Work Text:
Ada yang aneh dari Bom sejak beberapa hari yang lalu. Anak perempuan yang kini telah berusia lima tahun ini tiba-tiba menjadi anak perempuan paling rajin sedunia. Bagaimana tidak? Saat Youngjae baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah, Bom sudah bersiap di teras rumahnya. Anak perempuan itu akan membukakan gerbang, menunggu papanya turun dari mobil, kemudian menghalangi jalan papanya masuk ke kamar mandi sebelum papanya melepaskan kemeja kotornya dan celana kainnya sepulang bekerja—menyisakan celana pendek super pendek dan kaus putih tipis yang menjadi dalaman.
Tidak hanya itu, Bom juga akan berkeliling rumah untuk mencari-cari kain apa yang bisa dia masukkan ke dalam mesin cuci. Mulai dari kain serbet di meja dapur dan meja makan yang baru saja Junghwan ganti, selimut yang baru saja dicuci dua hari lalu, bahkan sprei di kamar orangtuanya yang ia lepas tanpa permisi—dan tentu saja tidak ia ganti dengan yang baru. Semuanya, dalam artian yang sesungguhnya, semua kain yang bisa dicuci akan Bom masukkan ke dalam mesin cuci dan dicuci hingga benar-benar bersih. Hal ini ia lakukan tanpa menjemurnya. Jadi Bom hanya akan mencuci dan mengeringkannya, kemudian menyerahkan sisanya pada ayahnya, Shin Junghwan, untuk dijemur dan disetrika.
“Sayang,” panggil Junghwan, mencari-cari keberadaan Youngjae yang tidak ditemukan dimanapun. Ia berkeliling rumah. Semua ruangan ia datangi mulai dari ruang tamu, teras, hingga gazebo kecil yang dibangun di atas kolam ikan di halaman belakang. Tidak ada Youngjae. Namun begitu ia membuka pintu kamar milik mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara pekikan dari dalam kamar.
“Kakak! Biasakan ketuk pintu dulu kalau mau masuk!”
Wajah Youngjae memerah padam. Ia hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya dengan bagian atasnya yang terbuka tanpa memakai apa-apa. Lelaki itu sedang berjongkok di depan lemari, mengecek pakaian-pakaian lama miliknya yang sudah lama tidak dipakai dan berbau lemari.
Junghwan terkekeh, “aku kan sudah melihat semuanya, buat apa malu? Toh, kau nggak menutup pintu kamar dengan benar.”
“Aku sudah menutupnya??”
“—tapi belum dikunci,” kata Junghwan cepat, yang hanya buat Youngjae semakin kesal. Lelaki itu bergegas menutup pintu dan mendaratkan pantatnya di tempat tidur luas yang ada di sebelah lemari. Ia memperhatikan bagaimana Youngjae mengambil pakaian-pakaian lama yang sudah lusuh itu dari lemari dan bertanya, “mau dibawa ke mana?”
Tidak ada jawaban. Youngjae masih sibuk mengambil pakaian-pakaian itu. Ketika ia menyeret keluar sebuah kemeja yang pernah ia pakai saat berkuliah, ia menoleh kepada Junghwan yang masih setia memperhatikannya, “kalau ini dibuang saja, bagaimana Kak? Lemarinya sudah penuh.”
“Boleh boleh saja,” balas Junghwan. “Tapi apa nggak sayang? Pakaian itu kan yang pernah kau pakai saat seminar proposal dulu. Aku ingat sekali.”
Pada saat itu Junghwan masih seorang fresh graduate dan memilih untuk bekerja di restoran ayam ibunya yang sudah semakin besar. Ia ingat betul harus menaiki bus antarkota di pagi-pagi buta demi mendengar kabar Youngjae yang akan melangsungkan seminar proposal siang harinya. Ia hanya memakai kaus hitam pendek dan celana jeans yang sudah terlalu sering dipakai, juga sebuah kemeja putih polos yang ia gunakan untuk melapisi kaus pendeknya diluar. Nahasnya, Youngjae yang saat itu sudah siap memasuki ruang sidang justru menabrak adik tingkat yang membawa kopi. Minuman itu tumpah begitu saja mengotori kemeja Youngjae. Detik itu juga Junghwan yang baru saja sampai langsung melepas kemejanya dan memberikannya kepada Youngjae—yang sudah hampir menangis karena panik.
Secara teknis, kemeja putih yang akan dibuang ke tong pakaian bekas itu adalah milik Junghwan.
“Pakaian kan bisa beli baru, Kak.”
Junghwan diam saja, sedikit mengerucutkan bibir. Baginya, setiap pakaian yang ia miliki selalu memiliki cerita. Misalnya jaket kulit yang ia pakai saat berkencan dengan Youngjae pertama kali. Atau seragam sekolahnya yang pernah terkena tumpahan kuah sup dari menu makan siang Youngjae saat mereka belum berpacaran dulu. Atau bahkan sekedar topi yang ia pakai saat dipukuli oleh geng sekolah lain dimasa sekolahnya. Semuanya ia simpan baik-baik tanpa pernah berniat untuk membuangnya. Namun rupanya Youngjae memiliki sudut pandang yang berbeda dengannya.
“Sayang, kan?” Tanya Junghwan lagi.
Ketika tahu suaminya terdengar merajuk, Youngjae terkekeh lagi. Ia perbaiki ikatan handuk di pinggangnya dan duduk di sebelah suaminya. “Iya-iya, nggak jadi dibuang.”
