Work Text:
Bunyi dengungan pelan pendingin ruangan mengisi keheningan perpustakaan sore ini.
Seonghyeon mengembuskan napas pelan sembari jemarinya bergerak lincah di atas keyboard laptop di depannya.
Sementara itu, Keonho dengan raut jahil di sampingnya mencubit-cubit lengan Seonghyeon tanpa henti seraya berbisik pelan.
“Cemburu ya, cemburu ya!”
Seonghyeon mengindahkan cubitan kekasihnya itu di lengannya. Ia memilih diam karena perasaan ini terasa asing.
Seonghyeon bukanlah pencemburu, begitupun Keonho. Walaupun seisi fakultas mengagumi Keonho karena paras dan kemampuan renangnya, Seonghyeon tidak pernah cemburu. Tidak pernah risau.
Keonhopun tak pernah menghiraukan tatapan-tatapan memuja dari mereka. Netranya akan selalu berlabuh ke arah Seonghyeon, kekasihnya yang memiliki paras cantik dan menawan.
Namun, kali ini terasa berbeda.
Seonghyeon melihat dengan mata kepalanya sendiri Keonho yang bersenda gurau dengan salah satu adik tingkatnya.
Tangan adik tingkatnya yang menyentuh bahu Keonho ketika tertawa dan tetap dibiarkan begitu saja olehnya. Tak ditepis seperti biasanya.
Ini berbeda.
Keonho tidak pernah membiarkan orang lain dengan mudah menyentuhnya selain dirinya.
Sementara itu, Keonho yang daritadi sibuk menjahili Seonghyeon mulai menyadari sesuatu.
Ada yang berbeda kali ini.
Biasanya, jika Keonho menjahilinya seperti ini, Seonghyeon hanya akan tertawa lalu berkata, “Ngapain cemburu? Kan kamu udah punya aku.”
Rasanya asing jika Seonghyeon tidak memiliki respons seperti itu.
Ia menghentikan cubitan-cubitan kecilnya di lengan Seonghyeon.
“Kamu… cemburu beneran, ya?”
Keonho menopang dagunya di meja sembari mencondongkan badannya ke arah Seonghyeon. Ia menatap lamat-lamat raut wajah cantiknya sembari berusaha merekam tiap jengkalnya ke ingatannya.
Alisnya tertaut. Bibirnya sedikit merengut.
Gemas.
Gemas sekali.
Jika bisa, ia ingin sekali meremas-remas pipi gembulnya, lalu dikecup secara bergantian. Keonho yakin ia akan merasa bahagia tak terkira setelah melakukannya.
Sayang seribu sayang, cantiknya ini sepertinya benar-benar cemburu.
Cemburu dan Seonghyeon.
Dua kata yang tidak pernah Keonho kira bisa bersisian.
Keonho berdeham pelan.
“Cantikku, ngobrol, yuk?”
Jemari Seonghyeon akhirnya berhenti mengetik. Ia menoleh pelan ke arah Keonho yang sedari tadi menunggunya.
Mata mereka saling menatap.
Keonho selalu menatapnya dengan tatapan itu.
Teduh.
Seonghyeon kembali mengembuskan napas pelan. Pikirannya berkelana ke sana kemari berusaha mencari kata yang tepat untuk bisa mengekspresikan isi hatinya.
Keonho yang melihat ekspresi Seonghyeon tersenyum kecil.
“Hey, kamu lagi mikirin apa?”
“Iya, Keonho. Aku cemburu, kayanya.”
Suaranya kecil sekali.
Padahal, perpustakaan itu begitu sunyi hingga bisikan merekapun terdengar jelas.
Keonho tergelak pelan. Akhirnya, ia mencubit kedua pipi Seonghyeon pelan.
“Maaf, aku gemes banget. Gak bisa tahan.”
Seonghyeon segera melepas cubitan Keonho dari pipinya. Bibirnya makin mengerucut.
“Aku serius.”
Keonho kembali berdeham pelan.
Kekasihnya masih terlihat tidak baik kondisi hatinya. Ia berusaha kembali serius.
“Kamu mau jelasin nggak kenapa kamu cemburu, cantik?”
Seonghyeon mengangguk pelan. Ia lalu mendongakkan wajahnya dan berusaha memusatkan netranya ke arah Keonho.
