Actions

Work Header

yang biasa, mas?

Summary:

Awalnya Wakatoshi cuma numpang makan di warung Tooru. Awalnya. 

Notes:

alternatively: Tooru as teteh warkop ngaduk kopi liong buat Wakatoshi supir truk lintas sumatra.

playlist biar mantep.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Asap rokok ngambang tipis dekat langit-langit. Dari televisi yang gambarnya semut-semut, suara penyanyi dangdut bercampur sama bunyi sendok beradu dengan gelas kaca.

Di luar habis hujan sebentar. Aspal depan masih basah dan mengilat kena lampu kendaraan yang lewat satu-satu.

Tooru lagi jongkok di depan kulkas minuman yang susah nutup pintunya pas listrik mati sepersekian detik.

“Eh. Eh. Jangan sekarang anjing.”

Dia mijat pelipisnya frustrasi pas listrik beneran mati.

“Sialan.”

Bapak-bapak supir truk yang lagi ngobrol di meja depan langsung nyaut.

“Waduh, Mas Tooru, mati lagi?”

“Padahal hujan bentar doang,” yang satu lagi ikut nimbrung. “Gak gede-gede amat juga.”

“Lah iya, padahal kagak deres hujannya,” yang pakai kaos partai ikut nanggepin sambil nyeruput kopinya yang lebih hitam dari aspal itu.

Tooru berdiri sambil ngembusin napas panjang.

“Tunggu bentar, tunggu bentar.”

Dia ngeraba-raba bawah meja nyari senter yang entah ketendang ke mana. Dari luar masih ada suara bapak-bapak debat harga solar sambil ketawa-ketawa kecil.

“Minggu kemarin naik lagi, Bang.”

“Naik mulu. Gaji kagak.”

“Udah untung bisa narik.”

“Untung dari mana anjing.”

Senter akhirnya ketemu di bawah tumpukan kardus mie instan. Tooru baru mau nyalain waktu cahaya lampu besar nyapu aspal depan warung.

Suara rem angin terdengar panjang dari luar.

Salah satu bapak-bapak di depan langsung nengok.

“Nah tuh, pelangganmu udah dateng.”

“Pelanggan apaan.”

Tapi Tooru sudah keburu lihat truk hijau yang parkir miring dekat pohon depan. Gak lama, cowok tinggi itu turun dari kabin, nutup pintunya pelan, terus jalan ke arah warung.

“Mati lampu lagi, Dek?”

Tooru yang dari tadi belum sempat nyalain senter baru sadar.

“Iya nih.” Dia buru-buru nekan tombol senter. “Duduk dulu aja, Mas. Kopinya aku bikinin dulu.”

Wakatoshi langsung manut duduk di meja depan tanpa banyak bicara. Tooru juga langsung masuk lagi ke meja belakang. Tangannya ngeraih sachet kopi dan dua bungkus mie instan.

Baru setelah air di ketel mulai dipanasin, dia noleh sedikit.

“Yang biasa kan, Mas?”

Wakatoshi mengangguk.

“Iya.”

Tooru meletakkan segelas kopi dan lilin kecil di tengah meja. Cahaya kuningnya goyang pelan ketiup angin malam.

“Mienya bentar ya, Mas.”

Wakatoshi mengangguk kecil. Jemarinya melingkari gelas kaca itu, menikmati hangatnya kopi sebelum menyeruput.

“Makasih, Dek.”

Tooru balik lagi ke meja belakang. Air di panci kecil mulai mendidih, disusul dengan suara bungkus mie yang disobek. Mie, bumbu, telur—urutan yang sama, berulang entah sudah berapa ribu kali.

Toh, buat sebagian orang yang mampir ke warung ini, semangkuk mie panas sudah cukup buat lanjut jalan beberapa jam lagi.

Dari meja depan, obrolan masih jalan terus seolah listrik mati gak pernah jadi masalah.

“Abis ini ke mana, Mas?”

“Jambi.” Wakatoshi cuma jawab singkat sambil nyeruput kopinya dikit-dikit.

“Balik lagi kapan?”

“Kalau gak ada perubahan, minggu depan.”

Tooru samar-samar ngedengerin obrolan itu dari meja belakang sambil mindahin mie ke mangkuk. Tanpa sadar dia ikut ngangguk kecil sendiri.

“Jambi lagi hujan mulu katanya.” Bapak yang duduk di pojokkan ikut nimpalin. “Jalanan licin.”

Wakatoshi cuma mengangguk mengiyakan.

“Bapak ke mana abis ini?”

“Saya mah ke Lampung.”

Wakatoshi belum sempat menanggapi pas Tooru datang bawa semangkuk mie. Dengan cekatan dia meletakkan mangkuk itu di depan Wakatoshi terus nyodorin sendok dan garpu yang entah sejak kapan sudah kebawa di tangan kirinya.

