Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-08
Words:
3,125
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
26
Bookmarks:
2
Hits:
366

heaven sent you

Summary:

just a vulnerable seonghyeon who meets a sunshine boy, keonho.

Work Text:

 

Tangannya mengangkat dua kardus berukuran cukup besar ke atas meja. Ia mengusap peluh keringat di dahinya sembari bergumam, “Udah semua berarti.”

Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan yang ditempatinya. Tidak buruk. Ia membuka tirai serta jendela ruangannya yang menghadap ke arah hiruk pikuk jalanan ibukota, “Fresh start!” Lantas, ia langsung menyibukkan dirinya untuk menata rapi barang-barang di kamarnya.

Hari ini merupakan hari pertamanya pindah ke apartemen barunya. Apartemen dengan dua kamar tidur dan satu ruang tengah. Sebenarnya, ia hanya butuh satu kamar tidur. Namun, ia tidak menemukan lokasi dan harga yang cocok dengan yang diinginkan. Gapapalah ada dua kamar, jadi bisa ajak orang nginep, batinnya.

Ia mengeluarkan jam dinding, lampu meja, buku-buku, dan beberapa figura kecil untuk  memenuhi meja samping kasurnya. Ia memang suka sekali menaruh figura foto di meja kamarnya. Menurutnya, suasana kamarnya menjadi lebih hidup jika terdapat beberapa potret manusia terpatri rapi di meja.

Saat memilah-milah figura foto mana yang akan dipajangnya di meja, ia sedikit membeku melihat salah satu figura yang menampakkan wajahnya tersenyum manis dengan seorang lelaki yang merangkulnya sambil tertawa.

Ia refleks membanting figura tersebut hingga pecahannya terlempar ke seluruh penjuru ruangan.

Tajamnya serpihan-serpihan kaca di lantai terasa seperti ikut menorehkan luka di hatinya. Pekikan semangatnya beberapa menit lalu seperti ditelan bulat-bulat oleh memori yang memaksa masuk dari foto yang sudah terlempar ke ujung ruangan.

Air matanya tak terasa luruh satu per satu. Awalnya hanya tetes demi tetes, lalu berubah deras membanjiri wajahnya.

Diiringi isak tangis yang makin pecah, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan membenamkan wajah ke bantal agar suara isak tangisnya teredam. Setiap isakannya seperti mematahkan sisa hati dan kewarasannya sedikit demi sedikit.

Suasana hatinya sungguh gelap dan berantakan. Kontras dengan cahaya matahari di luar jendela yang begitu hangat dan hidup.

——

Seluruh bagian tubuhnya seperti dipaksa tak berfungsi. Kebas.

Kepalanya terasa seperti habis dihujani bebatuan seukuran kepalan tangan, perih dan pusing. Tidak hanya di kepala, pusingnya merambat hingga dahi dan rongga mata. Ia melenguh pelan seraya mengerjapkan mata berusaha membukanya sekuat tenaga. Rasa pusing kian merambat tatkala netranya mulai kembali menangkap cahaya di sekelilingnya.

Ia berusaha membalikkan tubuhnya lalu secara perlahan berusaha untuk duduk di kasur. Semilir angin menggerakkan tirai jendela. Cahaya bulan bersinar terang dari jendela yang masih terbuka dengan lebar.

“Jam berapa sih?” ujarnya sembari memegang kepalanya.

Setelah menetralkan berbagai kecamuk di seluruh tubuhnya, ia bangkit dari kasur dan berjalan ke luar kamar. Ia haus.

Ia menyeret kakinya dengan perlahan menuju kulkas sembari melihat awas ke lantai. Menghindari pecahan-pecahan kaca dari figura yang terkena amukkannya tadi siang.

“Ah, kosong,” ucapnya setelah membuka pintu kulkas di depannya.

