Chapter Text
Terpaut beberapa waktu setelah aku melihat pria berambut pirang di London sore itu, beruntung aku pura-pura menjatuhkan sesuatu dari kantongku, mata kami bertatap untuk pertama kalinya di kafe itu.
Kulihat hembusan awan yang mengais sisa-sisa dari apa yang kulihat dari pria itu, matanya yang indah bertemu dengan mataku yang pasrah. Kedipan matanya terasa seperti nyanyian indah bagi penglihatanku, rasanya aku seperti melihat surga untuk sekilas.
Saat aku sengaja menjatuhkan beberapa koin dari kantongku, perhatiannya langsung tertuju pada koin-koin tersebut. Kami berdiri berdekatan karena sedang mengantri, dia dengan cepat membungkuk dan mengambil koin-koin itu, mengembalikannya padaku.
Kurasakan jari jemari hangatnya menyentuhku, gerangan hatiku tiba-tiba berdetak lebih cepat, pipiku mulai memanas, hancur sudah! Aku mulai terpikat padanya, jiwaku seperti dihampiri oleh insan yang indah ini. Aku ingin mengenalnya lebih dekat, tetapi bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku tiba-tiba berlutut di hadapannya dan meminangnya—merangkulnya selayaknya kami sudah berteman lama dan meminta nomor ponselnya… Tetapi hei, ide pertama terdengar menarik.
“Koin-koin mu jatuh,” ucapnya selagi dia mengembalikan koin-koin itu padaku.
“O-oh, ya, ya! Maaf dan terimakasih! Namaku–”
“Ya, lain kali jahitlah kantongmu.”
Aku sedikit ternganga, belum sempat kujawab, makhluk maha dahsyat ini sudah menjawab duluan dengan kata-katanya yang indah! Memang aku memakai celana yang baru saja aku beli di pasar loak beberapa hari yang lalu, belum sempat aku perbaiki jahitan-jahitannya yang rusak—eh, mengapa aku menjadi mendukung pernyataannya?
Dan, sempat-sempatnya masih terbesit di pikiranku untuk langsung memperkenalkan diri! Aku sempat bingung, teman-teman memanggilku Martin, kadang Ed (dari nama tengah, Edwards). Bagaimana aku harus memperkenalkan diriku pada pria ini? Martin? Edwards? Ed? Rasanya aku diserang krisis identitas.
Pria itu melihat ke arahku, dia sepertinya baru sadar bahwa tadi aku mau mengatakan sesuatu, “apa? Ada apa?” Oh, dia tahu itu, dia tahu aku mau mengatakan sesuatu!!
“Namaku.. Martin…” Jawabku dengan sedikit gugup, jujur saja, rasanya aneh tiba-tiba memperkenalkan diriku tanpa maksud yang jelas ini.
“Oh ya?” Dia sedikit tersenyum, mengulurkan tangannya, fist bump? Pikirku, “aku James, senang bertemu denganmu.”
Ada yang aneh!
Dia tidak berbicara apapun mengenai penampilanku kecuali celana dengan kantong yang jahitannya sudah lepas ini, biasanya orang-orang harus sedikit mendongak ke atas untuk berbicara denganku, tetapi ini sebaliknya—seperti alam sudah menempatkan sebuah magnet pada pria bernama James ini untukku.
“Kamu memesan apa, James?” Tanyaku untuk berbicara sedikit lama dengannya.
“Baguette, untuk temanku,” dia maju selangkah saat antriannya mulai bergerak, begitupun dengan aku.
“Pilihan yang bagus, kamu tidak mau bertanya padaku?”
“Bagaimana denganmu? Kamu memesan apa?” James dengan wajah datarnya langsung bertanya padaku—apa ini tidak semakin membuatku terpikat padanya?!
Di waktu yang bersamaan, aku ingin terlihat keren, “kopi,” jawabku.
“Pesanan yang unik,” ucap James, “kamu tinggal disini, di London?”
Dia menanyaiku, dia bertanya padaku! Dalam hatiku, aku merasa sangat senang dan girang, bayangkan saja, seorang manusia seelok ini berbicara padaku? Bagaimana tidak!
“Tidak, aku hanya berkunjung,” aku menghela nafas ketika rasanya udara di sekelilingku mencekik leher, “aku dari.. Negara lain.” Yes! Bagus, Martin, buatlah lebih banyak celah agar James bisa berbicara lebih lama denganmu! Ya!
“Aku bisa merasakan itu, caramu berbicara berbeda dengan warga lokal,” ucap James (apakah artinya dia memperhatikan caraku berbicara? Bagaimana jika dia juga memperhatikan bibirku saat aku berbicara?)
Hush! Buang jauh-jauh pikiran itu, Martin. Yang terpenting, sekarang ada pria setampan dan secantik ini di depanmu, berteman dan menjadi lebih dekatlah dengannya!
…
Karena kami berdua tidak memiliki teman untuk diajak berbicara di kafe, akhirnya kami berdua memutuskan untuk duduk di tempat yang sama, saling berhadapan, layaknya pasangan.. Ekhm! Abaikan itu. Aku mencoba untuk menghalau isi pikiranku yang mulai aneh itu—setiap sudut rasanya diisi oleh James.
Kami berbincang mengenai segala hal yang terlintas di kepala kami, entah itu tentang kami sendiri, film favorit, buku, dan hal yang paling aku baru tahu ternyata kami berdua sukai—musik! Kami berdua menyukai musik! Alangkah indahnya itu, disinilah ayah bertemu dengan pasangan ayah, nak… Ooohh.. Inikah yang dinamakan cinta itu? Rasanya menggebu-gebu ketika orang terkasih yang membuatku terpikat memiliki kesamaan denganku.
Namun, semua kebahagiaan itu berlalu begitu saja ketika aku harus kembali ke hotel. Ada baiknya jika James ikut bersamaku, kita bisa tinggal di London—atau Paris—untuk selama-lamanya, kan?
“Martin?”
“Ah, iya? Ada apa?”
“Bukankah kamu bilang bahwa kamu harus segera pulang?”
“Oh, oh ya! Ya! Betul, aku lupa, lupa sekali…” mataku sekali lagi memandangi wajahnya yang… oh, tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata!
“Kalau begitu, pulanglah, kita bisa lanjut berbincang lagi nanti,” James mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, menuliskan nomor teleponnya, “telepon atau kirim pesan—aku tidak peduli, silahkan saja.”
Jujur saja, hatiku berhenti berdetak untuk beberapa detik—aku rasa James bisa melihat pipi dan telingaku yang perlahan mulai memerah (semoga tidak!)
Sialnya, aku tak bisa menggerakkan mulutku untuk berbicara dan menjawabnya, rasanya seperti tiba-tiba menjadi patung.
“Baik.. baiklah, aku tentu akan menghubungimu lagi nanti, James.”
Hanya itulah kata-kata yang dapat terucap dari mulutku—setelah James secara tak sadar melilitku dengan suaranya yang indah, semakin terpaut diriku padanya. Kulihat James tersenyum tipis padaku, sebelum akhirnya aku terpaksa harus berpisah dari dirinya. Aku mengulurkan tangan, berharap dia akan mengambil tanganku dan bersalaman (dan juga merasakan hangat tangannya untuk sekali lagi).
Tentu saja, langkahku menjadi sedikit berat saat aku berjalan menuju hotel, secarik kertas yang diberikan James kugenggam erat diantara hangat yang bertemu dengan saku celanaku. Aku penasaran seperti apakah cerita yang akan kutulis setelah bertemu dengan pria London itu…
