Work Text:
malam itu lawson nggak terlalu rame. lampu-lampu putih yang terang bikin jalanan di depannya kelihatan lebih hangat dibanding udara malam yang mulai dingin. beberapa motor keluar masuk parkiran, pintu otomatis sesekali terbuka diiringi bunyi ting, lalu menutup lagi.
malik sama syakil baru aja keluar, dan duduk di trotoar depan lawson sambil buka bungkus es krim masing-masing.
“uek.”
malik yang denger suara itu langsung noleh, “lah kenapa kamu?”
“nggak enak…” kata syakil sambil nyodorin es krim yang dia pilih sendiri tadi di lawson ke malik. wajahnya langsung berubah. alisnya nyatu, hidungnya sedikit berkerut, bibirnya maju beberapa senti.
malik cuma ketawa dan ambil es krim dari tangan pacar cantiknya itu. heran, padahal tadi dia sendiri yang ambil dan bilang bakal suka. malik juga tadi udah bilang ke syakil itu gak enak, dia gak bakal suka. tapi syakil ngeyel.
emang es krim apa sih? es krim jagung.
sebenernya gak seburuk itu juga rasanya, menurut malik yang pemakan segala. tapi, karena syakil picky eater, yang apa-apa harus dia cium dulu makanannya, udah pasti dia gak suka.
“tadi aku bilang apa?” tanya malik sambil makan es krim miliknya dan milik syakil secara bergantian.
“iya, maaf.”
seperti biasa, bibir syakil pasti manyun. soalnya dia bete es krim pilihannya gak enak. harusnya tadi dia dengerin apa yang dibilang sama pacar tingginya itu.
dia lihat ke arah malik yang lagi asyik banget makan dua es krim yang dibeli di lawson. sebel. padahal kan yang mau es krim dia, tapi kenapa yang nikmatin malah pacarnya? dia kesel banget.
malik yang liat pacar cantiknya ngambek cuma bisa ngeluarin kekehan lembut. terus dia geser posisi duduknya jadi lebih deket lagi sama syakil, sambil nyodorin es krim cone rasa cokelat miliknya.
“nih.”
syakil noleh pelan dan melihat ada es krim cone cokelat di depan wajahnya. dia mengernyitkan dahinya, bingung. syakil liat es krim itu, terus liat malik, terus balik lagi ke es krim. maksudnya apa? kenapa tiba-tiba dia disodorin es krim cone cokelat milik malik?
“apa?” tanya syakil
“tukeran. kamu makan aja punya aku,” kata malik
syakil terdiam sebentar.
dia jadi mikir, ih… kenapa ya malik selalu kayak gini? selalu ngalah sama dia, selalu kasih yang enak buat dia, selalu makan sisa dia kalo gak habis. bibirnya makin manyun, makin memble, tapi tangan kanannya meraih es krim yang diberikan malik.
“lah kenapa coba makin memble?” tanya malik sambil nyengir lebar banget liat ngeliat perubahan ekspresi pacar cantiknya.
syakil cuma geleng kepala dan nunduk, sambil ngeliatin es krim cone cokelat di tangannya.
“kenapa, dut?” tanya malik lagi, kali ini suaranya jauh lebih pelan, lebih lembut, seolah takut kalau ngomong sedikit lebih keras aja bisa bikin pipi pacarnya makin ngembung.
syakil nggak langsung jawab.
dia cuma ngelus pelan bungkus cone yang mulai dingin di tangannya, matanya masih nempel di es krim itu. angin malam lewat pelan, bikin beberapa helai rambutnya bergerak menutupi dahi. di seberang jalan, lampu kendaraan bergantian lewat, sesekali memantulkan cahaya ke wajah mereka.
“hei, teteh cantik. kok malah diem?” tanya malik lagi. dia sengaja mencondongkan badan sedikit buat ngintip wajah syakil dari bawah.
beberapa detik berlalu sebelum akhirnya syakil menghembuskan napas pelan. bahunya ikut turun bersamaan dengan hembusan itu.
“...kayaknya aku harus ngubah sifatku deh.” kata syakil pelan.
malik mengangkat alisnya, “sifat apa? sifat yang mana?”
“ya… yang itu…”
malik memiringkan kepalanya sedikit, seolah meminta penjelasan atas apa yang diucapkan oleh syakil barusan. sementara syakil menggigit bagian dalam pipinya, keliatan ragu buat lanjutin ucapannya sendiri.