Bagaimana tidak kosong, seharian ini ia hanya tertidur letih setelah tubuhnya dilanda gemuruh hebat dari seonggok foto di ujung kamar. Tidak sesuai rencana.

Ia menutupnya kembali dan menyeret kakinya menuju pintu. Ia merogoh saku celananya, memastikan kehadiran kunci apartemennya. Setelah mengambil sandal dari rak sepatu di samping pintu, ia bergegas keluar menuju supermarket di lantai bawah.

“Pusing dikit,” keluhnya seraya memencet tombol lift turun di depannya.

——

“Totalnya tiga ribu ya, Mas,” ucap seorang wanita muda setelah selesai memindai barcode pada botol air mineral yang dibelinya.

Ia merogoh saku celana dan bajunya mencari uang yang tersisa, “Shit.”

Raut wajahnya menyiratkan kepanikan.

“Pake debit atau qris bisa kok, Mas,” tawar wanita kasir itu mencari solusi.

Hanya tarikan napas pelan yang diberikan olehnya.

“Mau sekalian sama punya gue aja gak?” suara lembut lelaki dari belakangnya otomatis membuatnya menoleh.

Tanpa pikir panjang, ia mengangguk mengiyakan.

Lelaki itu berjalan ke depannya seraya menaruh sebuah onigiri dan botol air mineral.

“Totalnya jadi dua puluh ribu ya,” ucap kasir tersebut.

Lelaki itu memberikan selembar uang lalu menerima struk yang diberikan. Setelahnya, ia memberikan botol minumannya kepada lelaki di belakangnya.

“Terima kasih,” terimanya sambil tersenyum tipis.

Are you okay?” tanyanya khawatir sembari mengambil onigiri dan botol mineralnya.

Ia bertanya karena wajah lelaki di depannya itu terlihat rapuh. Matanya sembab dan agak kemerahan. Sorot matanya layu, seperti tidak ada setitikpun perasaan bahagia tersisa. Menguap terbawa angin malam yang dingin.

Yang ditanya hanya mengangguk singkat.

Lalu, dengan suara pelan ia bertanya, “Saya gak bawa apa-apa. Mau save nomor saya aja? Nanti bisa hubungin saya.”

Lelaki di depannya mengibaskan tangannya yang sedang memegang onigiri sambil menyunggingkan senyum, “Santai aja, gak usah diganti.”

Mendengar tolakan tersebut, lelaki tersebut pasrah mengangguk dan tersenyum tipis.

“Sekali lagi terima kasih.”

“Lu… serius gapapa? Mau nyari angin gak?” tanyanya sembari meremas struk di tangannya.

Lelaki di depannya menyatukan kedua alisnya dengan tatapan ragu. Bertanya-tanya apakah ia salah mendengar atau tidak.

Lelaki yang ditatap terkekeh pelan, “Gue bukan penjahat kok.” Setelah menimbang-nimbang, akhirnya yang diajakpun mengangguk. Mungkin, ia memang butuh angin segar untuk membawa ketenangan di dalam hatinya.

——

“Gue Keonho,” ujarnya saat mereka duduk di kursi rooftop gedung apartemennya. Ia menaruh botol air mineralnya di samping dan membuka onigirinya.

“Seonghyeon,” balas lelaki di sampingnya sambil memandangi sekitar.

Rooftop itu berbentuk persegi panjang. Tidak terlalu luas, tetapi nyaman dilihat. Terdapat pot-pot dengan berbagai macam tanaman, mulai dari pot kecil hingga pot lumayan besar, mengelilingi seisi rooftop. Lampu taman pilar setinggi satu meter berada pada sisi ujung rooftop dekat balkon. Kursi mereka bersisian berada di tengah rooftop menghadap ke balkon yang menampilkan cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi menjulang di depan.

Seonghyeon meminum air mineral di tangannya dengan rakus. Seperti sudah tidak minum seminggu.

