Actions

Work Header

i’ve liked you all along

Summary:

seonghyeon finally learns keonho always liked him

Work Text:

Bunyi pantulan bola basket menggema di lapangan sekolah. Materi olahraga hari ini telah usai, tetapi masih ada sisa waktu hingga berganti ke jam pelajaran selanjutnya. Hal itu dimanfaatkan oleh beberapa siswa untuk bertanding basket.

Seonghyeon tidak termasuk di dalamnya. Hari ini ia tidak membawa sepasang baju dan celana olahraganya. Ia bangun kesiangan tadi. Alhasil, ia berangkat buru-buru dan luput memasukkan seragam olahraganya. 

Walaupun ia tidak membawa seragam olahraga, guru olahraganya menyuruhnya untuk tetap turun ke lapangan dan duduk di samping lapangan agar ia tidak tertinggal oleh materi hari ini.

Tak lama kemudian, seseorang berjalan menghampiri Seonghyeon sambil mengusak rambutnya.

“Kok lo masih di sini?”

Seonghyeon yang sebelumnya menatap kosong ke arah lapangan akhirnya mendongak. Ia melihat wajah Keonho yang kemerahan dan penuh dengan keringat.

“Emangnya gue udah boleh naik?”

Lelaki itu duduk di sampingnya lalu dengan sengaja memeluk Seonghyeon dari samping, dengan masih mengenakan baju olahraganya yang penuh oleh keringat.

“Lo gila ya!”

Seonghyeon mendorong kedua bahu Keonho dengan kencang. Keonho berlagak seolah-olah dorongan Seonghyeon sangat kencang hingga mampu menjatuhkan tubuhnya dari kursi.

“Sejijik itukah lo sama gue?”

“Mikir, anjir. Badan lo basah semua kena seragam gue.“

Seonghyeon memutar bola matanya kesal, sementara Keonho hanya tertawa sembari kembali bangkit duduk di sampingnya.

“Naik bareng, yuk.”

Sesaat setelah Seonghyeon mengangguk, suara teriakan dari tengah lapangan terdengar.

“Awas!”

Seonghyeon bahkan belum sempat menoleh ketika sebuah bola basket menghantam dahinya. Bunyi permukaan bola dan kepala beradu terdengar cukup kencang.

Tubuhnya terhuyung ke belakang. Pandangannya langsung berkunang-kunang, sementara denyutan nyeri menjalar dari dahinya hingga ke pelipis.

Keonho membulatkan matanya terkejut melihat Seonghyeon yang kepalanya tiba-tiba dihantam bola dengan kecepatan yang cukup kencang.

“Seonghyeon!”

Keonho memekik panik sambil memegang kedua bahu Seonghyeon. Satu tangan Seonghyeon memegang dahinya. Terlihat bagian dahi yang terkena bola itu memerah.

“Keonho, pusing banget kepala gue.”

Di saat yang bersamaan, seorang lelaki berlari menghampiri mereka dengan napas memburu. Akan tetapi, lelaki itu tidak memakai seragam olahraga. Sepertinya anak kelas lain yang nimbrung bermain basket dengan anak kelasnya.

“Eh, sorry banget sumpah. Gue gak sengaja.”

Seonghyeon hanya mengangguk sembari meringis pelan. Tidak bisa bereaksi banyak karena rasa nyeri masih mendera kepalanya.

“Iya, gapapa.”

Keonho menoleh ke arah lelaki itu dengan tatapan tajam. Ia memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Lo siapa, deh? Kalo main yang bener dikit, dong!”

Lelaki itu tersentak mendengar bentakan Keonho. Tak menyangka mendapatkan respons seketus itu.

“Maaf, sumpah. Gue anterin ke UKS, mau?”

Keonho berdecak pelan sembari mengayunkan tangannya. Ia bangkit dan memapah Seonghyeon berjalan ke arah koridor.

“Gak usah. Biar gue aja.”

——

“Keonho, kita ke kelas aja, yuk.”

Tatapan Seonghyeon menoleh ke kanan dan kiri melihat sepinya ruang UKS. Penjaganya sedang ada urusan di luar. Seonghyeon merasa apa yang dialaminya barusan tidak perlu sampai membuatnya berdiam diri di UKS.

“Kepala lu gimana? Masih pusing, gak?”

Keonho duduk di kursi samping bangsal Seonghyeon sembari membuka kotak P3K mencari salep yang dapat mengobati memar dan pusing Seonghyeon.

