Actions

Work Header

Jam Malam dari Camer

Summary:

Dua bestman yang baru kenal seminggu sebelum pernikahan sahabat mereka, lalu perlahan jadi dekat lewat hal-hal kecil.

Notes:

Memakai nama Jaehyun, Minju, Jiwon, dan Hyunseo untuk kebutuhan karakter pendukung yang disesuaikan dalam cerita ini. Ini cerita santai tanpa banyak konflik, jadi silakan dinikmati pelan-pelan.

Work Text:

Hanzhen dan Junghwan pertama kali bertemu di pernikahan sahabat dekat mereka, Jaehyun dan Minju. Keduanya didapuk menjadi bestman, padahal baru saling kenal seminggu sebelum hari pernikahan. Hanzhen adalah teman masa kecil Jaehyun yang sempat terpisah karena beda SMA, sementara Junghwan adalah teman Jaehyun sejak SMA hingga kuliah di luar negeri.

Pernikahan itu digelar di sebuah kapel kecil, sehingga undangannya pun sangat terbatas, tidak lebih dari 50 orang, hanya terdiri dari keluarga inti, kakek-nenek, serta om, tante, dan sepupu dekat. Keluarga jauh sengaja tidak diundang ke acara utama, melainkan dibuatkan acara makan-makan terpisah dua hari setelahnya. Dengan konsep yang serba terbatas ini, pendamping pengantin pun hanya dua pasang: Hanzhen dan Junghwan sebagai bestman, serta Jiwon dan Hyunseo sebagai bridesmaid.

Para bridesmaid dan bestman ini pertama kali berinteraksi saat mempersiapkan bridal shower. Awalnya, Jiwon dan Hyunseo menghubungi para bestman bukan untuk mengundang, melainkan murni meminta bantuan dekorasi. Minju sendiri yang memintanya, karena keterbatasan orang. Acara itu diadakan di kafe milik adik Minju yang sengaja ditutup setengah hari.

Sembari memasang dekorasi, mereka mengobrol santai, saling bertanya sudah berapa lama berteman dengan calon pengantin. Dari situ ketahuan bahwa Jiwon, Hyunseo, dan Minju adalah teman masa kecil, sama seperti hubungan Hanzhen dan Jaehyun dulu.

Dekorasi selesai, tapi Hanzhen dan Junghwan tidak langsung pulang. Mereka diminta menjadi kamerawan dadakan untuk memberi kejutan pada Minju. Begitu Minju turun dari mobil dengan mata tertutup, Junghwanlah yang menyambutnya di luar dan mengarahkannya masuk ke kafe. Begitu masuk, giliran Hanzhen yang merekam momen itu hingga Minju duduk di kursinya. Tugas selesai, mereka pun pulang dan menyerahkan sisa acara kepada para bridesmaid.

Karena acara diadakan malam hari, Junghwan merasa lapar lagi meski sebenarnya sudah makan sebelum datang ke kafe. Ia pun mengajak Hanzhen makan bersama di sebuah restoran yang masih berada di area kafe itu. Kalau tadi, saat dekorasi, suasana terasa cair karena ada Jiwon dan Hyunseo yang ramai, kini setelah tinggal berdua, atmosfernya mendadak canggung. Namun, karena sudah telanjur duduk dan memesan makanan, mereka mencoba tidak terlalu ambil pusing.

Selesai makan, Junghwan bertanya bagaimana Hanzhen akan pulang. Hanzhen menjawab hendak memberi kabar kepada sopirnya. Mendengar itu, Junghwan memberanikan diri menawarkan tumpangan. Sebenarnya ia agak sungkan karena mereka baru saja kenal, tapi rasa canggung itu ia kesampingkan. Ia merasa harus bisa akrab dengan teman Jaehyun yang lain, lagi pula, ia melihat Jiwon dan Hyunseo begitu dekat dengan Jaehyun, begitu pula sebaliknya. Dari seluruh lingkaran pertemanan ini, praktis hanya ia dan Hanzhen yang belum dekat. Hanzhen akhirnya menyetujui tawaran itu.