“Percaya gak kalau rooftop ini gue yang buat? Bukan buat juga sih, rapiin,” tanya Keonho memecah keheningan. Ia menghadapkan wajahnya ke wajah Seonghyeon sembari mengunyah onigirinya.

Seonghyeon balas menatap lelaki itu sembari menutup botol airnya, “Oh ya? Bagus banget.”

Keonho mengangguk antusias.

“Iya. Pas pertama kali gue nemuin rooftop ini tuh masih terbengkalai gitu. Gue nanya ke satpam di sini katanya emang udah gak kepake. Akhirnya, gue coba minta izin untuk ngerombak semuanya dan diokein. Dulu setiap hari gue bolak-balik ke sini buat mikirin semuanya,” jelasnya dengan tatapan berbinar ke arah Seonghyeon.

Sudah lama Seonghyeon tidak melihat seseorang berbicara tentang sesuatu dengan mata sehidup itu. Untuk beberapa detik, napas di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

“Butuh berapa lama?” tanyanya penasaran.

“Kalau gak salah inget satu setengah bulan atau dua bulan gitu karena seminggu sempet gue telantarin. Lagi hectic di kerjaan soalnya,” jawab Keonho sambil meremas bungkus onigirinya dan menaruhnya di kantung celana.

Seonghyeon tampak sedikit melunak, “You look happy.

Keonho melebarkan senyumnya, “I do.

Would you mind if i ask what happened to you?” tanya Keonho ragu sembari menoleh.

Oh, sure. It’s nothing. Just break up thing,” jawab Seonghyeon seraya mendongak menatap langit malam. Enggan menatap mata Keonho secara langsung.

Break up is not nothing,” balas Keonho.

Seonghyeon lantas menoleh ke arah Keonho. Tatapan teduhnya seperti menembus hati Seonghyeon dan meluluhkan kecamuk badai yang bersarang di sana.

Ia tersenyum tipis, “Yeah, you’re right. I just… it’s still hard for me.

Keonho menepuk pelan punggung Seonghyeon, “Take your time.”

Anyway, udah berapa lama tinggal di sini?” tanya Seonghyeon penasaran.

Keonho terlihat seperti menghitung dengan jarinya seolah-olah dirinya sudah bertahun-tahun tinggal di sini, “Hmm, satu tahun jalan dua.”

Sontak, tawa Seonghyeon terlepas begitu saja, seolah seluruh beban di hatinya terangkat walau hanya sesaat, “Kenapa segala ngitung pake jari sih kalo baru segitu?”

Keonhopun ikut tertawa, “Lebay juga gue ya. Kalau lu baru pindah ya?”

Seonghyeon lantas menjawab, “Iya, baru hari pertama.”

Seketika Seonghyeon teringat dengan kondisi apartemennya yang mengenaskan. Gambaran jendela kamarnya yang masih terbuka dan pecahan figura foto yang tersebar di segala penjuru lantai kamarnya menyadarkannya.

“Keonho, makasih banyak ya. I owe you a lot, tapi gue perlu balik ke kamar sekarang. Apartemen gue masih berantakan banget. I need to sort things out,” tukasnya sambil berdiri dari duduknya.

Keonho juga ikut berdiri, “Oh okay, masih inget jalan ke bawahnya kan ya? Gue masih mau di sini sebentar.”

Seonghyeon mengangguk pelan, lalu melambaikan tangannya seraya tersenyum, “See you… again?”

Keonho balas melambaikan tangan, “See you again, Seonghyeon.”

——

Uap panas bercampur aroma bumbu mi menguar dari cup di tangan kiri Seonghyeon. Sementara tangan kanannya mengaduk mi di dalamnya menggunakan garpu. Ia duduk di salah satu kursi yang berada di teras supermarket. Lampu jalan terlihat baru saja dinyalakan. Menandakan hari sudah mulai gelap.

