Work Text:
“Ju, beneran gapapa nih kalo gue kasih bunga?”
Seonghyeon memajukan kepalanya sambil berbisik ke telinga sebelah kanan Juhoon yang berdiri membelakanginya.
Di sekelilingnya, puluhan siswa berbaris rapi mengenakan atribut sekolah lengkap. Cahaya matahari pagi yang mulai meninggi menyilaukan beberapa siswa yang berdiri tepat menghadap sinarnya.
Juhoon menoleh sedikit dan mencondongkan tubuhnya ke belakang.
“Ini udah pertanyaan keseribu kali, kayanya. Iya kasih, Seonghyeon.”
“Tapi gu—“
Sebelum Seonghyeon sempat menyelesaikan bantahannya, Juhoon menutup kedua telinganya. Ia mengisyaratkan bahwa ia sudah jengah merespons Seonghyeon. Bagaimana tidak?
Sejak kemarin, Seonghyeon sudah berkali-kali menanyakan hal yang sama. Haruskah ia memberikan bunga ke Keonho pada acara serah terima jabatan setelah upacara?
Hubungan Seonghyeon dan Keonho sebetulnya bisa dikatakan masih abu-abu. Keonho mencurahkan perhatian yang terasa berlebih kepada Seonghyeon selama masa seleksi OSIS.
Tentu, pada awalnya, Seonghyeon tidak menyadari karena Keonho merupakan ketua OSIS. Memang itu kewajibannya untuk mengayomi calon anggota baru OSIS, bukan?
Akan tetapi, pertanyaan sesimpel, “Tadi diomelin ya? Gapapa?” setiap hari setelah masa seleksi pada hari itu selesai, tatapan Keonho selama masa seleksi ke arahnya yang tak pernah usai, tentu saja bukanlah hal lumrah yang dilakukan oleh ketua OSIS kepada anggotanya.
Bahkan, setelah Seonghyeon menyelesaikan masa seleksinya, mereka kian rutin bertukar pesan dan berbagi keseharian melalui ponselnya.
Namun, tak ada yang berani mencela, “Kita ini apa?” pada hubungan intens tersebut. Setidaknya, Seonghyeon.
Ia mana berani bertanya dengan gamblang kejelasan interaksi mereka yang kurang lebih sudah berjalan hampir setahun.
“Emang gila,” ujar Juhoon pada setiap kesempatan. “Gue sih gak mau ya gak punya status sampe setahun gitu. Keburu karatan gue.”
Seonghyeon diam-diam menyetujuinya dalam hati, tetapi bagaimana, ya? Katakanlah ia sudah terlalu kecintaan. Bucin.
Ia sudah sampai pada titik ketika status hubungan bukan lagi masalah, selama ia masih bisa berkomunikasi dengan Keonho.
Lagipula, Keonho masih ketua OSIS. Seonghyeon tidak ingin menambah beban di kepala Keonho yang sudah dipenuhi urusan sekolah dengan urusan hatinya.
Juhoon, yang juga merupakan anggota osis seperti dirinya, tiba-tiba menepuk bahu Seonghyeon dari belakang. “Kok bengong, sih? Ayo maju, sertijabnya udah mau dimulai.”
Sejak kapan Juhoon sudah berdiri di belakangnya? Lebih tepatnya, sejak kapan upacara telah selesai? Seonghyeon bahkan tak menyadarinya.
Seonghyeon dan Juhoon berjalan di lorong bersama beberapa anggota OSIS lainnya. Hari ini mereka akan diresmikan menjadi pengurus OSIS untuk setahun ke depan menggantikan kepengurusan OSIS yang dipimpin oleh Keonho.
“Pokoknya, nanti setelah kita selesai sertijab osisnya. Lu ambil tuh bunga yang udah lu siapin di belakang pot, lu kasih ke Keonho ya. Kalo bisa lu tembak sekalian. Muak gue liat lu berdua.”
Juhoon berujar sembari mengintip ke arah lapangan memperhatikan serah terima jawaban Majelis Perwakilan Kelas yang sedang berlangsung.
Seonghyeon membelalakkan matanya.
“Hah? Kok jadi nembak?”
Juhoon berdiri menghadap Seonghyeon sembari meremas kedua bahu Seonghyeon pelan.
