Work Text:
Setelah tiga bulan menjalani masa percobaan, Hanzhen akhirnya lulus dan resmi menyandang status sebagai karyawan kontrak selama dua tahun. Satu bulan pelatihan ditambah dua bulan masa penyesuaian membuat Hanzhen tidak punya banyak waktu untuk menikmati hari. Selama tiga bulan itu, ia diharuskan lembur dan masuk lebih pagi.
Kini, setelah melewati masa-masa berat tersebut, ia akhirnya bisa membeli kopi di kafe dekat kantor barunya. Ia sudah lama penasaran ingin mencoba caramel latte menu andalan di sana. Begitu jam makan siang tiba, ia bergegas keluar gedung kantor dan mengantre di kafe tersebut.
Usai memesan, Hanzhen menunggu di bangku dekat kasir hingga nomor struknya muncul di layar tanda pesanan siap diambil. Ia pun melangkah ke konter pengambilan. Namun, tepat saat ia hendak meraih minumannya karena tangannya sibuk memasukkan ponsel ke kantong celana terlebih dahulu, sebuah tangan dari arah belakang menyambar gelas kopi tersebut. Hanzhen sempat tertegun sebelum akhirnya menegur orang tersebut.
“Kak, itu minuman saya.”
Orang yang dipanggil hanya melirik sekilas ke label di gelas, menunjukkan ekspresi bingung lalu berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah.
Pelayan kafe yang melihat kejadian itu segera memanggil Hanzhen. Beruntung, pesanan Hanzhen dan orang tadi ternyata sama. Sembari mencocokkan nomor antrean untuk memastikan bahwa benar orang yang tadi memang salah ambil, pelayan tersebut menyerahkan gelas pengganti kepada Hanzhen. Hanzhen pun menerima minumannya lalu kembali ke kantor.
Seminggu berlalu. Hanzhen kembali mendatangi kafe tersebut karena ia belum mengambil jatah minum manisnya di minggu ini. Kali ini ia memesan lewat aplikasi jadi ia tinggal datang untuk mengambil, seasalt caramel pesanannya. Kebetulan nomor antreannya sudah terpajang di layar begitu ia tiba, jadi ia bisa langsung menuju konter pengambilan.
Setelah mengambil pesanan, Hanzhen memilih duduk di salah satu meja yang kosong. Karena ia datang setelah jam pulang kerja, ia memutuskan untuk bersantai di sana sambil menunggu kemacetan jalan sudah mengurai.
Baru beberapa saat ia duduk, Hanzhen merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari arah samping. Enggan terlalu percaya diri, ia berpura-pura mengatur posisi duduk. Tubuhnya yang semula tegak kini agak membungkuk, dengan tangan yang bertumpu pada dagu.
Benar saja, saat ia mencuri pandang, seorang cowok yang tadinya sedang menatapnya langsung memalingkan muka dengan cepat. Hanzhen tidak mau langsung melabrak, ia ingin memastikan sekali lagi. Ia mempertahankan posisinya dan terus menghadap ke arah cowok tersebut selama beberapa saat.
Ketika cowok itu kembali menoleh kepalanya arahnya, kedua mata mereka langsung bertubrukan. Hanzhen berhasil menangkap basah tatapannya. Si cowok yang seketika salah tingkah hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat itu, Hanzhen tanpa suara menggerakan bibirnya mengucap kata ‘Hai’ ke arah cowok itu, lalu menunggu bagaiman ia akan membalasnya.
Melihat dirinya tertangkap basah, cowok itu nekat menunjuk dadanya sendiri dan Hanzhen untuk mengisyaratkan apakah ia boleh menghampirinya. Hanzhen merespon dengan anggukkan kepala untuk mengizinkan. Ketika mendapat lampu hijau, si cowok langsung berdiri dan melangkah mendekat.
Sebelum duduk, cowok tersebut mengulurkan tangan di hadapan Hanzhen dan menyebutkan namanya. “Gua Kyungmin. Salam kenal.”
