Chapter Text
Kalau ditanya, soulmate itu apa....
Richard menendang kerikil yang menghalangi jalannya. Menyebalkan, pikirnya tentang hari ini—juga hari-hari sebelumnya. Betapa sialnya kehidupannya yang sangat normal, lurus bak garis tipis yang tiada ujung. Jujur saja, dia mulai berpikir bahwa dia adalah orang yang bodoh karena telah percaya pada sesuatu seperti soulmate.
Sebab hingga menginjak umur remaja saat ini, ia tak kunjung menemukan itu—cinta sejati, atau soulmatenya.
Sumpah serapah memenuhi hatinya pada tiap pasangan yang tengah bermesraan di jalan yang dilewatinya. Kapan dia akan mengalami hal itu? Ah, persetan. Dia juga ingin—sangat benar-benar ingin memiliki seorang pacar, yang nantinya akan dilimpahi kasih sayang seluas samudera dan yang Richard dambakan selalu adalah dirinya dalam pelukan sang kekasih. Lucu pikirnya, alay dikit ga ngaruh.
Maka dari itu, tanpa berpikir panjang lagi, setelah empat bulan dilewati semenjak datangnya siswa baru di tahun ketiga jurusan software engineering, perasaan yang telah ditumpuk dalam-dalam olehnya kini telah sampailah pada puncaknya. Tekad Richard itu kuat akan cintanya pada seorang pemuda yang dengan gagahnya turun melawan orang-orang bajingan di faksi OSIS.
"Bud!" Suara Richard diangkat untuk memanggil orang yang dia sukai, Budi namanya. Kepala yang dipanggil terlihat muncul di jendela kelas, memberikan ekspresi bertanya.
Mulut yang tertutup oleh masker itu kembali berbicara, "Eh, gue—" namun kalimatnya tiba-tiba tertahan.
Ada rencana yang begitu dadakan,muncul begitu saja di otak kecilnya. Bahkan sel otaknya sama sekali tidak memikirkan dampaknya nenti. Richard ingin langsung secara gamblang menyatakan cintanya, tak memperdulikan keadaan sekitarnya apalagi siswa lain yang berlalu-lalang. Terdengar gila, namun dia memang benar-benar sudah gila semenjak ia memendam perasaannya pada Budi.
Dengungkan rasa cinta itu, biar diterima atau tidak, peduli setan. Yang penting Budi telah mengetahui perasaannya, cintanya itu murni pada pandangan pertama dan semakin dalam tiap kali ia mempelajari hal baru tentangnya. Akan lebih baik jika Budi menerimanya sih, cuman ya mau bagaimana lagi jika dia ternyata telah memiliki orang lain yang dia sukai—ATAU BAHKAN MUNGKIN DIA SUDAH PUNYA PACAR?!
Dia dikabarkan dekat dengan mantan dari ketua OSIS itu 'kan...?
Richard menggeleng kepalanya kuat, dia terlalu lama bermonolog pada dirinya yang keren. Ia tak boleh menjadi pecundang yang pesimis. Budi sudah menunggu sepatah kalimat darinya sedari tadi, lihat betapa layunya wajah yang manis itu. Pasti dia sedang mengantuk, sempat tertidur di mejanya sebelum Richard memanggilnya. Dia tak bisa membuatnya menunggu lebih lama lagi, iya atau tidak sama sekali, hanya sekaranglah waktunya...!
"Bud, makan bakso 'yuk," Ajak Richard. Bengong.
"Hm?" Budi langsung mengangguk, "Oke." Sebelum dia berjalan keluar dari kelasnya untuk menghampiri Richard.
Goblok, ngentot, Richard menampar wajahnya sendiri kuat-kuat, harusnya gue ngajak dia pacaran bukan makan bakso anjir.
"Kenapa lo? Tiap hari makin ga waras aja," wajahnya datar, kusut, Budi mungkin memang masih baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul semua. Dia menguap.