“Hati-hati ya, Pak. Katanya jalur sana sempet longsor.” Ucap Tooru sambil balik lagi ke belakang meja, ngelap tangan pakai lap yang dia sampirin ke bahu.

“Cerewet amat.”

“Ya daripada Bapak nyangkut jam tiga.”

“Lah emang situ yang narik?”

Tooru mengembuskan napas.

“Pak.” Dia berhenti sebentar, “Kalau Bapak kenapa-kenapa nanti siapa yang repot?”

“Anak Bapak?”

“Bukan.” Tooru langsung nyaut. “Saya, Pak. Disuruh nyari pelanggan baru.”

Meja depan langsung ramai sama tawa. Yang pakai kaos partai refleks nepuk meja. Yang duduk di pojok ketawa sampai batuk-batuk. Yang lain cuma geleng kepala sambil senyum.

Wakatoshi cuma nunduk dikit, ujung bibirnya naik nyaris gak keliatan.

“Denger tuh. Kita cuma aset dagangan.”

“Pantes kalau ke sini disuruh nambah nasi terus.”

Tooru langsung protes. “Ya biar kuat nyetirnya.”

Tawa mereka belum benar-benar reda waktu suara pintu kabin truk ditutup kedengaran dari luar.

Seorang cowok yang umurnya gak lebih tua beda dari Tooru baru turun dari kabin truknya sambil merenggangkan badan.

“Bang Tooru,” suaranya masih serak habis bangun tidur. “Sebat dong. Yang biasa.”

Tooru bahkan gak nengok. Tangannya langsung ngeraih rak belakang, ngambil sebungkus rokok, terus ngelemparnya asal.

Cowok itu nangkep pas di depan dada.

“Mantap.” Dia nyengir. “Dibon dulu ya, Bang. Miskin gue.”

“Miskin mah gak usah nyebat, anjir.”

“Asem.”

Cowok itu ngeluarin sebatang, nyelipin di bibir, terus nyalain pakai korek yang entah keluar dari mana.

“Geser dong, Bang.” Cowok itu nunjuk bangku di sebelah Wakatoshi.

Wakatoshi langsung menggeser duduknya tanpa banyak tanya

Cowok itu langsung duduk sambil menyesap rokoknya. “Diajak ngobrol tuh jawab napa, Bang. Diem-diem amat.”

Wakatoshi berhenti ngunyah.

“…Maaf.”

Dari balik meja, Tooru langsung geleng kepala.

“Jangan gangguin orang tua.”

“Lah gue juga udah gede, Bang.”

“Elu mah bocah.”

“Sialan.”

Cowok itu cuma mendengus pelan sebelum kembali menyesap rokoknya. Obrolan di meja depan masih berlanjut sampai listrik akhirnya menyala kembali.

Satu per satu gelas kopi kosong. Mangkuk mie tinggal kuah. Ada yang pamit, ada yang bayar, ada juga yang nambah bon.

Di luar, mesin truk mulai hidup bergantian. Lampu-lampu besar satu per satu menjauh, meninggalkan jalan yang kembali sepi.

Wakatoshi berdiri paling akhir, tangannya merogoh kantong dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

Tooru bahkan gak perlu ngitung.

“Sampe hapal ya, Mas.”

Wakatoshi mengangguk kecil.

Tooru memasukkan uang itu ke laci, terus mendongak lagi.

“Hati-hati ya, Mas.”

“Iya.”


Malam-malam berikutnya berlalu hampir sama.

Ada yang datang cuma buat ngopi. Ada yang numpang tidur dua jam sebelum lanjut jalan. Ada juga yang sekadar mampir cuma buat numpang ke kamar mandi terus pergi lagi tanpa sempat duduk.

“Bang, sebat.”

Tooru bahkan gak nengok pas ngelempar sebungkus rokok.

“Dibon lagi ya, Bang.”

“Balikkin.”

Supir muda itu cuma ngedip.

“…Hah?”

“Balikkin.”

“Satu doang, elah.”

“Utang lu numpuk.”

“Nanti gue bayar.”

“Pakai apa?”

Cowok itu nyengir.

“Kan ada pinjol.”

“Gue gak nerima cicilan pinjol.”

Cowok itu langsung cemberut. Dengan ogah-ogahan dia ngebalikkin bungkus rokok itu ke meja. Tooru nerima, terus malah ngedorong sepiring gorengan ke arahnya.

“Nih.”

Cowok itu ngernyit.

“Kalau mau ngutang, buat makan.”

Hujan makin sering turun belakangan ini. Kadang cuma gerimis, kadang bikin jalan depan warung nyaris gak keliatan.

“Tooru.”

“Ya?”

“Kok gak manis ini kopinya?”

“Lah minggu lalu katanya gula tinggi.”

“Ya kan minggu lalu.”

Tooru berhenti mengaduk kopi.

“Pak.” Dia mendesah pelan. “Jangan buru-buru pengen mati gitu lah.”

Bapaknya cuma mendengus, tapi kopinya tetap diseruput.

