Work Text:
Sepertinya Sungho sudah terlalu terbiasa tinggal di Upstate New York, sampai-sampai dia tidak sadar betapa panasnya New York City ketika musim panas. NYC is a coastal town, Sungai Hudson langsung bertemu Samudra Atlantik disini. Musim panas terasa lembab, udaranya terasa berat dihirup, dan Sungho tidak bisa berhenti khawatir kalau dia berkeringat menembus tuxedonya yang berwarna putih tulang itu hingga ia meninggalkan noda di bagian ketiaknya. Ia berpikir untuk mengutarakan kekhawatirannya kepada Jaehyun—tetapi dia seperti hampir sudah bisa mendengar Jaehyun berkata dengan nada menggoda, "That's hot though, sweetheart."
Jadi Sungho mengurungkan niatnya.
Lagipula Sungho merasa kalau panas hari ini bukan datang dari bola gas yang berjarak angkasa jauhnya, tapi dari matahari pribadi Sungho yang berdiri tepat di sampingnya saat ini. Jaehyun, a sun. His own personal sun.
Fuck, pikirnya.
Semua ini teralu familiar sekaligus terlalu asing buatnya. The lump in his throat, dia ingat perasaan ini. The 20 people watching them, dia merasa tiap pasang mata yang memandangnya menusuk punggungnya tajam bagaikan belati yang baru di asah. The wedding officiant, wanita berusia awal 40-an yang sama dengan yang menikahkan mereka di City Hall tahun lalu (she has shorter hair now, dicat cokelat gelap tidak seperti rambut pirangnya saat itu). The tears in Eomma's eyes that he caught as he walked down the aisle, masih sama persis seperti yang Sungho simpan di benaknya dari upacara pernikahannya yang pertama.
Buket bunga di tangan Sungho seperti berbobot 10 ton, tangannya berkeringat, licin. Dia tidak sabar untuk melempar this damn bouquet biar jadi urusan orang lain.
Ia berusaha untuk memfokuskan pendengarannya pada pidato tentang cinta, tentang kehidupan, tentang entah apa lagi, yang sedang diucapkan petugas pernikahan mereka. But he kept failing. Tangannya berulang kali dikepalkan, meremas batang-batang bunga dandelion, lalu ia regangkan. Dia merasa tingkahnya itu tidak kentara.
Tetapi ia meremehkan Myung Jaehyun.
Sungho merasakan bahunya disenggol milik Jaehyun. Ia menoleh sedikit, masih berusaha menghormati petugas pernikahan itu. Dari sudut periferalnya, ia menangkap mata Jaehyun memicing memandanginya. Lalu Jaehyun menggerakkan mulutnya, berkata tanpa suara.
"Shit-lah, panas banget."
Sungho membiarkan sebuah kekehan kecil lolos dari bibirnya. Mengangguk pelan. Merasakan otot-otot di pundaknya melunak.
Right. Dia sedang menikahi Jaehyun. His Jaehyun. The love of his life. Tidak apa. Semuanya tidak akan kenapa-napa. Tidak apa-apa jika mereka dipandangi sebelah mata oleh ibu-ibu yang sedang mengajak anjing mereka jalan-jalan di Central Park. Atau para pelari kesiangan dengan kaos tanpa lengan dan celana basket buluk mereka.
By simply being there, Jaehyun centered him. He always does.
Jaehyun melepaskan tangannya yang saling bertaut itu. Menggunakan jari kelingkingnya untuk ia lingkarkan ke milik Sungho, yang masih mengalungi bundel bunga. And suddenly it felt like autumn breeze just brush past them.
Sungho tersenyum. Tipis. Ghostly. Tapi cukup untuk disadari Jaehyun.
He always will.
"Park Sungho," panggil sang petugas pernikahan itu. Sungho berusaha bertingkah kalau dia tidak terkejut mendengar namanya sendiri. "Apakah Anda bersedia menerima Myung Jaehyun untuk menjadi suami Anda secara sah?"
Sungho ingat persis apa yang ingin dia perbaiki dari pertama kalinya ia menikahi Jaehyun. He wants to mean it.
"Saya bersedia."
Tidak ada jeda yang membungkus canggung di taman itu kali ini. Suaranya tegas, percaya diri. The way it should've been since the beginning.
Petugas itu beralih ke Jaehyun, ada senyum penuh arti di bibirnya. Sungho curiga ia tahu kalau ada yang berbeda kali ini.
"Myung Jaehyun, apakah Anda bersedia menerima Park Sungho menadi suami anda secara sah?"
Jaehyun menarik kelingking Sungho yang masih berjuang mendukung jari-jarinya yang lain untuk menggenggam buket bunga itu. Sungho buru-buru mengencangkan pegangannya pada buket itu di tangan satunya agar tidak terjatuh.
Dengan tangan yang saling bertaut itu, Jaehyun sedikit mendongakkan kepalanya, menjawab dengan seluruh dadanya. "Saya bersedia."
"OI! OTIS, JANGAN KESANA!"
Seekor anjing dachshund berlari dengan kecepatan penuh ke arah altar makeshift tempat Sungho dan Jaehyun berdiri, dari tampangnya—seperti tidak ada indikasi ia akan berhenti. Beberapa orang yang duduk di barisan depan bersorak takut kalau-kalau anjing itu akan menerkam mereka.