Tak lama, ia menyantap mi di tangannya dengan lahap. Hari ini ia telah berjalan kaki sejak pagi hingga sore menjelang malam, mengelilingi daerah sekitar apartemennya hingga dua puluh ribu langkah. Berkenalan. Sekaligus mencoba meringankan beban berat di hatinya. Ia tahu terdapat pasar pagi di belakang apartemennya, ia tahu di mana letak stasiun dan halte terdekat, ia tahu terdapat beberapa kios bunga berjarak kurang lebih satu kilo, dan masih banyak tempat lainnya yang ia sempat singgahi, ataupun hanya dilewati.

Ia juga telah berbelanja banyak bahan makanan dan sudah menaruhnya di apartemennya. Namun, ia terlalu lelah untuk memasak. Jadilah Seonghyeon di sini menyeruput mi cup di tangannya yang sungguh menggugah selera.

“Seonghyeon?”

Sebuah suara membuyarkan konsentrasinya melahap makanan di depannya. Pipinya menggembung penuh mi yang disuapnya sekaligus saat ia menoleh ke arah sumber suara.

Keonho terlihat berdiri dengan kemeja putih rapi dan celana bahan hitam sembari menenteng tas. Pakaiannya terlihat sangat serasi dengan proporsi badannya yang cukup berisi. Wajahnya terlihat cukup letih seperti baru saja mengalami hari yang berat, tetapi ia tetap memasang senyum dan tatapan yang hangat.

Seonghyeon hanya bisa tersenyum dan mengangguk karena masih berusaha menelan makanan di dalam mulutnya.

Keonho tertawa seraya berjalan ke arah Seonghyeon. Ia duduk tepat berhadapan dengan Seonghyeon. Mereka dipisahkan oleh meja yang berisikan berbagai macam camilan yang baru saja dibeli Seonghyeon.

“Kok makan ginian sih?” tanya Keonho sembari menatap camilan dan mi cup di tangan Seonghyeon.

Seonghyeon mendelik, “What do you mean ‘ginian’?”

Keonho menyedekapkan tangannya, “It’s not a real food. Gue bisa masak, loh. Lebih sehat dan bermutu. Mau cobain gak?”

Seonghyeon mengembuskan tawa kecil lalu menandaskan minya. Ia menunjukkan isi cup-nya yang telah kosong, “Mau coba, tapi gue baru aja ngabisin ini.”

Keonho menunduk lesu, “Jadi pertemanan kita sebatas ini?”

Seonghyeon terkekeh sejenak sembari menyelipkan rambut ke belakang kupingnya, “We literally met a few days ago. Here. And somehow ketemu lagi di supermarket ini?”

Keonho tersenyum lebar sembari menaikkan alisnya, “The universe wants us to deepen our bonds. Mungkin bisa dimulai dengan lu nyobain masakan gue?”

Seonghyeon melebarkan tawanya, “Oh, you never give up, do you?” Keonho mengangguk lalu menyatukan kedua tangannya di depan dada memohon, “Please.”

Seonghyeon tergelak sambil mengelus perutnya, “Okay, then. Masih ada ruang kosong kok di lambung untuk masakan Chef Keonho.”

Keonho membuang nafas lega sembari tangannya membuat pose kemenangan, “Yuk, ke apart gue.”

———

“Tadaa, lengkap kan?” tanya Seonghyeon membuka lebar-lebar pintu kulkasnya.

Awalnya mereka memang berniat ke apartemen Keonho, tetapi di tengah jalan Seonghyeon teringat isi kulkas apartemennya yang sudah dipenuhi bahan makanan hasil belanjanya hari ini.

Sebenarnya, Seonghyeon tidak biasa membawa orang asing masuk ke ruang pribadinya. Namun, entah kenapa keberadaan Keonho sama sekali tidak terasa mengancam.

“Wah, bener-bener fresh baru dibeli ini ya,” decak Keonho kagum memindai isi kulkasnya dengan kagum.

Ia lalu mengusak rambutnya pelan, berpikir ingin membuat hidangan apa pada malam ini.