“Tambahin dikit lah.”

“Iya atuh, A’. Umur segitu mah gak usah banyak diatur.” Yang pakai kaos Indomie ikut nyaut.

Tooru cuma mendecak.

“Yaudah cepet mati sana.”

“Heh mulut lu!”

Meja depan langsung pecah sama tawa.

Malam berlanjut seperti biasa. Gelas-gelas kopi kembali terisi, gorengan tinggal remah-remah, dan satu per satu truk kembali menyalakan mesin sebelum lanjut jalan.

Hampir gak ada yang berubah dari warung kecil di pinggir jalan itu.

Malam berikutnya, truk hijau itu datang lagi.

“Yang biasa, Mas?”

Tooru sudah keburu nyobek bungkus kopi sebelum sempat nanya.

Wakatoshi cuma mengangguk sebelum duduk.

“Iya.”

Minggu demi minggu, warung Tooru tetap ramai seperti biasa.

“Bang Tooru.”

“Hm?”

“Kok manggilnya ‘Mas’ sih?”

“Siapa?”

“Nih.” Si supir muda itu menepuk bahu Wakatoshi. “Bang Wakatoshi.”

Tooru diam sebentar.

“…Kalau orang jawa kan dipanggilnya ‘Mas’”

Dari meja sebelah, bapak yang pakai kaos putih—yang sebenarnya sudah gak layak disebut putih—ngangkat kepala.

“Lah saya juga jawa.”

Tooru refleks nengok.

Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Keningnya sampai berkerut, seolah jawaban buat pertanyaan itu benar-benar perlu dipikir.

“Sampeyan lima puluh lima, Pak.”

Bapaknya cuma mengerjapkan matanya pelan.

“…lima puluh dua.”

Warung langsung ramai lagi dengan suara tawa.

Malam itu berakhir seperti malam-malam lainnya. Truk datang, truk pergi. Ada yang bayar, ada yang nambah bon. Ada yang pamit sambil teriak dari balik jendela kabin sebelum suara mesin menelan suaranya.

Malam-malam setelahnya gak banyak berubah.

Tooru masih hafal kopi siapa yang harus dikurangi gulanya. Masih hafal siapa yang pasti bon gorengan. Masih hafal suara mesin beberapa truk yang hampir tiap minggu mampir.

Cuma ada satu suara yang belakangan ini gak terdengar lagi.

Suara mesin truk hijau itu.

Menjelang dini hari, warung sudah mulai sepi. Satu per satu truk-truk meninggalkan halaman begitu para supir selesai beristirahat. Yang tertinggal cuma suara kipas angin yang berderit sama televisi yang masih nyala tanpa benar-benar ditonton.

Untungnya—atau sayangnya—yang belum pulang tinggal si supir muda rese itu.

Tooru lagi ngelap meja, tapi tiap ada suara mesin truk mendekat, tangannya selalu berhenti sepersekian detik sebelum refleks mendongak ke arah jalan.

“Nyariin siapa sih, Bang?”

“…Gak ada.”

Si supir muda itu malah senyum iseng.

“Abang yang diem mulu itu gak pernah dateng lagi deh.”

Tooru baru berhenti ngelap meja.

“…Mas Wakatoshi?”

Cowok itu cuma ngangguk.

“Bosen kali sama Bang Tooru.”

Tooru diam beberapa detik.

“…Bosen apaan.”

Handuk kecil langsung melayang ke arah kepala cowok itu.

“Woi!”

Cowok itu ketawa sambil ngusap kepalanya.

“Jadi beneran?”

“Beneran apaan?”

Cowok itu nunjuk Tooru, terus nunjuk jalan di luar.

“Kalian berdua.” Dia sengaja berhenti sebentar. “Gitu.”

Tooru cuma ngasih tatapan datar.

“Gitu apaan.”

“Ya… gitu.”

“Kebanyakan nyebat jadi gini nih.”

Tooru ngambil bungkus rokok kosong terus ngelempar ke arah cowok itu.

“Otak lu ngebul.”

Cowok itu cuma mendecak pelan.

“Serius, Bang. Masa gak kepikiran?”

“…Enggak.”

“Yakin?”

“Iya. Orang cuma pelanggan.”

Cowok itu langsung manggut-manggut pelan.

“Oh.”

Kepalanya sih ngangguk, tapi senyumnya jelas gak percaya.

“Apa jangan-jangan dia diem-diem nikah ya.”

Tooru gak langsung jawab.

“Kayaknya cocok jadi suami orang.”

Lap di tangan Tooru berhenti bergerak.

“Bang.”

Masih diem.

“Bang Tooru.”

“…Apaan.”

Cowok itu senyumnya makin lebar.

“Lama banget mikirnya.”

Tooru cuma ngelirik sebentar, terus mendengus.

“Cuma pelanggan.”

“Katanya.”

“Kan emang.”

“Terus kenapa diem?”

Tooru ngernyit.