Sesampainya di depan rumah Hanzhen, Junghwan bersiap ikut turun dari mobil untuk berpamitan dengan orang rumah. Namun, Hanzhen langsung mencegahnya, takut malah jadi sangat canggung kalau tiba-tiba bertamu saat itu juga. Junghwan pun menurut dan langsung pamit pulang.

Tiga hari sebelum pernikahan, giliran Jaehyun yang mengajak Hanzhen dan Junghwan mengadakan boys' talk di rumahnya. Acara santai ini dekorasinya sederhana, tidak seheboh bridal shower, tapi makanan, minuman, dan kue tart tersedia melimpah. Kue tart itu sebenarnya titipan Minju, ia sempat memarahi Jaehyun karena pacarnya itu tidak berniat menyediakan kue untuk perayaan sebelum nikah. Akhirnya, Jaehyun menurut saja.

Di rumah Jaehyun, agenda mereka hanya bermain PS, makan, minum, serta bermain rolling bottle untuk truth or dare. Sayangnya, Jaehyun lebih banyak minum daripada melakukan deep talk. Karena dasarnya tidak kuat minum banyak, ia cepat sekali tumbang dan langsung tertidur di karpet. Hanzhen yang sudah agak tipsy ikut merebahkan diri di sofa sebelah Jaehyun. Sementara itu, Junghwan yang masih cukup sadar karena tidak minum banyak, akhirnya lanjut bermain PS sendirian.

Dari atas sofa, Hanzhen mulai menjahili Jaehyun yang setengah sadar.

"Lu kok dulu nggak ajak-ajak gua sih pas mau keluar negeri?" cerocos Hanzhen.

Jaehyun, merasa sedikit terganggu, membalas dengan nada mengigau, "Lah, gua udah ajak. Lu-nya aja yang cupu, nggak mau melanggar perintah orang tua lu yang strict."

"Harusnya lu maksa gua, dong," balas Hanzhen tidak mau kalah.

"Lu aja takut, apalagi gua," gumam Jaehyun lagi.

Obrolan mereka terus sahut-sahutan, meski lama-lama makin tidak jelas arahnya. Junghwan yang mendengar interaksi itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sekaligus baru mengetahui satu fakta baru tentang masa lalu Hanzhen.

Pada hari-H pernikahan, pihak pengantin memesan kamar hotel tipe standar untuk para tamu undangan, sementara untuk kamar persiapan dan kamar pengantin, mereka memesan tipe two-bedroom suite. Jaehyun dan Minju bersiap di dua ruangan berbeda.

Sesuai jadwal, Jaehyun mengambil sesi foto bersama keluarganya lebih dulu di ruang persiapannya, baru kemudian giliran Minju. Namun, karena Minju dan keluarganya harus berfoto di ruangan Jaehyun, alurnya harus diatur ketat agar pengantin pria tidak melihat pengantin wanita sebelum waktunya. Hanzhen bertugas mengetuk pintu kamar pengantin wanita sebagai tanda, sementara Junghwan menjaga Jaehyun agar tidak mengintip saat Minju berjalan keluar menuju ruangan sebelah.

Setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan itu selesai, Jiwon dan Hyunseo berencana membuat pesta sendiri. Sebelumnya, Minju sempat bilang tidak akan ada after party karena keluarganya cukup ketat. Namun, karena sekarang sudah sah menikah, ia merasa tidak perlu lagi meminta izin orang tua. Ia berhasil membujuk Jaehyun untuk ikut berpesta bersama teman-temannya, dan Jaehyun pun mengizinkan bahkan mengajak Hanzhen dan Junghwan bergabung.

Di tempat pesta, Minju hanya duduk di kursi karena lelah, sementara Jiwon, Hyunseo, Hanzhen, dan suami Minju langsung turun ke lantai dansa. Junghwan hanya sesekali ikut nimbrung sebentar, lalu kembali duduk karena merasa tidak bisa mengimbangi energi mereka yang luar biasa.

Di tengah lagu, Jiwon kembali ke meja untuk mengambil minum. Karena musik sangat berisik, Minju mengisyaratkan Jiwon untuk mendekat.

"Kamu dekat banget sama Hanzhen. Suka, ya?" bisik Minju, yang menanyakan itu karena melihat betapa kompaknya mereka di lantai dansa.

