Work Text:
Ada apa dengan perut Shinyu? Mengapa Jihoon, sesama member TWS, suka sekali mengelus perutnya? Bukannya Shinyu tidak suka dengan perlakuan random Jihoon tetapi ia merasakan sensasi aneh setiap kali Jihoon melakukannya.
Selama ini, Shinyu seringkali menahan diri demi menjaga suasana agar tidak canggung di antara member. Sebagai leader sekaligus member tertua, ia memikul tanggung jawab besar dan tidak ingin membebani grup.
Kembali ke pertanyaan awal, ada apa dengan perut Shinyu? Ia ingin sekali bertanya langsung ke Jihoon dan tidak mau menundanya lebih lama lagi. Semua member sepakat bahwa jika ada ketidaknyamanan dan perselisihan antar member harus diselesaikan sesegera mungkin demi menjaga lingkungan yang sehat.
Usai melewati jadwal padat mereka, semua member akhirnya kembali ke asrama. Di sinilah Shinyu berencana mengajak Jihoon bicara. Sebelumnya Shinyu sudah meminta izin Dohoon, teman sekamar Jihoon, untuk memberi mereka ruang privasi. Selama Shinyu dan Jihoon mengobrol, Dohoon bisa menunggu di kamar Shinyu yang berbagi ruang dengan Youngjae.
Begitu tiba di asrama, Shinyu langsung menuju kamar Jihoon setelah melihat Jihoon masuk kamar terlebih dahulu.
”Ji, boleh ngobrol sebentar?” tanya Shinyu. Sontak Jihoon terkejut mengira Dohoon yang masuk ke kamar.
“Astaga kaget, Hyung. Boleh. Di sini kah? Aku bilang Dohoon Hyung dulu ya supaya aku kunci pintunya, biar kita leluasa ngomongnya.”
“Udah dibilangin ke Dohoon kok, Ji.”
“Oh, OK.” jawab Jihoon yang mendadak gugup.
“Nggak usah gugup gitu, mau ngobrol santai aja kok.” ucap Shinyu menenangkan, peka dengan perubahan sikap Jihoon.
“Ya udah, Hyung duduk sini, biar lebih enak ngobrolnya.”
Setelah keduanya duduk, Shinyu langsung membuka percakapan.
“Ji, kalau kadang kamu peluk Hyung terus tau-tau kamu elus perut, maksudnya apa ya?” tanya Shinyu penasaran.
Hening beberapa saat. Jihoon hanya diam saja dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Eh, bukan berarti Hyung risih kok ini. Tanya karna murni penasaran aja.” tambah Shinyu cepat, takut salah paham.
“Hyung, sebelum aku jawab. Boleh tanya dulu nggak? Waktu aku elus perutnya, Hyung ngerasanya gimana? Suka?” Dicecar pertanyaan seperti itu, Shinyu tidak siap. Ia langsung gelagapan.
“Hmmm…” lama Shinyu tidak kunjung menjawab tetapi rona merah di pipinya memperjelas ke mana arah pikirannya sedari tadi.
“Hyung, kok malah pipinya merah. Suka ya, maksudnya?” goda Jihoon jahil.
“Nggakkkk…” jawab Shinyu terlampau cepat.
“Masa sih?” Jihoon yang tidak percaya mulai mencondongkan tubuhnya. Melihat pergerakan tiba-tiba Jihoon, Shinyu refleks memundurkan badannya.
“Hyung, bohong ya? Kok takut mau jawab.”
“Nggakkkk…” jawab Shinyu lagi, kali ini dengan nada yang tidak meyakinkan. Tahu-tahu jarak antara mereka terkikis hingga menyisakan sepuluh sentimeter.
“Coba jawab sambil tatap mata aku, Hyung.” tantang Jihoon dengan memegang dagu Shinyu dengan lembut.
“Suka.” cicit Shinyu pelan.
Detik berikutnya, ia langsung mendorong Jihoon kencang demi menyembunyikan wajahnya ke bantal terdekat. Jihoon sempat oleng tetapi berhasil menguasai dirinya. Ia tidak marah malah tertawa puas setelahnya.
“Hyung, sini, jangan umpetin mukanya pake bantal. Aku nggak ketawain lagi. Mau pengakuan serius.”
Mendengar nada bicara Jihoon, Shinyu akhirnya kembali duduk tegak dan melepaskan bantal. Jihoon bergeser untuk duduk lebih rapat di sisi Shinyu.
“Udah lama banget aku pengen ngaku ini. Tapi tuh aku juga takut sama reaksi Hyung. Aku tuh sengaja suka elus-elus perut Hyung. Awalnya mau nge test, Hyung bakal marah nggak kalau diginiin ternyata Hyung nggak marah, aku lega. Tapi tuh belum cukup buat menjawab rasa penasaran aku. Makanya aku lakuin berulang kali. Aku tungguin udah lama kapan Hyung mau tanya hal ini ke aku, makanya hari ini aku seneng Hyung mau obrolin ini sama aku.” Usai menjabarkan pengakuan panjang, Jihoon sempat menahan napasnya sejenak untuk mengamati reaksi Shinyu.