Hanzhen menyambut uluran tangan tersebut sambil tersenyum.
“Hanzhen. Salam kenal juga, Kyungmin.”
Setelah Kyungmin mengambil posisi di kursi kosong tepat di depan Hanzhen, ia langsung membuka percakapan.
“Maaf ya buat kejadian minggu lalu.”
Hanzhen spontan terkekeh. Ia tidak menyangka Kyungmin akan mengungkit kejadian salah ambil kopi itu tanpa basa basi.
“Nggak pakai basa-basi dulu, nih?”
“Hehe. Gua rasa gua perlu lurusin itu dulu biar masalahnya clear.” jawab Kyungmin sambil nyengir.
Setelah ketegangan mencair, obrolan mereka mengalir dengan santai. Mengejutkannya, mereka berdua terasa begitu nyambung, seolah topik apa pun diubah menjadi obrolan yang seru. Tanpa terasa, langit di luar jendela kafe sudah semakin gelap. Hanzhen yang menyadari waktu pertama kali terpaksa menyudahi obrolan mereka karena harus memesan ojek online. Sebenarnya, Kyungmin ingin menawarkan tumpangan, namun ia masih merasa sungkan mengingat mereka baru saja berkenalan. Akhirnya, Kyungmin memutuskan untuk menemani Hanzhen menunggu di pinggir jalan sampai Hanzhen naik ke ojeknya, baru kemudian ia sendiri pulang.
Biasanya, Hanzhen selalu membawa bekal untuk makan siang di kantor. Namun, minggu ini divisinya sedang memegang proyek besar yang membuatnya sering pulang larut malam. Sesampainya di rumah, ia sudah sangat kelelahan dan tidak sempat menyiapkan bahan makanan untuk dimasak esok paginya. Alhasil, minggu ini Hanzhen terpaksa makan siang di warteg belakang gedung bersama teman-teman sekantonya.
Suatu hari, ia kembali bertemu dengan Kyungmin di warteg tersebut. Kyungmin baru saja datang dan hendak memesan makan, sementara makanan di piring Hanzhen sudah hampir habis. Setelah memesan, Kyungmin mengambil tempat duduk di bangku sebelah kanan Hanzhen yang kebetulan kosong karena di sebelah kiri Hanzhen diisi oleh temannya, tepat di dekat pintu keluar warteg.
Karena suasana warteg ramai, mereka hanya saling melempar sapaan singkat dan kembali fokus pada makanan masing-masing. Begitu makanan benar-benar habis, Hanzhen berpamitan kepada Kyungmin dan hanya dibalas dengan gestur mengangkat tangan karena mulutnya masih penuh.
Masih di hari yang sama, momen tidak terduga terjadi kembali saat jam pulang kantor. Hanzhen sedang berada di dalam lift yang perlahan turun, lalu lift tersebut berhenti di lantai Kyungmin bekerja. Saat Kyungmin melangkah masuk, kedua mata mereka bertemu. Mereka berdua baru menyadari bahwa mereka bekerja di gedung perkantoran yang sama.
Karena lift belum terlalu penuh, Kyungmin bergeser agak ke dalam hingga berdiri tepat di sebelah Hanzhen. Setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan, ia sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya.
“Baru mau pulang?” tanyanya pelan.
Hanzhen hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum mengiyakan.
Setelah lift tiba di lantai dasar dan semua orang keluar, mereka berdua ikut melangkah namun langkah mereka tertahan di depan area lift. Di sinilah Kyungmin akhirnya berani bertanya.
“Habis ini ada rencana nggak? Mau ke mana?”
Hanzhen hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan itu tiba-tiba, sebelum akhirnya menggeleng.
“Nggak ada.”
Mendengar jawaban itu, Kyungmin dengan sedikit nekat langsung memegang lengan Hanzhen dan menariknya pelan.
“Yuk.”