“Diem apaan?”

“Pas gue bilang dia nikah.”

“Ngaco.”

Cowok itu langsung ketawa.

“Diem sebelum gue lempar pisau.”

Cowok itu buru-buru ngangkat kedua tangannya.

“Bang, itu mah bahaya.”

“Ya, makanya diem.”

Hari berganti minggu. Hujan masih sering turun. Supir muda itu masih aja bon rokok. Bapak yang gula darahnya tinggi tetap ngotot kopinya kurang manis.

Tooru masih ingat siapa yang suka minum teh tawar, siapa yang selalu minta tambah sambal, sampai suara beberapa mesin truk yang mampir.

Cuma satu yang belum juga muncul.

Sampai suatu malam, suara mesin itu akhirnya berhenti di depan warung.

Tooru refleks mendongak.

Truk hijau.

Tangannya tanpa sadar menaruh gelas yang dari tadi dia pegang.

“Yang biasa, Mas?”

Pertanyaan itu keluar bahkan sebelum Wakatoshi sempat duduk.

“Iya.”

Tooru baru sadar ada perban putih melilit di lengan kiri Wakatoshi.

“Mas…”

“Iya?”

“Lama gak keliatan.”

Wakatoshi mengangguk pelan.

“…Aku sampai ngira Mas yang masuk berita kecelakaan itu.”

“…Emang saya.”

Tooru berkedip, terus mengembuskan napas panjang.

“Jangan mati dulu lah, Mas.”

Wakatoshi menatapnya beberapa saat.

“…Maaf.”

“Jangan minta maaf juga.”

Untuk beberapa saat, gak ada yang bicara di antara mereka. Sampai pelan-pelan ujung bibir Wakatoshi terangkat.

“Kenapa senyum-senyum?”

“Lucu.”

“Apanya?”

“Kalau kamu ngomel begitu, Dek.”

Tooru langsung mendecak pelan.

“…Apaan.”

Telinganya langsung panas. Dia buru-buru membalik badan, pura-pura sibuk nyeduh kopi dan memindahkan mie ke mangkuk.

“Mentang-mentang lebih tua.”

Wakatoshi cuma mengangguk kecil.

Tooru berhenti, kayak ingat sesuatu.

“Mas.”

“Iya?”

“Sebenernya Mas umur berapa?”

“Dua puluh empat.”

Tooru langsung nengok.

“…Lah.”

“Ada apa?”

“Aku juga dua puluh empat.”

“Oh.”

“Oh apanya?”

“Kirain kamu lebih muda.”

Beberapa menit kemudian Tooru datang bawa segelas kopi dan semangkuk mie, lalu meletakkannya di depan Wakatoshi.

“Harusnya aku gak perlu manggil ‘Mas’.”

Malam itu warung memang lagi sepi. Tooru akhirnya ikut duduk di kursi seberang.

Wakatoshi cuma mengangguk pelan.

“Mas juga.”

“Kenapa?”

“Jangan manggil ‘Dek’ terus.”

“Kenapa?”

“Kan aku jadi makin yakin Mas lebih tua.”

Wakatoshi keliatan mikir sebentar.

“…Maaf. Saya kira saya lebih tua.”

Tooru mengembuskan napas pendek.

“Coba manggil nama aja.”

“Hm.”

“Manggil aku ‘Tooru’ aja.”

Wakatoshi diam beberapa detik.

“…Tooru.”

Suaranya pelan dan datar seperti biasa, tapi entah gimana bikin dada Tooru ikut mengencang.

Ada jeda sepersekian detik sebelum Tooru buru-buru memalingkan muka.

“…Gak usah deh.”

“Kenapa?”

“Panggil ‘Dek’ aja.”

Wakatoshi memiringkan kepalanya sedikit.

“Tadi katanya jangan.”

“Iya, tapi…”

Tooru mengusap tengkuknya sendiri.

“…Yaudah lupain aja.”

Wakatoshi menatapnya beberapa saat.

“Dek.”

Tooru cuma menggangguk pelan.

“…Sekarang gantian.”

Tooru mengerjap.

“Apanya?”

“Manggil saya.”

Tooru mendadak kaku.

Nafasnya tercekat beberapa saat, jantungnya rasanya mau lari dari tempatnya.

“…Wakatoshi.”

Hening.

Wakatoshi gak langsung jawab.

Tooru jadi makin salah tingkah.

“…Udah deh, gak usah.”

“Iya, Tooru.”

Tooru refleks mendongak.

Baru kali itu dia sadar, telinga Wakatoshi juga sama merahnya dengan telinganya sendiri.


Sudah hampir sembilan jam Wakatoshi di balik kemudi.

Jalanan itu seperti gak ada ujungnya. Aspal basah memantulkan cahaya lampu, truk yang datang dari arah berlawanan, sementara wiper terus bergerak mengusir sisa gerimis.