“Hyung, aku ada salah ngomong ya?” tanya Jihoon mendadak ciut.
“Kamu udah selesai ngomongnya, nggak ada yg ditambahin lagi?” tanya Shinyu balik.
“Oh, iya. Maaf Hyung, aku lanjut ya.” sahut Jihoon kikuk, baru sadar kalau ia belum menyampaikan inti pembicaraan.
“Hyung, jujur, aku udah ngerangkai kata di otak aku tadi, tapi sekarang mendadak hilang. Kalau aku tanya lagi boleh nggak, hyung?” Kali ini Jihoon tidak mau terburu-buru dan memilih menunggu persetujuan Shinyu. Shinyu pun merespon dengan gestur yang mempersilakan Jihoon untuk lanjut berbicara.
“Hyung lebih suka ada yang ditutupi tapi terdengar sangat sopan atau diungkapin gamblang tapi terdengar kurang ajar?” tanya Jihoon memastikan. Biar bagaimana pun Jihoon harus memastikan kenyamanan Shinyu. Walau Shinyu sempat kebingungan dengan apa maksud Jihoon namun ia sudah memantapkan keputusannya.
“Aku nggak mau kamu tutupi apa pun, Ji.”
Jihoon menarik napas panjang sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
“Jadi Hyung, aku Jihoon member TWS dengan kurang ajarnya suka sama Shinyu Hyung, member TWS juga. Aku lakuin banyak hal cuma buat cari perhatian Hyung. Aku nggak mau sekedar perhatian ke sesama member tapi aku mau Hyung tahu kalau aku suka sama Hyung. Maaf malah berbuat kurang ajar.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, Jihoon merasa ketegangan yang lebih hebat dari sebelumnya. Shinyu belum beraksi apapun. Karena panik Jihoon cepat-cepat menambahkan.
“Hyung, lupain aja semua yang aku bilang tadi. Maaf Hyung kalau bikin kamu nggak nyaman.” Shinyu menghela napas pendek.
“Ji, kamu cuma main-main ya sama Hyung? Nggak serius sama perasaan kamu?” Jihoon cepat-cepat membantah.
“Nggak, Hyung. Aku nggak mungkin mainin Hyung begitu.” Jihoon berkata dengan nada frustrasi hingga tubuhnya merosot ke lantai, berlutut tepan di depan Shinyu duduk. Shinyu yang terkejut langsung menyuruh Jihoon berdiri.
“Bangun, Ji. Maaf Hyung udah nuduh kamu.”
“Nggak apa Hyung. Tapi Hyung tanggepin dulu omongan aku baru aku mau bangun.” pinta Jihoon keras kepala.
Shinyu akhirnya mengalah dan meraih tangan Jihoon untuk digenggam erat.
“Makasih ya Ji udah jujur tentang perasaan kamu ke Hyung. Sebenernya, Hyung juga suka sama kamu. Tapi aku pendam karena aku nggak seberani kamu. Aku terlalu banyak cemas sebagai leader, takut bakal memengaruhi grup.”
Jihoon mencerna kata demi kata semua omongan Shinyu. Begitu tersadar, senyum Jihoon mengembang lebar, ia lega mendengarnya. Ia pun bangkit berdiri dan kembali duduk bersisian dengan Shinyu di atas kasur.
“Hyung, karena kita sama-sama tahu posisi kita sebagai idol, gimana kalau nggak usah buru-buru? Kita coba jalanin dan lebih dekat lebih dulu selama sebulan, terus baru lihat lagi gimana perkembangan dan diobrolin lagi nanti. Gimana?”
Shinyu tampak mempertimbangkan sebelum akhirnya mengangguk setuju. Ia merasa lega karena Jihoon tidak memaksa langsung berkomitmen.
Tidak tahan dengan atmosfer yang terlalu serius, Jihoon memutuskan untuk memecah ketegangan dengan kembali bersikap jahil.
“Karena udah sama-sama tahu perasaan masing-masing. Sekarang aku udah boleh belum elus perut Hyung lagi? Kan tadi katanya Hyung suka?” goda Jihoon sambil menggerakkan tangannya ke depan perut Shinyu.
“Jihoon, ih, nggak ya.” pekik Shinyu refleks memeluk bantal guna melindungi perutnya.
Mereka berdua tertawa bersama saling menggoda dan bercanda di atas kasur, lupa dengan Dohoon yang masih menunggu di kamar sebelah.
Sementara itu, pada waktu yang bersamaan ketika Shinyu masuk ke kamar Jihoon, Dohoon melangkah masuk ke kamar Shinyu. Di sana, sudah ada Youngjae yang baru saja selesai mandi. Dohoon seketika berdiri kaku di depan pintu.