“Masih pusing, sih. Cuma terlalu lebay gak sih sampe gue harus ke UKS?”

Setelah mengubek-ubek kotak P3K-nya sedari tadi, ia akhirnya menemukan salep untuk mengobatinya.

“Diem dulu ya bentar.”

Keonho memajukan wajahnya ke arah Seonghyeon untuk memudahkan tangannya mengoleskan salep ke dahinya yang memar. Seonghyeon langsung menahan napas menyadari posisi wajah mereka yang cukup berdekatan. Darahnya seperti berdesir pelan ketika menyadari kedekatan kontak fisik antara mereka.

Secara tak sengaja ia menatap lekat wajah Keonho di hadapannya. Sorot khawatir terpancar dari kedua mata Keonho. Tatapannya tak lepas dari dahi Seonghyeon seolah memeriksa setiap inci dahinya. Alis tebal yang membingkai wajahnya sedikit berkerut saat memfokuskan netranya mengoleskan salep.

“Gue ganteng banget, ya?”

Seonghyeon tersentak mendengar ucapan Keonho yang memecah keheningan. Ia refleks mendorong tangan Keonho yang masih mengoleskan salep di dahinya.

“Udah selesai, kan? Makasih ya.”

Keonho terkekeh pelan dengan tatapan matanya masih melekat ke dahinya. Lalu ia kembali menjulurkan tangan mengoleskan salep ke bagian memarnya.

“Dikit lagi, sabar. Gak usah salting.”

Seonghyeon mendengus kesal mendengar ucapan dari Keonho. Tidak habis pikir Keonho menyebutnya salah tingkah hanya karena perilakunya barusan.

“Gila lo.”

Keonho mengalihkan pandangannya dari dahinya beralih tepat ke kedua manik Seonghyeon lalu menyunggingkan senyumnya. Setelahnya, Seonghyeon terpaku memandangi lengkungan senyum dari wajah Keonho yang terbilang cukup dekat dengan netranya. Gue yang gila, batinnya.

——

Keonho menaruh plastik berisi dua kotak mika yang berisi nasi goreng dan mi goreng ke meja Seonghyeon.

“Nih, ayo makan. Maaf ya lama, tadi antre banget.”

Jam istirahat sudah berjalan sejak lima belas menit lalu. Keonho melarangnya untuk pergi ke kantin dan bersikeras untuk ke kantin sendirian membelikannya makanan.

“Gak perlu minta maaf, anjir. Gue yang makasih, Keonho.”

Keonho menarik kursi sebelah Seonghyeon lalu mengeluarkan dua kotak mika dari plastik. Ia membuka kotak nasi goreng lalu menyodorkannya ke arah Seonghyeon. Ia tak langsung membuka kotak mi gorengnya. Tatapannya tertuju kepada Seonghyeon, seolah menunggu ia benar-benar mulai makan.

Tak lama, Seonghyeon menyendokkan nasi gorengnya ke mulut. Setelah beberapa kunyahan, ia terbatuk pelan. Raut wajahnya mengisyaratkan ia tak sanggup menelan nasi goreng di mulutnya. Tangan Keonho secara otomatis mengambil tisu yang berada di meja Seonghyeon lalu menengadah beberapa senti di bawah mulut Seonghyeon.

“Keluarin aja kalo gak bisa.”

Tanpa berpikir dua kali, ia memuntahkan kembali isi mulutnya ke tangan Keonho.

“Pedes banget gue gak kuat.”

“Tadi nasi goreng lo dibuat barengan gitu sama yang lain. Kayanya sambelnya masih nempel atau gimana, kali. Gue ke toilet dulu ya, sebentar. Makan mi gue aja coba.”

Keonho beranjak keluar dengan satu tangannya menggenggam tisu yang berisi sisa muntahan Seonghyeon barusan.

“Kalian pacaran, ya?”

Seonghyeon menoleh ke arah asal suara. Ia masih berusaha menahan pedas di lidahnya. Juhoon, ketua kelasnya, memandangi punggung Keonho yang menjauh. Lalu ia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Keonho.

“Eh, gak, kok. Cuma emang kita udah temenan dari awal masuk SMA, sih.”

Juhoon menyipitkan matanya lalu satu jarinya menepuk-nepuk dahinya sendiri. Ia bergumam panjang. 

“Emang kalo temenan sampe segitunya, ya? Maksud gue, tadi lo muntahin makanan lo ke tangannya, kan? Walaupun dialasin tisu.”