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Kyungmin memimpin jalan, membawa Hanzhen menuju area parkir mobil. Ternyata, Kyungmin mengajaknya ke sebuah restoran BBQ all you can eat. Hanzhen sempat terkejut dan merasa agak sungkan karena mendadak diajak makan besar, namun Kyungmin dengan cepat meyakinkannya bahwa ia yang akan mentraktir semuanya.
Melihat Hanzhen yang masih merasa tidak enak hati, Kyungmin langsung menimpali, “Kalau gitu, jangan anggap ini pertemuan terakhir kita berdua. Jadi, di pertemuan berikutnya, gantian lu yang traktir gua.”
Sambil terkekeh, Kyungmin kemudian mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor WhatsApp Hanzhen. “Sini nomor WA-nya. Gua minta buat memastikan lu nggak kabur dan pura-pura lupa sama utang traktiran selanjutnya.”
Mulai dari hari itu, hubungan mereka bergerak semakin dekat. Dimulai dari saling chat intens setiap hari, janjian minum kopi di kafe sebelah gedung kantor, hingga momen pulang bersama di mana Kyungmin mengantarkan Hanzhen sampai ke depan rumah. Mereka bahkan menghabiskan waktu akhir pekan dengan jalan-jalan berdua.
Kedekatan itu terus terjalin selama dua bulan. Mereka tahu hubungan ini bukan lagi sekedar urusan membayar utang traktiran. Ada perasaan nyaman yang aneh namun menyenangkan yang mulai tumbuh di hati masing-masing. Mereka sama-sama menyadari adanya ketertarikan tersebut, tetapi masih merasa nyaman dengan kedekatan tanpa label status ini.
Hari ini adalah hari ulang tahun Hanzhen. Di kantornya memiliki peraturan mengizinkan karyawan mengambil libur sehari tepat di hari kelahiran mereka. Hanzhen berencana menghabiskan waktu luang ini dengan memanjakan diri sendiri dengan datang ke spa lalu mencari tempat makan siang yang enak.
Namun, baru saja hendak melangkah keluar pagar rumah, seorang kurir datang mengantar sebuah bouquet bunga besar untuknya. Ketika Hanzhen bertanya siapa pengirimnya, sang kurir tidak memberikan jawaban pasti.
“Buat kakak dari seseorang.” ujar kurir ramah sembari menunjuk sebuah kartu ucapan kecil yang terselip di antara bunga.
Hanzhen membuka kartu tersebut, membaca ucapan selamat ulang tahun yang tertuju untuknya, namun tidak menemukan nama pengirim. Karena taksi online pesanannya sudah tiba, ia memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing dan menyimpan bunga itu dengan aman di halaman rumah lalu segera berangkat menuju tempat spa pilihannya.
Sepanjang jalan, Hanzhen berusaha menahan diri agar tidak berspekulasi bahwa Kyungmin yang mengirimkan semua itu karena rasanya mustahil mengingat mereka sudah tiga hari ini tidak saling mengirim chat. Hanzhen bahkan sempat mengira bahwa masa kedekatan mereka mungkin sudah habis dan ia mencoba tidak terlalu memusingkan ke mana perginya Kyungmin.
Sesampainya di tempat spa, yang sebelumnya direkomendasikan oleh Kyungmin saat Hanzhen iseng bertanya tentang ide merayakan ulang tahun beberapa waktu lalu, Hanzhen langsung masuk setelah konfirmasi ulang.
Saat sedang menikmati pijatan yang rileks, pegawai spa yang melayaninya tiba-tiba memancing dengan pertanyaan ramah.
“Habis ini ada rencana mau ke mana lagi, kak?”
Sama sekali tidak menaruh curiga karena tubuhnya sedang terlanjur rileks, Hanzhen menyahut santai.
“Mau makan hotpot, mbak. Laper banget habis dipijat begini.”
Usai menyelesaikan seluruh rangkaian perawatan dan bersiap untuk pulang, Hanzhen menuju kasir untuk membayar.