Siaran radio terputus sejak tadi sore. Makan terakhirnya mie instan di rest area tiga jam lalu. Masih ada beberapa jam lagi sebelum sampai tujuan.

Di kilometer sekian ada dua pilihan. Belok kanan lebih cepat. Lurus dua puluh menit lebih lama.

Wakatoshi tetap lurus.

Mungkin karena kantuknya mulai berat. Mungkin karena perutnya mulai lapar lagi. Mungkin karena parkir di sana lebih gampang buat truk besar.

Mungkin karena Tooru.

Warung itu memang buka dini hari. Kopinya enak. Mienya cepat jadi. Halamannya cukup luas buat truk. Lampunya terang walau kadang suka tiba-tiba mati.

Yah, kalau itu sih salah pemerintah.

Wakatoshi belum sempat duduk pas Tooru nanya—

“Yang biasa, Mas?”

yang kedengaran lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

Wakatoshi cuma mengangguk.

“Iya.”

Tooru selalu ingat pesanannya. Padahal pelanggan di warung itu banyak. Mungkin memang karena pekerjaannya.

Wakatoshi juga jadi ikut hafal harga kopi, mie, dan telur di warung itu. Bukan karena sengaja menghafal, tapi karena terlalu sering mampir.

Wakatoshi lagi nyeruput kopinya dikit-dikit waktu bapak yang duduk di sebelahnya tiba-tiba nyeletuk.

“Mas Tooru itu enak.”

Wakatoshi berhenti minum.

“...Kopinya?”

“Bukan.”

“...Mienya?”

“Ya enak juga.”

“Terus?”

Bapak itu ketawa pelan.

“Orangnya, Mas.”

Wakatoshi mengernyit.

“...Maksudnya?”

“Ya orangnya, Mas. Hafal pesanan kita. Kalau capek disuruh tidur dulu, kalau gak ada uang boleh dibon dulu, kalau gak makan malah dimarahin.”

Ujung-ujungnya Wakatoshi cuma mengangguk kecil.

“...Oh.”

Dia kembali mengangkat gelas kopinya, tapi entah kenapa telinganya jadi panas.

Bapak itu melirik sekilas

“Lho.”

Wakatoshi berhenti lagi.

“Mas mikir apa emangnya?”

“...”

Wakatoshi diam cukup lama sampai-sampai bapak itu malah ketawa makin keras.

“Bukan itu, Mas.”

“…”

“Saya ngomongnya gak ke situ.”

Wakatoshi pelan-pelan memalingkan muka. Telinganya makin panas. Bapak itu masih setengah ketawa pas dia bilang—

“Mas.”

“Iya?”

“Kalau nanti jadi, undang saya ya.”

Wakatoshi berkedip pelan.

“...Jadi apa?”

Bapak itu ikut berhenti.

“…Lho, belum?”

“Belum apa?”

Sekarang giliran bapak itu yang keliatan bingung. Dia bergantian menunjuk Wakatoshi, terus ke arah Tooru yang lagi sibuk adu mulut sama si supir muda perkara bon rokok

“Lah… Mas sama Mas Tooru.”

Wakatoshi mengikuti arah telunjuknya. Tooru masih berdiri di balik meja. Si supir muda itu masih mohon-mohon ke Tooru.

“Satu doang, Bang.”

“Balikkin.”

“Bang…”

“Balikkin.”

Perdebatan yang hampir selalu terjadi setiap kali Wakatoshi mampir.

Supir mudanya tetap bon rokok.

Tooru tetap mengomel.

Wakatoshi menoleh lagi ke bapak di sebelahnya.

“…Saya masih kurang paham.”

Bapak itu menatapnya beberapa detik sebelum ketawa lagi.

“Yaudah, gak usah dipahamin sekarang.”

Hujan turun lebih deras malam itu.

Wakatoshi cuma ingat ban belakang sempat kehilangan cengkeraman waktu masuk tikungan. Setelah itu semua berlangsung begitu cepat. Bunyi rem. Besi yang beradu. Sabuk pengaman yang menghentikan tubuhnya mendadak.

Untungnya truk gak sampai terguling.

Dokter bilang cuma otot lengan kirinya yang ketarik cukup parah. Gak ada tulang yang patah, tapi tetap harus diistirahatkan.

Dua minggu.

Dua minggu dia gak bisa narik.

Wakatoshi mengangguk waktu dokter menjelaskan. Itu keputusan yang masuk akal. Memaksakan nyetir dengan kondisi begitu justru lebih berbahaya.

Baru setelah perjalanan pulang, waktu dia duduk di kursi penumpang truk yang dikemudikan temannya, pikirannya mulai menghitung hal-hal lain.

Dua minggu berarti pemasukan bulan ini berkurang. Jalur itu juga gak akan dilewati dulu.

Dia memandang keluar jendela. Hujan masih turun tipis-tipis.

Berarti… gak mampir ke warung itu juga.