“Dengerin ya, kalian udah deket kayak gini dari kapan? Oh, bener, dari pas kita masih seleksi. Berarti, udah berapa lama? Oh, bener, udah mau setahun. Terus lu gak mau ditembak gitu? Pacaran?”
Seonghyeon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pertanda dirinyapun tidak bisa menolak perkataan Juhoon barusan.
“Ya, iya sih. Tapi kan dia tahun ini agit. Dia fokus belajar, kan?”
Juhoon membelalakkan matanya tak percaya lalu menghembuskan napasnya kasar.
“Seonghyeon, lu stop deh mikirin dari sudut pandang dia terus. Gini, pertanyaannya cuma satu. Lu mau gak pacaran sama ketos lu itu?”
Seonghyeon menunduk. Kalau boleh jujur, tentu, ia tidak akan berpikir dua kali untuk berteriak “Mau!” sekarang. Akan tetapi, entahlah, rumit baginya.
Akhirnya, ia memutuskan hanya mengangguk pelan.
“Nah, yaudah. Ah, gak tau deh jadi gue yang pusing.”
Seonghyeon tertawa pelan mendengar Juhoon yang selalu saja meributkan hubungan Seonghyeon dan Keonho.
Ia sebenarnya bersyukur memiliki teman seperti Juhoon. Kalau tidak, sepertinya ia tidak akan pernah berani untuk memiliki keinginan menjelaskan status pada hubungannya dengan Keonho.
——
Seluruh rangkaian serah terima jabatan telah usai. Saat ini, lapangan riuh dengan ucapan selamat kepada pengurus baru di sekolah. Banyak dari mereka yang memberikan bunga kepada pengurus lama untuk mengungkapkan afeksinya kepada mereka yang telah membimbing anggotanya selama kurang lebih setahun.
Tatapan Seonghyeon diam-diam selalu mengikuti ke arah manapun Keonho berada. Saat ini, Keonho terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa teman kelasnya.
Tak lama, pandangan mereka bertemu. Baru dua detik, Seonghyeon segera memutus pandangan itu.
Ia buru-buru menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari Juhoon, tetapi batang hidungnya tidak bisa ditemukan olehnya.
Akhirnya, ia berjalan ke tempat ia menyembunyikan bunga untuk Keonho, belakang pot. Tak lupa, di dalam buket bunganya terdapat secarik kertas kecil yang berisikan tulisan Seonghyeon untuk Keonho.
Ia menunduk mengambil buket bunganya. Namun, sesaat setelah ia berusaha mendongak, kepalanya terbentur dengan dada seseorang.
“Eh, maaf, Seonghyeon.”
Seonghyeon mendongak dan melihat raut wajah khawatir Keonho di sana. Ya ampun… kenapa malah ketemu di sini, batin Seonghyeon.
Keonho lalu mengusap dahi Seonghyeon pelan dengan ibu jarinya.
“Iya, gapapa kok, Kak.”
Setelah itu, Keonho melirik ke arah buket bunga yang sedang dipegang oleh Seonghyeon.
“Seonghyeon, aku boleh minta waktu sebentar, gak? Atau, kamu mau ngasih bunga itu ke orang dulu, ya?”
Senyum Seonghyeon tertahan di sudut bibir. Bunga ini buat kamu tau, Kak, teriak batinnya.
“Aku mau ngasihnya nanti aja, Kak. Aku belum tau orangnya ada di mana.”
Keonho melengkungkan senyum seraya mengangguk pelan. Ia lalu memegang tangan Seonghyeon yang kosong dan menariknya ke kelasnya.
Seonghyeon menautkan kedua alisnya. Bertanya-tanya dalam hati mengapa Keonho membawanya ke sini.
“Mau ditembak kali lu!”
Suara Juhoon tiba-tiba menyeruak di dalam benak pikirannya.
Ia menutup matanya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir suara khayalan Juhoon dari benaknya.
“Seonghyeon kenapa? Pusing?”
Seketika Keonho menghentikan langkahnya. Mereka telah berada di depan papan tulis kelas Keonho.
Seonghyeon membuka kedua matanya panik.
“Gak apa-apa, Kak.”
“Beneran?”
“Iya, Kak. Kita mau ngapain ya, Kak, ke sini?”