Namun, resepsionis di sana tersenyum ramah dan mengatakan bahwa tagihannya sudah lunas.
“Tagihannya sudah lunas, kak Hanzhen. Sudah dibayarkan oleh salah satu member VIP kami.”
Hanzhen tertegun, sempat bertanya-tanya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Karena perutnya sudah lapar ia memutuskan untuk mengesampingkan rasa herannya dan langsung bergegas menuju restoran hotpot yang tidak jauh dari sana.
Restoran itu adalah tempat yang pernah ia kunjungi bersama Kyungmin sebulan lalu. Namun setibanya di sana, pelayan justru mengarahkan Hanzhen untuk duduk di dalam ruang VIP.
Hanzhen mendadak panik dan bingung. Makan sendirian di ruang VIP terasa sangat berlebihan dan itu tahu minimal pembelian di ruangan privat seperti ini pasti sangat mahal. Ia mencoba menolak dan menyakinkan pelayan bahwa ada kesalahan pesanan, tetapi pelayan tersebut tetap tersenyum ramah dan mengantarnya hingga ke depan pintu.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Hanzhen melangkah masuk begitu pintu geser dibukakan. Sedetik kemudian, ia langsung mematung di tempat. Di dalam ruangan yang hangat itu, duduk seorang cowok yang sangat ia kenal.
Kyungmin ada di sana, tersenyum lebar menyambutnya.
Melihat Hanzhen yang syok dan berdiri kaku seperti patung, Kyungmin bangkit dari kursinya. Ia berjalan menghampiri Hanzhen, lalu dengan lembut menuntunnya untuk duduk di kursi yang telah disiapkan.
Ada begitu banyak pertanyaan yang mendadak berputar di kepala Hanzhen. Kyungmin yang menyadari hal itu hanya terkekeh pelan.
“Gua tahu lu punya banyak pertanyaan. Tapi, setidaknya kita mulai makan dulu, yuk? Lu pasti lapar.”
Setelah sayur-sayur dan daging di kompor panci depan mereka mulai matang dan suasana mencair, Kyungmin akhirnya mulai membuka suara untuk menjelaskan aksi “intel”-nya hari ini.
“Maaf ya, tiga hari ini gua mendadak hilang tanpa kabar,” kata Kyungmin membuka obrolan.
“Hari terakhir kita chatting-an itu sebenarnya hari terakhir gua internship. Besoknya, gua harus langsung terbang ke Jepang sama orang tua gua. Dari jauh-jauh hari, mereka sudah wanti-wanti kalau selama di Jepang gua harus benar-benar fokus nemenin mereka tanpa pegang HP. Semacam digital detox keluarga. Ditambah lagi, setiap balik ke hotel gua udah terlanjur capek banget dan langsung ketiduran.”
Hanzhen mendengarkan penjelasan itu dengan mata berbinar, rasa kesalnya perlahan menguap.
“Gua selalu ingat hari ini lu ulang tahun. Gua juga ingat waktu itu lu sempat nanya rekomendasi spa buat hari ini,” lanjut Kyungmin sambil nyengir, menunjukkan ekspresi salah tingkahnya yang familier. “Makanya begitu mendarat di Indonesia tadi subuh, gua langsung kirim bunga ke rumah lu. Terus, gua telepon pihak spa, kebetulan gua member VIP di sana, buat nanya apa ada reservasi atas nama lu hari ini. Begitu mereka bilang ada, gua langsung minta tagihannya dipotong dari deposit member gua.”
“Terus, kenapa bisa tahu aku mau ke resto hotpot di sini?” tanya Hanzhen penasaran.
“Ah, kalau itu berkat bantuan terapis lu,” jawab Kyungmin sambil tertawa kecil.