Kedua kaki depan anjing itu berhasil melandas ke tungkai Jaehyun, melompat-lompat kecil di tempat seakan ia berusaha meraih wajah Jaehyun. Pria itu seakan lupa ia sedang di tengah-tengah upacara pernikahan, "Whoa, there boy!" serunya, menunduk untuk menenangkan anjing itu.
"Oh my God, I'm soooooo sorry!" ujar sang pemilik, masih dari jarak yang agak jauh—seorang wanita muda bergegas lari menghampiri anjingnya itu. "Ya Tuhan, maaf! Dia biasanya nggak kaya gini."
Mungkin ada beberapa ribu kata maaf yang keluar dari bibir wanita itu. Wajahnya hampir semerah rambut ikalnya, ia berulang kali membungkuk-bungkuk meminta maaf kepada Jaehyun dan Sungho, lalu kepada para tamu, sebelum menggeret anjingnya itu dengan tali pengikat leher yang pasti sempat lepas dari pegangannya.
Ketika situasi tersebut sudah mereda, dan orang-orang mulai mentertawakan kejadian barusan, Jaehyun menoleh ke arah Sungho dengan seringai lebar. Ekspresinya nakal, alisnya ia naik-turunkan menggoda.
Sungho yang sebenarnya masih agak berdebar karena anjing dachshund yang muncul entah dari mana itu akhirnya ikut tertawa.
Life surely doesn't come easy for them.
Petugas pernikahan itu juga sepertinya bingung bagaimana ia harus melanjutkan upacara tersebut. Ia bolak-balik memandangi Jaehyun dan Sungho yang masih bertukar tawa.
"Jadi…" kata-katanya terhenti, tidak tahu harus bagaimana.
Jaehyun mengulum senyum, kedua bibir merah mudanya bersembunyi hingga hanya garis tipis. Menahan tawa.
"Pas banget kalau aku bacain sumpahku sekarang kan, Bu?"
Myung Jaehyun selalu tahu apa yang perlu diucapkan di segala situasi. Bahkan kepada orang asing sekali pun.
"That would be best," sang petugas menghela napas, senang dia berhasil keluar dari keadaan sulit barusan.
Jaehyun menggenggam lengan bawah Sungho, mengarahkannya agar mereka saling berhadap-hadapan, menyampingi para tamu sekarang alih-alih memunggungi mereka.
"Sungho. Bagiku kamu itu kaya sikat gigi."
Hening.
Tidak pernah terlintas di pikiran para tamu disana kalau wedding vow seorang Myung Jaehyun akan dimulai dengan memanggil suaminya "sikat gigi".
Tetapi Sungho sudah hafal segala keantikannya, so he cracked a smile. Dia tahu kalau Jaehyun tidak pernah boros dengan kata-katanya. And whatever he has to say, will work.
"Rumahmu dikelilingi dinding porselen yang selalu berkilau bersih. Bagimu, normal itu konsistensi. Pagi dan malammu selalu sama, saat itulah waktumu bersinar. Membersihkan hingga seluk beluk antara gusi seseorang. Kamu selalu menemukan cara buat mencocokkan diri dengan segala situasi, like those little brittling brushes."
Sungho mendengar beberapa "aww" dari bangku tamu. Dia tahu dia menandai suara Sanghyuk dan Donghyun disitu. Dasar.
"Sayangnya aku ini kaya ban sepeda."
Orang-orang kembali hening. Namun Sungho cuma bisa tersenyum, tersipu bahkan. Tuhan, Sungho mencintai pria pembuat onar ini.
"Aku ngga pernah tahu aku bakal menggelinding kemana besok. Tapi aku ingin membawamu berputar berkeliling sampai kamu bakal ngerasa kalau rumah porselenmu itu ngebosenin. Aku berterima kasih kamu menemukan jalanmu ke New York, menukarkan istana berkilaumu itu buat garasi tempatku tinggal ini.
"Bersamamu, aku ngerasa aman. No matter how dirty I'd get on the road, knowing that I could always roll on back to you is a privilege I never knew I could afford. Apalagi cuma dengan cintaku buat kamu itu. Jadi aku tahu aku ini minta banyak, karena aku juga ga tau kapan lagi ada insiden seperti barusan yang bisa menggelincirkan rencana hidup kita bakal muncul.
"So here I stand, pleading you to stay with me bahkan ketika hal yang tak terduga bakal loncat tiba-tiba ke hadapan kita. I know my saddle is not the most comfortable thing, but I promise I can take you anywhere you want to in the world.
"I love you. Selalu. Sampai banku kempes dan bulumu rontok semua. I love you, Park Sungho."
Srootttt.
Kapan pula ingus Sungho ikut meler bersama air matanya. Sungho tidak tahu. Dia tidak peduli. Kalau boleh ia hanya ingin dibiarkan menangis sampai air matanya habis terkuras saja.
Jaehyun malah tertawa lagi. Menyapu air mata yang mengucur ke pipi Sungho dengan kedua tangannya.
"Sweetheart, kok nangis?" ucapnya lembut. Merangkup pipi Sungho, menepuk-nepukkan jarinya pelan di area bawah pelipis suaminya itu.
Sungho menarik napas lagi, menyedot ingusnya kembali masuk sebelum ada yang menetes ke tuxedo mahalnya itu.
"Harusnya aku duluan."
