Chapter Text
Ada orang yang datang ke hidupmu untuk mengajarkan cara mencintai.
Ada juga...
Yang datang untuk mengajarkan cara melepaskan.
Aku berharap Raka bukan salah satunya.
—
"Aren."
Suara itu selalu sama.
Tenang.
Pelan.
Seolah takut mengganggu dunia yang sedang kutinggali.
Aku membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar masih berwarna putih.
Aroma obat masih memenuhi udara.
Dan di samping tempat tidurku...
Raka masih duduk di kursi yang sama.
Ia tersenyum ketika melihatku sadar.
"Selamat pagi."
Aku ikut tersenyum kecil.
"Selamat pagi."
Ia menyodorkan segelas air.
Aku menerimanya.
Jemari kami bersentuhan sebentar.
Hangat.
Aneh.
Padahal ini bukan pertama kalinya kami bertemu.
Tetapi...
Setiap kali melihatnya...
Dadaku selalu terasa sesak.
Seolah ada sesuatu yang sangat ingin kuingat.
Namun tidak pernah berhasil kuraih.
"Ada yang sakit?"
tanyanya pelan.
Aku menggeleng.
"Nggak."
"Cuma..."
Aku memandang wajahnya beberapa detik.
"Lihat kamu tuh..."
"...rasanya sedih."
Raka tertawa kecil.
"Padahal aku lagi senyum."
"Iya."
"Itu yang bikin sedih."
Ia tidak menjawab.
Seperti biasa.
Raka memang lebih sering menyimpan jawaban di balik diamnya.
Aku tidak tahu sudah berapa lama kami saling mengenal.
Yang kutahu...
Setiap aku membuka mata di kamar rumah sakit ini...
Dia selalu ada.
Membawakan kopi.
Membawakan buku.
Kadang bunga kecil yang dipetik dari taman rumah sakit.
Kadang hanya dirinya sendiri.
Dan entah kenapa...
Itu selalu cukup.
"Aren."
"Hm?"
"Hari ini cuacanya bagus."
Aku menoleh ke arah jendela.
Matahari pagi menyelinap di sela tirai.
"Iya."
"Bagus."
"Kita jalan-jalan nanti?"
Aku mengangguk semangat.
"Mau."
Raka berdiri.
"Lima belas menit lagi ya."
"Oke."
Ia melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar...
Ia berhenti.
Lalu menoleh.
"Aren."
"Iya?"
"Kalau nanti capek..."
"...bilang."
Aku mengangguk.
"Siap."
Pintu tertutup pelan.
Ruangan kembali sunyi.
Aku menghela napas.
Lalu tanpa sadar...
Tanganku meraih buku kecil yang selalu berada di meja samping tempat tidur.
Buku itu sudah hampir penuh.
Di halaman pertama tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tanganku sendiri.
Hari ke-1.
Kalau aku lupa lagi... baca buku ini dari awal.
Aku membuka halaman berikutnya.
Hari ke-18.
"Hari ini aku bertemu laki-laki bernama Raka."
"Dia bilang kami berteman."
"Aku tidak ingat."
Hari ke-31.
"Aku mulai menyukai caranya tersenyum."
Hari ke-47.
"Aku bertanya kenapa dia selalu datang."
"Dia hanya menjawab, 'Karena aku ingin.'"
Hari ke-63.
"Perawat bilang Raka sudah menemaniku sangat lama."
"Tapi kenapa setiap kali aku bertanya sejak kapan..."
"Dia selalu mengalihkan pembicaraan?"
Tanganku berhenti membuka halaman.
Ada satu halaman yang terlipat rapi.
Seolah sengaja diberi tanda.
Aku membukanya perlahan.
Tulisan di sana jauh lebih berantakan.
Tinta di beberapa bagian bahkan luntur.
Seperti pernah terkena air mata.
"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar lupa semuanya..."
"Tolong..."
"Jangan bilang kalau Raka pernah mencintaiku."
"Aku tidak sanggup melihatnya mengulang rasa sakit yang sama."
Napasnya tercekat.
Aku mengerutkan kening.
Kenapa...
Aku bisa menulis kalimat seperti itu?
Dan...
Kenapa saat membaca nama Raka...
Air mataku jatuh begitu saja?
Padahal...
Aku bahkan tidak tahu cerita apa yang telah kami lalui.
Di luar pintu...
Raka berdiri mematung.
Tangannya masih menggenggam gagang pintu yang belum sempat ia lepaskan.
Ia mendengar semuanya.
Matanya terpejam.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Ia membiarkan dirinya menangis.
Sangat pelan.
Agar perempuan yang paling ia cintai...
Tidak mendengar suara hatinya yang kembali patah.
---
"Beberapa kisah cinta dimulai dengan pertemuan."
"Kisah kami..."
"Dimulai dari usaha untuk saling mengingat."