Jiwon, menganggap pertanyaan itu konyol, langsung menyangkalnya. Ia kemudian melirik sekilas ke arah Junghwan yang duduk tidak jauh dari mereka, merasa Minju benar-benar salah membaca situasi.

Setelah pernikahan Jaehyun dan Minju, pertemanan lain mulai terbentuk. Jiwon dan Hyunseo sering mengajak Hanzhen jalan bareng karena merasa cocok. Hanzhen asyik diajak belanja, mau menemani ke kelas merangkai bunga, dan dari sana pula mereka baru tahu kalau Hanzhen ternyata rutin ikut kelas pilates dan pergi ke gym. Mereka sering mengunggah momen bertiga di media sosial, atau berempat kalau Minju sedang senggang. Hanzhen sendiri sudah dimasukkan ke dalam grup obrolan bertiga bersama Jiwon dan Hyunseo. Awalnya ia sempat bingung kenapa diajak seakrab itu dalam sebulan terakhir, tapi ia berpikir mungkin karena biasanya mereka selalu bertiga, dan sekarang Minju sudah sibuk mendampingi Jaehyun sebagai istri baru. Jadi, Hanzhen menurut saja diajak ke sana kemari.

Suatu hari, Hanzhen mengunggah foto yang hanya memperlihatkan dirinya berdua dengan Jiwon.

Saat sedang berkumpul bertiga, ditambah Jaehyun yang baru punya waktu luang setelah sebulan pernikahan, di rumah barunya, Junghwan yang sedang bermain PS bersama Jaehyun dan Hanzhen memberanikan diri bertanya.

"Lagi dekat ya, sama Jiwon?" Ia menanyakan itu karena melihat foto unggahan Hanzhen sebelumnya.

Mendengar pertanyaan itu, Jaehyun langsung menengok dan membuat ekspresi menggoda, seolah berkata, "Wah, mencurigakan, nih."

"Dekat sama semuanya, kok. Kebetulan kemarin cuma berdua karena Hyunseo nggak suka bulu tangkis," jawab Hanzhen santai.

Junghwan langsung menyahut spontan, "Lah, aku suka bulu tangkis, tapi kok nggak diajak?"

Hanzhen agak terkejut, lalu tersenyum canggung. "Oh, maaf deh. Nanti lain kali aku ajak, ya."

Momen kumpul di rumah Jaehyun ini terjadi tepat dua hari sebelum pasangan baru itu berangkat bulan madu. Hari ini, mereka berempat mengantar kepergian Jaehyun dan Minju ke bandara.

Sepulang dari bandara, Jiwon, Hyunseo, dan Hanzhen memang sudah janjian untuk pergi main bersama. Junghwan yang tidak mau ketinggalan meminta izin untuk ikut serta. Walau awalnya mereka agak setengah hati, akhirnya mereka pergi berempat menggunakan mobil Junghwan.

Agar tidak boros bensin dan tidak repot membawa banyak kendaraan saat keliling nanti, Jiwon mengusulkan memakai satu mobil saja. Kebetulan rumah Hanzhen searah jalan pulang dari bandara, jadi Jiwon dan Hyunseo memutuskan menitipkan mobil mereka di sana. Hanzhen pun menyuruh sopirnya pulang agar bisa langsung menumpang di mobil Junghwan.

Ini kedua kalinya Hanzhen naik ke mobil Junghwan. Begitu duduk di kursi penumpang, ia langsung menyadari sesuatu.

"Loh, terakhir kali parfum mobilnya bukan ini, deh?"

Junghwan menoleh sekilas, lalu tersenyum. "Iya, baru ganti. Gimana, suka nggak?"

"Iya, suka. Lebih enak yang ini, lebih soft," puji Hanzhen jujur.

Junghwan diam-diam mencatat komentar itu dalam kepalanya.

Sesampainya di rumah Hanzhen untuk memarkirkan mobil Jiwon, Hanzhen ingin mampir sebentar ke dalam rumah untuk mengambil barang. Junghwan turun paling pertama untuk menemaninya masuk, disusul Jiwon dan Hyunseo yang baru saja mengunci mobil mereka.