Seonghyeon tersenyum singkat seraya berjalan menuju sofa. “Mau ganti baju dulu? Kayanya gak enak masak pake kemeja gitu. Warnanya putih pula,” tawar Seonghyeon yang melihat Keonho sedang menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.

Terlihat sungguh menawan. Kemeja putihnya sudah kusut di beberapa bagian, rambutnya pun sedikit berantakan. Seonghyeon diam-diam mengagumi rupa Keonho yang tampak sempurna dari netranya.

Keonho terdiam sejenak dan menoleh, “Gapapa, tanggung ah. Nanti dicuci juga, kok.”

Seonghyeon mengambil remot televisi dari meja dan menyalakannya, “Gue beneran duduk dan nonton tv aja gapapa nih?”

Keonho melirik sekilas dari depan kulkas sebelum tertawa kecil. Ia lalu mengacungkan jempol sembari tersenyum lebar, “Iya, Seonghyeon. Ini gue juga gapapa kan ya pinjem dapur lu selama beberapa menit ke depan?”

Seonghyeon tertawa kecil, “Gapapa Keonho.”

Setelahnya, apartemen itu hanya diisi suara televisi, alat masak yang berdentingan, dan terkadang suara kekehan kecil Seonghyeon yang sedang menonton televisi.

Sejujurnya, Seonghyeon sangat berterima kasih dengan kehadiran Keonho di apartemennya. Biasanya setelah matahari tenggelam, apartemennya terasa terlalu besar untuk satu orang.

Pikirannya akan berkecamuk liar mengembalikan ingatan-ingatannya kepada masa lalu yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Mencoba menonton televisi tak membantu, mencoba tidurpun tak membantu.

Pada akhirnya, ia hanya duduk di ujung kasur dengan jurnal terbuka di pangkuan, menulis apa saja supaya pikirannya berhenti menggali makam yang sama.

Ingatan tentang Keonho kadang berkelebat di pikirannya. Sejak pertemuan pertama mereka di supermarket dan rooftop, baru hari inilah mereka kembali saling bertatap. Padahal, ia selalu berharap dapat bertemu kembali dengan Keonho.

Sebenarnya, jika ada kesempatan, ia akan pergi ke supermarket di bawah. Berharap ia akan kembali melihat sosok Keonho lalu diakhiri dengan obrolan ringan bersama di rooftop. Peluangnya cukup kecil, memang. Namun, kecil bukan berarti tidak ada.

Dibuktikan dengan datangnya hari ini. Keonho yang sedang fokus memotong-motong entah apa di sana seiring dengan wangi lezat yang menggugah selera. Tidak pernah terpikirkan olehnya, pertemuan keduanya dengan Keonho memiliki latar di apartemennya sendiri. Ia tahu mengundang seseorang yang baru ditemuinya dua kali ke apartemen adalah keputusan tak lazim.

Bahkan, ia membiarkan Keonho mengobrak-abrik dapurnya tanpa protes. Mungkin karena suara orang lain membuka lemari dapur terdengar jauh lebih menenangkan daripada sunyi.

Beberapa menit berlalu, tak ada lagi suara dentingan alat masak dari dapur yang terdengar. Aroma lezat masakan kian menguar. Keonho memindahkan piring dan mangkuk hidangannya ke meja makan.

Setelah itu, ia berdiam sembari menatap ke arah meja dan tersenyum. Bangga dengan hidangan yang telah selesai dibuat. Lalu, ia duduk sembari membagi sup dan bakwannya menjadi dua porsi kecil ke dua piring dan dua mangkuk, untuknya dan Seonghyeon.

“Yuk makan, Seonghyeon!”

Seonghyeon segera mematikan televisi dan berjalan ke meja makan. “Gue masak sup ayam dan bakwan jagung.”