“yang mana, teh?” tanya malik lagi.
syakil masih diam. jarinya memutar pelan bungkus es krim cone cokelat yang ada di tangannya. dia sadar kalau sekarang malik sedang menatapnya, tapi syakil gak berani untuk natap balik.
dia menghembuskan napasnya lagi. dengan suara yang nyaris seperti gumaman, syakil akhirnya bilang, “...ngeyel.”
syakil akhirnya mengangkat kepala, matanya ketemu sama mata malik sebelum buru-buru mengalihkan pandangan dan menundukkan kepalanya lagi.
“soalnya kamu udah bilang dari awal kalo aku gak bakal suka sama rasanya. tapi aku tetep ngeyel, tetep beli,” lanjut syakil sambil melirik es krim jagung pilihannya yang sekarang ada di tangan malik.
“dan bener kan kata kamu. aku gak suka. ujung-ujungnya gak kemakan, dan malah kamu yang abisin.”
malik gak langsung jawab. dia malah memperhatikan wajah pacarnya lebih lama, yang sekarang bener-bener keliatan bersalah banget.
gemes.
cantik.
pipinya sedikit gembung, bibirnya masih manyun.
terus beberapa detik setelahnya malik malah ngeluarin kekehan kecil yang bikin syakil noleh.
“apasih kok malah ketawa?” tanya syakil keheranan sambil mengernyitkan dahinya.
“you took it way too seriously. ini cuma es krim, syakil,” jawab malik sambil geleng-geleng kepala.
dia mengangkat tangannya, lalu dengan pelan merapikan rambut gelap syakil yang tertiup angin malam sampai menutupi dahinya. jemarinya menyelipkan beberapa helai rambut itu ke samping dengan gerakan yang lembut sekali.
“poinnya bukan di es krim, malik.”
malik diam lagi, menunggu syakil untuk kembali berbicara. tapi tangannya masih ada di kepala syakil, masih mengelus rambut gelapnya itu.
“aku cuma nggak mau kamu terus-terusan ngalah buat aku,” kata syakil.
lagi-lagi respon malik cuma senyuman lebar.
syakil makin heran lagi. dia mengernyitkan dahinya lagi, sampai dahinya membentuk logo wifi saking herannya dia sama laki-laki kelahiran 20 maret 2008 itu.
“sumpah aku pengen banget jitak kepala kamu sekarang,” kata syakil menepis tangan malik yang masih ada di kepalanya.
tuh kan.
malik ketawa lagi.
sakit jiwa ya.
“aku serius, malik.”
malik nutup mulut pakai punggung tangannya, masih belum bisa berhenti ketawa. gak tau kenapa ekspresi syakil yang lagi serius ini malah keliatan lucu di matanya. bibirnya masih manyun, pipinya masih gembung.
gemes.
dia menghembuskan napas kecil, menyisakan senyuman tipis di wajahnya. beberapa detik mereka sama-sama diam. syakil yang kesel karena malik gak serius, dan malik yang kegemesan sama pacarnya sendiri.
“dut,” panggil malik.
syakil akhirnya menoleh dan menatap malik, “hm?”
“mau coba sesuatu yang menarik itu wajar. mau coba sesuatu yang baru itu wajar. penasaran itu gak salah, dut. ngeyel sedikit juga gak masalah buat aku.”
malik mengangkat tangan dan merapikan rambut syakil yang lagi-lagi berantakan karena tertiup angin. dia menatap mata syakil dan mengelus pipi gembil pacarnya itu.
“kalau ternyata kamu gak suka, yaudah, aku bisa abisin. terus kamu bisa coba yang lain, atau tukeran sama punyaku,” kata malik dengan tangannya yang masih ada di pipi gembil syakil.
angin malam kembali berhembus di antara mereka. suara kendaraan yang melintas memenuhi jalan raya, sesekali disusul bunyi pintu lawson yang terbuka setiap ada pelanggan keluar-masuk. dan lampu-lampu jalan yang memantulkan cahaya putih ke trotoar tempat mereka duduk.
syakil menatap malik cukup lama. dan melakukan hal yang gak malik duga sama sekali.
BRUK!
“dut?!”
malik bahkan nggak sempat memproses apa yang terjadi. yang dia lihat cuma syakil tiba-tiba melempar dirinya sendiri ke depan.
kedua tangan malik langsung bergerak menangkap tubuh syakil sebelum benar-benar menghantamnya. tapi karena semuanya terjadi terlalu cepat, keseimbangan mereka hilang.
malik jatuh lebih dulu. punggungnya membentur trotoar cukup keras. sementara syakil jatuh tepat di atas badannya, wajahnya langsung terbenam di dada malik sambil kedua tangannya melingkar erat di pinggang laki-laki itu.
“dut! astaga…”
tangannya langsung bergerak ke belakang kepala syakil. dia meraba pelan bagian belakang kepala pacarnya itu.