Wakatoshi baru sadar dia sudah terbiasa berhenti di sana tiap lewat jalur itu. Minum kopi. Makan semangkuk mie. Dengerin Tooru ngomel karena dia makan terlalu malam atau lupa istirahat.

Harusnya ngabarin.

Dia ngeluarin ponsel dari saku celananya, terus berhenti.

Nomor Tooru gak ada.

Padahal dia sudah hafal harga makanan di warung itu, hafal letak gelas-gelasnya, bahkan hafal suara Tooru waktu dia memanggilnya.

Tapi nomor telepon sendiri gak pernah ditanya.

Wakatoshi menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum mematikannya lagi.

Mungkin Tooru bakal ngira dia pindah jalur.

Atau mungkin gak kepikiran sama sekali.

Wakatoshi gak begitu paham kenapa pikiran itu bikin dia merasa kecewa.

Dua minggu gak melewati warung itu harusnya gak mengubah apa-apa.

Tapi ada satu hal yang berubah.

Sekarang dia punya nomor Tooru.

Harusnya itu cuma deretan angka.

Nyatanya, setiap kali nama Tooru muncul di layar ponselnya, entah kenapa rasanya jauh lebih menyenangkan dari seharusnya.

Mereka hampir gak pernah ngobrol.

Wakatoshi juga gak tau harus mengirim apa.

Sebagian besar percakapan mereka bahkan selesai dalam hitungan detik.

Wakatoshi

Sudah makan?

Jawaban Tooru datang beberapa menit kemudian.

Tooru

mas itu nanya atau ngingetin

Wakatoshi menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengetik.

Wakatoshi

Dua-duanya

Hampir satu menit berlalu.

Tooru

…

udah

Besoknya gak ada pesan sama sekali.

Baru malam berikutnya, begitu truk Wakatoshi berhenti di depan warung, dia kembali membuka ruang obrolan yang sama.

Wakatoshi

Saya sampai

Balasan Tooru datang bahkan sebelum mesin truknya mati.

Tooru

oke, aku lagi manasin air

Sejak itu, percakapan mereka hampir selalu sesederhana itu.

Wakatoshi

Saya telat satu jam

Tooru

emang aku nanya

Beberapa menit kemudian, satu pesan lagi menyusul.

Tooru

hati-hati

Di lain waktu—

Wakatoshi

Hujan deras

Tooru

iya mas. hati-hati ya

bawa jas hujan?

Wakatoshi membaca pesan di layar ponselnya itu cukup lama.

Wakatoshi

Saya di dalam truk

Tooru

oh iya

Kadang yang dikirim cuma dua kata. Kadang gak ada balasan sama sekali.

Yang penting, pesannya terkirim.

Yang penting, Wakatoshi tau Tooru masih buka warungnya.

Yang penting, Tooru tau Wakatoshi masih ada di jalan.

Entah sejak kapan, itu saja sudah cukup.

Malam itu, lagi-lagi yang tersisa di warung cuma mereka berdua.

Wakatoshi masih duduk di meja depan dengan segelas kopi yang tinggal seperempat. Tooru berdiri di balik meja belakang, sibuk ngelap meja yang sebenarnya sudah bersih.

Di luar cuma terdengar suara jangkrik sama truk yang sesekali melintas tanpa berhenti.

“Mas.”

“Iya?”

Tooru berhenti sebentar.

“Kayaknya aku bakal tutup warung sementara.”

“…Kenapa?”

Tooru menaruh lap ke bahunya lagi.

“Mau pulang.”

Wakatoshi mengangguk pelan.

“…Ada urusan?”

Tooru mengembuskan napas pendek.

“Ibu masuk rumah sakit.”

Hening beberapa saat.

“…Sakit apa?”

“Gagal ginjal.” Tooru mengusap tengkuknya pelan. “Belakangan ini sering drop. Bapak sendirian di Jogja.”

Wakatoshi mengangguk kecil.

“…Saya kira orang tuamu di sini.”

Tooru menggeleng.

“Udah beberapa tahun balik ke Jogja.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku emang lahirnya di sini, Mas. Tapi Bapak sama Ibu asli Jogja.” Tooru berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Waktu mereka mutusin balik, warung ini aku yang lanjutin.”

Wakatoshi baru sadar selama ini dia gak pernah kepikiran buat nanyain itu.

“…Berapa lama?”

Tooru diam cukup lama sampai yang terdengar cuma suara kipas angin.

“Belum tau.”

Tooru menengok ke arah luar warung. “Udah bilang bapak-bapak juga.” Dia ketawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Biar nanti gak pada nyari kopi terus ngamuk-ngamuk.”

Wakatoshi ikut melihat ke luar warung. Halaman warung malam itu kosong, cuma ada truknya yang terparkir di sana.

“…Oh.”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Tooru melirik sekilas.

“Mas.”

“Iya?”

“Nanti jangan nyasar ke sini, ya.” Tooru sekarang berganti menatap Wakatoshi. “Warungnya beneran tutup.”