Keonho tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah mejanya, lalu mengambil secarik kertas dan menyodorkannya ke tangan Seonghyeon yang kosong.
“Ini, kamu kan sekarang sekretaris osis. Coba deh, kalo menurut kamu, surat permohonan izin ini udah bener belum formatnya?”
Seonghyeon mengerjapkan matanya sembari mencerna perkataan Keonho barusan. Serius? Masa cuma buat ngecek surat?
Tak lama kemudian, Keonho mengambil buket bunga dari tangan Seonghyeon yang satunya.
“Biar kamu lebih enak bacanya. Aku bantu pegangin dulu bunganya, ya.”
Mau tak mau Seonghyeon akhirnya membaca surat yang sekarang telah berada di tangannya.
Tidak ada header dan logo sekolah di atas. Kertas itu hanya memiliki judul yang hurufnya ditebalkan bertuliskan “Surat Permohonan Izin.”
Di bawahnya, Seonghyeon mencerna satu persatu kalimat yang tertulis.
Saya, Keonho, ketua osis yang sudah bukan ketua osis, ingin memohon izin untuk memacari saudara Seonghyeon, anggota osis yang sekarang telah menjadi sekretaris osis. Namun, sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena setahun belakangan saya belum bisa menaruh status pada hubungan kita. Kalau kamu mau ngambek dulu juga gapapa. Balik lagi, kamu mengizinkan saya untuk jadi pacar kamu, nggak?
Yang selalu sayang Seonghyeon,
Keonho
Kedua pipi Seonghyeon sontak bersemu merah setelah selesai membacanya. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung kertas itu sedikit lebih erat sebelum ia mendongak menatap Keonho.
“Seonghyeon, maaf ya aku baru sekarang bisa ngajak kamu pacarannya. Kalo ditanya mah, aku pengin banget dari dulu pacaran sama kamu. Tapi, gimana ya, soalnya sebelumnya sempet ada isu gak enak karena ketos yang sebelumnya ketauan pacaran sama anggota osisnya. Aku gak mau buat kamu keseret. Jadi, gimana?”
Keonho lalu menjulurkan buket bunga ke arahnya. Buket bunga Seonghyeon yang tadi sempat dibawanya telah ia taruh di meja sampingnya.
“Ini bukan bunga yang tadi kamu bawa, loh, ya. Ini bunga dari aku buat kamu.”
Seonghyeon menyunggingkan senyumnya. Ia menoleh ke penjuru arah, memastikan bahwa mereka hanya berdua di ruangan kelas ini.
Tanpa memberi kesempatan Keonho bereaksi, ia berjinjit dan mengecup pipi kanan laki-laki itu. Ia lalu berbisik ke telinganya, “Aku juga pengin banget dari dulu pacaran sama kamu, Kak.”
Keonho mematung karena tak siap dengan serangan mendadak dari Seonghyeon barusan. Kedua matanya bahkan sedikit membulat, jelas tak menyangka Seonghyeon akan lebih dulu menciumnya.
Seonghyeon berjalan ke meja, mengambil buket bunganya yang tadi hendak ia berikan ke Keonho.
“Kakak, ini sebenernya bunganya juga buat kamu. Aku malu tadi bilangnya.”
Keonho menatap bunga di tangannya dan bunga di tangan Seonghyeon lalu tertawa.
“Yaudah nih, tukeran.”
Seonghyeon mengambil buket bunga yang disodorkan oleh Keonho dan sebaliknya.
“Selamat ya udah jadi sekretaris, sayang.”
Seonghyeon refleks menatap Keonho. Pipinya yang tadi mulai mendingin kembali memanas saat mendengar panggilan itu.
“Akhirnya, aku bisa manggil kamu sayang.”
Keonho lalu merengkuh tubuh Seonghyeon ke pelukannya dengan satu tangannya yang bebas. Seonghyeonpun melakukan hal yang sama.
Dari balik kaca, terlihat Juhoon yang sedang kebingungan mencari keberadaan Seonghyeon.
Tak sengaja, Juhoon menoleh ke kaca dan melihat dua insan yang sedang berpelukan di sana. Senyum terukir di wajahnya.
“Ah, akhirnya pacaran juga.”