“Duduk aja di kasur Shinyu Hyung.” ucap Youngjae tanpa menoleh, hanya melirik sekilas ke arah Dohoon.
Dohoon berjalan ke arah kasur Shinyu tetapi langkahnya terhenti di tengah jalan. “Jae, boleh duduk di kasur kamu aja nggak?” tanya Dohoon karena merasa tidak enak jika harus menduduki kasur orang lain tanpa izin.
Youngjae tidak menjawab melainkan langsung menarik tangan Dohoon untuk duduk di atas kasurnya sendiri.
“Kita tuh kenapa sih? Aku ada salah ya sama kamu?” cecar Youngjae begitu Dohoon mendaratkan bokongnya.
“Nggak ada. Kamu nggak salah. Akunya aja yang aneh.” bantah Dohoon pelan.
“Kalau gitu, boleh nggak kasih tahu aku kenapa kamu jaga jarak sama aku?” tanya Youngjae lagi.
“Kita punya banyak waktu kok sekarang mumpung Shinyu hyung juga lagi obrolin masalahnya sama Jihoon.” tambahnya.
Dohoon menarik napas panjang untuk mempersiapkan dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Jadi, aku agak cemburu lihat kamu lebih leluasa bercanda sama yang lain di depan layar, sementara sama aku masih agak canggung. Tapi aku ngerasa salah kalau mikir gitu ke sesama member, aku niatnya pengen hilangin pikirin jelek aku, nggak mikir ternyata malah bertindak seolah jauhin kamu. Maafin aku.”
Youngjae menghela napas panjang sebelum akhirnya memarahi Dohoon dengan gemas.
“Kamu tuh kenapa sih, kalau ada apa-apa semuanya dipikirin sendiri. Bikin asumsi sendiri. Kamu nggak biasanya loh gitu ke yang lain, kenapa kalau ke aku malah beda?”
“Maaf, aku bener-bener mikirin semuanya hati-hati banget kalau udah menyangkut kamu. Aku usahain nggak bakal gitu lagi ke depannya.” sesal Dohoon
“Bagus, jangan mikir kayak gitu lagi. Kamu beneran sayang kan sama aku?”
“Sayang, aku sayang banget sama kamu.” tutur Dohoon mencurahkan seluruh isinya hatinya sambil menatap langsung ke dalam mata Youngjae.
Youngjae memalingkan mukanya yang mendadak panas, lalu melirik ke arah pintu.
“Kayaknya Shinyu Hyung nggak bakal balik deh ke kamarnya malam ini…” Youngjae menggantungkan ucapannya.
“Terus?” Dohoon bertanya balik dengan polos.
“Nggak ada terusannya, kamu tidur di luar aja di sofa ruang tengah.” ketus Youngjae kesal karena Dohoon tidak peka dengan kode yang diberikannya.
Dohoon ingin tertawa kencang melihat wajah cemberut Youngjae yang menggemaskan.
“Iya iya, aku tidur di sini kok temenin kamu, tidur sambil peluk kamu.” goda Dohoon jahil, yang langsung dihadiahi pukulan bantal dari Youngjae.
Di sisi lain asrama, suasana tenang justru menyelimuti kamar dua member termuda, Hanjin dan Kyungmin. Pasangan kekasih ini sedang berbaring di kasur yang sama, saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Sebenarnya mereka cukup peka dengan situasi asrama saat ini, mereka tahu kalau member lain sedang membicarakan hal serius di kamar masing-masing.
“Semoga hubungan mereka bisa berjalan sehat ya. Mereka bisa saling mengkomunikasikan masalah dan memahami satu sama lain.” ucap Kyungmin sambil menatap mata Hanjin.
Hanjin mengganguk setuju lalu mengelus pipi Kyungmin lembut.
“Aku percaya sama kamu. Walaupun kamu member termuda tapi pemikiran kamu selalu dewasa kalau menyangkut hubungan kita.”
Dipuji tiba-tiba seperti itu membuat pipi Kyungmin seketika merona merah karena malu, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Makasih, ya. Kamu udah selalu percaya sama aku.” bisik Kyungmin pelan.
“Hubungan yang sehat itu kan yang emang harus diusahain bareng-bareng.” tambahnya.
Lama mereka saling menatap dengan pandangan penuh kasih sayang sebelum Kyungmin merengek manja.
“Hyung… boleh nggak puk-puk pantat aku dong sebelum tidur.”
Sontak Hanjin terkekeh pelan, hapal dengan kebiasaan tidur Kyungmin, tidak bisa tidur jika belum mendapatkan tepukan di pantatnya.
“Iya sini.” balas Hanjin.
Kemudian Hanjin langsung merapatkan tubuhnya, sementara Kyungmin berbalik membelakangi Hanjin untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Tangan Hanjin memeluk pinggang Kyungmin dari belakang sementara tangan yang lain menepuk-nepuk pantat Kyungmin dengan ritme teratur hingga mereka berdua terlelap.