Seonghyeon menganggukkan kepalanya ragu lalu menggaruk tengkuknya. Baru kali ini ia mencoba mengingat kembali semua kebiasaan Keonho yang selama ini ia anggap biasa.

Keonho yang selalu bertanya bagaimana harinya. Keonho yang selalu memastikan bahwa ia menyukai makanan yang dipesannya. Keonho yang selalu terlihat lebih khawatir daripada dirinya sendiri kala ia sakit.

“Emang temenan gak gitu, ya? Udah dari dulu, kok, Keonho sikapnya kayak gitu ke gue.”

Juhoon lalu memajukan wajahnya dengan tatapan memastikan.

“Serius deh, gue baru kenal kalian sebulan. Tapi cara Keonho jagain lo tuh beda. Kalo temen-temen lo yang lain ngeliatnya gimana?”

Seonghyeon bergumam pelan sembari menatap nasi goreng di hadapannya tanpa benar-benar melihatnya. Ia menarik napas pelan.

“Gak pernah ada yang bilang apa-apa, sih.“

Juhoon terkekeh pelan sambil menggeleng.

“Ya mungkin karena mereka udah kebiasa liat kalian berdua. Orang baru kayak gue malah langsung sadar.”

Beberapa menit kemudian, Keonho kembali membawa sekotak susu di tangannya. Lalu ia menaruhnya ke meja. Sedotan sudah tertusuk rapi di sana.

“Nih, kalo kepedesan katanya minum susu biar ilang.”

Setelahnya, ia menyapa Juhoon yang sekarang menduduki kursinya.

“Eh, Ju. Udah makan?”

Juhoon mengangguk lalu beranjak kembali dari kursi mempersilakan Keonho untuk duduk kembali di sana.

“Udah makan gue. Sorry, tadi gue dudukkin kursinya. Gue ke luar dulu, ya. Selamat makan kalian.”

Ia melambaikan tangan sambil tersenyum lalu berjalan ke luar kelas. Sementara, Seonghyeon masih terpaku pada pembicaraannya dengan Juhoon barusan.

“Lagi mikir apa?”

Seonghyeon tersentak. Ia buru-buru menggeleng dan meneguk susu di tangannya. Bahkan percakapan itu membuatnya sempat lupa akan rasa pedas di lidahnya.

“Gak ada.”

Bohong.

Kepalanya sekarang dipenuhi dengan satu pertanyaan yang mengganggu. Selama ini, perhatian Keonho memang hanya sebatas teman yang baik atau ada alasan lain?

——

Riuh suara percakapan dan derap langkah para siswa yang meninggalkan kelas memenuhi penjuru gedung sekolah. Bel pulang baru saja berbunyi. Matahari masih bersinar terik meski jarum jam telah menunjukkan pukul tiga sore.

Sementara teman-teman kelasnya sudah beranjak pulang, Seonghyeon masih merapikan buku-buku di mejanya sebelum memasukkannya ke dalam tas sekolah.

Beberapa detik kemudian, Keonho berdiri di hadapannya sambil menggendong tas. Beberapa kancing atas seragamnya telah dibuka, menampakkan kaus hitam di baliknya. Dasinya menjuntai berantakan keluar dari lipatan kerah, sementara rambutnya mencuat ke sana kemari, membuatnya tampak begitu tampan hingga Seonghyeon buru-buru mengalihkan pandangan.

Dulu, penampilan Keonho yang terlihat berantakan tidak pernah mengusik pikirannya. Kini, ia justru sibuk menghindari tatapan ke arahnya. 

“Tas lo mau gue bawain?”

Pertanyaan Keonho kembali mengingatkannya pada percakapannya dengan Juhoon saat makan siang. Apakah perhatian ini tidak wajar antara teman?

“Gue cuma abis kena bola, Keonho. Gak ada hubungannya sama tas.”

Seonghyeon menggelengkan kepalanya lalu memakai tasnya ke punggung. Ia mengangkat kepalanya pertanda mengajak Keonho keluar kelas bersama.

“Kepala lo sekarang gimana?”

Seonghyeon lantas memegang dahinya sembari wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan.

“Aduh, tolong.”

Keonho refleks memegang kedua bahu Seonghyeon lalu buru-buru mendudukkannya kembali ke kursi. Ia berjongkok di hadapan kursi dengan kedua tangannya menangkup wajah Seonghyeon.

“Kenapa? Pusing banget?”

Sedetik kemudian Seonghyeon melontarkan tawa. Ia menjulurkan lidahnya dan mendaratkan kedua tangannya ke bahu Keonho.