“Gua minta tolong mereka buat cari tahu rencana lu habis spa lewat obrolan santai. Begitu lu bilang mau makan hotpot, pegawai spa langsung ngabarin gua. Gua tebak lu pasti ke sini karena waktu kita ke sini dulu, lu kelihatan suka banget sama makanannya. Makanya gua langsung buru-buru pesan ruang VIP ini biar kita bisa ngerayain ulang tahun lu berdua tanpa keganggu.”
Hanzhen tercekat mendengar penjelasan Kyungmin, tidak menyangka bahwa Kyungmin sebegitunya berusaha demi merayakan ulang tahunnya. Rasa hangat seketika menjalar di dadanya. Setelah kecanggungan itu memudar, mereka melanjutkan acara makan dengan santai sambil sesekali melempar gurauan.
Begitu mangkuk dan piring mereka bersih tak bersisa, Hanzhen menatap Kyungmin lekat-lekat.
“Habis ini lu ada acara ke mana?” tanyanya.
“Nggak ke mana-mana, sih,” jawab Kyungmin jujur.
Hanzhen tersenyum tipis.
“Mau temenin gua nggak ke workshop parfum?” ajak Hanzhen agak ragu-ragu.
Mata Kyungmin langsung berbinar, dan ia mengangguk semangat.
Sejujurnya, Kyungmin memang berniat menghabiskan waktu seharian bersama Hanzhen, tetapi ia merasa akan sangat egois jika dirinya yang terus mengatur jadwal di hari ulang tahun Hanzhen. Karena itu, ia dengan sabar menunggu Hanzhen yang berinisiatif mengajak duluan.
Mereka pun beranjak menuju sebuah workshop parfum yang terletak di salah satu mal terbesar di kota. Tempat itu cukup luas karena memamerkan berbagai merek parfum lokal. Di salah satu sudut, terdapat sebuah booth khusus yang menyediakan fasilitas bagi pengunjung untuk meracik parfum mereka sendiri.
Hanzhen dan Kyungmin memutuskan untuk mencoba booth tersebut.
Hanzhen tampak sibuk bereksperimen, meracik wewangian yang pas untuk dirinya sendiri. Di sisi lain, Kyungmin juga terlihat fokus dengan botol-botol essential oil-nya. Diam-diam, cowok itu sedang berusaha meracik wangi yang menurutnya akan sangat cocok untuk Hanzhen. Ia bahkan sampai berulang kali berbisik menanyakan detail kepada petugas jaga agar takarannya sempurna. Setelah puas dengan eksperimen masing-masing, mereka pulang membawa hasil racikan tersebut di dalam goodie bag kecil.
Karena sudah telanjur berada di dalam mal, Hanzhen merajuk meminta keliling sebentar untuk melihat-lihat baju. Puas mencuci mata, Kyungmin menarik Hanzhen masuk ke area arcade game. Di sana, Kyungmin langsung menuju ke mesin Pump It Up, permainan menari dengan menginjak tombol di lantai sesuai irama lagu. Tanpa rasa canggung, Kyungmin memamerkan kemampuannya. Gerakan kakinya begitu cepat dan luwes mengikuti panah di layar. Hanzhen sampai terpana di tempatnya, ia benar-benar tidak menyangka akan keluwesan Kyungmin.
Setelah lumayan kelelahan mengitari mal dan bermain arcade, mereka memutuskan membeli minum. Mereka akhirnya mampir ke salah satu gerai milk tea. Karena pada dasarnya mereka tidak mau terlalu minum manis hari ini, mereka sepakat untuk berbagi dan hanya membeli satu gelas.
Saat hari mulai gelap dan mereka sudah berada di luar mal, Hanzhen menatap Kyungmin.
“Masih ada satu tempat lagi yang pengin gua datengin malam ini. Temenin, ya?”
Tanpa menolak, Kyungmin mengikuti ke mana pun Hanzhen melangkah. Ternyata, tempat yang dituju adalah sebuah playground kecil di perumahan dekat rumah Hanzhen. Setibanya di sana, Hanzhen langsung berlari kecil dan duduk di atas ayunan.
