Actions

Work Header

When the Lights Go Out

Summary:

Ada dua hal yang tidak disukai Till di dunia ini, yaitu gelap dan film horor. Tentu saja tidak ada yang mengetahuinya (setidaknya, menurut pemikirannya) karena dirinya pandai dalam menyembunyikan sesuatu, terlebih hal itu akan sangat merusak image keren yang telah susah payah dibangunnya. Awalnya malam itu hanya ingin ia habiskan dengan bermain Valorant sebagai hadiah setelah menyelesaikan semester kedua. Namun, malam yang seharusnya menyenangkan itu justru berubah menjadi mimpi buruk.

Notes:

Ini project pertamaku di sini, selamat menikmati~~

Work Text:

Suara mouse yang di tekan secara terus menerus diiringi suara tembakan memenuhi ruang tengah di rumah yang sunyi. Penyebab dari bunyi bising tersebut adalah pemuda bersurai abu-abu terang yanng tengah memainkan Valorant tanpa berniat untuk menurunkan volume laptopnya. Seolah-olah tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, pemuda itu menambah kebisingan yang sudah ada dengan ringisan, pekikan, dan makian halus yang terkadang keluar dari mulutnya. Namun, tampaknya kebisingan yang makin lama makin menjadi itu menggangggu ketenangan entitas lain di ruangan yang berjarak tidak jauh darinya.

“Till, lu bisa kecilin gak sih suaranya! Berasa di medan perang beneran,” gerutu Ivan, pemuda bersurai hitam legam yang nampaknya mulai kesal dengan tingkah menyebalkan sahabat sekaligus housemate-nya itu. Till yang masih khusyuk dengan permainannya hanya berdeham untuk merespons Ivan tanpa ada itikad baik untuk mengecilkan volume laptopnya. Ivan yang diabaikan merasa jengkel dan pergi meninggalkan Till sendirian di ruang tengah yang sedang beralih fungsi menjadi medan perang itu

Semuanya tampak baik-baik saja malam itu, sampai tiba-tiba seluruh rungan berubah menjadi gelap gulita. Till membeku, terkejut dengan perubahan suasana yang tiba-tiba dan jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari biasanya. Till sangat membenci gelap dan kebetulan dia juga amat sangat membenci film horor, tetapi sialnya saat ini terasa seperti salah-satu adegan di film horor di mana karakter utamanya berada di rungan gelap sendiri dan kemudian digganggu oleh makhluk tak kasat mata. Till benci mengakui kalau dia takut saat ini, tetapi reaksi biologis tubuhnya tidak bisa berbohong, kakinya terasa melemah dan bergetar seperti agar-agar.

“Van! Lu di mana?” Teriak Till memanggil pemuda bersurai hitam yang sekarang mungkin masih kesal dengan tingkah menyebalkannya tadi.

Tidak ada sahutan dari Ivan dan Till merasa menyesal karena mengabaikan dan betingkah menyebalkan terhadap sahabatnya itu. Biasanya, di kondisi normal Ivan tidak akan tersinggung dengannya, semenyebalkan apapun tingkahnya saat itu, tetapi hari ini dia mengalami hari yang buruk karena kalah dalam pertandingan basket dan bertengkar dengan teman satu timnya yang terus menyakahkannya atas kekalahan mereka. Salahkan Till karena bersikap sangat tidak pengertian dan memperburuk suasana hati sahabatnya, tapi saat ini dia sangat ketakutan dan berharap Ivan menghampirinya saat ini juga. Till menelan ludah dan berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian dalam dirinya untuk beranjak dari ruang tengah.

Till berjalan dengan was-was menuju kamar sahabatnya yang berjarak tidak jauh dari ruang tengah, sesampainya di sana dia langsung mengetuk pintu kamar sahabatnya itu dengan membabi buta. “Van! Lu di dalam, kan? Bukain pintunya,” seru Till dan tidak ada jawaban dari balik pintu itu.