“Boongin.”

“Ah, gak jelas. Gue tinggal ajalah.”

Keonho beringsut pergi dengan langkah tergesa. Diam-diam ia mengembuskan napas lega mengetahui kondisi Seonghyeon yang sudah baik-baik saja.

“Keonhooo. Becanda doang, ih. Tungguin!”

Saat Seonghyeon berusaha mengejar Keonho yang sudah keluar dari kelas terlebih dahulu, terdengar teriakan seseorang dari belakang kelas.

“Hati-hati pulangnya, love birds.”

Seonghyeon menoleh dan mendapati Juhoon tersenyum sambil menaikturunkan kedua alisnya jahil. Kedua pipinya terasa memanas setelah melihat raut wajah jahil Juhoon. Ia berdehem pelan mengusir rasa malu lalu berjalan ke luar.

——

“Keonho! Tungguin!”

Seonghyeon berteriak memanggil Keonho yang sudah berjalan jauh hingga ke gerbang sekolah. Ia memutuskan untuk berlari kecil untuk menyusul kecepatan jalan Keonho.

Keonho menoleh lalu matanya membesar melihat Seonghyeon yang tengah berlari mengejarnya. Ia lalu berbalik arah dan berjalan dengan tergesa menghampiri Seonghyeon.

“Jangan lari! Nanti kepala lo pusing lagi.”

“Lagian ninggalin.”

“Lagian diboongin.”

Seonghyeon yang tak bisa membalas ucapan Keonho hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Keonho tertawa kecil melihat ekspresi jengkel yang dikeluarkannya.

“Serius, nih, lo bisa jalan kaki kayak biasa sampe rumah? Mau naik ojek aja, gak?”

Seonghyeon menggelengkan kepalanya. Sedetik kemudian, ia menganggukkan kepalanya. Lalu menggelengkan kepalanya lagi.

“Ngapain, sih?”

“Ini bukti kalo gue udah gak pusing. Ayo, ah, jalan.”

Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju ke rumah. Rumah Seonghyeon dan Keonho hanya beda beberapa blok sehingga mereka selalu pulang bersama, tetapi tidak setiap hari. Ketika Keonho ada latihan basket, Seonghyeon biasanya hanya berjalan kaki sendirian.

Di tengah perjalanan, Seonghyeon melihat terdapat sepasang manusia di seberang jalan yang saling menautkan jemarinya. Ia teringat kembali dengan ucapan Juhoon.

“Cara Keonho jagain lo tuh beda.”

Apakah benar demikian? Apakah cara Keonho menjaganya sama seperti sepasang manusia di seberang jalan yang saling bergandengan tangan?

“Lo ngeliatin mereka mulu, mau gandengan juga?”

Seonghyeon mengalihkan pandangannya ke sembarang arah setelah mendengar suara Keonho yang menyelak.

“Apa, sih? Liatin apa? Orang lagi liat-liat jalanan aja.”

Keonho refleks tertawa mendengar balasan Seonghyeon yang gelagapan. Ia melirik ke arah tangan Seonghyeon yang mengayun di bawah. Tanpa pikir panjang, ia memegang tangan Seonghyeon dan menautkan jemarinya.

Seonghyeon membelalakkan matanya ketika melihat ke arah tangannya yang digenggam oleh Keonho. Entah mengapa ia merasa tangan Keonho terasa pas melingkari tangannya. Ia merasakan hawa panas dari kedua pipi hingga ujung telinga. Dadanya juga terasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Namun, ia berusaha tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Mereka tetap berjalan, tetapi tak ada satupun yang membuka percakapan. Jemari Keonho masih menggenggam tangannya, hangat.

Keonho berdehem pelan berusaha mengusir kecanggungan. Ia memutar otak mencari topik pembicaraan sembari mereka berjalan.

“Tadi pas istirahat, lo ngomongin apa sama Juhoon?”

Aduh.

Percakapannya dengan Juhoon, genggaman tangannya sekarang. Semua hal ini mengganggu pikirannya.

“Keonho, lo suka gue, ya?”

Seonghyeon menutup mulutnya dengan satu tangannya yang kosong. Tidak menyangka mulutnya bertindak lebih cepat daripada pikirannya.

Keonho menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke jalanan di depan, lalu mengarahkan pandang ke arah Seonghyeon. Ia tersenyum.

“Suka.”

Tatapannya tak sedikitpun bergeser dari mata Seonghyeon.

“Dari dulu.”