Senyuman Junghwan langsung mereka begitu mendengar Youngjae membatalkan niatnya. Ia menoleh sebentar ke arah laki-laki yang telah menemani hidupnya sejak SMA itu dan mengecup pipinya cepat, buat Youngjae terkekeh geli. “Ngomong-ngomong…”
“Ya?”
Junghwan menunjuk beberapa lembar uang kertas yang disiapkan Youngjae di atas tumpukan pakaian yang akan ia buang. “Itu buat apa? Kau mau membuang uang juga karena dompetmu sudah terlalu penuh?”
Ada sedikit tawa saat Junghwan menanyakannya, meskipun ia sungguh-sungguh penasaran kenapa Youngjae melakukannya.
“Oh, itu,” Youngjae mengendikkan bahu. “Buat Bom. Apresiasi kecil-kecilan karena dia sudah jadi anak perempuan yang rajin membantu ayahnya.”
Masih tidak mengerti, tatapan Junghwan tidak beralih dari Youngjae yang tersenyum kecil.
Youngjae melanjutkan, “Kakak kan, yang mengajarinya mencuci pakaian menggunakan mesin?”
Junghwan mengangguk saja. Kemudian saat mengingat Bom tiba-tiba menjadi super rajin belakangan ini ia jadi teringat sesuatu. Ia menjengit dalam duduknya, “pantas saja!”
Beberapa hari terakhir, keanehan Bom tidak hanya pada perilakunya yang menjadi super rajin. Ia juga menjelma menjadi anak perempuan yang rajin jajan. Saat pulang dari bermain bersama teman-temannya, ia akan membawa makanan yang dibelinya dari luar. Kadang-kadang es krim. Kadang-kadang kue churros dengan topping cokelat tebal yang disukai Junghwan. Atau kadang-kadang juga bapau isi ayam suwir yang dijual di kedai depan gang. Ia juga tidak lupa untuk menyuapi ayahnya yang menjemurkan pakaian bersih hasil kerja kerasnya mencuci seluruh kain di rumah.
“Jadi Bom bisa jajan sebanyak itu karena uang yang kauselipkan di pakaian yang akan dicuci, ya…” Junghwan terkekeh geli, membayangkan Bom yang memasuki teras rumah sambil membawa kantong makanan—yang terlihat terlalu besar untuk tangan kecilnya.
Youngjae mengangguk, memasukkan uang-uang itu pada kantong pakaian lama yang akan dibuang itu. Ia akan meminta tolong Bom untuk mencucinya sambil diam-diam memberi apresiasi kecil berupa uang saku supaya Bom dapat membeli makanan enak dari hasil kerja kerasnya.
“Lalu…”
Youngjae menoleh, “apa?”
Bibir Junghwan mengerucut lagi, “apresiasi untukku mana? Kan aku sudah mengajarinya mencuci pakaian.”
Meskipun berkata demikian, tangan Junghwan kini sudah mendarat pada simpul handuk yang mengelilingi pinggang Youngjae. Pikirannya sedikit ricuh karena sejak tadi melihat Youngjae hanya memakai handuk untuk menutupi pangkal pahanya dan membiarkan dadanya terekspos begitu saja. Ada sesuatu yang ingin Junghwan lakukan. “Boleh, ya? Sekarang?”
Tidak ada jawaban. Youngjae tahu persis apa yang Junghwan inginkan. Maka ia hanya diam saja saat suaminya mulai menggesekkan hidung di sepanjang tulang selangkanya yang tidak tertutup benang barang sehelai.
Junghwan menyeringai, ia tersenyum penuh kemenangan saat Youngjae memberikan sinyal lampu hijau untuk melanjutkan aksinya. Namun saat ia hendak menarik lepas handuk yang menutupi tubuh Youngjae, tiba-tiba saja pintu kamar mereka digedor dengan begitu keras dari luar kamar.
Dug! Dug! Dug!
“Ayah!!! Papa!!! Kenapa lama sekali?!!!” Bom menjerit dari depan pintu. “Bom sudah menunggu sejak tadi. Katanya mau mencuci baju?!! Nanti keburu malam dan kedai bapau di depan gang bisa tutup karena tidak sabar menunggu Bom mencuci pakaian!!!”
Tidak ada korelasinya. Namun sepertinya Bom sudah berencana akan membeli bapau isi menggunakan uang yang ia temukan dari kantong pakaian Youngjae.
Junghwan mengerang kesal, yang buat Youngjae tertawa lebar sambil mendorong bahu suaminya menjauh. Kata Youngjae, “nanti malam, kan, bisa. Kita tunggu Bom-i tidur, ya, Kakak sayang?”
Begitu mengatakannya, Youngjae langsung bangkit dari kasur dan membawa tumpukan pakaian lama dari kasurnya untuk diberikan kepada Bom. Namun karena Junghwan justru semakin cemberut, ia menyempatkan diri untuk berbalik dan mengecup bibir suaminya cepat sebelum meninggalkan kamar.
Di luar, Bom sudah menunggu. Wajahnya sama cemberutnya dengan Shin Junghwan di dalam. Ia bersedekap, “papa lama sekali! Terus kenapa kok wajahnya papa merah sekali? Apakah di dalam kamar papa pendingin ruangannya sedang rusak?”
Tidak ada jawaban. Youngjae hanya buru-buru mengecek kondisi wajahnya di depan cermin dan merutuk kulitnya sendiri yang terlampau sensitif hanya karena beberapa sentuhan kecil dari suaminya yang mungkin masih cemberut itu.
Sialan kau Shin Junghwan.