Mata Seonghyeon berbinar melihat beberapa potong bakwan jagung berwarna keemasan di hadapannya. Sup ayamnya juga terlihat lezat dengan asap yang masih mengepul serta warna-warni dari wortel, kentang, ayam, dan buncis yang menambah selera.

Seonghyeon duduk sembari mengambil sendok dan garpu yang telah tersedia di meja.

Speechless. Keliatan enak banget. Keonho, gue gak tau lagi mau ngomong apa selain terima kasih.”

“Kembali kasih, Seonghyeon. Ditunggu review jujurnya,” jawab Keonho tersenyum seraya menatap Seonghyeon.

Seonghyeon mulai menyendokkan sup ke dalam mulutnya. Keonho harap-harap cemas. Lalu, Seonghyeon membuat gestur dengan tangannya, bahwa ia akan mencoba bakwannya terlebih dahulu sebelum berkomentar.

How is it?” tanya Keonho penasaran dengan kaki yang terayun-ayun tidak sabaran di bawah meja menunggu jawaban Seonghyeon.

You’re gifted. Bakwan jagungnya enak banget, oh god. Dari segi ukuran, pas banget. Gue gak terlalu suka bakwan jagung yang terlalu tebel dan besar, anyway. Dari segi rasa, gurih tepungnya dan manis jagungnya tuh balance. Dari segi tekstur, crunchy-nya oke banget. Ten out of ten. Perfect. Sup ayamnya apalagi. I’m not a fan of sup ayam, honestly, tapi sup lu enak banget sampe I can’t describe it properly. Nyaman banget di mulut dan di perut,” tandas Seonghyeon secara rinci berkomentar mengenai hasil hidangan Keonho.

Keonho menatap Seonghyeon lamat-lamat, “Wow, gak pernah ada yang komen sedetail itu ke masakan gue.”

“Eh, is it a bad thing? Sorry, Keonho.” jawab Seonghyeon canggung. Ia juga tidak mengerti mengapa mulutnya memberi komentar begitu panjang tadi. Namun, satu hal pasti, Seonghyeon sangat menyukai hidangan buatan Keonho, dan tentu saja kehadirannya.

It’s not. I like it. Thank you for your honest detail review. Kayanya next kalo gue lagi nyoba-nyoba resep baru perlu panggil lu deh.” Seonghyeon tertawa pelan sembari menyuap makanannya.

I would love to.”

Setelahnya mereka berbincang ringan sembari menikmati hidangan Keonho yang menurut penilaian Seonghyeon sempurna, mulai dari pekerjaan, mengapa Seonghyeon memilih apartemen dengan dua kamar, dan sebagainya.

——

“Sekarang lu santai nonton tv di sana, biarin gue yang beresin ini semua,” tandas Seonghyeon cepat sembari mengangkat peralatan makan mereka dari meja ke tempat cuci piring.

Keonho mengiyakan dan berterima kasih, lalu berniat berjalan ke arah sofa. Namun, ia melihat plastik sisa bungkusan jagung yang luput dari penglihatannya untuk dibuang. Entah mengapa plastik itu tergeletak di meja makan.

Seonghyeon melihat Keonho yang sedang mengambil plastik lalu menawarkan, “Keonho, itu tolong buang di tempat sampah depan kamar gue aja. Di sini udah penuh.”

Setelahnya, Keonho memijak tempat sampah kecil di depan samping pintu kamar Seonghyeon. Secara tak sengaja ia melihat terdapat foto Seonghyeon dengan seorang lelaki yang berada di dalamnya.

Keonho mengambilnya, mengerutkan alis, dan mengangkat fotonya ke arah Seonghyeon, “Ini kayanya foto gak sengaja kebuang ya?”

Seonghyeon terpaku tanpa menoleh karena ia tahu persis foto apa yang dimaksud oleh Keonho.

“Buang aja,” jawab Seonghyeon dingin.

