Actions

Work Header

Bintang pecah dan mimpi

Summary:

Bukankah mimpi seharusnya merupakan sesuatu yang indah?

Silver membuka matanya. Ah, dia kembali lagi kesini.

Notes:

im so pissed i posted this on the wrong pseud
anyway this was supposed to be for a school competition but i replaced the names with other ones. i already edited it but feel free to point it out if any weird names started popping up

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Bukankah mimpi seharusnya merupakan sesuatu yang indah?

 

Silver membuka matanya. Ah, dia kembali lagi kesini.

 

Dunia berwarna putih yang hampa. Terlalu terang untuk matanya, tetapi tetap saja dia kesusahan untuk melihat dimana dia berada. Menggerakan tubuhnya terasa seperti mencoba terbang di air dan berjalan di langit secara bersamaan. Ada rasa sesak napas yang mengganggu di dadanya.

 

Silver menghiraukan semua itu, dan melangkah ke depan. Efeknya terasa dan terlihat secara langsung; Warna meledak dari bawah telapak kakinya, campuran antara warna merah muda, hijau, ungu dan biru (“Seperti warna aurora,” Riddle berkata saat Silver mendeskripsikan warna-warna tersebut, “Seperti matamu,”), merembes di bawahnya seperti cat di dalam air (Apakah Silver sedang berdiri? Atau dia melayang? Dari dulu dia tidak pernah tahu). Seketika, badannya terasa ringan, dan rasa sesak napasnya menghilang. Dia mulai melangkah, pelan dan pasti, meninggalkan jejak warna dibelakangnya.

 

Kemanakah dia menuju, bahkan dia sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Yang bisa dia katakan dengan pasti adalah dia sedang mencari sesuatu.

 

Sesuatu…

 

Sesuatu?

 

Kenapa dia disini?

 

“Oh,” Silver mengerjapkan matanya. Di depannya, sebuah bintang berwarna…ah, dia tidak tahu warna apa itu. Mau dia mengedipkan mata berapa kali pun, yang bisa dia lihat hanya bentuknya yang mirip dengan sebuah bintang. Bintang tersebut tergantung dari langit yang tak berujung, dengan tali yang hampir tidak terlihat. Dengan lembut, Silver menangkupkan tangannya dibawah bintang tersebut.

 

Setelah dilihat lagi, ada sesuatu yang bergerak didalamnya.

 

Seperti sebuah rekaman video, seseorang terlihat melakukan sesuatu. Seseorang tersebut membuka sebuah buku, dan mulai membaca. Lalu dia membuka buku lain. Dan lagi. Dan lagi. Baru Silver sadari bahwa orang tersebut dikelilingi oleh menara-menara buku yang menjulang di sekelilingnya, sangat dekat kemungkinan menara-menara tersebut akan jatuh menimpanya. Silver ingin meraih kedalam dan menarik orang tersebut keluar, atau memberi tahunya akan bahaya yang akan menimpanya.

 

Dia tidak melakukannya.

 

Orang di dalam bintang itu semakin lama semakin terlihat tertekan, dengan cepat dia membuka dan membaca satu buku dan buku lainnya. Air mata mulai menetes dari matanya.

 

Akhirnya, orang tersebut melihat keatas. Rambut merahnya terkulai lemas dan berantakan, sesuatu yang Silver jarang lihat di orang tersebut.

 

Di atasnya, sebuah bayangan besar dengan perawakan seorang wanita menatap dengan mengancam ke orang tersebut. Orang tersebut hanya melihat kembali dengan pasrah.

 

Untuk sesaat, Silver merasa seakan Riddle bertatapan mata dengannya. Sesaat kemudian, bintang yang tadinya berkilau dengan lembut mulai bersinar merah padat yang mengancam.

 

Lalu pecah berkeping-keping. Kepingan merah berkilau beterbangan di sekeliling Silver, beberapa bahkan terkena wajahnya dan tangannya.

 

“...Dia terbangun,”

 

Silver menghela napas, dan menggenggam salah satu serpihan merah dari bintang tersebut. Tangannya mulai bertetesan darah saking kuatnya dia menggenggam serpihan tersebut, namun Silver hanya membiarkannya.

 

Tetesan darah yang merah bercampur dengan campuran warna di lantai. Silver berasa ingin muntah.


“Kayaknya Riddle tidurnya ngga nyenyak,”

 

Silver menengok ke arah Ruggie. Setengah manusia setengah rubah tersebut sedang dengan lahapnya memakan sekotak donat di meja. “Kenapa memang?” Silver bertanya, tidak jadi menyuap sendok penuh risotto ke mulutnya.

