Actions

Work Header

A collection of BoiFang story

Summary:

This is actually an old story I published on fanfiction.net

Please take note that this is written at 2016-2017

Each chapter is unrelated to each other!

Please read the tag!

Notes:

Please be kind, I was 13 years old when I wrote this.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Ciuman pada tangan [Air/Fang]

Chapter Text

 

Hari itu hari rabu.

 

Rintik-rintik hujan mulai terlihat dari kaca ruangan kelas Fang, ia berdecih tak suka ketika ingat tak membawa payung. Salahkan pembawa acara ramalan cuaca yang sebenarnya tampangnya kurang meyakinkan sehingga membuatnya tak yakin dengan acara yang di bawakannya.

 

Pelajarannya saat ini adalah yang terakhir untuk hari itu.

 

Hujan di luar semakin deras. Boboiboy, orang yang ada di depannya saat ini saja sudah entah keberapa kalinya menguap kedinginan dan mengantuk–maklum sejak mendapat kuasa Air ia entah kenapa menjadi lebih malas dari biasanya.

 

Bel sekolah berdering, tandanya untuk pulang. Gurunyapun memutuskan untuk memberi pekerjaan rumah.

 

Fang yang tak yakin antara akan menembus hujan dan mengambil resiko basah-basahan kemudian sakit atau memilih menunggu entah sampai kapan hingga hujan reda, memutuskan untuk melihat situasi terlebih dahulu. Dan dia menggunakannya dengan duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu di koridor bawah sekolahnya.


Hujan telah membuat jalanan menjadi licin dan sulit di lalui, beberapa anak yang memutuskan untuk menerobos hujan dengan berlari sampai ada yang jatuh karena terpeleset. Anak-anak yang membawa payung dan orang tuanya datang menjemput semuanya sudah terlebih dahulu pergi untuk menghangatkan diri di rumah masing-masing. Di rumahnya pasti tidak akan ada yang menyambutnya ataupun menunggu kepulangannya, yang ada hanyalah sunyi senyap.

 

Fang menghentikan deretan kereta fikirannya. Ia melihat jamnya.

 

Fang memasang jaket yang biasa di ikatnya di pinggang. Bersiap menerobos hujan yang sepertinya belum berniat reda untuk beberapa jam yang akan datang.

 

Tapi tiba-tiba hujannya berhenti, ralat, hujan tak menetes tepat di depannya. Bersama dengan sosok orang yang dikenalnya dengan pasti.

 

"He~~~h Belum pulang, Fang?" tanya orang itu, ia meminum coklat hangat entah dari mana asalnya.

 

Anak ini mau cari masalah, "Menurutmu bagaimana?" jawabnya sinis.

 

"Ho-oh...Lupa bawa payung?" tanyanya lagi seolah tadi Fang tak mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Aduh padahal itu nancap sekali, dia di sini berusaha untuk membuat damai. Ucapan Fang tadi pasti bakal kepikiran sampai nanti malam.

 

Fang menatapnya malas. Tatapan itu di balas tatapan yang lebih malas lagi.

 

"Kalau begitu ayo pulang sama-sama." Tawarnya, berusaha menjadi bijak sambil memberinya tangan untuk berdiri.

 

Awalnya ia berfikir untuk tak menerima ajakannya, tapi kalau melihat keadaan hujan yang sepertinya tak akan reda untuk jangka waktu yang lama ia memutuskan kalau sekali-kali bolehlah dia membuang harga dirinya jauh-jauh.

 

"B-baiklah, tapi hanya karena aku tak ingin terus keinginan di sini, dan bukan k-karena hal lainnya." Sial kenapa dia terbata?

 

BoboiBoy hanya menganggap perkara itu sebagai angin lalu. Bagaimana tidak dia saat ini sedang dalam wujud Air.

 

Tunggu, dia baru saja menyadari sebuah point penting.

 

Dan benar saja, saat Fang menyentuh tangannya ia memekik sampai terjungkal ke belakang. Tangan BoboiBoy Air sangatlah dingin!

 

BoboiBoy Air menggaruk-garuk lehernya yang kebetulan tak gatal.

 

"D..dingin ya?"

 

"Menurutmu!"

 

Oh, ya sudahlah!

 

BoboiBoy Air menarik dengan paksa Fang dari posisinya yang sedang duduk di tanah lalu memeluknya erat, tak peduli pada basah baju Fang.

 

Fang merona, ia tak terima di perlakukan sedemikian rupa seperti seorang gadis. Tapi, tapi, tapi. Badan BoboiBoy Air ternyata hangat –ralat panas. Ternyata yang dingin hanya tangannya.

 

Tangan-tangan nakal Air menyelundup masuk ke dalam jaket Fang, tapi ia hanya meletakannya saja di sana. Tak melakukan hal lebih.

 

Wajah Fang menghangat sampai menjalar ke telinga. "H-hoi! Ngapain kau?!" ucapnya terbata lagi.

 

"Shush. Diamlah sebentar."

 

Fang mengatupkan mulutnya dengan rapat.

 

BoboiBoy Air menggumamkan ritme-ritme kecil dan membiarkan kekuatannya yang melakukan sisanya.

 

Tempat di sekitar mereka seketika berubah menghangat.

 

"Nah Bagaimana sekarang?" Tanya BoboiBoy Air tulus.

 

Fang menggumamkan sesuatu. BoboiBoy Air tersenyum, "Apa tadi kau bilang?"

 

"...Tanganmu, Tanganmu sedang apa masih ada di pinggangku?"

 

...

 

Mengejutan, tapi memang di harapkan dari seorang Fang.

 

Ia berdecih dalam hati.

 

Memasang senyum BoboiBoy Air menggenggam sebelah tangan Fang, tangannya terasa jauh lebih baik dari yang tadi.

 

Ia membawa tangan Fang kewajahnya, "Pastinya aku sudah terasa lebih baik bukan?" Ucapnya kemudian mencium punggung tangan Fang sambil menatap matanya dalam-dalam.

 

Fang tak tau harus bagaimana lagi. Ia hanya diam, sambil merona.


Bahkan sampai BoBoiBoy mengantarnya pulang. Hingga ia pulang menuju ke rumahnya sendiri, barulah Fang bisa berlari ke dalam rumahnya dan membenamkan wajahnya ke bantal. Rona merah di wajah sudah mulai menghilang, tapi masih bersisa.

 

Ciuman di tangan sering dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan kepedulian.

 

Yap, tak perlu di pungkiri jika memang Air menghormatinya, tapi dia juga bisa memastikan jika ia peduli.