Tanpa putus asa Till masih mengetuk pintu kamar Ivan, “Van, gua tahu lu marah, tapi jangan gini.”

Sudah beberapa menit dan Ivan masih belum menunjukkan batang hidungnya, hal ini membuat Till sedih tetapi juga kesal di saat yang bersamaan. Baru saja dia ingin memaki sahabatnya itu, dirinya terperanjat ketika mendengar suara gaduh seperti barang terjatuh yang berasal dari ruang tengah. Laptopnya yang tadi belum sempat ia matikan tampak tergeletak di bawah meja dengan kondisi yang membuat dompetnya meringis. Persetan dengan harga laptop gaming yang membutanya menabung hasil manggungnya selama setahun untuk membelinya, saat ini Till sangat tidak berpikir jernih karena ketakutannya sudah berada di level maksimal. Tiba-tiba pikirannya berkelana pada saat Ivan menawarinya untuk tinggal bersama di rumah itu.

“Till, gua dapet info ada yang sewain rumah dekat kampus harganya murah banget. Kalau gua hitung-hitung dengan fasilitas perabotan dan ada dua kamar ini lebih worth-it dari kostan, lu mau nyewa aja gak bareng gua? Nanti kita bayar masing-masing setengah.”

“Kok bisa semurah itu, jir? Ini kan kawasan kota masa sih harganya segitu”

“Katanya sih emang ada sempat ada kasus yang bikin rumah itu gak laku dijual, tapi bukan kasus kriminal kayak pembunuhan atau bunuh diri, kok. Gak apa-apa Till, kan kita tinggal bareng ini harusnya aman-aman aja”

Till sekarang merutuki keputusannya untuk mengiakan Ivan saat itu, karena meskipun rumah ini sangat bagus, tidak ada artinya jika dia harus tinggal dengan hantu dan memengaruhi kewarasan mentalnya, kan?

Badannya bergetar hebat, Till ingin melarikan diri ke kamarnya, tetapi dia merasakan ada sesuatu yang memegang pundaknya, ketika reflek menoleh dia melihat ada sesosok yang wajahnya disinari oleh cahaya.

BRUUK

Terkejut bukan main, Till spontan mengarahkan tinjunya ke arah sosok itu dan membuatnya terhuyung ke belakang. “Till, lu kenapa, sih!” seru sosok itu.

Seakan ditarik kembali ke kesadarannya, dia terkejut dan memperhatikan sosok di depannya itu dengan seksama. Sosok itu adalah Ivan yang sekarang sedang memegangi hidungnya yang memerah di saat tangan satunya lagi memegang dua buah senter. Raut wajahnya sahabatnya itu menunjukkan kebingungan dan kekesalan.

“Eh astaga maaf, Van! Gua kira setan,”cicit Till.

“Seganteng ini masa dibilangg setan, sih,” gerutu Ivan seraya mengusap hidungnya yang tadi terkena tinju.

Wajah Till memucat ketika perlahan darah mengalir dari hidung pemudah bersurai hhitam di depannya. “Van, sumpah lu mimisan, bentar gua cariin tisu!” seru Till yang langsung bergegas mengambil tisu dari meja di ruang tamu lalu menyumpalnya di lubang hidung Ivan.

Ivan reflek mendonngakkan kepalanya. Namun, tangan Till lansgung memegang tengkuk pemuda itu dan mendorongnya untuk melihat ke hadapannya lalu sedikit mencondongkan tubuhnya. “Kalau mimisan jangan kayak gitu, takut darahnya ngalir ke tenggorokan.” Tangan kanan Till masih berada di tengkuk Ivan, sedangkan tangan kirinya menjepit hidung pemuda di hadapannya dengan tujuan menghentikan pendarahan.

Till samar-samar merasakan badan Ivan yang menegang dan tatapannya yang tidak fokus. Mungkin dia ketakutan karena tiba-tiba keluar darah dari hidungnya.