 

“Noh, liat,” Ruggie hanya mengangguk ke arah depan meja mereka. Silver memutar kepalanya. Diluar dugaannya, Riddle sedang bergumam kesal di tempat dia duduk, kepalanya tergeletak diatas meja dengan lemas. “Habis belajar semaleman lagi kali,”

 

“Tapi aneh juga. Biasanya kamu mau bangun dua puluh empat jam pun tidak akan selelah ini,” Kalim berkata, menelengkan kepalanya dengan bingung. 

 

Azul, yang duduk disebelah Ruggie, memicingkan matanya dengan curiga. “Jangan-jangan…ranking sekolah kan? Kamu ada rencana—”

 

“Tidak ada.” Riddle memotong dengan tajam, salah satu tangannya terangkat untuk menghentikannya berbicara. Azul hanya mengangkat bahu.

 

“Ehh~ tapi ikan mas, lu kan biasanya gitu; Kalau capek pasti lagi rencana buat mengalahkan Azul,” Floyd menyambut dari sebelah Silver yang satu lagi dengan senyuman lebar. Saudaranya, Jade, ikut tertawa.

 

“Sudah ku bilang berkali-kali, berhenti memanggilku ikan mas,” Riddle akhirnya mengangkat kepalanya. Sesaat meja kafetaria tersebut terdiam. Riddle…benar-benar terlihat buruk. Kantung mata yang gelap membuatnya terlihat seperti panda yang sudah lelah dengan dunia. Rambut dan seragamnya yang biasanya rapi dan bersih sekarang acak-acakan. Matanya yang seharusnya abu-abu terang sekarang terlihat gelap dan tidak bercahaya.

 

Silver menatapnya.

 

Seharusnya Silver melakukan sesuatu.

 

“...Lu semalem ngapain aja??” Jamil bertanya dari sebelah Kalim, setengah prihatin setengah tidak percaya.

 

Riddle mengalihkan pandangannya dari teman-temannya.

 

“...Mimpi buruk,”

 

Silver bisa melakukan sesuatu.

 

“Aku dengar ada jenis teh yang bisa membantumu tidur dengan lebih nyenyak,” Jade memberi sugesti. Riddle menggelengkan kepalanya.

 

“Sudah ku coba, tidak bisa,”

 

Mengapa dia hanya diam saja?

 

“Hm, bagaimana dengan minyak tidur yang biasa di iklan?”

 

“...Kamu sungguh percaya itu bukan tipuan?”

 

Betapa egoisnya Silver.

 

“Oiya, Silver,” Ruggie tiba-tiba menyahut, menelan donat terakhirnya. “Lu Sihir Spesial-nya ada hubungannya dengan mimpi kan? 

 

“Lah, iya,” Jamil melihat ke arahnya. “Bagaimana, kamu bisa bantu Riddle tidak?”

 

Semuanya menatap Silver. Tatapan Riddle seakan menusuknya.

 

Silver menutup matanya.

 

“Tidak bisa, maaf,”

 

Drip, drip, drip.


Silver ingat akan perkataan ayahnya.

 

“Silver, mengenai kekuatanmu semalam,” Silver saat itu masih kecil, baru pertama kali memanifes Sihir Spesial-nya. Dengan tidak sengaja, dia terjatuh kedalam mimpi ayahnya semalam, dan pagi ini ayahnya meminta untuk berbicara saat sarapan.

 

“Ayah…aku tidak bermaksud-”

 

“Aku tahu,” Ayahnya tersenyum lembut kepadanya. Dia membuka lengannya. Tanpa ragu-ragu, Silver melempar diri ke dalam pelukannya Lilia. Dia bisa merasakan ayahnya memeluk dia dengan erat.

 

“Sungguh, aku bangga kamu dapat memanifes kekuatanmu secepat dan semuda ini, tapi…” Dari ujung matanya, Silver bisa melihat telinga runcing ayahnya bergerak gelisah. “Kamu harus berhati-hati,” Silver selalu merasa malu setiap melihat Lilia atau Pangeran Malleus. Keduanya adalah fae, makhluk berwibawa yang bisa hidup hingga ratusan tahun, sedangkan Silver hanyalah seorang anak manusia yang kebetulan di pungut oleh Lilia. Dia berjanji pada dirinya, bahwa suatu hari dia akan—

 

“Silver, apakah kau mendengarku?”