Richard hanya bisa tertawa kikuk dam menggaruk belakang kepalanya, sembari memaki dirinya sendiri dalam batin. "Haha, 'yuk bolos 1 jam pelajaran aja pasti kantinnya sepi,"
"Yoi," kemudian keduanya berjalan menjauh menuju kantin dengan santai, mengabaikan kelas yang akan dimulai, juga menghindari guru-guru yang berlalu lalang.
Ketika keduanya mencapai kantin, yang dilakukan adalah menghampiri gerobak bakso yang nampak pedagangnya tengah mengelap mangkok-mangkok yang baru saja dicuci. Aroma bakso yang semerbak harum, menggoda selera keduanya.
Ada banyak pilihan di sana, berbagai macam jenis bakso dari cara penyajian hingga bahan pembuatannya tersedia. Richard menatap itu sambil menelan liurnya sendiri, kuah dari penjual ini juga tak perlu diragukan lagi, gurihnya tidak main! Gorengan yang renyah itu adalah puncaknya, benar-benar masakan chef paling profesional di dunia, mahakarya ciptaan Tuhan!
Richard dan Budi sampai berhadapan dengan pedagang yang menatap keduanya dengan senyuman yang ramah, menunggu pesanan. Tiba-tiba Richard terpikir sesuatu yang luar biasa, ini bisa menjadi pijakan lain yang membuatnya semakin dekat dengan Budi—dengan cara mentraktirnya. Siapa yang akan menolak traktiran, apalagi dari seorang Richard yang terkenal agak pelit—maksudnya hemat. Jarang-jarang hal ini terjadi, sehingga Budi akan berpikir bahwa dia menjadi seseorang yang spesial bagi Richard jika dia merasa diperlakukan berbeda dari yang lain.
Mungkin, mungkin saja menaikkan presentasi cintanya diterima.
"Bud," panggilnya menarik atensi lelaki di sampingnya, kemudian dibalas dengan suara "Hm?" yang pendek.
Oke, tanya ke dia mau makan bakso apa terus bilang kalo gue aja yang bayar, batin Richard meyakinkan dirinya. Dia merasa sangat percaya diri.
"Gue suka lo, Bud. Mau ga pacaran sama gue?"
BEGO, teriak Richard dalam batin sekali lagi. Pasti setelah ini Budi akan berpikir bahwa dia adalah seorang freak—yah, pada dasarnya memang siapa yang tidak akan mengira bahwa Richard adalah seorang freak bahkan setelah melihat cara dia berpakaian di sekolah mengabaikan suhu yang mendekati neraka.
Richard langsung menutup mulutnya, memukulnya cukup keras hingga warnanya agak kemerah-merahan, "M-maksud gue—!!"
"Oke."
"Hah??" Dia tidak salah dengar 'kan?
Richard seketika menatap kembali wajah yang bersebelahan dengannya. Wajah sang pujaan hati itu memerah manis, begitu menggemaskan bila tak tertutup oleh tangan yang mencoba untuk menyembunyikannya.
"Gue...," Budi mencoba untuk berbicara, "—sebenernya udah naksir lama sih, gue cuman takut ntar ngebadut, makanya kaga pernah ngomong...."
Mendengarnya, Richard melongo. Wajah Budi bersemu merah malu hingga belakang lehernya. Pemuda berkacamata itu tidak percaya dengan begitu mudah pada hal ini, ternyata cintanya saling berbalas dengan baik. Tidak bertepuk sebelah tangan semata. Dia masih terdiam membatu dengan kepalanya yang sibuk merayakan keberhasilannya menembak sang kekasih. Sekaligus mengakhiri kisah hidupnya yang jomblo.
"Bud, ini riil??" Richard memastikan, meremas lembut kedua tangan Budi. Kemudian dibalas dengan anggukan kecil, saking senangnya dia bahkan tak bisa berbicara.
Kedua wajah itu dihiasi senyuman lebar sebelum tawa kecil menyusul. Sekarang Richard dan Budi resmi sebagai sepasang kekasih. Mungkin hidup keduanya akan berubah kedepannya, namun mereka percaya itu adalah hal yang baik!
"Uhh... Jadi mas nya ini pengen beli bakso apa...?" Sang pedagang cukup menikmati sinetron romansa di depannya.