“Till, kayaknya darahnya udah mulai berhenti. Lepasin aja tangan lu, gak apa-apa.” Mendengar itu membuat Till memeriksa dulu keadaan sahabatnya sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari tengkuk dan hidung Ivan. Mungkin hanya perasaannya saja, tetapi di bawah cahaya lampu senter yang temaram dia melihat tengkuk dan telinga Ivan yang memerah.

“Lu demam, Van? Kok leher lu merah-merah gitu,” tanyanya khawatir.

“Enggak, itu perasaan lu aja kali,” sanggahnya. Till mengangguk-anggukkan kepalanya, memutuskan untuk mempercayai sahabatnya itu.

“Maaf ya, Van. Masih sakit?” tanya Till dengan nada lemah dan sengaja memasang wajah yang memelas. Biasanya sahabatnya itu selalu luluh kalau melihatnya seperti ini.

“Udah gak apa-apa, kok.” Tangan Ivan mengusak lembut surai abu-abu yang membuat empunya reflek menutup mata.

“Lu ternyata masih sepenakut itu, ya, Till,” ledek Ivan. Mendengar ejekan dan tampang menyebalkan Ivan, Till langsung menepis tangan pemuda itu yang masih berada di rambutnya. “Mending lu diem daripada gua tonjok lagi,” ujar Till yang jengkel. Dia mendengar kekehan Ivan dan itu sungguh membuat kejengkelannya bertambah dua kali lipat.

“Lampunya masih belum nyala, lu gak apa-apa di kamar sendiri?” tanya Ivan.

“Ya gak apa-apa, emang kenapa?” sahut Till galak.

“Gua sebenarnya takut, sih, Till. Lu gak mau temenin gua di kamar, kah?”

“Hah? Gak usah, Van!” Till reflek berteriak dan menjaga jarak dengan Ivan.

Jika tidak dipikirkan dengan baik, itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan. Jika sendirian di kondisi seperti ini di kamarnya mungkin dia tidak akan tidur sampai pagi. Namun, mau ditaruh mana mukanya jika harus mengungsi ke kamar Ivan hanya karena mati lampu. Meskipun lama persahabatan mereka sudah mencapai usia anak kelas 1 sekolah dasar, mau bagaimanapun mereka tetap dua orang dewasa dan terlebih lagi laki-laki.

“Persetan, aku masih punya harga diri yang harus dijaga!” teriaknya dalam hati.

Ivan melengkan kepalanya, menatapnya dalam hening selama beberapa saat sebelum menyunggingkan senyum yang sangat menyebalkan baginya. “Serius? Lu yakin bisa tidur nyenyak? Besok kan ada matkul Pak Ferry, kalau sampai lu ketiduran lagi di jam dia besok, bisa C nanti nilai semester lu.”

Till tahu, Ivan memang sudah paham betul kelemahannya. Dia sangat membenci gelap, bahkan jika tidur pun, lampu kamarnya dibiarkan menyala. Dia mempertimbangkan ucapan Ivan, jika nilai semester kali ini jelek lagi, uang sakunya akan dipotong sampai setengahnya. Namun, pendiriannya tetap bulat, dia tidak akan menerima tawaran yang menguntungkannya jika itu harus megorbankan harga dirinya.

Till mengusak rambut peraknya kesal, “Gak usah, gua bisa sendiri.” Till meninggalkan Ivan yang masih bergeming di tempat dan berjalan menuju kamarnya sendiri. “Maafin gua, ya, semoga tidur lu nenyak,” ujarnya sebelum menutup pintu.