Wakatoshi cuma mengangguk.

“…Baik.”

Tooru ketawa pelan.

“Mas tuh kalau jawab serius banget.”

Malam itu Wakatoshi pulang sedikit lebih lambat dari biasanya. Bukan karena jalanan macet. Dia cuma duduk beberapa menit lebih lama di dalam truk sebelum menyalakan mesin.

Untuk pertama kalinya sejak dia melewat jalur itu, dia tau akan ada malam-malam ketika lampu warung itu benar-benar padam.

Bukan karena mati listrik.

Tapi karena Tooru memang gak ada.


Hari-hari berikutnya berjalan pelan.

Tooru lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Wakatoshi masih tetap lebih banyak di jalan.

Jarak di antara mereka bertambah ratusan kilometer. Anehnya, ruang obrolan mereka malah ikut bertambah panjang.

Wakatoshi

Hari ini gak sempat istirahat

Tooru

minggir dulu mas

Wakatoshi

Lagi macet

Tooru

bukan gitu maksudku

Percakapannya masih sering berhenti di situ. Kadang baru lanjut beberapa jam kemudian. Kadang malah besoknya.

Tooru

tadi ada truk hijau lewat pas aku beli makan

aku kira mas

Wakatoshi

Saya bahkan gak di jawa

Tooru

iya aku tau

Di lain hari, Wakatoshi tiba-tiba mengirim foto sebungkus kopi sachet yang baru dia beli di minimarket.

Tooru

???

Wakatoshi

Rasanya beda

Tooru

ya iyalah mas

Ada juga malam-malam ketika percakapan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Tooru

mas

Wakatoshi

Iya

Tooru

tadi ibu nanya

Wakatoshi

Apa?

Tooru

yang sering chat itu siapa

Wakatoshi

Kamu jawab apa?

Tooru

pelanggan

Lama gak ada balasan. Baru beberapa menit satu pesan muncul.

Wakatoshi

Oh

Beberapa hari setelahnya—

Wakatoshi

Hari ini lewat warungmu

Tooru

kan tutup

Wakatoshi

Iya

Tooru

…

terus ngapain lewat?

Wakatoshi menatap layar ponselnya cukup lama. Jempolnya beberapa kali berhenti di atas layar, mengetik sesuatu, terus menghapusnya lagi.

Pada akhirnya, dia tetap mengirim jawaban yang paling sederhana.

Wakatoshi

Kebiasaan

Tooru membaca balasan itu cukup lama. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

Hampir tiga bulan kemudian, truk hijau itu kembali belok ke jalan yang sudah terlalu hafal dilewatinya.

Dari jauh, lampu warung itu menyala lagi.

Warungnya gak banyak berubah.

Televisi tua masih nyala di pojok. Kipas angin masih bunyi berderit tiap beberapa putaran. Rak belakang masih penuh mie instan dan kopi sachet.

“Yang biasa, Mas?”

Lagi-lagi pertanyaan itu datang sebelum Wakatoshi sempat duduk.

“Iya.”

Seolah tiga bulan terakhir gak pernah terjadi.

Gak butuh waktu lama sampai halaman warung itu ramai lagi. Satu per satu truk masuk. Ada yang baru datang. Ada yang memang sudah langganan.

“Masih idup aja lu berdua.”

Belum sempat Wakatoshi menjawab, si supir muda rese itu sudah nongol entah dari mana.

“Bang.”

Tooru bahkan belum nengok.

“Udah nikah belom?”

Tooru langsung melotot.

“Apaan sih.”

“Lho kirain udah.”

Meja depan langsung pecah sama tawa. Tooru cuma bisa geleng-geleng kepala sambil pura-puda sibuk ngaduk kopi.

Gak berasa malam makin larut. Satu per satu kursi kembali kosong. Mesin-mesin truk menyala bergantian, terus menjaih meninggalkan halaman.

Televisi masih nyala. Kipas masih berderit. Yang tertinggal sisa mereka berdua.

Tooru lagi ngelap meja. Lap yang dia pegang sebenarnya sudah berkali-kali melewati bagian yang sama.

“Mas.”

“Iya?”

Tooru berhenti sebentar.

“Mas sadar gak…”

“…Apa?”

“Pelanggan yang lain tuh liat kita aneh.”

Wakatoshi mengangkat kepala.

“Aneh gimana?”

“Mas.” Tooru mengembuskan napas pelan. “Aku serius.”

Wakatoshi keliatan benar-benar berpikir.

“…Karena saya manggil kamu Dek?”

“…Bukan.”

“…Karena kamu manggil saya Mas?”

“Bukan juga.”

“Terus?”

Tooru meletakkan lap di atas meja.

“Aku tuh baru kepikiran.”

“Apa?”

“Dari dulu mereka ngira kita apa, sih?”

Wakatoshi menjawab tanpa ragu.

“…Pasangan.”

Tooru langsung menoleh.

“…Mas tau?”

“Iya.”