Di dalam, Hanzhen memanggil mamanya untuk memperkenalkan teman-temannya. Saat tahu mereka hendak pergi main, Mama Hanzhen teringat brownies yang baru dibelinya dari luar kota kemarin. Beliau meminta Hanzhen memindahkan kue itu ke kotak makan kecil, agar teman-temannya bisa membawa pulang satu-satu sebagai buah tangan.

Setelah menyerahkan kantong kertas berisi kue kepada masing-masing orang, mereka pun berpamitan. Jiwon, Hyunseo, dan Junghwan membungkuk sopan sebelum melangkah keluar. Namun, saat Junghwan hendak berbalik, Mama Hanzhen menahan lengannya, ingin membisikkan sesuatu.

"Kalau mau ajak Hanzhen pergi, ingat jam malamnya jam 11, ya."

Hanzhen, yang berdiri agak jauh, tidak bisa mendengar apa yang dikatakan mamanya. Ia hanya melihat Junghwan tersenyum sambil memberikan gestur jempol kepada mamanya, tanda mengerti.

Tujuan pertama mereka adalah sebuah studio workshop pottery. Di sana, mereka berempat fokus dengan tanah liat di meja masing-masing, sesekali melempar gurauan ringan untuk mencairkan suasana. Karena tingkat keterampilan tangan yang berbeda, hasil akhir keramik mereka pun bermacam-macam bentuknya. Untungnya, semua hasil karya itu bisa dibawa pulang.

Karena rencana selanjutnya adalah berbelanja, mereka menaruh hasil kerajinan tangan itu di bagasi mobil Junghwan lebih dulu, sebelum berjalan masuk ke dalam mal.

Saat mulai melihat-lihat pakaian, Hyunseo dengan antusias menggamit lengan Jiwon dan menunjukkan satu baju yang sudah lama ia incar. Namun, karena modelnya bukan selera Jiwon, ia langsung berkomentar jujur bahwa baju itu kurang bagus. Sedikit kesal dengan kejujuran sahabatnya, Hyunseo beralih menggamit lengan Hanzhen dan menariknya ke deretan baju lain.

Tentu saja kekesalan Hyunseo tidak bertahan lama. Jiwon tiba-tiba datang membawakan sepotong baju yang menurutnya sangat cocok untuk Hyunseo. Begitu melihatnya, Hyunseo langsung jatuh cinta, menyambar baju itu, dan berlari ke ruang ganti.

Karena rangkulan di lengannya sudah terlepas, Hanzhen berjalan sendiri ke area lain untuk melihat-lihat. Junghwan, yang sedari tadi mengekor di belakang mereka, langsung bergerak menyusul ke arah Hanzhen.

"Mau cari baju yang kayak gimana?" tanya Junghwan membuka obrolan.

"Belum tahu, sih. Mau lihat-lihat dulu aja," jawab Hanzhen.

Ia mengambil beberapa potong baju, mencocokkannya di depan cermin ke badannya sendiri, lalu mengembalikannya lagi karena merasa kurang pas. Tak menemukan yang cocok untuk dirinya, Hanzhen berbalik menatap Junghwan.

"Kamu nggak ada baju yang disuka?"

Junghwan menggeleng pelan. "Hmm, aku nggak lihat-lihat baju, dari tadi cuma ngikutin kamu."

Mendengar itu, Hanzhen justru kembali mengambil beberapa pasang pakaian yang tadi ia lihat, lalu gantian mencocokkannya ke badan Junghwan.

"Eh, yang ini bagus, deh. Ini juga bagus. Kayaknya cocok banget di kamu. Kamu mau beli nggak?"

Junghwan hanya bisa pasrah bercampur senang menerima perhatian tiba-tiba itu.

Setelah puas berbelanja, mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam. Jiwon meminta agar mereka memilih tempat yang juga menyediakan hidangan penutup yang enak, karena ia sedang ingin makan dessert.

Setelah sepakat, mereka memesan menu masing-masing. Junghwan memesan satu menu makanan utama, sementara Hanzhen dan Hyunseo memutuskan memesan satu menu utama untuk dimakan berdua, karena mereka mengincar menu pencuci mulut yang porsinya cukup besar. Jiwon sendiri hanya memesan sepotong kue red velvet.