“kalo kepalanya kebentur aspal gimana? you caught me off guard, i wasn't ready to catch you! untung masih ketangkep,” kata malik mengangkat sedikit badan bagian atasnya supaya bisa melihat wajah pacarnya. dia masih memeriksa sana-sini. telapak tangannya bergantian menyentuh belakang kepala, pelipis, sampai dahi syakil
malik bahkan nggak mau ngebayangin kepala syakil bisa langsung kena aspal. padahal yang jadi bantalan justru dirinya sendiri. punggungnya masih terasa agak ngilu.
tapi itu belakangan. yang penting syakil dulu.
“ada yang sakit gak?” tanya malik dengan tangan yang masih menyentuh kepala pacarnya.
malik bisa merasakan gerakan kepala syakil di dadanya. lalu dia menghembuskan napas panjang.
wajah syakil tetap terbenam di dada malik. pelukannya sama sekali nggak mengendur. bahkan terasa makin erat. malik mengusap pelan punggung syakil.
“...aku sayang kamu,” kata syakil dengan suara yang nyaris tertahan di balik kaus malik.
senyuman malik perlahan muncul. dan bukannya langsung menjawab, dia malah pura-pura gak denger. jemarinya kembali menyisir lembut rambut gelap syakil yang sekarang berantakan karena jatuh tadi.
“hm?”
syakil mendengus pelan. dia tau malik pasti denger. lalu dia mengencangkan pelukannya di pinggang malik.
“aku sayang kamu banget.”
kekehan malik keluar lagi. dia membalas pelukan laki-laki kelahiran 13 januari 2009 itu dengan tak kalah eratnya. lalu dia mengecup pelan pucuk kepala syakil. pelan tapi lama.
“iya, teh. aku tau. aku juga sayang sama kamu,” kaya malik sambil kembali mengusap pelan punggung syakil.
setelah itu hening lagi. mereka masih dengan posisi yang sama. malik telentang di trotoar. syakil rebahan di atas badannya sambil meluk erat, sama sekali nggak ada niat buat lepas.
sampai suara malik kembali memecah keheningan.
“teh.”
“hm?” gumam syakil dari balik kaus malik.
“bangun dulu, teh. diliatin orang.”
syakil diam beberapa detik. lalu akhirnya dia mengangkat sedikit kepalanya. matanya masih setengah tertutup karena tadi nyaman banget nyender.
dia melirik ke kanan. terus ke kiri.
baru sadar ada beberapa pasang mata yang buru-buru buang muka begitu ketahuan lagi ngeliat mereka. pipi syakil mulai memerah. dia menoleh lagi ke malik dengan mata membulat.
“kenapa gak ngomong daritadi! astaga… malu banget…” kata syakil sambil buru-buru bangun dari atas badan malik, gerakannya panik. dia langsung menutup wajahnya pakai kedua tangan.
malik yang masih telentang cuma ketawa pelan liat kepanikan pacarnya. lalu dia ikut duduk sambil mengusap pelan punggung syakil.
“kak… aku malu banget… mau pulang…” eluh syakil.
“iya, teh. pulang, yuk. nanti peluk lagi di kos kamu,” kata malik dengan kekehan kecil, lalu berdiri sambil nepuk-nepuk sedikit debu di celananya.
tinju kecil syakil langsung mendarat di lengan atas malik, “bego!”
malik masih aja ketawa sambil ngeliatin pipi pacarnya yang sekarang masih merah.
lagi-lagi gemes.
setelah malik berhasil meredam tawanya, mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju motor milik syakil yang terparkir gak jauh dari pintu lawson.
malik duduk di jok motor bagian depan dan menyalakan mesinnya. suara mesin motor syakil langsung memecah keheningan malam itu. lalu syakil naik pelan ke jok belakang.
begitu keluar dari parkiran lawson, angin malam kembali menyambut mereka. lampu-lampu kota membentang di sepanjang jalan, sementara udara yang menerpa wajah terasa jauh lebih sejuk dibanding tadi.
awalnya syakil cuma memegang bagian belakang jaket milik malik. lalu, pelan-pelan, tangannya bergeser melingkar di pinggang malik. kepalanya ikut bersamdar di punggung laki-laki tinggi itu.
tanpa berkata apa-apa, malik cuma tersenyum kecil dan mengusap sebentar tangan syakil yang melingkar di pinggangnya menggunakan tangan kiri saat motor berhenti di lampu merah.
mereka kembali melaju membelah jalanan malam yang semakin sepi saat lampu lalu lintas berubah hijau. syakil tetap memeluk malik tanpa berniat melepaskan, sementara malik membiarkan senyum kecilnya bertahan sepanjang perjalanan.