Keonho mengangguk santai dan kembali menaruh fotonya ke tempat sampah diiringi dengan sampah plastik yang sebelumnya ingin dibuang.

Tiba-tiba Keonho tersadar, “Oh, is that… your ex?

Mulut Seonghyeon tetap bergeming, hanya tangannya yang bergerak membilas piring-piring di depannya. Keonho menepuk mulutnya pelan, seharusnya ia tidak bertanya segamblang itu. Akhirnya ia duduk di sofa sembari menyalakan televisi dan berpura-pura sibuk memilih tontonan.

Beberapa menit berlalu, tidak ada lagi percakapan di sana. Canggung.

Seonghyeon baru saja menyelesaikan cucian piringnya. Ia menoleh sebentar ke arah Keonho lalu kembali menatap ke arah rak piring di depannya, “Sorry kayanya gue ngantuk deh.”

Keonho tahu sebenarnya itu adalah usiran halus untuknya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Seonghyeon yang masih berdiri di sana, membelakanginya, “Seonghyeon, gue minta maaf.”

Perasaan tidak enak menyeruak dari hati Keonho. Ia merutuki kesalahan mulutnya dalam berbicara tadi berkali-kali di pikirannya.

No need. Gue emang ngantuk.”

Keonho akhirnya berdiri, mengambil tas yang ia letakkan sebelumnya di meja samping televisi, dan mendatangi Seonghyeon. Ia masih membelakangi Keonho.

Keonho menepuk bahu Seonghyeon pelan sebagai tanda berpamitan, “Thank you ya, Seonghyeon.”

Seonghyeon sedikit menoleh ke arah Keonho, tetapi matanya tidak menatap ke wajah Keonho, ia hanya menatap lantai. Ia mengangguk sembari tersenyum tipis.

Hati Keonho sedikit mencelos karena matanya terlihat merah dengan air mata bersarang di pelupuk matanya.

“Seonghyeon, are you okay?” tanya Keonho panik melihatnya.

Seonghyeon kembali menolehkan kepalanya ke rak piring di depannya, kembali membelakangi Keonho.

Keonho mencoba menunggu respons dari Seonghyeon. Namun, ia hanya bergeming. Melihat Seonghyeon yang sepertinya tidak ingin berinteraksi lebih lanjut dengannya, Keonhopun akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen Seonghyeon.

Seonghyeon, seperti menahan sesuatu, mengepalkan kedua tangannya hingga kedua buku jarinya memutih. Tepat saat Keonho memegang gagang pintu, suara serak Seonghyeon terdengar lirih.

“Boleh peluk?”

Langkah kaki Keonho sontak berhenti. Ia mencerna kembali perkataan Seonghyeon barusan.

Sorry anggep aja lu gak denger,” sela Seonghyeon sebelum Keonho sempat bersuara.

Keonho mendengus sembari tersenyum kecil, lalu menaruh tasnya asal ke lantai dan berjalan kembali menuju Seonghyeon. Ia merengkuh tubuh Seonghyeon dari belakang.

Tubuh Seonghyeon tegang untuk sepersekian detik karena tidak menyangka Keonho menyanggupi perkataannya barusan.

Setelah itu, tangisannya tidak dapat terbendung lagi. Bahunya mulai bergetar. Air mata yang dari tadi sudah ditahan mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Isakan kecil yang semula terdengar mulai berubah menjadi raungan. Seolah-olah raungan itu berkompetisi dengan sayup-sayup suara televisi yang masih terdengar di belakang mereka.

Keonho membalikkan badan Seonghyeon lalu memeluknya kembali. Ia menyandarkan kepala Seonghyeon di dadanya sembari membelainya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengelus punggung Seonghyeon pelan.

Seonghyeon dapat samar-samar menghirup sisa wangi parfum dari kemeja Keonho. Wanginya terasa menenangkan.

“Gapapa,” ucap Keonho pelan berulang kali di sela isakan yang memenuhi ruangan.