Hanzhen dan Hyunseo membagi makanan mereka menggunakan piring kosong tambahan. Di tengah-tengah makan, Hyunseo melirik kue milik Jiwon.

"Kuenya enak nggak, Ji?"

"Enak. Tapi kalau lu mau pesan, mending cari menu lain aja, biar nanti gua bisa cobain punya lu juga," sahut Jiwon memberi saran.

"Tapi gua juga pengen nyobain red velvet. Sisain buat gua dikit, ya. Nanti gua pesan yang lain," balas Hyunseo.

Setelah Jiwon setuju, Hyunseo memanggil pelayan untuk memesan apple pie, sedangkan Hanzhen memesan blackforest tiramisu.

Begitu makanan utama selesai dan hidangan penutup disajikan, mereka mulai menikmati kue masing-masing. Karena Junghwan sama sekali tidak memesan makanan manis, Hanzhen berniat menggeser piring tiramisunya ke arah Junghwan agar bisa mencicipinya.

Melihat piring itu digeser, Junghwan berniat menjahili Hanzhen. Ia sengaja menatap Hanzhen sambil membuka mulutnya lebar-lebar, padahal tangannya sudah bergerak hendak mengambil alih sendok dari tangan Hanzhen untuk menyendok sendiri.

Namun, Hanzhen yang dasarnya sudah merasa canggung dan grogi sejak tadi, salah membaca situasi. Melihat Junghwan membuka mulut di depannya, fokusnya buyar. Bukannya melepaskan sendok ke tangan Junghwan, dengan gerakan refleks yang didorong rasa panik, Hanzhen justru menyendok sedikit kuenya dan langsung menyuapkannya ke mulut Junghwan yang terbuka.

Junghwan seketika membeku dengan kue yang sudah telanjur masuk ke mulutnya. Ia tidak menyangka niat jahilnya malah berbuah suapan gratis. Sementara itu, Hanzhen langsung menarik tangannya, wajahnya mendadak merah padam setelah sadar apa yang baru saja ia lakukan.

Jiwon dan Hyunseo yang duduk bersebelahan berusaha keras menahan ekspresi wajah agar tidak terlihat menjerit heboh di depan umum. Namun, di bawah meja, tangan mereka sibuk saling memukul paha satu sama lain, gemas melihat kecanggungan yang super manis itu.

Acara makan malam selesai, dan mereka kembali ke rumah Hanzhen untuk mengambil mobil Jiwon. Karena hari sudah larut dan gerbang kompleks bagian belakang rumah Hanzhen sebentar lagi akan ditutup, Jiwon dan Hyunseo buru-buru berpamitan dan menitip salam untuk Mama Hanzhen, agar tidak perlu memutar jalan jauh.

Sementara itu, karena jalur pulang Junghwan melewati gerbang depan kompleks yang buka 24 jam, ia tidak perlu terburu-buru. Hanzhen masih duduk di dalam mobil Junghwan yang terparkir. Ia teringat kejadian sebelum mereka pergi tadi siang, dan rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi.

"Junghwan, tadi siang waktu mau pergi... Mama bisikin apa ke kamu?" tanya Hanzhen penasaran.

Junghwan mematikan mesin mobil, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Hanzhen. "Kalau aku kasih tahu, boleh nggak aku minta izin buat kenal kamu lebih dekat lagi?"

Hanzhen sempat mengernyit bingung. "Bukannya kita sekarang sudah dekat sebagai teman?"

"Bukan sebagai teman," potong Junghwan lembut, tatapannya beralih menjadi lebih serius. "Maksudku, dengan intensi yang berbeda. Aku tertarik sama kamu, Hanzhen."

Hanzhen seketika tersipu malu, lidahnya mendadak kelu karena baru menyadari arah pembicaraan ini. Melihat reaksinya, Junghwan tersenyum maklum.

"Nggak perlu buru-buru dijawab atau diterima, kok. Kalau kamu mau nolak juga nggak apa-apa, kita masih bisa temenan kayak biasa."

Hanzhen, yang masih berusaha menata detak jantungnya, hanya bisa mengangguk setuju untuk mencoba menjalani kedekatan mereka.