“LAH TERUS?”

“Saya pikir kamu juga tau.”

“MAS?”

Tooru bahkan sampai gak berkedip.

“AKU TAUNYA MINGGU LALU.”

Hening buat beberapa saat.

Tooru cuma mengusap wajahnya pelan, antara malu sama pengen ketawa. Wakatoshi memperhatikan reaksi itu cukup lama.

“…Kamu gak masalah sama saya, Dek?”

Pertanyaannya begitu pelan sampai Tooru hampir mengira dia salah dengar.

“…Hah?”

“Kamu gak masalah?”

Tooru menggeleng cepat.

“Ya enggak.”

Dia memalingkan wajah.

“Malu aja.” Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Ternyata satu warung ngira kita pacaran padahal kita sendiri belum sadar.”

“…Oh.”

Wakatoshi ikut menunduk.

“…Saya juga.”

Gak ada yang bicara di antara mereka buat beberapa saat. Tooru masih berdiri di tempatnya. Wakatoshi juga gak buru-buru bangun.

Akhirnya Wakatoshi buka suara lagi.

“Tooru.”

Jantung Tooru langsung berdetak lebih cepat.

“Iya?”

“Saya cuma supir truk.”

Tooru bahkan gak membiarkan kalimat itu selesai.

“Aku tau.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku juga cuma jaga warung.”

Tooru menarik napas pelan. Ujung sandalnya jadi lebih menarik buat dipandangi daripada wajah Wakatoshi.

“Mas.”

“Iya?”

“…Aku beneran gak masalah.” Suaranya mengecil di ujung. “Asal sama Mas.”

Warung kembali sunyi. Saking sunyinya hanya suara derit kipas angin yang terdengar.

Wakatoshi menatap Tooru beberapa detik. Lalu, seperti biasa, ujung bibirnya naik sedikit.

“…Syukurlah.”

Tooru akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Wakatoshi masih menatapnya.

“Saya juga.”

Sesederhana itu.

Tapi entah kenapa, rasanya sudah lebih dari cukup.


Langit sudah berwarna kemerahan waktu Wakatoshi kembali naik ke balik kemudi. Perjalanan pulang masih panjang. Seperti biasa, jalan itu kembali membawanya ke persimpangan yang sudah kelewat akrab.

Warung kecil di pinggir jalan itu masih seramai malam-malam sebelumnya.

Televisi tua di pojok masih lebih sering jadi pajangan daripada ditonton. Kipas angin masih berderit setiap beberapa kali putaran. Bapak-bapak supir langganan masih ribut entah soal apa sambil ngopi dan sesekali menyesap rokok.

Wakatoshi baru saja duduk, tapi tiba-tiba Tooru sudah datang bawa segelas kopi.

Di meja sebelah, si supir muda langsung nyegir.

“Buset.” Dia bergantian ngeliatin Tooru kemudian Wakatoshi. “Kalian gak bosen ya.”

Tooru langsung melempar lap kecil ke arahnya.

“Sebat lu gua sita.”

“Bang.”

Cowok itu ketawa.

“Yang ini kan gue bayar.”

“Yang sebelumnya masih ngutang.”

Cowok itu malah ketawa makin keras.

“Udah pacaran masih galak aja.”

“Bacot.”

“Fakta.”

Malam terus berjalan seperti biasam

Ada yang datang. Ada yang pergi. Ada yang numpang tidur sebentar sebelum lanjut narik lagi. Ada juga yang dimarahin Tooru karena diem-diem nambahin gula ke kopinya.

Wakatoshi baru dua langkah ke luar warung waktu Tooru memanggilnya.

“Mas.”

Wakatoshi menoleh.

“Iya?”

Tooru menggaruk tengkuknya pelan.

“Kalau istirahatnya agak lama… gak usah tidur di truk terus.”

Wakatoshi menunggu dia melanjutkan.

“Kalau gak buru-buru narik lagi,” Tooru menarik napas pendek, “ikut pulang aja ke rumah.”

Wakatoshi menatap Tooru lama.

“Boleh?”

Tooru berkedip.

“Lah… emang itu maksudku.”

Wakatoshi mengangguk kecil.

“Iya.”

Sesaat kemudian mesin truk kembali memenuhi halaman. Wakatoshi melihat ke kaca spion sebelum perlahan menjalankan truknya. Di pantulan kaca itu, Tooru masih berdiri di depan warung.

Tooru gak langsung masuk ke dalam.

Dia tetap berdiri sampai truk hijau itu menghilang di tikungan yang sama seperti ratusan malam sebelumnya.

Malam kembali sunyi.

Besok, truk-truk lain akan tetap datang. Bapak-bapak itu akan tetap ribut. Supir muda itu mungkin masih tetap ngutang rokok.

Dan cepat atau lambat…

Truk hijau itu pasti akan kembali lagi.

 

Notes:

cuma mau ngucapin special thanks ke sound tiktok dj cintaku ini istimewa