Jarang Silver bertemu dengan kak Leona. Kakak kelasnya yang setengah singa tersebut hampir selalu bolos atau tidur di kelas. Satu-satunya alasan para guru tidak menggubrisnya adalah karena seberapapun malas Leona, dia tetap seorang Pangeran yang pintar bukan main.

 

Tidak seperti Silver.

 

“Oi, herbivor, lo udah berapa kali gua temuin di tempat tidur siang gua,” Saat itu, Silver sedang menatap ke atas dengan ngantuk ke kakak kelasnya, yang menunduk ke arahnya dengan ekspresi kesal.

 

“Oh…maaf, aku ketiduran lagi—” Eh, kapan dia ketiduran? Tunggu, jam berapa sekarang?!

 

Leona mendengus, lalu duduk disebelahnya, bersandar ke pohon yang meneduhi mereka berdua. “Tak usah minta maaf. Hampir semua orang sudah tahu akan narkolepsi lu,” Oh iya, itu adalah cerita tutupannya. Narkolepsi. Terlalu susah jika dia, aya- Lilia, Pangeran Malleus dan Sebek harus menjelaskan tentang kutukannya yang bahkan Ratu Maleficia tidak tahu asalnya dari mana ke setiap orang yang bertanya.

 

Silver hanya mengangguk, lalu hendak berdiri saat sebuah tangan besar menghentikannya di bahu. “Lagi jam makan siang, bel masih 20 menit lagi,” Kata Leona, masih bersandar dengan santai.

 

“...Aku kelewatan mata pelajaran dari pagi?”

 

“...Lu disini dari pagi?” Baru kali ini Silver melihat Leona dengan ekspresi terkejut seperti itu. Dia yakin Ruggie akan cekikikan jika disini bersamanya. Leona menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya ke pot-pot bunga yang ditata di dalam taman botanik yang mereka tempati saat itu. “Masa iya gua harus ngomong ke si cicak itu,”

 

Silver seketika membeku. “...Tolong jangan beritahu Pangeran Malleus tentang ini…” Dia bergumam, menunduk dengan perasaan malu. Sudah berapa kali dia memalukan yang mulia Pangeran Malleus? Padahal dia seharusnya menjadi ksatria setianya. Dia seharusnya menjaga Pangerannya! Mengapa dia selalu—?!

 

“Gua tahu lu mikir apaan,” Leona sudah menutup matanya sekarang, bersandar ke pohon dengan lengan tersilang. Silver akan mengira dia sudah tertidur jika bukan untuk ekornya yang dengan pelan menepuk punggungnya. “Cicak itu tidak akan peduli kataku, tapi terserah,”

 

Silver duduk kembali, lalu hening. Hanya suara burung dari jauh dan napas Leona yang lembut yang terdengar.

 

“Semalam lu masuk mimpi gua ya?” Silver tersedak angin, terbatuk-batuk karena terkejut. Dengan enggan, Leona mula menepuk punggungnya untuk menenangkannya.

 

“Bagaimana kakak bisa-?”

 

“Hey, lu kira udah berapa lama gua belajar sihir? Sihir untuk tetap sadar dalam mimpi bukan apa-apa,” Leona diam sesaat. “...Maaf kamu melihat itu,”

 

Darah, kegelapan, tinta, pasir, pasir, banyak sekali pasir. Teriakan, kematian berulang, bayangan-bayangan yang tertawa. Silver hanya bisa menonton kakak kelasnya bertarung dengan mimpi buruknya sendiri. Silver bisa melihat Leona menangis, namun Pangeran kedua dari Sunset Savanna tersebut tetap maju.

 

Mimpi seharusnya merupakan sesuatu yang indah.

 

“Tidak apa-apa, salahku yang memasuki mimpimu tanpa izin,”

 

Drip, drip, drip…


Apakah robot bisa bermimpi?

 

Sepertinya bisa, mengingat Silver sedang berdiri di dalam mimpinya Ortho. Adik kelasnya yang merupakan seorang robot tersebut adalah satu dari beberapa murid yang Silver tahu di sekolah Night Raven College yang benar-benar baik. Tidak seperti murid-murid Night Raven College lain yang cenderung egois dan sombong, Ortho bagaikan cahaya matahari di antara mereka semua.

 

Yah, tidak menghitung saat-saat dia merasa jahil. Itu cerita untuk hari lain.

 

Intinya, robot bisa bermimpi (atau mungkin itu hanya Ortho. Silver tidak tahu), dan sekarang Silver sedang menonton Ortho bermain dengan kakaknya, Idia, di mimpi tersebut. 