Till melangkah menuju ranjangnya yang pas-tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar- untuk ukuran tubuhnya dengan bantuan cahaya senter di tangannya sebagai pemandu. Dia merebahkan badannya di atas kasur empuknya dan mencoba memejamkan mata, tapi seketika bayangan menyeramkan muncul ketika matanya terpejam, sehingga ia secara reflek membuka matanya. Till membuka selimutnya dan bergulung di dalamnya dengan harapan selimut yang sedikit bau apaknya itu dapat membuatnya merasa sedikit tenang

Sudah satu jam dan dia masih bisa belum tidur. Till memandang kosong ke arah langir-langit kamarnya. Jika ia menghempaskan sedikit egonya mungkin saat ini dia tidak akan terlalu ketakutan. Till menghela napas panjang, tetapi terjeda karena ia mendengar pintu kayu kamarnya berderet

Ada yang membuka pintu kamarnya. Cengkraman Till pada selimutnya mengerat, hantu itu memang cukup kuat karena bisa membanting laptopnya, jadi bukan tidak mungkin “itu” tidak bisa membuka pintu kamarnya. Terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Till menahan napasnya, jantungnya berdebar kencang seperti meminta dikeluarkan dari rongga dadanya. Tiba-tiba ada sentuhan di atas selimutnya dan seketika detak jantungnya yang tidak karuan ini serasa berhenti.

Di keadaan normal mungkin Till tidak akan pernah sekalipun berdo’a ataupun pergi beribadah, tetapi di saat krisis seperti ini dia rasanya ingin langsung berteleportasi ke tempat ibadah terdekat dan bersujud meminta pengampunan karena sudah lalai dalam beribadah yang mengakibatkan dia “diganggu” oleh makhluk tak kasat mata yang sebelumnya hanya dia jumpai di film horor saja.

Tanpa menunggu khayalannya itu menjadi nyata, selimut yang dia kenakan disibak begitu saja yang menyebabkan teriakan reflek keluar dari tenggorokannya.

“AAAAAAAAA”

Sebuah tangan yang besar langsung menutup mulutnya dan menyegel segala bentuk suara keluar dari mulutnya.

“Till, ini gua Ivan,” ujar suara yang sangat amat dikenalnya itu “Lu jangan teriak-teriak, udah malam nanti ganggu tetangga.”

Till membelakkan bola matanya, tangannya langsung menepis tangan besar yang menyegel mulutnya. “Gila ya lu, ngapain ngendap-ngendap di tengah kegelapan kayak setan!”

Ivan menyalakan senter dan menyorot wajahnya sendiri. “Gua tahu lu gak bakal bisa tidur makanya gua samperin, makanya jadi orang jangan gengsi.”

“Gua tadi udah mau tidur, ya! Lu nya aja ngagetin,” sahut Till dengan nada tinggi. Sebenarnya dia tidak sekesal itu karena dikagetkan, tapi ia malu setengah mati karena ketahuan berteriak di hadapan sahabatnya itu. Mau dikemanakan mukanya sekarang.

Ivan mendengus dan menyunggingkan senyum sinis. “Kalau lu udah tidur, gak mungkin bakal sekaget itu.”

Ivan mematikan senter dan menaruhnya di atas nakas samping ranjang, dia mendorong Till sampai ke posisi rebahan di atas kasur. Tidak ada suara apapun, hanya hembusan napas halus yang terdengar. Till tidak bisa melihat ekspresi Ivan dalam gelap. Namun, hanya dengan mengetahui sahabatnya berada begitu dekat di atasnya, dadanya sudah berdebar tanpa alasan yang bisa ia pahami.

“Apa aku sekarang punya penyakit jantung? Kenapa rasanya berdebar-debar terus gak berhenti, ya.”

Posisi itu berlangsung selama beberapa menit dan tidak ada satupun yang bersuara diantara mereka sampai akhirnya tangan Ivan mengusap pucuk kepala Till dengan lembut. Ivan langsung merebahkan diri di samping Till, seraya secara alami menarik selimut yang membungkus mereka berdua. Tangannya tetap mengusap kepala Till dengan lembut.

“Tidur, supaya gak telat besok,” titahnya.

Till sebenarnya ingin mengeluarkan kalimat protes, tapi entah kenapa dia seperti tidak punya tenaga lain. Matanya perlahan mulai memberat, tubuhnya mulai lemas.

Sebelum hilang kesadaran, Till samar-samar mendengar suara lembut Ivan yang mengatakan, “Selamat tidur, Till.”