Junghwan membuktikan ucapannya. Ia tidak terburu-buru menuntut status, melainkan mulai menyisipkan ajakan-ajakan jalan berdua yang dikemas dengan sangat halus, agar Hanzhen tidak merasa tertekan.

Seminggu setelah kejadian di mobil, Junghwan mengirim pesan singkat sore hari.

[Junghwan] Zhen, parfum mobil yang kemarin habis. Aku mau beli lagi ke tokonya langsung di daerah Selatan sekalian cari aroma lain, tapi bingung milihnya. Mau temenin nggak? Takut salah beli.

Hanzhen, yang kebetulan sedang senggang, menyetujui ajakan itu. Alih-alih terasa seperti kencan, suasana sore itu justru terasa seperti dua teman yang sedang menjalankan misi berbelanja. Namun, saat berada di toko aroma terapi, Junghwan selalu menyodorkan setiap sampel ke dekat hidung Hanzhen.

"Yang ini gimana?"

"Terlalu manis, pusing," komentar Hanzhen. Junghwan beralih ke botol lain.

"Kalau yang ini?"

"Nah, ini enak. Segar tapi ada wangi kayunya dikit."

Tanpa ragu, Junghwan langsung membawa botol pilihan Hanzhen ke kasir. Kencan pertama itu diakhiri dengan makan bakmi pinggir jalan yang legendaris di dekat sana. Sederhana, tanpa ada kontak fisik, tapi obrolan mereka mengalir sangat seru, membahas kebiasaan masing-masing saat akhir pekan.

Dua minggu kemudian, giliran Hanzhen menepati janjinya. Ingat dengan protes Junghwan di rumah Jaehyun soal olahraga, ia mengajaknya bermain bulu tangkis. Namun, karena Jiwon sedang sibuk bekerja dan Hyunseo memang malas berolahraga, jadilah hari itu hanya mereka berdua yang memesan lapangan indoor di dekat rumah Hanzhen.

Mereka bermain tunggal. Hanzhen ternyata cukup kompetitif, sementara Junghwan sengaja beberapa kali mengalah agar Hanzhen bisa mencetak poin dan tertawa puas. Setelah dua jam yang melelahkan, mereka duduk di pinggir lapangan sambil meneguk air mineral. Junghwan tiba-tiba mengeluarkan handuk kecil bersih dari tasnya dan menyerahkannya pada Hanzhen.

Saat Hanzhen sibuk menyeka keringat di wajahnya, Junghwan memperhatikannya dengan tatapan yang sangat lekat dan hangat. Hanzhen yang menyadari itu langsung menoleh, wajahnya mendadak merona merah kali ini bukan karena lelah berolahraga.

"Kenapa lihat-lihat?" tanya Hanzhen salah tingkah.

Junghwan hanya terkekeh pelan dan menggeleng. "Nggak apa-apa, seru aja ternyata kamu kalau main nggak mau kalah."

Masuk minggu keempat, Junghwan kembali menghubungi Hanzhen saat akhir pekan. Kali ini pesannya sedikit berbeda.

[Junghwan] Zhen, nanti malam kosong nggak? Aku mau ajak makan malam tempat biasa. Tapi ada syaratnya.
[Hanzhen] Syarat apa?
[Junghwan] Kita berangkatnya jam 8 malam. Nanti aku jemput.

Hanzhen sempat bingung kenapa harus jam 8 malam, karena biasanya mereka pergi sejak sore. Namun, ia tetap bersiap. Begitu mobil Junghwan terparkir di depan pagar, Hanzhen segera keluar dan masuk ke kursi penumpang. Wangi mobil Junghwan kini sudah sepenuhnya berganti dengan aroma segar pilihan Hanzhen tempo hari.

Malam itu mereka makan di restoran kasual yang suasananya cukup tenang. Sepanjang makan malam, Junghwan sengaja mengulur waktu dengan mengobrol santai hingga jam menunjukkan pukul 10 malam. Saat mereka selesai dan kembali ke dalam mobil untuk pulang, Hanzhen melirik jam di dasbor.

"Junghwan, ini udah jam 10 lewat. Nanti sampai rumahku bisa mepet jam 11," kata Hanzhen agak cemas, mengingat ia terbiasa pulang sebelum larut.