 

Sebuah mimpi yang manis. Silver tersenyum. Beberapa hari terakhir ini setiap dia menggunakan kekuatan spesialnya, mimpi-mimpi teman-temannya yang dia kunjungi selalu berakhir menjadi mimpi buruk. Leganya melihat adik kelasnya yang manis itu sedang bermimpi hal yang menyenangkan.

 

Ah. Betapa salahnya dia.

 

Dalam seketika mimpi di sekelilingnya hancur, meledak ke kepingan-kepingan yang tajam dan menyakitkan. Lantai di bawah Silver runtuh, dan sesaat kemudian dia terjatuh dalam, dalam menuju kemanapun akhir dari mimpi ini. Melihat ke atas, dia bisa melihat Ortho menangis (Betapa familiar suara tangisannya. Silver bergidik mengingat saat pertama dan terakhir kalinya dia dan beberapa lain mendengar teman robot mereka menangis) dan memohon ke bayangan yang samar-samar menyerupai Idia.

 

Tinta mulai hujan diatasnya, dan dia sekarang sedang tenggelam di dalam lautan tinta.

 

Sakit.

 

Ortho menatapnya dengan terkejut dan khawatir.

 

Sesak napas.

 

Dia berteriak sesuatu kepada Silver.

 

DRIP, DRIP, DRIP.

 

“KAK SILVER! BANGUN!


Akhir-akhir ini semua mimpi yang dia tonton dan kunjungi selalu merupakan mimpi buruk penuh dengan tinta dan tangis. Bintang-bintang berkilauan pecah berserpihan, meninggalkan Silver berdiri disitu sendirian. Di pagi-pagi buta setelah dia memaksakan dirinya untuk bangun, terkadang dia bertanya;

 

Apakah salahnya dia semua itu?


Gelap. Terang. Tenggelam. Melayang. Silver tidak tahu lagi. Dia hanya bisa berlari, lari dan lari. Melihat kanan kiri dia bisa melihat teman-temannya, mau yang seangkatan, kakak-kakak kelas maupun adik-adik kelasnya juga ikut berlarian.

 

Apakah ini mimpi? Realita?

 

Tunggu, dimana Lilia? Ayahnya dimana? Dan sesama ksatria dan temannya, Sebek?

 

Dimana Pangeran Malleus?! Dimana kakaknya?!

 

Dia membuka mulutnya, hendak memanggil siapapun dari ketiga orang yang dia paling cintai tersebut, namun dia hanya bisa tersedak.

 

Cairan hitam tinta tumpah dari mulutnya.

 

DRIP. DRIP. DRIP—

 

Bukan mimpi. Silver bisa merasakan cairan tinta itu di tangannya. Bukan realita. Muka-muka teman-temannya yang berlarian berganti-ganti setiap saat.

 

Bukankah mimpi seharusnya merupakan sesuatu yang indah?

 

DRIP. DRIP. DRIP—

 

Manusia terkutuk sepertinya sebaiknya hilang sa-

 

“SILVER!”


Silver terbangun dengan cepat, napasnya keluar masuk dengan panik dan terburu-buru. Seseorang tiba-tiba memeluknya.

 

“Syukurlah…” Rambut hitam dan magenta ayahnya yang familiar terikat dengan berantakan kebelakang. Lilia memeluknya dengan erat, dan dimana Lilia sedang membenamkan mukanya ke bahunya, Silver bisa merasakan bahunya mulai basah dari air mata.

 

Dengan perlahan, Silver mulai tenang. Dia mengangkat tangannya, dan memeluk kembali ayahnya. Lilia terisak ke bahunya dan, entah bagaimana, memeluk Silver lebih erat.

 

“Maafkan aku Silver…aku sungguh ayah yang buruk-!”

 

…?

 

“Ayah…apa yang terjadi?”

 

“...”

 

“Tunggu, apakah Sebek dan kak Malleus baik-baik saja-?!”

 

“Mereka tidak apa-apa,” Lilia tiba-tiba berkata dengan tegas. “Silver, apa yang kau ingat?”

 

“Aku…”

 

Dia menghela napas. Dadanya terasa sesak.

 

“Aku ingat aku sedang bermimpi,” Dia menunduk. “Tetapi aku tidak bisa bermimpi,”

Notes:

i didnt win the competition if anyones wondering. didnt even make it past the selection process and there was only like three of us participating

THANK YOU FOR READING!!