Namun, ia tak kuasa.
Rasa malu seperti menahannya untuk bertatapan langsung dengan manik teduh Keonho.
Ia akhirnya menundukkan tatapannya.
Seonghyeon menarik napas pelan sambil berusaha mencari susunan kalimat yang tepat.
“Tadi, adik tingkat kamu megang bahu kamu. Kamunya diem aja.”
Keonho mendengarnya dengan seksama. Ia mengangguk-angguk pelan.
Sebelum Keonho sempat merespons, Seonghyeon kembali melanjutkan ucapannya.
“Kamu biasanya gak suka kalo ada yang pegang-pegang kamu, selain aku.”
Keonho menggigit bibir dalamnya pelan.
Menahan rasa gemas yang membuncah di dada.
Ya ampun, tidak pernah terpikirkan olehnya Seonghyeon bisa semenggemaskan ini ketika sedang cemburu.
Kalau terus begini, Keonho tidak masalah jika Seonghyeon cemburu setiap hari.
“Kamu juga keliatannya tadi seneng banget pas ngobrol sama dia.”
Keonho meraih dagu Seonghyeon dan mendongakkannya pelan. Ia memajukan wajahnya dan mengecup pelan bibir Seonghyeon.
Lagi-lagi, ia tidak bisa mengontrol dirinya.
Sebelum Seonghyeon makin mengamuk, ia buru-buru berkata.
“Maaf, lagi, aku gak bisa tahan.”
Seonghyeon mengerjapkan matanya pelan. Pikirannya masih mencerna.
Beberapa detik kemudian, kedua pipinya bersemu merah.
Senyuman kecil melengkung tak tertahankan dari wajahnya.
“Makasih ya, cantik, udah kasih tau ke aku apa yang kamu rasain. Sekarang aku yang ngomong dari sudut pandang aku, ya.”
Seonghyeon mengangguk pelan lalu entah mengapa ia mengambil kedua tangan Keonho dan menautkan jemarinya.
Sepertinya, hati Seonghyeon sudah mulai meluluh sedikit demi sedikit.
“Aku kayanya gak sadar deh, cantik, pas dia pegang bahu aku. Soalnya, emang tadi lagi seru bahas dosen aku. Aku merasa aku biasa aja ke dia, kayak aku ngobrol sama yang lain.”
Remasan pelan terasa dari tautan jemari mereka.
Lalu, Seonghyeon menatap dengan tatapan menyelidik.
“Beneran? Aku tapi ngeliatnya kamu nyaman banget, tuh, sama dia.”
Keonho terkekeh pelan sembari mengelus punggung tangan Seonghyeon dengan ibu jarinya.
“Berani sumpah deh aku. Hmm, tapi kalo emang kamu tadi ngeliatnya gak nyaman, maaf ya. Aku bakal berusaha buat lebih aware sama sikap aku kalo lagi ngobrol sama orang.”
Seonghyeon terlihat diam sebentar berusaha mencerna ucapan Keonho.
Ia mengangguk sembari tersenyum.
“Oke deh. Terima kasih ya, Keonho. Atau mungkin aku yang berlebihan kali, ya.”
Keonho buru-buru menggelengkan kepalanya.
Ia melepaskan tautan jemari kanan mereka dan mengelus pelan pipi Seonghyeon yang dari tadi sudah merah merona.
“Cantik, dengerin ya. Pokoknya, kalo ada apapun yang bikin kamu gak nyaman, bilang ya. Gak ada yang berlebihan di sini. Aku juga akan melakukan hal yang sama ke kamu, okay?”
Seonghyeon menyunggingkan senyum dan mengangguk.
Keonho kembali menautkan jemarinya dengan tangan Seonghyeon.
“Kamu gemes banget ternyata kalo cemburu.”
Seonghyeon yang mendengarnya tertawa pelan lalu menyentil dahi Keonho pelan.
“Diem deh. Aku malu tau.”
“Apa aku tiap hari ngobrol sama adik tingkat aku itu, ya?”
Seonghyeon menyipitkan matanya.
Ia lalu menginjak kaki Keonho di bawah dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Awas ya, kamu. Aku ceburin ke danau.”
Keonho mengaduh lalu tertawa.
Ini baru Seonghyeon yang dikenalnya.