Junghwan menyalakan mesin mobil, lalu menatap Hanzhen sambil tersenyum penuh arti. "Iya, sengaja. Biar pas sampai rumah kamu jam sebelas kurang sedikit."

Hanzhen mengernyitkan alis. "Kok sengaja?"

Junghwan tertawa kecil sambil mulai melajukan mobilnya membelah jalanan malam. "Kamu kan waktu itu nanya, Mama bisikin apa ke aku pas kita mau pergi ke workshop pottery?"

Hanzhen langsung menegakkan posisi duduknya, mendadak antusias. "Eh iya! Kamu belum jawab sampai sekarang. Emang Mama bilang apa?"

"Tante bilang ke aku... 'Kalau mau ajak Hanzhen pergi, ingat jam malamnya jam 11, ya'," kata Junghwan menirukan bisikan Mama Hanzhen dengan nada jenaka.

Hanzhen langsung tertegun, matanya membelalak. "Hah? Serius Mama bilang begitu? Kok bisa Mama langsung bilang jam malam ke kamu? Padahal kan waktu itu ada Jiwon sama Hyunseo juga."

Junghwan menghentikan mobilnya sesaat di lampu merah, lalu menoleh ke arah Hanzhen dengan tatapan yang sangat jujur dan terbuka. "Ya karena insting mamamu tajam, Zhen. Beliau tahu dari tatapanku ke kamu sejak awal datang, kalau intensiku ikut hari itu bukan cuma mau main bareng teman-teman yang lain. Tapi karena aku mau modus ngebuntutin kamu."

Junghwan menjeda kalimatnya sejenak, membuat atmosfer di dalam mobil mendadak terasa sangat hangat dan intim. "Makanya, pas aku ajak kamu makan malam jam 8 tadi, itu sebenarnya cara aku buat ngasih tahu jawabannya ke kamu. Sekaligus bukti kalau aku serius mau menuruti aturan jam malam dari camer."

Mendengar kata "camer" yang diucapkan Junghwan dengan begitu santai, wajah Hanzhen seketika memanas hebat. Ia langsung memalingkan wajah ke jendela luar, menyembunyikan senyum lebarnya dan detak jantungnya yang berantakan. Ia baru menyadari betapa halusnya cara Junghwan mendekatinya, tidak menuntut, tetapi sangat konsisten dan menjaganya dengan baik.

Sejak kencan ketiga yang penuh kejutan itu, hubungan mereka berkembang secara alami. Tanpa perlu pernyataan resmi yang kaku, mereka jadi jauh lebih sering pergi bersama. Junghwan juga sudah tidak malu-malu lagi menyelinap masuk ke agenda kumpul Hanzhen bersama Jiwon dan Hyunseo. Di sana, ia terang-terangan menunjukkan afeksinya kepada Hanzhen. Perlakuan manisnya yang gamblang kadang membuat Jiwon dan Hyunseo pura-pura "gumoh" karena merasa terlalu banyak disuguhi kemesraan. Meski Junghwan sering sengaja melakukannya hanya untuk pamer dan menggoda kedua sahabat itu, ia tetap tahu batasan dan selalu melihat situasi serta kondisi terlebih dahulu.

Dua bulan kemudian, Jaehyun dan Minju akhirnya kembali dari perjalanan bulan madu mereka. Sebagai perayaan, pasangan baru itu mengundang semua sahabat untuk makan malam bersama di rumah baru mereka.

Di sela-sela makan malam, Minju yang baru kembali setelah sekian lama, melotot kaget melihat betapa alaminya interaksi dan kedekatan antara Junghwan dan Hanzhen sekarang. Dengan wajah syok, ia menyenggol Jiwon dan berbisik cukup keras.

"Wah, Jiwon... kamu kalah cepat ya sama Junghwan? Padahal kemarin kalian kelihatan dekat banget waktu after party."

Seketika itu juga, seisi meja langsung mengeluarkan suara, "Hah?!" dengan ekspresi bingung yang kompak.

Jiwon mendengus geli, heran dari mana Minju mendapat pemikiran soal kedekatan dirinya dan Hanzhen padahal itu murni pertemanan. Sementara Junghwan-lah yang sejak hari pertama sudah memasang radar ketertarikan yang sangat jelas pada Hanzhen.