Actions

Work Header

a little chaos before the exam

Summary:

keonho and seonghyeon’s chaotic little reunion before seonghyeon’s final exam

Work Text:

“Abang, aku kangen banget!”

Seonghyeon memekik senang setelah menutup pintu mobil. Ia mencondongkan tubuhnya ke samping lalu mencubit kedua pipi kekasihnya. Awalnya sekadar cubitan pelan, lama-lama intensitas tekanannya naik seperti sedang menyalurkan rasa rindunya yang kian membuncah sedikit demi sedikit.

“Sayang, udah, ih. Sakit!”

Seonghyeon tertawa terbahak-bahak melihat kedua pipi Keonho yang terlihat memerah. Tak lupa bibirnya sudah cemberut karena kesal.

“Maafin, Abang makin ganteng, sih.”

Setelah mendengar pujian dari Seonghyeon, ia tersenyum sambil menjawil ujung hidung Seonghyeon. Ia memiringkan badan ke arah Seonghyeon untuk memakaikannya sabuk pengaman. Setelahnya, ia menepuk dan mengelus kepala Seonghyeon.

“Terima kasih, Abang. Nanti beneran mau jemput aku abis ujian?”

Keonho mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Seonghyeon menoleh ke arah Keonho. Satu tangan Keonho menggenggam kemudi, sementara tangan lainnya sibuk mengacak rambut sendiri.

Wangi parfum Keonho yang bercampur dengan pewangi ruangan mobil memenuhi indra penciumannya sedari tadi. Seonghyeon menyandarkan kepala ke sandaran kursi sambil tersenyum kecil. Dua minggu ternyata cukup lama untuk membuat perjalanan singkat seperti ini terasa begitu menenangkan.

Sejak dua minggu lalu, mereka memutuskan untuk tidak bertemu terlebih dahulu karena ingin lebih fokus menyiapkan ujian. Hari ini Seonghyeon akan menjalani ujian terakhir, sementara Keonho sudah menyelesaikan semua ujiannya kemarin. Alhasil, Keonho berinisiatif untuk menjemput Seonghyeon sebelum ujian dan juga akan menjemput setelahnya. Rasa rindu mereka telah menumpuk terlalu lama.

“Kenapa liat-liat, Sayang? Kamu udah siap ujiannya hari ini?”

Seonghyeon mendengus kecil sambil menggaruk kepalanya.

“Ah, kalau ujiannya pengantar data sains, mah, gak akan pernah siap aku. Yang penting udah usaha, deh. Lagian kan aku bukan jurusan IT ya, kenapa harus belajar ini, sih? Sebel.”

Usai menumpahkan semua curahan hatinya, Seonghyeon meraih tangan kiri Keonho lalu menautkan jemarinya. Keonho melirik ke arah tangannya yang sekarang telah berada pada pangkuan Seonghyeon lalu terkekeh. Ia mengelus punggung tangan Seonghyeon dengan ibu jarinya.

“Biar kamu update teknologi, Sayang. Kamu kan generasi boomer.”

Seonghyeon menoleh tidak percaya mendengar jawaban Keonho barusan. Ia mengangkat genggaman tangan mereka lalu menggigit punggung tangan Keonho.

“Sakit, ampun. Kita baru ketemu, loh, kamu udah nyiksa aku terus dari tadi.“

Seonghyeon tertawa terbahak-bahak sambil mengambil ancang-ancang untuk kembali menggigitnya. Melihat pergerakan Seonghyeon, Keonho berusaha melepaskan genggaman tangan mereka, tetapi Seonghyeon menahannya. 

Pada detik terakhir, Seonghyeon mengubah niatnya. Alih-alih menggigit, ia justru mengecup punggung tangan Keonho berkali-kali. Keonho terkekeh geli melihat kelakuan Seonghyeon di sampingnya.

“Basah, deh, tangan aku.”

“Ah, Abang protes mulu. Nih, deh, aku balikkin tangan kamu.”

Seonghyeon meletakkan kembali tangan Keonho ke kemudi, kemudian memiringkan posisi duduknya ke kaca. Rupanya Seonghyeon ingin berpura-pura ngambek. Keonho melirik dari ujung matanya lalu menahan tawa. Kekasihnya sungguh menggemaskan.

Beberapa menit berikutnya, mobil dipenuhi keheningan. Sesekali Keonho melirik ke arah Seonghyeon yang masih berpura-pura menatap ke luar jendela.

“Ada yang ngambek, ya?”

Seonghyeon hanya mendengus pelan tanpa menoleh. Tak sampai lima menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lobby fakultas Seonghyeon.

“Udah sampe, Sayang.”

Seonghyeon tetap bergeming dengan posisi yang masih sama sejak tadi. Keonho membukakan sabuk pengaman yang melintang pada tubuh Seonghyeon. Ia meraih bahu Seonghyeon dan membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. Dengan gerakan cepat, Keonho mengecup bibir Seonghyeon hingga membuat Seonghyeon membulatkan matanya.

“Ih, Abang! Kalau keliatan dari luar, gimana?”

Keonho tergelak melihat tingkah panik Seonghyeon. Ia membelai pipi Seonghyeon sambil menyunggingkan senyum.

“Semangat ujian terakhirnya, Sayang. Kamu pasti bisa. Nanti kabarin kalau udah, ya. Kita langsung pacaran tanpa basa basi.”

Seonghyeon mendengus geli mendengar perkataan Keonho. Sudut bibirnya terangkat tanpa bisa ia tahan. Ia menangkup wajah Keonho dengan perlahan sembari pandangan matanya menyusuri setiap lekuk wajah Keonho di hadapannya.

Love you, Abang.”

“Love you more, Sayang.”