“Karena siang sampai sore biasanya tempat ini ramai anak kecil, gua lebih suka main ke sini pas malam,” ujar Hanzhen sambil tersenyum menatap langit gelap. “Udah lama banget rasanya nggak ke sini.”
Kyungmin tersenyum memaklumi, lalu berdiri di belakang Hanzhen untuk membantu mendorong ayunan tersebut perlahan-lahan. Angin malam yang sejuk menambah syahdu suasana di antara mereka.
Tak berselang lama, Kyungmin menahan ayunan itu pelan dan meminta izin.
“Zhen, gua numpang ke toilet rumah lu sebentar, ya? Udah nggak tahan,” pamitnya sambil meringis.
Hanzhen langsung merogoh sakunya dan menyerahkan kunci rumahnya kepada Kyungmin.
“Kenapa kita nggak sekalian pulang aja kalau gitu?” tanyanya bingung.
“Lu tunggu di sini aja dulu. Gua tahu lu masih pengin duduk-duduk sebentar, kan?” balas Kyungmin.
“Nanti kalau lu udah bosen dan mau masuk ke rumah, kabarin gua.”
Hanzhen akhirnya mengangguk setuju. Ia membiarkan Kyungmin berlari kecil menuju rumahnya yang memang tidak jauh dari taman itu.
Namun, tebakan Hanzhen salah besar. Kyungmin tidak benar-benar butuh ke toilet. Begitu masuk ke pekarangan rumah Hanzhen, tujuan utamanya adalah mengambil bouquet bunga yang diletakkan Hanzhen tadi siang, serta mengambil pesanan kue tart yang sudah disiapkan dan dititipkannya sebelumnya. Dengan gerakan cepat bak pencuri yang takut ketahuan, ia menyatukan semua barang itu dan bergegas kembali ke playground.
Dari kejauhan, melalui remang lampu taman, Kyungmin melihat Hanzhen baru saja menaiki tangga perosotan dan bersiap meluncur turun. Kyungmin langsung mempercepat langkahnya.
Begitu kaki Hanzhen mendarat dengan mulus di tanah dan ia membalikkan badan, ia tersentak kaget. Di hadapannya, Kyungmin sudah berdiri dengan napas agak terengah, menggendong bouquet bunga besar di satu lengan sambil memegang sebuah boks kue terbuka lengkap dengan lilin yang menyala terang di tangan lainnya.
Cahaya lilin itu memantul di wajah Kyungmin yang sedang tersenyum lembut. Lagi-lagi, Kyungmin berhasil mengejutkannya.
“Ayo make a wish dulu, terus tiup lilinnya,” ucap Kyungmin lembut, menyodorkan kue itu lebih dekat ke arah Hanzhen.
Hanzhen memejamkan mata, memanjatkan doa dalam hati, lalu meniup apinya hingga padam. Segera setelah itu, Kyungmin mengangsurkan boks kue tersebut ke tangan Hanzhen.
Menerima rentetan kejutan yang tak ada habisnya sejak pagi, dinding pertahanan Hanzhen akhirnya runtuh. Matanya memanas, dan tanpa bisa dicegah, air matanya menetes begitu saja. Ia benar-benar tidak bisa membendung rasa harunya lagi.
Melihat Hanzhen menangis sesenggukan, Kyungmin langsung meletakkan bouquet bunga di atas tanah. Dengan hati-hati, ia mengambil alih boks kue dari tangan Hanzhen, meletakkannya di samping bunga, lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.
Hanzhen membalas pelukan itu tak kalah erat, membiarkan air matanya membasahi kemeja Kyungmin. Sambil mendekap erat Hanzhen di bawah langit malam taman bermain itu, sebelah tangan Kyungmin perlahan mengelus punggung Hanzhen dengan lembut, menyalurkan rasa nyaman yang membuat tangis Hanzhen justru semakin pecah oleh rasa bahagia.
